NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Pelajaran bahasa Inggris berlalu lebih cepat daripada yang diduga. Setelah bel tanda pergantian jam berbunyi, para siswa segera bersiap menghadapi mata pelajaran berikutnya, kesenian. Bagi sebagian besar siswa, jam tersebut tak ubahnya seperti waktu istirahat terselubung. Sebuah kesempatan untuk mengendurkan pikiran setelah berhadapan dengan deretan tata bahasa dan kosa kata asing. Guru kesenian hanya memberikan instruksi sederhana, nyaris tanpa paksaan. Melukis apa pun sesuai imajinasi masing-masing.

Ruang kesenian sudah dipersiapkan dengan segala perlengkapan yang diperlukan. Rak-rak kayu dipenuhi deretan tabung cat warna-warni, kuas dengan berbagai ukuran tertata rapi di dalam wadah, dan kanvas putih bersandar pada meja masing-masing siswa. Jendela besar di sisi ruangan membiarkan cahaya matahari masuk dengan bebas, menghadirkan suasana hangat sekaligus teduh. Sekolah bahkan menambahkan nilai lebih pada kegiatan ini, lukisan terbaik nantinya akan dipajang di galeri seni milik sekolah. Tidak berhenti sampai di situ, setiap bulan diadakan lelang amal, di mana hasil penjualan lukisan siswa akan didonasikan untuk yayasan sosial. Sebuah gagasan yang terdengar mulia, meskipun tidak semua siswa benar-benar menghargainya.

"Guru kesenian ini benar-benar tidak berguna. Untuk apa kita harus bersusah payah hanya demi menggoreskan cat di atas kanvas?" keluh Sherin, bibirnya merengut seolah ia baru saja dipaksa melakukan pekerjaan berat.

"Setidaknya kita mendapat waktu bebas. Berhentilah mengeluh," balas Karin yang duduk di sampingnya. Nada suaranya datar, nyaris bosan, seakan ia sudah terlalu sering mendengar keluhan serupa dari mulut temannya itu. Sesaat kemudian, tatapan Karin beralih kepada Alma, yang duduk bersama mereka dalam satu kelompok kecil.

Ketiganya menempati meja paling dekat dengan jendela. Posisi itu dianggap paling nyaman; cahaya matahari jatuh lembut di atas kanvas mereka, menyinari permukaan cat yang berkilau, sekaligus menawarkan pemandangan pohon rindang di halaman sekolah. Banyak siswa berlomba menempati posisi tersebut, sebab suasana yang tercipta di sana kerap dianggap bisa memunculkan inspirasi artistik.

"Tetap saja ini membosankan," Sherin kembali bersungut, belum puas dengan keluhan sebelumnya.

"Kalau begitu, lukislah ranting pohon yang ada di depan mata. Selesai urusanmu, tak perlu repot berpikir panjang," tekan Karin, kali ini dengan nada lebih keras. Ia tampak jengah dengan sikap Sherin yang selalu mencari celah untuk mengomel. "Lihatlah Alma, dia tidak semerepotkan kau."

Sherin spontan menoleh, melirik ke arah kanvas milik Alma. Seketika alisnya terangkat tinggi. "Apaan itu? Dia hanya mengecat seluruh kanvasnya dengan warna hitam!" ucapnya setengah terperanjat, setengah mengejek.

"Aku baru ingin memulainya, Sherin. Itu hanya warna dasar," jawab Alma tenang. Suaranya tidak meninggi, matanya tetap terpusat pada kuas yang sedang bergerak mantap di atas kanvas.

"Bagiku tetap saja itu terlihat aneh," Sherin menggerutu, enggan mengakui bahwa ia hanya asal bicara.

Karin memutar bola matanya dengan malas, lalu menyahut cepat, "Dasar tidak punya jiwa seni. Daripada terus-menerus mengeluh, kenapa kita tidak membicarakan siswi baru itu saja?"

Kalimat itu berhasil mengalihkan perhatian Sherin. Keluhannya terhenti, digantikan rasa penasaran yang perlahan tumbuh. "Memangnya kenapa dengan dia?"

Karin mencondongkan tubuh ke depan, seolah hendak menyampaikan rahasia besar. "Kalian tahu, dia jadi bahan pembicaraan di kelas."

"Karena dia masih baru?" tanya Alma ringan, suaranya tak lebih dari gumaman lembut.

Karin menggeleng pelan. "Bukan itu. Tapi karena dia duduk di meja terkutuk."

Ucapan itu membuat Sherin sontak membelalak. Ia tahu persis meja mana yang dimaksud. Meja yang dulu ditempati oleh Terresa. Hampir semua orang di sekolah ini memahami kisah kelam yang melekat pada nama itu, kisah tentang seorang siswi yang menjadi korban pembunuhan berantai, peristiwa yang hingga kini masih menyisakan misteri mencekam.

Meja tersebut memang terletak di posisi yang strategis. Dekat jendela, dengan cahaya yang nyaman dan sirkulasi udara yang baik. Namun, sejak tragedi itu, meja tersebut dianggap berhantu. Keyakinan kolektif tumbuh di antara siswa: siapa pun yang berani menempati kursi itu akan menjadi target berikutnya. Apalagi, fakta yang tak terbantahkan. Semua korban pembunuhan berantai itu berasal dari sekolah ini.

"Kalau kupikir-pikir, aku justru salut padanya," ucap Sherin akhirnya, setelah hening beberapa detik. "Bayangkan, baru saja dia masuk, sudah punya teman. Jiwa sosialnya patut diacungi jempol."

Ketiganya lantas serentak melirik ke arah belakang kelas. Di sana, Jasmine terlihat tengah bercengkerama dengan Emma, ketua kelas yang terkenal angkuh sekaligus selektif dalam bergaul.

"Kau benar," timpal Karin. "Apalagi itu Emma. Jarang sekali dia mau berbicara akrab dengan orang lain yang dianggap tidak sepadan, baik dari sisi kepintaran maupun kekayaan."

Sherin mendengus kecil. "Benar juga. Padahal, sebenarnya dia tidak jauh berbeda dengan Terresa dulu. Bedanya, Emma tidak pernah terlalu mencari muka pada guru-guru."

"Biar bagaimanapun, nilai akademisnya tetap tak pernah keluar dari posisi kedua," tambah Karin.

"Dan itu mustahil berubah. Selama Alma masih ada di kelas ini, tidak akan ada yang mampu merebut peringkat pertama," ujar Sherin dengan nada yang entah lebih condong ke arah kekaguman atau kecemburuan. Tatapannya singkat mengarah kepada Alma.

Alma, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya bersuara. "Sudahlah. Kenapa kalian selalu suka membanding-bandingkan orang lain?" katanya dengan suara lembut, namun terselip ketegasan yang tak terbantahkan.

Sherin dan Karin saling pandang, kemudian terkekeh kecil, seolah menertawakan sikap serius Alma.

Belum sempat perbincangan itu benar-benar usai, terdengar suara samar dari arah belakang kelas. Jasmine tertawa ringan, sementara Emma memperlihatkan senyum tipis, sebuah pemandangan yang jarang terjadi, membuat beberapa siswa lain ikut melirik ke arah mereka dengan rasa ingin tahu.

Karin menunduk sedikit, lalu berbisik dengan nada penuh tanda tanya, "Menurut kalian… apa Jasmine benar-benar tidak tahu soal meja itu, atau justru ia sengaja duduk di sana?"

Alma menatap Jasmine dengan sorot mata tenang, penuh perhitungan. Di dalam benaknya, ia menyusun kesimpulan. Jasmine sudah mulai membangun aliansinya. Sayang sekali, dalam kehidupan ini tidak ada Freya ataupun Terresa yang bisa dijadikan pion pertamanya. Namun, Emma bukanlah pilihan yang buruk. Bukankah di kehidupan pertama mereka Emma dikenal sebagai pengikut Jasmine yang paling setia?

Sherin merapatkan bibirnya, sedikit bergidik. "Entahlah. Kalau aku jadi dia, aku pasti langsung pindah tempat."

Karin menyandarkan dagunya pada telapak tangan, menatap kosong sejenak. "Atau mungkin, dia memang tidak percaya pada takhayul. Baginya, meja hanyalah sekadar meja."

"Bisa jadi," gumam Alma singkat, seolah tak ingin memperpanjang diskusi.

Namun, tatapannya pada Jasmine tetap bertahan lebih lama daripada yang seharusnya, sebuah sorot mata yang menyimpan pemikiran jauh lebih dalam daripada sekadar warna hitam yang baru saja ia goreskan di atas kanvas.

🥀🥀🥀

"Boleh kami bergabung di sini?"

Sebuah suara lembut terdengar, memecah percakapan ringan tiga gadis yang tengah menikmati makan siang. Alma, Sherin, dan Karin, yang sebelumnya keluar dari ruang kesenian bersama, telah sepakat duduk semeja di kafetaria. Namun, kedatangan seseorang tiba-tiba menginterupsi kebersamaan mereka.

Yang muncul bukan orang asing. Melainkan siswi baru yang sempat mereka perbincangkan di kelas kesenian barusan. Jasmine, dengan senyumnya yang anggun, berdiri di hadapan meja mereka. Di sampingnya, berdiri Emma, sang ketua kelas yang selalu tampak tenang dan berwibawa.

Alma menoleh, kemudian tersenyum ramah. "Ya, tentu saja tidak masalah. Lagipula, meja ini masih cukup luas untuk dua orang lagi."

"Terima kasih, kau..." Jasmine berusaha menyebut nama mereka, namun ia segera menyadari bahwa mereka bahkan belum saling mengenal secara resmi. Ia hanya bisa tersenyum canggung sebelum duduk.

"Aku Alma," ujar gadis berambut hitam itu, memperkenalkan diri dengan nada sopan. "Ini Sherin, dan yang di sebelahnya Karin."

"Terima kasih, Alma." Jasmine menundukkan kepala sedikit, seolah penuh rasa syukur. "Kita sekelas, bukan? Aku masih sangat baru di sekolah ini. Rasanya menyenangkan bisa berkumpul dengan teman satu kelas."

Sherin, yang sedari tadi sibuk menyuap makanan, berbisik pelan sambil menyenggol lengan Alma, "Seolah-olah kita sudah akrab saja. Kenapa juga kau membiarkan mereka duduk di sini?"

Alma hanya berkedip, memberikan isyarat agar Sherin tidak melanjutkan kata-kata yang bisa menyinggung. "Tidak apa-apa. Kita ini teman sekelas, jadi wajar saja berbagi meja."

Karin yang sejak tadi diam akhirnya ikut menimpali, "Benar kata Alma. Jarang juga kita duduk bersama seperti ini. Lagipula, bukankah lebih menarik kalau ada ketua kelas di sini? Benar, kan, Emma?"

Emma tidak langsung menanggapi. Gadis itu lebih fokus pada makanan yang baru saja dibawanya. Gerakannya tenang, bahkan dingin. Seolah tak ingin ikut larut dalam percakapan.

Karin berdecak pelan dalam hati, meski wajahnya masih terhias senyuman. "Aku tidak tahu kalau kau bisa begitu dekat dengan siswi pindahan," ujarnya lagi, mencoba membuka percakapan.

Emma akhirnya menjawab, nada suaranya tetap datar tanpa emosi, "Ini tugasku sebagai ketua kelas. Jasmine masih belum mengenal lingkungan sekolah. Bu Megan juga sudah berpesan agar kita mendampinginya."

"Benar sekali," sambung Jasmine cepat, senyumnya masih terjaga anggun. "Aku bersyukur di hari pertamaku, Emma bersedia menemaniku. Aku juga berharap kita semua bisa menjadi lebih akrab."

Alma mengangkat senyum tipis. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, senyum itu tak benar-benar sampai ke matanya. "Ya, terdengar menyenangkan."

Sherin yang terkenal blak-blakan kembali melontarkan pertanyaan, "Ngomong-ngomong, kau pindahan dari luar negeri, kan? Kenapa memutuskan kembali lagi ke sini?"

Jasmine meletakkan sendoknya sebentar, lalu menatap mereka satu per satu sebelum menjawab dengan nada sabar, "Sebenarnya, aku pernah tinggal di negara ini saat kecil. Karena pekerjaan orang tua, kami harus pindah ke luar negeri. Setelah bertahun-tahun, akhirnya kami memutuskan untuk kembali."

Kali ini Karin yang menimpali, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. "Apa yang dilakukan keluargamu? Tidak mudah, tahu, bisa masuk Athena di tengah semester tanpa koneksi yang kuat."

Pertanyaan itu membuat Jasmine terdiam sejenak. Namun ia segera tersenyum lagi, menutupi sesuatu yang samar di balik sorot matanya. "Keluargaku bergerak di bidang infrastruktur, bekerja sama langsung dengan pemerintah."

Alma yang terkenal jeli dan kritis langsung menyahut, "Tapi, sepanjang yang aku tahu, tidak ada pengusaha bermarga Caroline di negara ini."

Sherin segera menimpali penuh semangat, "Iya, Alma benar. Aku juga belum pernah mendengarnya. Benar begitu, Karin?"

Karin mengangguk.

Dengan tenang, Jasmine menjawab, "Karena aku menggunakan marga ibuku." Senyum itu tetap terpatri di wajahnya, meski sorot matanya sesaat terlihat mengeras.

Emma akhirnya mengerutkan kening, tampak terganggu dengan arah percakapan. "Kenapa kalian begitu penasaran dengan urusan keluarga orang lain?"

Sherin mengangkat bahu acuh. "Hanya ingin tahu saja. Bukankah itu wajar? Lagi pula, ini Athena, bukan sekolah elit sembarangan."

Namun Jasmine segera menengahi dengan suara lembut, "Tidak apa-apa, Emma. Aku tidak keberatan menjawab."

Sebelum percakapan mereka berlanjut, tiba-tiba terdengar jeritan kecil tertahan dari beberapa siswi di sudut ruangan. Spontan, semua orang di kafetaria menoleh ke arah pintu masuk.

Di sanalah seorang pemuda tampan dengan aura dingin berjalan masuk. Kaiden. Pewaris tunggal keluarga Harrington yang jarang sekali muncul di tempat ramai seperti kafetaria. Kehadirannya membuat seisi ruangan mendadak hening.

Bisikan-bisikan segera bermunculan.

"Itu Kaiden! Ya ampun, apa yang membuatnya datang ke kafetaria?"

"Dilihat dari dekat... dia benar-benar seperti dewa. Lihat tatapan matanya, begitu tajam."

"Wajahnya... seperti patung marmer yang dipahat sempurna."

Namun Kaiden tidak peduli dengan semua lirikan penuh kekaguman itu. Pandangannya segera tertuju pada satu orang. Alma. Seolah gadis itu adalah satu-satunya alasan ia berada di sini. Tanpa ragu, ia melangkah menghampiri meja mereka.

"Kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanyanya datar, namun sorot matanya, jelas hanya ditujukan pada Alma.

Sejak pertemuan mereka di kafe kemarin, Alma, Kaiden, Leon, dan Calvin memang telah bertukar nomor ponsel. Alma sempat terdiam, lalu merogoh saku roknya. Kosong. Ia menghela napas pelan. "Maaf, aku tidak membawa ponselku."

Kaiden tidak menunjukkan kemarahan. Ekspresinya tetap dingin. "Pulang sekolah ikut denganku. Mamah ingin bertemu denganmu. Tante Isabella sudah mengizinkan." Tanpa menunggu persetujuan Alma, ia berbalik pergi, meninggalkan ruangan yang masih membeku.

Keheningan menyelimuti kafetaria. Semua mata kini beralih ke arah Alma, seolah gadis itu baru saja menjadi pusat semesta.

Sherinlah yang pertama memecah kebekuan. Ia terkekeh sinis. "Well, well, well... apa ini, Alma? Pertama Leon, dan sekarang Kaiden? Apa ini semacam... cinta segitiga?"

Alma buru-buru mengibaskan tangannya. "Apa maksudmu? Tidak ada yang seperti itu."

"Jujurlah padaku," desak Sherin, matanya menyipit penuh kecurigaan.

"Apa yang harus aku katakan?" Alma tetap tenang, tidak ingin meladeni.

Karin menengahi, nada suaranya lebih rasional. "Sudahlah, Sherin. Lagipula wajar kalau Alma mengenal Kaiden. Dia kan putri keluarga Morrison."

Sherin mendengus, tapi akhirnya mengangguk setuju.

Jasmine yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya bertanya polos, "Maaf, sebenarnya siapa tadi? Sepertinya dia sangat terkenal di sini."

"Oh iya, aku lupa. Kau masih baru," jawab Sherin cepat. "Dia itu Kaiden, pewaris keluarga Harrington. Kalau kau tidak tahu siapa Harrington, cari saja sendiri. Aku malas menjelaskan panjang lebar. Atau tanyakan saja pada temanmu itu," ujarnya sambil melirik Emma.

Jasmine hanya bergumam lirih, "Ah, begitu rupanya..."

Namun di bawah meja, kedua tangannya terkepal erat. Senyum tenang yang tadi ia tunjukkan perlahan memudar dalam hatinya. Bagaimana mungkin? Buruannya ternyata dekat dengan gadis lain, gadis bernama Alma.

Itu tidak tercatat dalam laporan yang ayahnya berikan. Alma jelas bukan nama yang seharusnya muncul dalam rencananya. Tetapi kini, ia harus memikirkan ulang. Jika benar Alma menjadi penghalang, maka akan sangat mudah baginya untuk menyingkirkan gadis itu.

1
tutiana
woowwww ,
tutiana
nextt Thorr ☕️
aku
semangat lanjut
wahyu andria
semngat thorrr. .double up 🤭🙏💪
falea sezi
hmmm alma kurang perhitungan g bs bela diri menye menye bisa bunuh doank itu aja dia minta bantuan jean😒
falea sezi
siapapun yg bangkit dr kematian karena fitnah bully pasti bakal dendam 😒
falea sezi
g bakalan lupa Leon lu uda bunuh alma di kehidupan b sebelum nya😒
falea sezi
alma uda benci sama loe kaiden
falea sezi
q benci bgt bullying kayak gini semoga anak ku g dpet bully di sekolah karena itu mental bs kena😕
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!