"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
"Paksu... ampun, beneran demi apa pun, Ismut udah nggak kuat... ahh! Udah ampun, Paksu..."
Suara Calla terdengar terputus-putus, parau, dan teramat lirih di antara deru napasnya yang memburu anarki. Di atas ranjang pengantin yang kini sudah berantakan total, tubuh mungilnya bergetar hebat di bawah kungkungan tubuh raksasa Alaric.
Jam dinding kuno di sudut kamar telah melewati angka tiga dini hari, namun ritme pergerakan Alaric sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengendur. Kekuatan fisik seorang Mayor Pasukan Khusus benar-benar terbukti berada di level yang berbeda, tiada tandingannya.
Alaric mendengus rendah, suara baritonnya berubah menjadi erangan parau yang teramat seksi tepat di depan wajah Calla yang sudah basah oleh keringat. "Sebentar lagi, Calla... tahan sedikit lagi, Sayang."
"Nggak mau... ahh! Paksu bohong terus dari tadi bilangnya sebentar!" tangis Calla pecah, meremas kasur dengan jemari lentiknya yang lemas. Tubuhnya menegang untuk kesekian kalinya, melengkung pasrah saat gelombang kenikmatan yang teramat dahsyat kembali menyergap inti tubuhnya, membuatnya mencapai puncak untuk yang kesekian kali malam ini. "Paksu... Ismut udah keluar lagi... ampun... dingin..."
Alaric memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati jepitan yang teramat ketat dari rahim Calla yang sedang berkedut hebat menyambut puncaknya. Namun, daya tahan tubuh militernya membuat stamina Alaric seolah tanpa batas. Dengan tempo yang lambat namun menghujam sangat dalam, ia terus membawa Calla larut dalam pusaran gairah yang memabukkan.
"Paksu kaku... hiks... Ismut capek banget... dengkul Ismut udah lemes..." cicit Calla manja bercampur pasrah, matanya sudah sayu benderang, menatap suaminya dengan pandangan memohon yang teramat lekat.
"Iya, ini yang terakhir, Ismut... saya tahu kamu lelah," bisik Alaric serak, mengecup bibir ranum Calla yang bengkak dengan penuh kelembutan, mencoba menenangkan tangis manja istrinya walau bagian bawah tubuhnya masih terus bergerak menuntut haknya sebagai seorang suami seutuhnya.
Hingga jarum jam hampir menyentuh angka setengah lima pagi, menjelang kumandang azan subuh berkumandang di pangkalan, barulah tubuh tegap Alaric menegang maksimal.
"Calla... ahh..."
Alaric mengerang sangat rendah, sebuah erangan dalam yang sarat akan pelepasan yang teramat nikmat. Menggunakan sisa kekuatan terakhirnya, ia menghujamkan dirinya sedalam mungkin ke dalam rahim Calla, menumpahkan seluruh benih kehidupan yang hangat dan berlimpah di dalam sana.
"Eungh..." Calla hanya bisa melenguh lemah, matanya sudah terpejam rapat. Detik setelah Alaric menumpahkan segalanya, kesadaran Calla benar-benar hilang tanpa sisa. Ia terlelap lebih dulu karena kelelahan yang teramat sangat.
Alaric perlahan menarik dirinya, ambruk di sebelah Calla dengan napas yang terengah-engah hebat. Pria berusia 38 tahun itu menoleh lambat, menatap wajah cantik istri kecil sebatang karanya yang kini mendengkur halus kekenyangan gairah.
Sebuah senyuman yang teramat tulus dan penuh rasa sayang terukir di wajah sang Komandan. Alaric memajukan wajahnya, mengecup dahi Calla dengan sangat lama, lalu menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh polos mereka berdua, ikut memejamkan mata menyusul sang istri ke alam mimpi.
"Aduh... Paksu... pinggang Ismut patah ya? Kok nggak bisa digerakin sama sekali begini?"
Ringisan manja yang teramat memelas itu langsung memecah keheningan kamar pada pukul sembilan pagi. Calla mencoba menggeser kakinya, namun rasa ngilu dan lemas di sekujur tubuhnya membuat gadis itu langsung ambruk lagi ke bantal.
Alaric yang sudah rapi hanya mengenakan kaos dalam militer warna hijau dan celana pendek santai langsung mendekat ke tepi ranjang. "Jangan dipaksa bergerak dulu, Calla. Tubuhmu kaget karena ini yang pertama kali untukmu."
"Ini bukan kaget lagi, Paksu! Ini namanya Ismut habis ditabrak tank baja pangkalan!" protes Calla ketus namun dengan suara yang masih sangat serak. "Paksu curang banget, pagi-pagi udah seger, sedangkan Ismut berasa kayak rongsokan."
Alaric tidak membalas dengan amarah. Dengan sangat sigap, telaten, dan lembut, pria raksasa itu menyusupkan kedua lengan kekarnya ke bawah tubuh Calla, mengangkatnya dengan mudah. "Saya bantu bersihkan tubuhmu. Air hangatnya sudah saya siapkan di bak mandi."
"Hwaaa... digendong lagi," cicit Calla, refleks mengalungkan lengannya yang lemas ke leher Alaric, menyembunyikan wajah malunya di dada bidang sang suami. "Pelan-pelan ya, Paksu. Jangan diceburin kayak latihan fisik."
"Iya, Ismut," jawab Alaric pendek, melangkah lambat menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Alaric benar-benar melayani istri kecilnya dengan sangat telaten. Ia menyeka tubuh mulus Calla dengan handuk hangat, membersihkan sisa-sisa malam pertama mereka dengan penuh kehati-hatian seolah Calla adalah barang porselen yang sangat mudah pecah.
Setelah selesai dibersihkan dan dipakaikan daster baru yang lebih nyaman, Calla kembali dibaringkan di ranjang. Tidak lama kemudian, Alaric kembali masuk ke kamar sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat dan segelas teh manis.
"Buka mulutmu, Calla. Harus diisi makanan agar tenagamu pulih," perintah Alaric lambat, duduk di tepi kasur sambil meniup sesendok bubur hangat.
"Suapin ya, Paksu? Tangan Ismut gemeteran megang sendok aja nggak sanggup," rajuk Calla, membuka mulutnya dengan manja. "Aaa..."
"Iya, memang mau saya suapi," sahut Alaric tenang, memasukkan sendok bubur itu ke dalam mulut Calla. "Bagaimana? Rasanya pas?"
"Enak banget! Paksu beli di mana?" tanya Calla dengan pipi menggembung lucu.
"Saya buat sendiri di dapur," jawab Alaric datar.
Mata Calla langsung melotot bulat. "Hah?! Paksu Komandan kaku bisa masak bubur? Demi apa? Ismut kirain Paksu cuma bisa masak mie instan sama rebus telor doang!"
"Saya ini lama hidup di barak dan hutan latihan, Calla. Memasak dasar seperti ini tentu saja bisa," ujar Alaric, kembali menyendokkan bubur dengan sabar. "Makan yang banyak, jangan banyak bicara dulu."
"Hehehe, siap, Suami idaman sedunia!" tawa Calla renyah, mode bahagianya langsung aktif kembali walau badannya masih remuk redam.
Sementara itu, di luar rumah dinas Komandan, atmosfer pangkalan militer tampak sedikit gempar namun dalam koridor berbisik-bisik. Di pos penjagaan depan, Kopral Bagas dan Sertu Hendra sedang berdiri siaga sambil melirik ke arah pintu rumah dinas Alaric yang tertutup rapat sejak pagi.
"Eh, Ndrut... lu ngerasa ada yang aneh nggak hari ini?" bisik Kopral Bagas sambil membetulkan posisi sangkur di pinggangnya.
"Aneh apanya? Aman-aman aja gua liat," sahut Sertu Hendra cuek.
"Itu lho... Komandan kita!" Bagas memajukan kepalanya, berbisik lebih lirih. "Ini udah jam sepuluh lewat, Bro. Biasanya jam segini Komandan udah keliling pangkalan pakai baju dinas lengkap, pasang muka sangar nyari kesalahan kita. Tapi hari ini... rumah dinasnya sepi nyenyet. Pintu dikunci rapat."
Sertu Hendra langsung terkekeh geli, menepuk pundak temannya. "Ya elah, Bagas! Lu kayak kagak pernah muda aja. Komandan kan baru nikah kemarin dapet istri secantik dan se-seksi Ibu Calla. Ya wajarlah kalau sekarang lagi mengurung diri."
"Maksud lu... Komandan lagi latihan taktis dalam kamar?" tebak Bagas polos.
"Bukan latihan taktis lagi, Jan! Itu namanya Komandan lagi lembur malam sampai pagi!" goda Sertu Hendra terpingkal-pingkal. "Kekuatan fisik Komandan kita kan tiada tandingannya. Kasihan itu Ibu Calla, pasti sekarang lagi nggak bisa bangun dari kasur dapet gempuran dari Mayor Alaric."
"Hahaha! Bener juga lu," timpal Bagas ikut tertawa tertahan. "Ya sudah, kita jaga pos yang bener aja. Jangan sampai ada yang berani ganggu wilayah kekuasaan Komandan hari ini kalau nggak mau dapet hukuman push-up seratus kali."
Kembali ke dalam kamar, Calla yang sudah menghabiskan buburnya kini berbaring miring, menopang kepalanya sambil menatap Alaric yang sedang membereskan mangkuk kosong.
"Paksu... di luar kok sepi banget ya? Anak buah Paksu nggak nyariin Komandannya apa?" tanya Calla jahil.
Alaric menaruh nampan di meja kecil, lalu kembali naik ke atas ranjang, menyelinap di balik selimut dan langsung menarik tubuh mungil Calla ke dalam dekapan dada bidangnya. "Saya sudah mengambil izin cuti nikah selama tiga hari, Calla. Hari ini, fokus saya hanya untuk melayani dan menjagamu di sini."
Calla tersenyum sangat lebar, melingkarkan tangannya di pinggang kokoh Alaric, menghirup aroma maskulin suaminya yang teramat menenangkan. "Wah... Ismut ngerasa kayak ratu pangkalan nih. Makasih ya, Paksu Komandan kesayangan Ismut. Tapi janji ya, nanti malam jangan pakai mode tank baja lagi, Ismut beneran ampun!"
Alaric hanya mendengus geli, mengecup puncak kepala Calla dengan penuh kehangatan yang mendalam. "Tergantung bagaimana tingkah lakumu nanti malam, Ibu Alaric."
selamat Michelle dan minchul dapat restu dari pak letkol 👏👏
semoga menjadi anak anak yg Soleh gagah berani , setia dan tanggung jawab. kayak pa Al,🥰🥰
selamat menjadi orang tua baru..