Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Jejak Masa Lalu, Kabar Terbaru
Saat jari-jemari Theo menelusuri halaman-halaman usang buku catatan ayahnya, sebuah kaitan yang tak terduga mulai terbentuk. Ia membaca detail-detail tentang kesepakatan bisnis yang rumit, tentang potensi kerugian besar, dan tentang sosok-sosok yang terlibat. Tiba-tiba, sebuah nama muncul dalam catatannya, sebuah nama yang sangat familiar baginya: Wijaya Grup.
Jantung Theo berdegup kencang. Ia teringat Pak Wijaya, tangan kanan ayahnya yang telah membantunya selama ini. Ia juga ingat bahwa perusahaan konsultan bisnis ibunya kini berada di bawah naungan Wijaya Grup. Mungkinkah ada hubungan antara catatan ayahnya, berita yang ia dengar di minimarket, dan Wijaya Grup?
Tanpa menunggu lebih lama, Theo segera meraih laptopnya. Ia membuka peramban internet dan mengetikkan kata kunci yang relevan. Ia mencari berita terbaru mengenai penyelidikan praktik bisnis yang tidak etis yang ia dengar tadi. Ia ingin memastikan apakah ada kaitan langsung dengan Wijaya Grup.
Hasil pencarian muncul dalam hitungan detik. Berita-berita dari berbagai media online membanjiri layar laptopnya. Beberapa artikel menyebutkan dugaan manipulasi pasar saham, sementara yang lain menyoroti potensi penipuan dalam transaksi internasional. Dan di beberapa pemberitaan, nama Wijaya Grup memang disebut-sebut, meskipun masih dalam konteks penyelidikan awal dan belum ada tuduhan resmi yang dilayangkan.
Theo membaca setiap artikel dengan saksama, mencoba menghubungkan titik-titik yang ada. Catatan ayahnya memberikan gambaran tentang sebuah skema pengkhianatan yang kompleks, sementara berita-berita terbaru menunjukkan bahwa skema tersebut mungkin sedang dalam proses dieksekusi atau baru saja terungkap.
Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Pengkhianatan yang dialami ayahnya bertahun-tahun lalu, mungkin saja memiliki resonansi hingga masa kini, dan melibatkan pihak-pihak yang tak terduga. Theo tahu, ia tidak bisa mengabaikan ini. Buku catatan ayahnya bukan hanya warisan,
...****************...
Theo tahu persis di dalam hatinya bahwa Wijaya Grup, atau setidaknya Pak Wijaya yang ia kenal, tidak mungkin terlibat dalam praktik bisnis yang kotor. Pak Wijaya adalah sosok yang ia hormati, yang selalu menunjukkan integritas dan kebaikan. Keraguan mulai muncul di benaknya. Jika bukan Wijaya Grup yang melakukan itu, lalu siapa? Dan mengapa nama mereka disebut-sebut dalam berita?
Ia kembali membuka buku catatan ayahnya, kali ini dengan fokus yang lebih tajam. Ia teringat kalimat di halaman pertama yang ditulis ayahnya dengan penekanan: "Masa depan bisa diprediksi lewat tren pasar." Baskara, ayahnya, adalah seorang visioner. Ia tidak hanya berbisnis, tetapi juga memahami pola-pola pasar dengan sangat mendalam.
Theo mulai mencocokkan grafik-grafik saham yang tergambar di buku catatan ayahnya dengan data pergerakan saham terbaru yang ia temukan di internet. Ia mencari pola-pola yang sama, anomali yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Ia mencoba melihat apa yang dilihat ayahnya bertahun-tahun lalu, mencoba memahami bagaimana tren pasar bisa menjadi petunjuk akan sebuah kejadian di masa depan.
Ia menyadari bahwa beberapa pola pergerakan saham yang digambarkan ayahnya dalam buku catatan itu, ternyata memiliki kemiripan yang mencolok dengan pergerakan saham perusahaan-perusahaan yang sedang diselidiki saat ini. Ada lonjakan yang tidak wajar, penurunan yang tiba-tiba, dan volume perdagangan yang mencurigakan. Semuanya tampak seperti bagian dari sebuah skema yang terencana.
"Ayah... kau benar," gumam Theo pada dirinya sendiri. "Kau melihat ini akan terjadi."
Ia mulai curiga bahwa nama Wijaya Grup mungkin disebut-sebut bukan karena mereka terlibat langsung, tetapi karena mereka adalah target, atau mungkin karena ada pihak lain yang mencoba menjatuhkan mereka dengan memanfaatkan situasi. Mungkin saja, ada seseorang yang mencoba memanfaatkan ketidakpahaman publik tentang pergerakan pasar saham yang kompleks untuk menutupi jejak mereka sendiri.
...****************...
Tentu, ini kelanjutan Bab 35:
Bab 35: Jejak Masa Lalu, Kabar Terbaru (Lanjutan)
Di sudut kota yang berbeda, di sebuah ruangan yang remang-remang, Rendra duduk dengan seringai puas di wajahnya. Rencana jahatnya untuk menjebak Wijaya Grup hampir saja berhasil. Matanya tertuju pada layar monitor yang menampilkan berita-berita tentang penyelidikan yang sedang berlangsung. Senyumnya semakin lebar, seolah menikmati setiap detail dari kekacauan yang ia ciptakan.
Beberapa tahun lalu, Rendra pernah mengalami penolakan pahit. Permintaan akuisisi perusahaan kosmetik ternama dari luar negeri ditolak mentah-mentah. Saat ia menyelidiki lebih dalam, ia menemukan bahwa di balik penolakan itu, ada campur tangan Wijaya Grup. Sejak saat itu, dendam mulai membara dalam dirinya. Rendra, dengan watak aslinya yang kejam dan ambisius, tidak pernah ragu untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Ia melihat Wijaya Grup sebagai penghalang utama kesuksesannya, dan kini, ia merasa inilah saatnya untuk membalas dendam.
Ia telah merancang skema yang rumit, memanfaatkan pergerakan pasar saham yang kompleks untuk menjebak Wijaya Grup. Ia tahu bahwa nama grup itu akan terseret dalam penyelidikan, menciptakan citra negatif dan merusak reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun. Baginya, ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang ego dan kekuasaan.
"Wijaya... kau pikir kau bisa menghentikanku?" gumam Rendra pada dirinya sendiri, suaranya terdengar dingin dan penuh ancaman. "Kau salah besar. Aku akan menghancurkanmu, sama seperti kau menghancurkan rencanaku dulu."
Ia meneguk segelas minuman keras, matanya memancarkan kilatan licik. Rendra tidak menyadari bahwa di sisi lain kota, seorang pemuda bernama Theo Baskara sedang menelusuri jejak yang sama, mencoba mengungkap kebenaran di balik semua ini. Dan ia juga tidak tahu bahwa buku catatan ayahnya, Baskara, telah memberikan petunjuk yang bisa menggagalkan seluruh rencana,
...****************...
Theo terus meneliti buku catatan ayahnya, matanya menyapu setiap baris tulisan dengan penuh konsentrasi. Ia tahu bahwa ayahnya adalah seorang ahli strategi yang brilian, dan buku catatan ini adalah gudang pengetahuannya. Saat ia membalik halaman, sebuah bagian menarik perhatiannya. Di sana, ayahnya telah menuliskan sebuah rumus yang sangat penting, sebuah metode yang bisa digunakan untuk memanipulasi pasar saham.
Rumus itu menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan dapat secara sengaja menaikkan atau menurunkan harga sahamnya sendiri, dengan memanfaatkan berbagai instrumen keuangan dan strategi pasar. Ini adalah teknik yang sangat berbahaya, yang jika disalahgunakan, dapat menyebabkan kerugian besar bagi investor lain dan merusak stabilitas pasar.
Theo menyadari bahwa ini adalah kunci yang selama ini ia cari. Rumus ini bisa menjadi alat untuk mengungkap siapa sebenarnya yang berada di balik skema penipuan ini. Jika ayahnya telah mengetahui dan mencatat metode ini bertahun-tahun lalu, kemungkinan besar ia juga menyadari potensi penyalahgunaannya.
"Jadi ini... ini yang kau coba peringatkan aku, Ayah?" bisik Theo, matanya berkaca-kaca. Ia merasa semakin dekat untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia tahu bahwa rumus ini sangat mungkin digunakan oleh Rendra untuk menjebak Wijaya Grup. Dengan menaikkan atau menurunkan harga saham perusahaan yang terkait, Rendra bisa menciptakan ilusi manipulasi pasar dan mengarahkan semua kecurigaan kepada Wijaya Grup.
Theo segera membuka laptopnya lagi. Ia mulai mencari informasi tentang perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam berita terbaru itu, mencoba melihat apakah ada pola yang sesuai dengan rumus yang ayahnya tulis. Ia harus berhati-hati. Informasi ini sangat sensitif, dan ia tidak ingin jatuh ke tangan yang salah.
Di sisi lain, Rendra terus melanjutkan rencananya, tanpa menyadari bahwa sebuah buku catatan tua, yang berisi pengetahuan ayahnya, kini menjadi ancaman terbesar bagi kelancaran dendamnya.