NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Kecanduan CCTV

"Pak Bastian?"

Suara salah satu direktur membuat perhatian seluruh peserta rapat kembali terpusat ke ujung meja konferensi. Bastian mengangkat pandangan dari tabletnya.

"Silakan lanjutkan."

Direktur itu sempat ragu sebelum kembali memaparkan laporan perkembangan revitalisasi Terminal Lebak Bulus. Di layar besar, berbagai grafik dan rancangan pembangunan berganti satu demi satu. Rapat berlangsung serius dan tegang seperti biasanya.

Namun beberapa menit sebelumnya, fokus Bastian sempat teralihkan. Bukan oleh masalah proyek atau angka investasi, melainkan sebuah notifikasi kecil yang muncul di sudut layar tabletnya. Notifikasi dari CCTV ruang Nathan.

Tanpa sadar, Bastian kembali melirik layar itu. Nathan sedang tertawa. Tawa kecil bayi itu memenuhi layar tanpa suara. Di hadapannya, Kemala menggerakkan boneka kain berbentuk kelinci yang tampak dibuat secara sederhana oleh salah satu pelayan. Boneka itu bahkan terlihat miring. Jauh dari kata mewah. Namun Nathan tertawa begitu keras sampai kedua tangannya menepuk-nepuk udara. Kemala ikut tersenyum. Senyuman yang tak dibuat-buat. Penuh dengan kelembutan dan kehangatan.

Bastian memperhatikan beberapa detik lebih lama. Sampai suara seseorang kembali menariknya ke rapat.

"Pak Bastian?"

Bastian mengunci layar tabletnya.

"Kita lanjut."

Rapat baru saja selesai ketika Reynard muncul di koridor proyek sambil membawa kopi dingin.

"Aku punya teori."

"Aku tidak tertarik." Bastian tetap berjalan.

"Padahal teoriku sangat ilmiah."

"Tidak."

Reynard menyeringai. "Kamu sekarang kecanduan CCTV."

Bastian tidak menoleh. "Omong kosong."

"Oh, jadi aku salah lihat tadi?" Reynald terus menggoda sahabatnya itu.

"Kamu melihat apa?"

"Kamu menatap tablet seperti remaja yang sedang menunggu balasan chat," kelakar Reynald sambil tertawa.

Bastian menghentikan langkahnya. Tatapan dingin pria dengan setelan lengkap itu langsung mengarah ke Reynard. Namun Reynald justru tertawa puas.

"Nathan," jawab Bastian datar.

"Tentu saja Nathan." Reynard mengangguk serius. "Kalau begitu kenapa yang kamu lihat bukan bayinya melainkan ibu susunya?"

Bastian mengernyit. Langkah Bastian kembali bergerak. Lebih cepat dari sebelumnya. Reynard tertawa keras.

"Kalau lari berarti benar!"

"Bekerjalah yang benar," sergah Bastian yang sudah berjarak dengan Reynald. 

"Aku sedang bekerja. Mengamati fenomena langka."

Bastian memilih masuk ke mobil tanpa membalas lagi. Namun entah kenapa, perkataan Reynard terus terngiang di kepala pria dingin itu.

Menjelang sore, Nathan duduk nyaman di stroller miliknya. Udara taman belakang terasa sejuk. Kemala duduk di gazebo kecil sambil menjahit telinga boneka kelinci yang sempat rusak tadi pagi. Wanita itu begitu fokus sampai tak menyadari seseorang datang.

"Kalau dijahit seperti itu, kelincinya bisa protes."

Kemala terkejut. "Maaf, saya tidak mendengar Anda datang."

"Itu karena kamu terlalu serius." Reynard berdiri di samping gazebo sambil tersenyum santai.

Kemala tersenyum canggung. Reynard akhirnya duduk di kursi seberang. Obrolan mereka mengalir ringan. Tentang makanan, tentang desa, dan tentang masa kecil. Jauh lebih santai dibanding percakapan Kemala dengan Bastian.

Sesekali Kemala bahkan tertawa kecil. "Jadi waktu kecil Anda pernah jatuh ke sungai?"

Reynard mengangguk bangga. "Tiga kali."

Kemala tertawa. "Itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan."

"Setidaknya aku konsisten."

Tawa Kemala kembali terdengar. Namun beberapa menit kemudian, Reynard bertanya tanpa sengaja.

"Kalau anakmu ditemukan nanti..."

Senyum wanita ayu itu perlahan memudar.

"Apa yang pertama kali ingin kamu lakukan?"

Kemala langsung terdiam. Jarum jahit di tangan lentik itu berhenti bergerak. Matanya menunduk sangat lama.

Sampai akhirnya wanita itu menjawab pelan. "Memeluknya."

Hanya dua kata. Namun cukup membuat Reynard kehilangan senyum bercandanya. Pria itu semakin bisa melihat luka yang disimpan oleh wanita yang terlihat polos itu.

Di balkon ruang kerja lantai dua. Bastian yang sudah ditinggal Reynald sebelumnya dari ruang kerja Bastian, baru saja menyelesaikan rapat daring kepada para direksi Rothmere. Saat berjalan menuju jendela, matanya otomatis mengarah ke taman. Dan di sanalah Bastian melihat mereka. Nathan, Kemala, dan Reynard.

Mereka terlihat sedang mengobrol. Kemala tertawa, tawa yang jarang pria serius itu lihat. Reynard juga tertawa. Pemandangan yang sebenarnya sangat biasa.Namun kali ini, Bastian tak menyukainya.

Pria yang berdiri di jendela ruang kerjanya itu mengernyit, mencoba memahami alasannya. Reynard sudah menjadi sahabat Bastian selama lebih dari 20 tahun. Walau tingkahnya yang suka bercanda, pria riang itu tak pernah menjadi masalah untuk Bastian.

“Kenapa dia jadi sering ke rumah?” tanya Bastian pada dirinya sendiri.

Tatapan Bastian tetap tertuju ke taman beberapa detik lebih lama, jelas merasa terganggu.

Malam hari, Nathan sempat kembali rewel. Kemala menggendong bayi itu sambil berjalan perlahan di koridor lantai dua.

"Nathan … sudah. Ada Ibu di sini,” bisik Kemala.

Suara tangisan perlahan mereda. Tepat saat itu, Bastian baru keluar dari ruang kerjanya. Langkah pria itu otomatis berhenti saat melihat Kemala.

Nathan yang tadinya gelisah perlahan tertidur di pelukan wanita itu. Koridor menjadi sunyi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan. Kemala menatap bayi kecil itu. Lalu tersenyum tipis.

“Dia rewel?” tanya Bastian.

"Sebenarnya, Nathan lebih sering tersenyum sekarang, Pak."

Bastian ikut melihat putranya. Untuk beberapa saat pria itu hanya diam.

Lalu berkata, "Karena kamu."

Kemala membeku. Tatapan wanita desa itu perlahan terangkat. Namun Bastian sudah lebih dulu mengalihkan pandangan. Seolah kalimat itu bukan sesuatu yang penting. Padahal bagi Kemala, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih berarti daripada pujian apa pun yang pernah ia terima.

Malam semakin larut dan Kemala sudah kembali ke kamarnya. Hari ini Kemala merasakan bahwa dirinya semakin diterima dan disambut di kediaman Rothmere. Setelah wanita ayu itu telah dibuang oleh keluarganya sendiri, rasanya Kemala mulai menemukan kenyamanan yang sempat hilang dari dalam dirinya.

Di sisi lain kediaman, Mira menyerahkan sebuah map tipis kepada Raline.

"Saya sudah mendapatkan data wanita itu, Nyonya."

Raline menerima map tersebut. Matanya membaca cepat. Tertera di dokumen tersebut sebuah nama, alamat, riwayat pendidikan, dan sampai akhirnya berhenti pada satu bagian.

[Reza Adiprana]

Raline menyipitkan mata. "Mantan kekasih si gembel?"

"Ya, Nyonya."

Raline membalik halaman berikutnya. Lalu berhenti lagi. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya. "ASN?"

Mira mengangguk. "Dan menurut informasi yang saya dapat, pria itu akan menikah dalam waktu dekat."

Raline menyandarkan tubuhnya ke kursi. Mata wanita yang memegang gelas wine itu berkilat. Jari-jarinya mengetuk meja perlahan. Senyum tipis muncul di bibir Raline. Senyum yang membuat Mira langsung memahami sesuatu. Raline telah menemukan celah.

Seorang pria muda yang akan menikah dan memiliki pekerjaan tetap sebagai aparatur sipil negara, maka harus memiliki reputasi yang harus dijaga. Pria seperti itu biasanya memiliki satu kelemahan yang sama, yaitu takut skandal.

"Menarik."

Mira mengenal ekspresi itu. Ekspresi yang selalu muncul saat Raline menemukan celah untuk menyerang seseorang.

"Cari tahu semua tentang pria ini.” Raline memerintahkan. "Semuanya."

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!