Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBERANIAN MELEPASKAN
suara napas masing-masing terdengar jelas,Cahaya matahari Minggu pagi masuk melalui jendela,namun kehangatan sinarnya tidak mampu mengusir ketegangan yang memenuhi ruangan,Dengan langkah tenang,hendy mendekat beberapa langkah,Tidak tergesa-gesa, tidak pula menyentuh Dira tanpa izin.
Sebagai seorang dokter, ia memahami bahwa seseorang yang sedang rapuh sering kali membutuhkan rasa aman lebih dulu dari pada nasihat.
"Dira... maaf saya harus nekat naik ke atas,Saya dengar nada suara kamu di telepon, Saya khawatir."
ujar hendy memastikan Dira tidak merasa tertekan dengan kehadirannya.
"Kamu baik-baik saja?"
perhatian itu justru membuat air mata Dira semakin deras,Andi terlihat cemburu.
"Saya Andi."
Hendy menoleh sopan,Andi mengulurkan tangan.
"Kami sudah saling mencintai sejak lama."
Nada suaranya terdengar tegas,Hendy menerima uluran tangan itu tanpa ragu.
"Gembira berkenalan, Mas Andi."
tak ada nada menantang,apalagi sikap ingin menang,ketenangan Hendy membuat Andi semakin sulit membaca pikirannya,Hendy kembali memusatkan perhatian kepada Dira,Ia mengambil beberapa lembar tisu dari meja.
"Saya tidak ingin ikut campur dalam hubungan kalian,Tetapi saya juga tidak ingin melihat Dira terluka sampai harus menitikkan air mata."
Dira mengangkat wajahnya.
"Maaf Mas ...aku belum pernah cerita tentang Mas Andi."
Hendy mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa,Saya paham,Kalau memang kehadiran saya membuat situasi menjadi tidak nyaman, saya bisa pulang,kalian bisa menyelesaikan pembicaraan ini tanpa saya."🙂
Belum sempat ia melangkah.
"Jangan..."
Suara Dira menghentikannya,Hendy maupun Andi sama-sama menoleh.
Dira menarik napas panjang.
"Jangan pergi."
Tatapan Dira bertemu dengan mata Hendy.
"Aku sudah selesai dengan masa lalu! "
Ia kemudian menghadap kearah Andi sorot matanya jauh lebih tegas.
"Mas,aku tidak mau balik lagi!
Andi menggeleng.
"Dira..tolong dengarkan aku."
"Aku sudah berubah."
Dira kembali menggeleng,Kalimat itu diucapkan dengan sangat pelan,Tetapi cukup kuat menghentikan seluruh harapan Andi.
"Tapi, Dira..."
Andi mencoba mendekat.
Dira mundur satu langkah.
"Aku nggak perlu ceritakan kenapa aku berhenti mencintai Mas sejak lama."
Andi mematung,ia benar-benar memahami bahwa luka yang ia tinggalkan ternyata jauh lebih dalam daripada yang selama ini ia bayangkan,Dira mengusap air matanya.
"Tolong tinggalkan tempat ini, Mas."
terdengar sopan,Namun menjadi penutup yang begitu jelas,Andi memandang Dira cukup lama,Dalam hati, ia berharap perempuan itu akan berubah pikiran,Tetapi tidak,Tatapan Dira tetap sama,Andi menundukkan kepala.
"Aku benar-benar mencintaimu, Dira."
Dira tak menghiraukan,pintu tertutup perlahan,Suara langkah kaki Andi menghilang di lorong apartemen,Dira masih berdiri terdiam,Hendy tidak langsung mendekat.
Beberapa menit kemudian, barulah ia berkata dengan suara lembut,
"Menangislah kalau memang itu membuat hatimu lebih ringan,
Dira perlahan duduk di sofa,Hendy menuangkan segelas air putih dan meletakkannya di depan Dira.
"Boleh saya duduk?"
Dira mengangguk,Mereka kemudian berbincang lama,dira menceritakan bagaimana ia pernah mencintai Andi dengan sepenuh hati, bagaimana ia berkali-kali memaafkan, menunggu, berharap, hingga akhirnya lelah. Hendy tidak menyela. Ia hanya mendengarkan, sesekali mengangguk, membiarkan Dira menumpahkan semua beban yang selama ini dipendam,Setelah cerita itu selesai, Hendy berkata pelan.
"Dira, saya tidak ingin memanfaatkan keadaan saat hati kamu sedang rapuh,Saya mencintai kamu sejak waktu itu,jadi wajar, saya selalu kawatir tentang kamu setiap hari.ujar hendy menggenggam tangan Dira.
hari ini,ada seseorang menyatakan cinta tanpa menuntut jawaban, tanpa memaksa, dan tanpa mengurangi kebebasannya untuk memilih.
Penyesalan di Tengah Samudra
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit berubah jingga keemasan, memantulkan cahaya yang berkilauan di permukaan laut lepas. Kapal tempat Andi bekerja terus membelah ombak tanpa henti, meninggalkan jejak buih putih yang perlahan menghilang ditelan luasnya samudra.
Sudah hampir satu tahun berlalu Sejak hari itu pula, Andi tidak pernah lagi menghubungi Dira,Nomor teleponnya masih tersimpan rapi di ponsel, tetapi tak pernah lagi ia tekan. Berkali-kali jemarinya berhenti di atas nama itu,Di tengah lautan yang luas,kenangan tentang Dira terasa semakin dekat,Setiap malam, saat kapal mulai tenang dan suara mesin menjadi satu-satunya irama yang terdengar, Andi sering berdiri sendiri di geladak.
Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang begitu akrab,Ia menatap langit yang dipenuhi bintang,Dulu, Dira pernah berkata sambil tertawa kecil,
"Kalau suatu hari nanti kamu kerja di tengah laut, jangan lupa lihat bintang. Siapa tahu aku juga lagi lihat langit yang sama."
Andi hanya menganggapnya sebagai kalimat manis,Kini, kalimat itu menjadi penyebab dadanya sesak,debur ombak terdengar silih berganti,gary rekan kerjanya menghampiri sambil membawa dua gelas kopi.
"Masih belum bisa lupa?"
Andi tersenyum tipis.
"Apa kelihatan?"
"Kelihatan."
gary menyerahkan secangkir kopi hangat.
"Sudah hampir setahun,bisa dicari lagi yang baru."
Andi menggeleng.
"Kalau cuma cari, gampang,Tapi perempuan seperti dia,belum tentu ada dua."
gary hanya menepuk bahunya pelan,Tak ada lagi yang perlu diucapkan,Semua kru kapal sudah tahu, ada seseorang yang tinggal di hati Andi, meski tak pernah mereka kenal.
Hari-hari terus berlalu.
Kapal berpindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain,Kesibukan pekerjaan memang mampu mengalihkan pikiran untuk sementara,tetapi tidak pernah benar-benar menghapus rasa rindu,saat pekerjaan selesai, kesunyian datang tanpa permisi,
Suatu malam, kapal bersandar di sebuah kota pelabuhan,Para kru mendapat waktu istirahat hingga esok pagi.
"Capt yuk keluar."ujar gary
Ada tempat karaoke.!
Andi awalnya menolak,Namun setelah terus dibujuk,akhirnya ikut,Mereka memasuki sebuah tempat hiburan malam yang dipenuhi cahaya lampu berwarna-warni. Musik mengalun pelan di setiap sudut ruangan. Beberapa orang bernyanyi, sebagian lagi hanya berbincang sambil menikmati makanan dan minuman,Andi duduk di sudut sofa,Segelas minuman berada di depannya,Ia memandang kosong ke arah panggung karaoke.
"Lagu apa, Bro?" tanya gary.
"Terserah."
Di ruangan itu, seorang perempuan melisa pemandu karaoke menghampiri,terlihat ramah dan pandai membaca suasana.
"Mas oke? seperti lagi banyak pikiran."
Andi tersenyum hambar.
"Kelihatan ya?"
"Iya."
melisa duduk di seberangnya,menjaga jarak.
"Boleh cerita kok kalau memang butuh teman bicara."
Andi menggeleng pelan,Namun entah mengapa, malam itu kata-kata mengalir begitu saja,Ia bercerita tentang perempuan yang pernah menjadi pusat dunianya,Tentang penyesalan,Tentang kesempatan yang disia-siakan, melisa hanya mendengarkan.
"Kadang, orang baru sadar nilai seseorang setelah kehilangan. 🙂itu wajar.
Andi mengangguk.
"Itu yang terjadi sama saya."
Malam semakin larut,Beberapa botol minuman mulai kosong,Andi sedikit mabuk, tetapi ia tetap sadar. Ia tidak mencari pelarian dalam hubungan baru. Tidak ada rayuan, tidak ada sentuhan yang melampaui batas. Yang ia cari hanyalah seseorang yang bersedia mendengarkan isi kepalanya yang penuh sesak,Sebelum pulang, Melisa berkata,
"Mas...Semoga suatu hari nanti Mas bisa memaafkan diri sendiri."🙂
Kalimat itu terus terngiang di kepala Andi saat ia kembali ke kapal,Di balik lipatan kecil, masih tersimpan foto lama dirinya bersama Dira.
Ia menatap foto itu lama,Lalu tersenyum pahit.
"Semoga kamu benar-benar bahagia, Dir."
Di tempat yang berbeda, tanpa Andi ketahui, Dira memang sedang menata hidupnya,Dan takdir perlahan mulai membawanya menuju babak baru yang lebih indah.
Lamaran di Bawah Cahaya Lilin
Setahun berlalu,Waktu ternyata menjadi penyembuh yang paling jujur,Dira berubah,Senyumnya kembali tulus,Tawanya kembali lepas,Ia masih bekerja seperti biasa, masih menjadi sosok yang ramah kepada semua orang, tetapi kini ia jauh lebih berhati-hati membuka pintu hatinya.
Di sisi lain, Hendy tidak pernah sekalipun mendesak,Selama satu tahun itu, ia hanya hadir dengan cara yang sederhana,Setiap pagi ia mengirimkan pesan singkat,Jika Dira sedang lembur, Hendy diam-diam mengirim makan malam,Saat Dira sakit, ia datang membawa obat dan memastikan Dira benar-benar beristirahat,Tidak ada kata manis yang berlebihan,Hanya perhatian yang konsisten,hal itulah yang perlahan membuat Dira kembali percaya bahwa cinta tidak selalu harus dipenuhi drama.
Suatu sore, Hendy menghubungi Dira.
"Malam ini jangan ada jadwal lain."
Dira tersenyum kecil.
"Memangnya ada apa?"
"Ada makan malam,Hanya kita berdua."
Dira mengangguk.
"Baik."
Pukul tujuh malam,Hendy datang menjemput dengan setelan jas biru tua yang sederhana namun rapi,Dira mengenakan gaun panjang berwarna krem lembut. Rambutnya dibiarkan terurai, dihiasi anting mutiara kecil yang membuat penampilannya anggun tanpa berlebihan,Saat melihat Dira keluar dari lobi,Hendy terdiam.
"Kenapa?"tanya Dira heran.
"Tidak apa-apa,Kamu cantik."
Dira tersipu.
"Dokter sekarang sudah pintar memuji."
Hendy tertawa pelan.
"Saya hanya mengatakan yang saya lihat."
Mobil berhenti di sebuah restoran yang menghadap laut,Malam itu angin bertiup lembut,Suara ombak terdengar samar berpadu dengan alunan biola dan piano yang dimainkan secara langsung,area taman restoran.
lampu-lampu kecil menggantung di antara pepohonan,Meja mereka berada di sudut paling tenang,Di atasnya terbentang taplak putih bersih.
Dua lilin menyala perlahan,Rangkaian bunga mawar putih dan baby's breath menghiasi bagian tengah meja, menghadirkan kesan elegan tanpa berlebihan,Pelayan menyajikan makan malam dengan tenang, memberi ruang bagi keduanya menikmati suasana,Dira memandang sekeliling.
"Indah sekali."
Hendy tersenyum.
"Saya sengaja memilih tempat yang tenang".
Mereka menikmati makan malam sambil berbincang tentang banyak hal,Tidak ada rasa takut,tidak ada kecemasan,ketika hidangan penutup selesai disajikan, musik berubah menjadi lebih lembut,Hendy menarik napas perlahan,Ia berdiri dari kursinya,Dira memandangnya bingung.
"Mas?"
Hendy mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya,Ia tidak langsung membukanya,Tatapannya lurus kepada Dira.
"Selama jadi dokter, saya belajar satu hal,Tidak semua luka bisa disembuhkan dengan obat,beberapa luka hanya bisa pulih karena waktu,dan karena hadirnya seseorang yang tepat"
Suara Hendy terdengar mantap.
"Saya tidak pernah berniat menjadi pengganti siapa pun,saya hanya ingin menjadi orang yang menemani langkahmu mulai hari ini sampai kita sama-sama menua."
Perlahan ia membuka kotak itu,Sebuah cincin sederhana berhiaskan berlian kecil berkilau diterpa cahaya lilin,Hendy berlutut di hadapan Dira.
"Maukah kamu menjadi pendamping hidup saya?
Mendengar itu, Dira tanpa ragu mengangguk,cinta hendy sudah teruji, tak ada lagi yang harus Dira ragukan,Dengan tangan sedikit gemetar,dira menerima nya
"Saya bersedia."🙂
Hendy perlahan menyematkan cincin itu di jari manis Dira,dan berdiri dan memeluknya dengan penuh hormat.
_________________________________________________
Beberapa minggu kemudian, mereka berangkat ke Surabaya,Hendy ingin melakukan satu hal sebelum mempersiapkan pernikahan,Meminta restu kepada kedua orang tua Dira.
ayah Dira menyambut Hendy dengan hangat,Ibunya bahkan sudah menyiapkan berbagai hidangan kesukaan Dira,dan Suasana makan siang berlangsung akrab,Ayah Dira beberapa kali mengajak Hendy berdiskusi tentang pekerjaan, keluarga, hingga pandangan hidup,Hendy menjawab setiap pertanyaan dengan rendah hati,Ia tidak pernah membanggakan profesinya,Baginya, karakter seseorang jauh lebih penting daripada gelar yang dimiliki.
Setelah makan siang selesai, Hendy duduk berhadapan dengan kedua orang tua Dira,Dengan sopan ia berkata,
"Pak... Bu...Saya datang bukan hanya sebagai tamu,Saya datang untuk meminta izin,jika Bapak serta Ibu berkenan,saya ingin memohon restu untuk mempersunting putri Bapak dan Ibu."
Ruangan menjadi hening,Ibu tak kuasa menahan air mata,Ayah bangkit dari duduknya menghampiri Hendy.
"kamu sudah yakin, bisa menJaga anak saya? "
Hendy mengangguk mantap.
"Insyaallah, Pak.Selama saya diberi kesempatan hidup, saya akan menjaga dan menghormatinya."
"Kami merestui."🙂
Hari itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupnya,Namun Dira memilih untuk tidak mengumumkan kabar pertunangannya kepada teman-teman kantor,ia ingin menjaga kebahagiaan itu tetap sederhana, jauh dari gosip dan iri hati.
di tempat lain,badai baru tengah menunggunya,badai yang akan menguji prinsip, harga diri, dan keberaniannya dalam mengambil keputusan terbesar dalam perjalanan kariernya.
waktu silih berganti,suasana kantor terasa berbeda,Dira melangkah masuk ke lobi perusahaan, ada keheningan yang tidak biasa,rekan kerja yang biasanya menyapanya dengan senyum kini hanya saling bertukar pandang. Di sudut pantry terdengar bisik-bisik pelan, seolah semua orang sedang membicarakan hal yang sama.
"Dir, kamu sudah dengar belum?" bisik Erica sahabatnya.
"Dengar apa?"tanya Dira ingin tau.
"hari ini ada rasionalisi karyawan! ujar Erica menjelaskan.
"Serius?"
erica mengangguk pelan.
"Bahkan kabarnya ada beberapa nama yang sudah masuk daftar evaluasi."
Belum sempat Dira bertanya lebih jauh, suara pengumuman terdengar melalui pengeras suara.
"Seluruh karyawan yang menerima undangan rapat, dimohon hadir di ruang rapat sekarang juga, terimakasih. "
Dira melihat namanya tercantum dalam daftar,firasatnya tidak enak,Ruang rapat utama dipenuhi para manajer, kepala divisi, HRD, dan jajaran direksi,Suasana tampak tegang,lama kemudian, Direktur Operasional membuka rapat.
"Hari ini kita akan membahas evaluasi kinerja sekaligus penataan organisasi perusahaan."
Beberapa menit kemudian, HRD mengeluarkan sebuah map.
"Dalam beberapa minggu terakhir kami menerima laporan mengenai dugaan pelanggaran disiplin serta tindakan yang dinilai dapat memengaruhi citra perusahaan."
Dira,Namanya disebut bersama dua rekan dekatnya,beberapa orang saling berbisik,Ada yang terkejut.