NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:19.5k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Cemburu

Ferdi tersentak kaget namun segera tersenyum. Di hadapan Emily, ia harus berperan sebagai suami terbaik. Ia tidak bisa menolak permintaan istrinya, apalagi Emily ada di sana. Menolak permintaan istri sahnya hanya akan membuat dirinya terlihat buruk dan mencurigakan.

"Iya, Sayang... Iya, Sayang... Siaaap, perintah nyonya rumah pasti aku laksanakan," jawab Ferdi sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana dan menutupi rasa gugupnya. Ia melepaskan pelukan Kiara perlahan, lalu berjalan ke arah meja makan untuk mengambil buah dan pisau.

"Terimakasih sayang, kamu memang selalu bisa memanjakan ku." Ucap Kiara dengan lembut.

"Maaf ya Emely, kamu harus melihat semua ini?." Ucap Kiara.

"Tidak masalah Kiara. Kalian sangat romantis aku jadi iri, pingin juga merasakan perlakuan seperti." Balas Emely mencoba untuk biasa saja.

Dari sudut matanya, Kiara bisa melihat jelas perubahan raut wajah Emily. Senyum di bibir wanita itu hilang seketika, digantikan oleh sorot mata yang tajam, gelap, dan penuh kecemburuan yang meledak. Rahang Emily mengeras, tangannya yang bertumpu di atas punggung sofa menggenggam erat hingga buku jarinya memutih. Ia melihat bagaimana Ferdi menuruti kemauan Kiara, bagaimana Ferdi melayani istrinya dengan senyum, hal yang ia inginkan sepenuhnya untuk dirinya sendiri.

Di dalam hati Emily, api kecemburuan berkobar hebat. Ia yang mengandung anak Ferdi, ia yang dicintai Ferdi, ia yang menjadi tujuan utama Ferdi. Tapi di sini, di rumah ini, Kiara masih memegang segalanya. Kiara masih berhak memeluk, meminta, dan dilayani. Kiara masih menjadi nyonya besar yang berkuasa, sementara Emily harus duduk diam menahan cemburu dan sakit hati.

Emily menatap Ferdi yang sedang sibuk memotong buah pir itu dengan gerakan cekatan gerakan yang sering ia lakukan sendiri saat Ferdi datang ke rumahnya dan rasa benci pada Kiara semakin memuncak.

" Dasar wanita bodoh!" batin Emily mengumpat.

"Kamu merasa menang ya? Kamu merasa dia milikmu? Tunggu saja sebentar lagi. Tunggu sampai Ferdi jadi direktur, tunggu sampai rencana kita berjalan. Saat itu tiba, aku akan pastikan kamu tidak bisa tersenyum manja seperti itu lagi. Aku akan pastikan posisiku yang ada di sini, dan kamulah yang akan terbuang seperti sampah."

Namun, rasa cemburu itu terlalu kuat untuk ditahan. Emily merasa setiap detik yang berlalu di ruangan itu menjadi siksaan baginya.

"Enak sekali ya, Mas potongnya. Makasih ya sayang," ucap Kiara manja lagi, sengaja menekankan kata 'sayang' itu dengan jelas, cukup keras hingga terdengar sampai ke telinga Emily.

Kiara lalu mencium pipi Ferdi, Ferdi pun membalas ciuman Kiara, membuat Emely yang melihat semakin kepanasan.

Itu adalah pukulan terakhir bagi Emily. Wanita itu tidak sanggup lagi bertahan. Ia merasa darahnya mendidih hebat. Ia merasa keberadaannya di sana kini hanya seperti penonton yang melihat kebahagiaan orang lain yang ia inginkan mati-matian.

Emily menarik napas panjang, lalu memaksakan diri tersenyum kembali, meski senyum itu terlihat kaku dan palsu sekali. Ia bangkit berdiri perlahan, merapikan ujung gaunnya, berusaha menyembunyikan rasa cemburu yang meledak-ledak itu.

"Eh... Kiara, Mas Ferdi... kayaknya aku harus pulang dulu deh," ucap Emily, suaranya terdengar sedikit bergetar dan terburu-buru.

"Tiba-tiba aku jadi ingat ada janji bertemu teman lain sebentar lagi. Sayang sekali, padahal baru sebentar ngobrolnya. Lain kali aku main ke sini lagi ya, kalau tidak mengganggu waktu kalian berdua."

Kiara menahan senyum lebarnya. Ia tahu persis alasan Emily pamit. Wanita itu tidak kuat lagi melihat kemesraan ini.

"Lho, kok buru-buru sekali, Em? Baru sebentar lho kamu di sini," ucap Kiara pura-pura kecewa, bangkit berdiri mengantar tamunya.

 "Padahal kan bisa makan siang dulu di sini. Mas Ferdi juga belum sempat banyak ngobrol sama kamu kan?"

"Tidak apa-apa, lain kali saja. Urusannya mendadak sekali," jawab Emily cepat, matanya melirik sekilas ke arah Ferdi dengan pandangan yang penuh makna, pandangan yang seolah berkata, Lihatlah dia, Mas Ferdi. Lihatlah betapa sombong dan manja dia. Lihatlah betapa dia menguasai mu. Aku cemburu, aku sakit hati.

Ferdi yang sejak tadi menyadari perubahan suasana hati Emily hanya bisa diam dan pasrah. Ia tahu Emily cemburu. Ia tahu Emily sakit hati melihat kemesraan yang sengaja ditunjukkan Kiara. Ia merasa bersalah, merasa tidak enak hati, tapi apa yang bisa ia lakukan? Di sini, di rumah ini, Kiara adalah istrinya, nyonya rumah, dan wanita yang harus ia puaskan perasaannya demi menjaga citra suami yang baik.

"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya, Emily. Jangan lupa pakai jaket kalau keluar, panas sekali di luar," ucap Ferdi pelan, hanya bisa memberikan perhatian sepotong itu sebagai ganti rasa cemburu yang ia tahu sedang dirasakan wanitanya itu.

Emily mengangguk kaku, lalu berjalan cepat keluar dari ruang tamu, seolah ada api yang sedang mengejarnya. Ia tidak menoleh lagi, takut emosinya meledak jika ia melihat Kiara tersenyum puas lagi. Langkah kakinya cepat dan berat, penuh rasa kesal dan dendam yang bertambah tebal.

Kiara berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan sampai sosok Emily menghilang di balik pagar yang tertutup kembali. Setelah yakin Emily sudah pergi jauh, Kiara berbalik badan. Ia menatap Ferdi yang berdiri diam dengan wajah yang campur aduk antara lega dan khawatir.

Di sudut bibir Kiara, tersungging senyum miring yang tipis namun sangat tajam.

"Dasar tidak sabaran..." gumam Kiara pelan, cukup keras agar Ferdi bisa mendengarnya namun nadanya terdengar biasa saja. "Padahal kan baru sebentar datangnya."

"Cuman segitu saja kau sudah kepanasan, bagaimana kalau kau melihat kami lebih lama lagi. Kau sudah merebut semua dari ku Emely, akan ku buat kau menyesal telah merebut semua nya. Kau dan Ferdi akan terima semua balasan nya.

Ferdi hanya tersenyum kikuk, tidak berani berkomentar apa pun. Ia masuk kembali ke dalam rumah, pikirannya penuh dengan kekhawatiran bagaimana menenangkan hati Emily yang pasti sedang marah besar setelah melihat adegan manja Kiara tadi.

"Kenapa Emely buru-buru sekali ya Sayang pulang nya. Padahal aku tadi berniat mengajak nya makan bersama." Tanya Kiara.

"Sayang sekali ya Emely, sudah cantik tapi sampai sekarang masih menjomblo, kenapa tidak kita coba kenalkan dia pada sahabat mu, si Leo." Usul Kiara.

Tiba-tiba Saja Tenggorokan Ferdi menjadi agak kering. "Ha ha ha, mana mungkin Leo mau, Leo di luar sana sudah banyak wanita, di kelihatan saja jomblo, tapi dia punya banyak wanita."

"Oh iya, apa jangan-jangan Emely begitu juga, wah aku jadi penasaran, pingin ku cari tahu siapa pria Emely saat ini." Mendengar ucapan Kiara Ferdi terbelalak.

"Untuk apa?, sudah lah, jangan campuri urusan mereka."Balas Ferdi. Kiara pun tersenyum dan mengangguk menatap suaminya.

1
Teh Yen
cie Kiara udh berani pegang tangan Bagaskara uhuuyyy senengnya pake banget tuh Bagaskara xixiiii
Teh Yen
kapan jadiannya dong kalian ih engg sabar deh liatnya
Teh Yen
iya tapi jangan lama lama.kiara.ntar keburu.d samber ulat bulu lagi gmn dong
Teh Yen
engg akan sadar sadar kynya tuh c Ferdi yah huih 😤
Teh Yen
penyesalan.selalu.datang terlambat yah kan Emily
Teh Yen
trima kasih Aldo kamu terbaik.hihii
Teh Yen
ayo kiara kapan kamu jujur sama bagaskara tentnga perasaanmu ntar keduluan ulet Keket yg kmr kan bahaya bisa d bawa pergi jauh ntar Bagaskaranya gmn dong ???
Teh Yen
Oalah mimpi toh kirain beneran Kiara engg mungkin senekat itu kan hehe 😁
Teh Yen
aaah sayang sekali coba kalau tadi Tidka ada asisten Kiara yg ketuk pintu mungkin kalian sudah....aaah jd senyum" sendiri bayanginnya haha
Teh Yen
baru sadar sekarang Emily hemmm 😏 sudah berulang kali d ingatkan oleh orang tuamu tentang keputusanmu tp kmu yg ttp ngeyel kan
Teh Yen
jangan bersedih Kiara ,,mungkin takdir Tidka menginginkan kamu punya ank dari laki" seperti Ferdi karena nanti itu bisa jadi Tidka baik ,, sudah move on aj.skoga kamu bisa menemukan kebahagian kembali bersama seseorang yg benar" mencintai kamu dengan tulus
Teh Yen
selamat yah Kiara
Teh Yen
yah mulailah hidup yg baru semangat baru jangan ambil milik ornga lain lagi yah
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kamu itu Emily
Yeni Astriani
lanjut Author
Teh Yen
smoga rencanamu berhasil Kiara ,,dan Ferdi tidak meminta yg aneh" tentunya
Teh Yen
siap siap kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu selama ini Ferdi
Teh Yen
masih punya muka aj tuh c Ferdi mau masuk kantor Wijaya engg tau malu iiih
Teh Yen
ya sudah coba saja Emily apa kamu bisa bertahan d tengah keterpurukan ekonomi hemm 😏 .... aku ragu sih kita liat saja nanti
Teh Yen
wah Emily sepertinya otakmu Tidka bisa berpikir dengan jernih ,, setelah semua yg terjadi kamu masih menginginkan Ferdi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!