Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kembali Ke Apartemen Razka
Beberapa menit kemudian, Amora selesai membersihkan diri. Ia duduk di depan meja rias sambil menyampirkan handuk kecil di bahunya. Rambut panjangnya yang masih basah dikeringkan perlahan menggunakan hairdryer. Hembusan udara hangat dari alat itu berpadu dengan cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden, membuat kamar terasa nyaman dan terang.
Di tengah suara dengung hairdryer, terdengar bunyi ketukan pelan dari balik pintu.
Tok... tok... tok...
"Amora..." panggil Jelita dengan suara lembut.
Amora segera mematikan hairdryer, lalu menoleh ke arah pintu.
"Iya, Kak. Masuk aja."
Pintu kamar terbuka perlahan. Jelita masuk dengan pakaian santai berupa kaus abu-abu dan celana panjang rumahan. Wajahnya sudah tampak lebih segar dibanding malam sebelumnya, meski sisa lelah masih terlihat jelas di matanya.
Ia berjalan mendekat, kemudian duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan sang adik yang kembali menyisir rambutnya.
"Kamu jadi balik ke apartemen hari ini?" tanyanya pelan.
Amora mengangguk kecil.
"Iya, Kak. Sekalian mau belanja juga. Persediaan makanan di apartemen udah hampir habis."
Percakapan kembali terhenti. Jelita tampak beberapa kali memainkan jemarinya sendiri, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.
"Ra..." panggilnya lirih.
Amora menghentikan aktivitasnya dan memutar kursi hingga menghadap kakaknya sepenuhnya.
"Ada apa, Kak?"
Jelita menundukkan pandangan. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan.
"Kakak mau minta tolong satu hal sama kamu."
Amora mengangguk pelan, memberi isyarat agar kakaknya melanjutkan.
"Tolong... jangan kasih tahu Razka kalau Kakak udah pulang ke rumah."
Kalimat itu diucapkan nyaris seperti bisikan.
"Kakak belum siap kalau tiba-tiba keluarga Bagaskara datang buat minta penjelasan soal kejadian sebelum pernikahan. Kakak sadar semua ini salah. Kakak juga tahu mungkin permintaan ini terdengar egois, tapi... Kakak benar-benar masih butuh waktu."
Amora menatap wajah kakaknya beberapa saat. Ia dapat melihat rasa takut sekaligus penyesalan yang masih begitu jelas tergambar di sana. Setelah beberapa detik terdiam, senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Aku ngerti kok, Kak."
Suaranya terdengar lembut dan menenangkan.
"Tenang aja. Aku nggak akan cerita ke Mas Razka kalau Kakak udah pulang."
Raut wajah Jelita perlahan melunak. Ada kelegaan yang langsung terlihat dari sorot matanya setelah mendengar jawaban sang adik.
Amora kemudian sengaja mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak kembali dipenuhi rasa bersalah.
"Ngomong-ngomong, hari ini jadi ke kos buat ambil barang-barang?"
Jelita menganggukkan kepala.
"Iya. Nanti Dani yang nemenin Kakak."
Mendengar nama itu, Amora tersenyum tipis.
"Kalau sama Mas Dani, aku jadi nggak terlalu khawatir. Karena Kakak pasti dijaga baik-baik."
Jelita ikut tersenyum kecil, ia merasa dadanya sedikit lebih ringan.
"Terima kasih ya, Ra."
Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju pintu kamar.
Amora hanya membalas dengan anggukan dan senyum hangat, mengantar kepergian kakaknya dengan tatapan penuh pengertian.
Tidak lama kemudian pintu kembali tertutup. Suasana kamar kembali sunyi.
Amora mengembuskan napas pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke cermin di hadapan. Ia menatap pantulan dirinya cukup lama. Sorot matanya tampak tenang, tetapi menyimpan begitu banyak pikiran yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Sering-sering pulang ke rumah ya, Dek," ucap Fina lembut sambil menggenggam tangan Amora di depan pintu utama.
Embusan angin pagi berhembus pelan, membawa harum bunga-bunga yang bermekaran di taman halaman rumah keluarga Atmojo. Suasana hangat itu membuat momen perpisahan terasa sederhana, tetapi penuh kasih sayang.
Amora tersenyum lebar. Tatapannya tertuju pada sang mama dengan sorot mata yang penuh kehangatan.
"Ya pasti dong, Ma," jawabnya sambil terkekeh pelan. "Apartemen juga dekat dari sini. Lagian minggu depan aku sudah mulai masuk kerja lagi. Jadi pasti sering mampir. Iya kan, Yah?"
Pandangannya kemudian beralih kepada Danendra yang berdiri beberapa langkah di samping Fina. Pria itu membalas dengan senyum tipis. Meski hanya mengenakan pakaian santai, wibawanya tetap terpancar.
"Iya," jawab Danendra singkat sembari menganggukkan kepala. "Rumah ini tetap rumah kamu. Datang kapan saja juga boleh."
Di sisi Fina, Jelita berdiri sambil memperhatikan adiknya. Kedua tangannya terlipat di depan tubuh, sementara tatapannya mengikuti setiap gerakan Amora. Setelah semua yang terjadi, ia masih belum bisa sepenuhnya menghilangkan rasa bersalah yang mengganjal di hatinya.
Amora mengedarkan pandangan kepada ketiga anggota keluarganya. Kehangatan yang mereka berikan membuat dadanya terasa sesak sekaligus damai. Rasanya berat meninggalkan rumah yang sejak kecil menjadi tempatnya bertumbuh, terlebih setelah beberapa hari terakhir dipenuhi berbagai peristiwa yang menguras emosi.
Tidak ingin membuat suasana semakin sendu, Amora melangkah menuju mobilnya yang telah terparkir di halaman. Bunyi sepatunya menggema pelan di atas lantai batu, sementara Fina dan Danendra mengiringinya hingga mendekati kendaraan. Dari ambang pintu, Jelita hanya tersenyum kecil sambil melambaikan tangan.
Saat Amora hendak membuka pintu mobil, Fina kembali menghampirinya. Dengan penuh kasih, wanita itu mengusap pelan lengan putrinya.
"Hati-hati di jalan, ya. Pokoknya harus jaga diri," pesannya lembut.
Amora mengangguk sambil tersenyum menenangkan.
"Iya, Ma. Mama enggak usah khawatir. Aku bakal jaga diri."
Sebelum masuk ke dalam mobil, Amora menoleh sekali lagi ke arah rumah megah bercat putih yang berdiri kokoh di hadapannya. Bangunan itu menyimpan begitu banyak kenangan masa kecilnya bersama keluarga. Seberapa jauh pun ia melangkah, rumah itu selalu menjadi tempat yang paling ingin ia datangi.
Perlahan ia masuk ke balik kemudi, mengenakan sabuk pengaman, lalu menyalakan mesin mobil. Suara mesin langsung terdengar halus, memecah keheningan pagi.
Sebelum menjalankan mobil, Amora kembali melambaikan tangan melalui kaca jendela. Fina, Danendra, dan Jelita membalas lambaian itu dengan senyum hangat yang seolah mengiringi kepergiannya.
Tidak lama kemudian, mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah keluarga Atmojo. Dari kaca spion, Amora masih sempat melihat ketiga orang yang paling berarti dalam hidupnya berdiri di depan rumah sambil memperhatikannya. Sosok mereka perlahan semakin mengecil, hingga akhirnya lenyap di balik tikungan jalan.
Amora mengembuskan napas panjang. Cahaya matahari pagi menembus rindangnya pepohonan di sepanjang jalan, sementara udara segar mengalir melalui celah ventilasi mobil. Ia menggenggam kemudi dengan lebih mantap, berusaha menata kembali pikirannya sebelum kembali menjalani kehidupan di apartemen bersama Atharazka.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰