Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Perjalanan ke Istana Kunning
Jiu Lin kembali ketika hari mulai petang. Saat memasuki kamar, semua orang sedang berdandan. Ia melangkah masuk dengan wajah lesu, lalu keluar lagi untuk membersihkan diri.
Ye Ning dan yang lainnya tidak ada yang menyapanya. Semakin hari, hubungan mereka semakin renggang. Apalagi Jiu Lin lebih sering berada di luar dan bergaul dengan peserta lain daripada bersama mereka.
Ming Zi mengajak yang lain makan malam. Saat mereka tiba di ruang makan, Jiu Lin menyusul dan duduk di samping Lu Wan. Ia makan dalam diam hingga semuanya selesai.
Ye Ning hendak kembali ke kamar ketika Jiu Lin memanggilnya.
"Umm... Ye Ning, bisakah kau memaafkanku? Aku mengakui sikapku kemarin sangat kekanak-kanakan."
Jiu Lin berbicara sambil menautkan kedua jarinya dengan gugup.
Ye Ning yang melihatnya hanya menghela napas lalu mendekat. Ia memeluk Jiu Lin dan menepuk punggungnya dengan lembut. Isak tangis Jiu Lin pun terdengar.
"Aku tidak pernah marah padamu. Aku sudah memaafkanmu sejak lama," kata Ye Ning.
Jiu Lin menangis semakin keras. Lu Wan dan Ming Zi ikut terharu lalu memeluk mereka berdua. Hanya Qing He yang tetap diam memperhatikan mereka. Ia menatap Jiu Lin dengan ekspresi yang sulit dibaca, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Setelah perdamaian yang penuh haru itu, mereka kembali ke kamar dengan suasana yang jauh lebih ceria. Bahkan Jiu Lin mulai membagikan camilan favoritnya dan tertawa bersama yang lain.
Hanya Qing He yang tetap seperti biasa. Ia tidak ikut dalam kebersamaan mereka dan memilih keluar kamar.
Ye Ning yang menyadari hal itu segera menyusulnya. Ia menemukan Qing He sedang duduk di kursi taman sambil memandangi langit malam yang dihiasi bulan dan bintang.
Ye Ning menghampiri lalu duduk di sebelahnya. Setelah beberapa saat ikut memandangi langit, ia bertanya,
"Kenapa kau seperti tidak menyukai Jiu Lin?"
Qing He menatap Ye Ning dan tersenyum tipis. Namun, alih-alih menjawab, ia balik bertanya,
"Apakah kau yakin Jiu Lin benar-benar tulus meminta maaf padamu?"
Ye Ning membalas tatapannya lalu menggeleng.
Melihat reaksi itu, Qing He tampak ingin memaki. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi bingung harus memulainya dari mana.
"Jadi, meskipun dia tidak tulus, aku harus bagaimana?" tanya Ye Ning. "Apa aku harus mendorongnya dan menolak permintaan maafnya?"
Qing He terdiam.
Ye Ning tersenyum lalu merangkul bahu Qing He.
"Terkadang kita juga harus mengikuti arus agar tidak tenggelam. Selama dia tidak menggerakkan jarinya untuk menyakitiku lebih jauh, aku akan berpura-pura bodoh."
Ye Ning berkata sambil menunjuk bintang-bintang di langit.
Qing He menatapnya dengan kagum, lalu mengalihkan pandangan ke langit malam. Mereka mengobrol beberapa saat lagi sebelum akhirnya kembali ke kamar untuk beristirahat.
---
Keesokan harinya...
Sepuluh peserta yang berhasil bertahan hingga tahap akhir berkumpul di aula terbuka. Barang bawaan mereka diminta untuk dikumpulkan di atas tandu yang telah disediakan karena akan dibawakan oleh para kasim.
Setelah semuanya selesai, Tang Momo mengantar mereka menuju Istana Kunning.
Di sepanjang perjalanan, Ming Zi berbisik kepada Lu Wan dan Ye Ning.
"Apakah kalian pernah melihat Yang Mulia Permaisuri sebelumnya?"
Keduanya mengangguk.
Ming Zi sedikit iri. Sebagai putri seorang pedagang, ia tidak pernah diundang ke istana dan belum pernah bertemu dengan Permaisuri.
Setelah berjalan sekitar dua menit, mereka akhirnya tiba di depan Istana Kunning.
Para peserta menatap gerbang besar dan megah itu dengan kagum. Beberapa bahkan memegang ujung rok mereka untuk mengurangi rasa gugup.
Setelah Tang Momo melapor, mereka akhirnya dipersilakan masuk.
Hal pertama yang mereka lihat adalah jalan lurus dengan lantai batu yang bersih dan mengilap. Di sebelah kiri terdapat kolam ikan koi yang dihiasi bunga teratai, sementara di sebelah kanan terbentang taman bunga yang asri dan tertata rapi.
Karena musim dingin akan segera tiba, bunga-bunga di sana belum bermekaran. Namun batang dan dedaunannya masih tampak segar dan terawat dengan baik.
Selain menjadi tempat tinggal Permaisuri, Istana Kunning juga memiliki dapur pribadi, kamar-kamar mewah, kolam pemandian yang besar, serta aula pertemuan untuk menerima kunjungan para selir dan tamu kehormatan.
Mata para gadis berbinar kagum melihat kemegahan kediaman Permaisuri.
Ye Ning juga mengangguk. Namun, dalam hati ia berpikir, untuk apa tinggal di tempat semewah ini jika keluar istana saja belum tentu bisa dilakukan setahun sekali?
Mengingat kebodohannya dahulu yang begitu ingin menjadi Putri Mahkota, Ye Ning hanya bisa menunduk malu sambil mengutuk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian mereka berhenti di depan aula pertemuan. Setelah kasim mengumumkan kedatangan mereka, Tang Momo membawa sepuluh gadis itu masuk ke dalam.
Di atas singgasana duduk seorang wanita berusia awal empat puluhan yang cantik dan berwibawa.
Di sebelah kanannya, duduk sedikit lebih rendah, tampak Junwang Fei, ibu dari Li Wen.
Sementara di deretan kursi sebelah kiri duduk beberapa wanita muda berpakaian mewah. Mereka adalah para selir Kaisar saat ini.
"Salam kepada Yang Mulia Permaisuri dan Yang Mulia Junwang Fei. Semoga Yang Mulia berdua dianugerahi umur panjang."
Seluruh peserta memberi hormat sambil menundukkan badan.
Permaisuri mempersilakan mereka bangkit, lalu mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang berhasil lolos ke tahap terakhir.
Kali ini mereka akan menunjukkan kemampuan dalam empat seni, yaitu sastra dan puisi, tari, musik, serta catur.
Sebagai calon Shizi Fei, mereka harus menguasai keempat bidang tersebut. Meskipun tidak perlu mahir dalam semuanya, setidaknya mereka harus memiliki satu kemampuan yang dapat dikatakan sempurna.
Permaisuri Wanhui hendak menyuruh mereka melihat kamar masing-masing terlebih dahulu. Namun pengumuman kedatangan Putra Mahkota Li Yan dan Putra Pewaris Li Wen membuat suasana langsung berubah.
Para peserta tampak senang sekaligus gugup.
Lu Wan menundukkan kepala karena malu.
Ming Zi menegakkan kepala karena penasaran.
Jiu Lin diam-diam mencuri pandang saat mereka lewat.
Hanya Ye Ning dan Qing He yang tampak tidak terlalu peduli dengan kehadiran dua pria yang begitu diminati para wanita ibu kota.
Li Yan berjalan sambil tersenyum ketika melewati barisan para gadis.
Sebaliknya, Li Wen tampak sedikit kaku dan diam-diam mencari sosok Lu Wan.
Li Yan duduk di samping Permaisuri, sedangkan Li Wen berdiri di sisi ibunya.
Seluruh peserta, bahkan para selir, kembali memberi salam hormat kepada mereka.
Permaisuri tersenyum bahagia.
"Selain Li Wen yang akan memilih Shizi Fei dan seorang selir, Putra Mahkota Li Yan juga akan memilih beberapa selir untuk dirinya. Semua ini demi kemakmuran keluarga kekaisaran. Bagi kalian yang tidak terpilih, jangan bersedih. Istana tetap akan memberikan hadiah sebagai tanda penghargaan."
Kecuali Ye Ning dan Qing He, para gadis lainnya tampak sangat senang mendengarnya.
Bahkan Ming Zi sampai bertepuk tangan dalam hati.
Setelah pengumuman itu, mereka diminta kembali ke kamar untuk merapikan barang-barang sebelum berkumpul lagi di taman terbuka guna mengikuti ujian berikutnya.
Saat semua orang berbalik pergi, Permaisuri memanggil Qing He untuk tetap tinggal.
Ye Ning menghela napas lega.
Syukurlah, kali ini bukan dirinya yang dipanggil Li Yan.
Namun harapan tetaplah harapan.
Baru saja ia melangkah keluar dari aula, seseorang yang paling tidak ingin ia temui justru menyusulnya.
"Ye Ning..."
Ye Ning langsung berlari secepat mungkin, berpura-pura tidak mendengar.