NovelToon NovelToon
Dari Terpaksa Jadi Cinta

Dari Terpaksa Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romantis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amillea24

"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."

Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Pukul dua belas malam Gavin baru saja tiba di apartemen. Begitu masuk kedalam apartemen itu suasana di dalam terasa sangat begitu gelap dan sepi.

"Tumben lampu dapur ngga dinyalain sama Aruna ? Biasanya nyala tuh lampu." Ucap Gavin sambil melirik kearah dapur. Biasanya lampu disana selalu menyala terang tapi kini tidak.

Semenjak Aruna tinggal di apartemennya. Lampu yang berada di dapur selalu di nyalakan oleh gadis itu. Katanya sih biara terlihat terang saja. Jangan sampai keadaan di dalam gelap gulita.

"Apa dia lupa ya ? Tapi ngga biasanya sampe lupa begini."

Ia menghela napas panjang, melepaskan dua kancing teratas kemeja putihnya yang terasa mencekik sejak sore. Langkah kakinya terseret pelan menuju dapur, berniat untuk menyalakan lampu dan mengambil segelas air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Begitu matanya menatap meja makan, ia tertegun.

Lagi - lagi tak seperti biasanya. Ada apa dengan gadis cerewet itu sih !?

Meja itu bersih. Benar-benar bersih dan kosong. Biasanya, sekaku apa pun hubungan mereka, Aruna selalu menyisakan tudung saji berisi lauk makan malam, atau setidaknya ada teko air yang sudah terisi penuh di atas meja. Tapi malam ini, tidak ada apa-apa. Hanya ada keheningan pekat yang mendadak membuat dada Gavin terasa sesak.

Gavin menatap pintu kamar Aruna yang tertutup rapat dari kejauhan. "Pasti sudah tidur," gumamnya pelan.

Ia meminum airnya dengan cepat, lalu melangkah ke lantai atas menuju kamarnya. Pikirannya bercabang hebat antara pekerjaan dan masalah yang ada di perusahaan. Rasa bersalah yang kembali merayap karena lagi-lagi ia harus ingkar janji untuk menjemput anak dan istrinya. Gavin mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya memutuskan untuk merebahkan diri di atas tempat tidur, berharap rasa lelahnya bisa hilang keesokan hari.

 

Pukul 06.00 WIB

Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar Aruna. Namun, bagi Aruna, pagi ini tidak diawali dengan ketenangan, melainkan dengan kobaran api amarah yang sudah ia pendam sejak sore kemarin di mall. Luka karena dibohongi mentah-mentah oleh pria yang mulai ia percayai itu rasanya jauh lebih menyakitkan daripada bayangan ketakutannya sendiri.

Aruna menatap Kenzie yang baru saja menggeliat bangun di atas ranjang. Bocah kecil itu mengucek matanya yang bulat, lalu menatap Aruna dengan senyum polos tanpa dosa.

"Amih... Eji koyah ( sekolah)?" tanya Kenzie dengan suara serak khas bangun tidur.

Aruna memaksakan sebuah senyuman manis, mengelus rambut lebat keponakannya dengan penuh kasih sayang. "Iya, sayang. Kenzie sekolah hari ini. Tapi pagi ini kita berangkatnya lebih cepat ya? Kita naik mobil paman taksi aja, gak usah nungguin Daddy."

Mendengar kata 'Daddy', ingatan Aruna kembali berputar pada tawa lepas Gavin bersama wanita cantik di restoran mewah kemarin. Rasa mual dan jengkel langsung bergolak di perutnya. Aruna bergerak dengan sangat cepat, seolah sedang dikejar waktu. Ia memandikan Kenzie, memakaikan baju bergambar bebek pada Kenzie, lalu memasukkan semua botol susu dan keperluan daycare ke dalam tas ransel dinosaurus milik bocah itu.

Aruna sengaja tidak memasak sarapan pagi ini. Biasanya, aroma nasi goreng atau roti panggang buatannya akan memenuhi penjuru apartemen sejak pukul setengah enam pagi. Tapi hari ini, Aruna sengaja membiarkan dapur itu sedingin es. Ia tidak sudi mengeluarkan tenaga sedikit pun untuk menyiapkan makanan bagi pria pengkhianat seperti Gavin.

Setelah memastikan penampilannya rapi dan pesanan taksi onlinenya sudah hampir tiba di lobi, Aruna menggendong Kenzie yang masih setengah mengantuk. Ia membuka pintu kamarnya dengan sangat perlahan, melangkah mengendap-endap seperti pencuri di dalam rumahnya sendiri, hanya demi menghindari bertemu dengan Gavin.

Cklek.

Pintu utama apartemen ditutupnya dengan rapat dan super pelan. Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam lift lobi, Aruna mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Bendera perang resmi ia kibarkan. Mulai hari ini, ia tidak akan sudi lagi berbicara atau bertatap muka dengan pria bernama Gavin Aditama itu.

"Nanti kita beli sarapan di luar aja ya. Sama beli bekal buat Kenzie nanti." Ucap Aruna setelah keduanya masuk kedalam mobil taxi online.

 

Pukul 06.45 WIB

Pintu kamar di lantai atas terbuka. Gavin keluar dengan penampilan yang sudah rapi dan segar. Ia mengenakan kemeja abu-abu dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, siap untuk menjalankan tugasnya pagi ini. Setelah empat hari berturut-turut absen dan selalu beralasan sibuk, Gavin bertekad penuh untuk menebus kesalahannya hari ini dengan akan menjemput Aruna dan Kenzie tepat waktu.

"Pagi, Boy! Pagi, Ru!" seru Gavin dengan suara baritonnya yang sengaja diceriakan saat menuruni anak tangga satu per satu.

Namun, tidak ada sahutan.

Langkah kaki Gavin terhenti seketika di anak tangga terakhir. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah, lalu beralih menatap meja makan dan dapur. Kosong. Sunyi senyap. Tidak ada suara bising gantungan panci yang beradu, tidak ada aroma kopi hitam yang biasa menguar, dan yang paling aneh, tidak ada suara tawa melengking atau celoteh cadel Kenzie yang biasanya sudah heboh mengejar bermain di atas karpet.

Kening Gavin berkerut dalam. Ia berjalan cepat menuju dapur, memeriksa kompor yang benar-benar bersih dan dingin.

"Aruna? Kenzie?" panggil Gavin lagi, kali ini nadanya mulai diselimuti rasa bingung yang amat sangat.

Gavin berjalan menuju kamar Aruna yang terletak di lantai bawah. Ia mengetuk pintu kayu itu beberapa kali. "Ru? Kamu di dalam? Maaf, kemarin aku pulang malam lagi. Yuk, siap-siap, aku antar ke sekolah sekarang biar gak telat."

Hening. Tetap tidak ada jawaban dari dalam.

Rasa cemas mendadak menyergap dada Gavin. Mengabaikan sopan santun, ia memberanikan diri memutar knop pintu kamar Aruna. Pintu itu tidak dikunci. Begitu terbuka, Gavin mendapati ruangan itu sudah dalam keadaan rapi total. Ranjang sudah bersih dan rapih, tidak ada pakaian yang berantakan, dan yang paling membuat jantung Gavin mencoles adalah hilangnya tas ransel dinosaurus milik Kenzie yang biasanya digantung di balik pintu.

Gavin melangkah mundur dengan wajah pias. Ia segera merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan langsung mendial nomor Aruna.

Panggilan pertama... hanya nada dering yang berbunyi panjang sampai terputus.

Panggilan kedua... langsung dialihkan ke kotak suara. Nomor Aruna sengaja menolak panggilannya.

"Sial, mereka ke mana?" umpat Gavin panik.

Ia segera beralih membuka aplikasi WhatsApp, mengetik pesan dengan jari yang bergerak cepat karena cemas.

Gavin :

'Ru, kamu di mana? Kenzie di mana? Kenapa jam segini apartemen sudah kosong? Aku sudah siap mengantar kalian.'

Pesan itu terkirim, namun hanya memunculkan centang dua berwarna abu-abu. Aruna membaca notifikasinya dari bilah layar atas, tapi sengaja tidak mau membuka ruang obrolan mereka.

Gavin mondar-mandir di ruang tengah bagai ayam kehilangan induknya. Kebingungan ini perlahan-lahan berubah menjadi rasa bersalah yang teramat sangat, bercampur dengan keheranan. Mengapa Aruna sampai senekat ini pergi pagi-pagi sekali tanpa pamit? Apakah Aruna marah padanya ?

Gavin terduduk lemas di atas sofa ruang tamu, menyugar rambutnya yang rapi hingga sedikit berantakan. Rasa frustrasi mulai merayapinya. Di kantor, ia harus berhadapan dengan tumpukan pekerjaan. Ditambah permasalahan dengan orang bernama Bramantyo. Dan sekarang, di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang dengan tenang, ia justru disambut oleh keheningan yang mencekam dan kemarahan tak kasat mata dari Aruna.

"Kamu beneran marah besar ya, Ru?" gumam Gavin lirih, matanya menatap kosong ke arah karpet bulu tempat Kenzie bermain.

Gavin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tahu, ia tidak bisa membiarkan dinding dingin ini terus berdiri di antara mereka. Situasi saat ini terlalu berbahaya jika mereka harus berjalan sendiri-sendiri dengan ego masing-masing.

Gavin langsung berdiri dengan tegak, menyambar kunci mobilnya di atas meja dengan gerakan tegas. Tatapan matanya kembali berubah tajam dan penuh determinasi.

"Kalau kamu gak mau bicara di rumah, oke. Aku yang akan datang ke tempatmu, Aruna," batin Gavin penuh tekad.

Ia tidak akan membiarkan bendera perang yang dikibarkan Aruna menghancurkan kerja sama yang baru saja mereka bangun demi melindungi masa depan keponakan mereka. Apalagi, ada teka-teki besar tentang kematian kakaknya yang masih harus ia pecahkan, dan ia butuh Aruna untuk tetap berada di sisinya sebagai satu-satunya sekutu yang bisa ia percayai sepenuhnya.

Dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, Gavin keluar dari apartemen, bersiap menyusul istri dan keponakannya ke Children Smart School untuk menuntut penjelasan—sekaligus menyelesaikan badai yang baru saja dimulai.

 

"Maaf pak, Miss Aruna sedang ada kegiatan pembelajaran ke luar bersama anak - anak..."

Bersambung...

1
partini
lihat yg dia beli atuh ,dia beli buat kamu juga ga semua buat dirinya sendiri
partini
semangat Thor ,semoga di kontrak novel nya
partini
siapa wanita itu yg bikin salah faham
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
partini
diem itu lebih baik dari pada cuap 👍👍
partini
dalam bahaya Tah
partini
paling bagus tuh diem sih dari pada bertengkar ga bagus buat anak" dengar kata" kasar
lagi dong Thor
partini
run semoga ga cinta duluan kamu , soal nya yg kebanyakan terjadi cewe yang suka duluan makanya nyesek
Namjachinggu: tenang aja kak, Aruna ngga akan cinta duluan ko 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!