Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Rahasia Di Balik Cermin (bagian pertama)
Guan Haoran berdehem pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dia bertingkah demikian karena dia telah hidup jauh sebelum kita ada. Jadi, secara sopan santun di dunia manusia, dia adalah orang yang jauh lebih tua dari kita."
Zhao Yun terkekeh rendah mendengar perkataan Guan Haoran, sebuah suara bariton yang terdengar dingin namun sarat akan nada ejekan atas cara pandang manusia tersebut.
"Tapi... apakah seorang iblis memiliki nama? Bolehkah aku tahu siapa namamu, Anak Muda?" tanya Guan Haoran dengan nada bicara yang tetap terjaga dan penuh rasa hormat.
Zhao Yun menghentikan cekikannya. Ia melipat tangannya di depan dada, menatap Guan Haoran dengan sorot matanya yang tajam. "Tentu saja seorang iblis memiliki nama," ucapnya dingin.
"Kau bisa memanggilku Zhao Yun."
"Baiklah, Tuan Zhao." Guan Haoran merapikan kerah bajunya yang kusut, mencoba mengembalikan sisa-sisa martabatnya sebagai guru besar di lembah ini. "Sekarang, kau kuanggap sebagai tamu kehormatan keluarga Guan. Semoga kau bisa merasa nyaman di kediaman kami yang sederhana ini, walau sambutan awal kami sedikit... tidak ramah."
Zhao Yun tidak menjawab. Ia bahkan tidak melihat ke arah kerah baju Guan Haoran. Tatapannya tertuju pada daun kering yang jatuh berputar di antara mereka.
"Aku tidak akan menyita waktumu lagi, Tuan Zhao," ucap Guan Haoran lagi.
Tanpa menunggu jawaban, sang guru besar segera membalikkan badan menuju para murid yang masih giat berlatih pedang di bawah terik matahari yang membakar kulit.
"Nona Su Ying, sekarang urusan kita," ucap Zhao Yun datar. "Ada yang harus kau lakukan."
Ia melangkah masuk ke dalam pondok tanpa menoleh lagi.
Su Ying tersentak. Pertanyaan tertahan di tenggorokannya, namun ia tahu Zhao Yun bukan orang yang suka menjawab pertanyaan. Dengan patuh, ia mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam keheningan pondok, di mana sebuah cermin ajaib berdiri tegak, memantulkan cahaya yang ganjil.
Begitu tiba di dalam, Zhao Yun langsung menempelkan telapak tangannya pada permukaan cermin yang sedingin es itu.
Permukaan cermin itu tidak memantulkan bayangan ruangan pondok yang reyot. Alih-alih, di dalam kaca yang berkabut, tampak pusaran kegelapan yang pekat, seolah menembus ruang dan waktu.
Su Ying menahan napas. Udara di dalam pondok mendadak turun drastis, membuat embusan napasnya memutih di udara.
"Apa kau tahu gunanya cermin ini?" tanya Zhao Yun tanpa menoleh.
Tanpa menunggu jawaban, Zhao Yun mengerahkan hawa murni dari telapak tangannya. Permukaan cermin itu mulai bergetar, memicu reaksi yang sama persis seperti saat Su Ying terseret ke dalamnya beberapa waktu lalu. Pusaran kabut hitam berputar di balik kaca.
Mata Su Ying membelalak. Di dalam pusaran itu, bayangan berganti-ganti dengan cepat. Tempat-tempat asing yang belum pernah ia pijak melintas bagai mimpi buruk. Hanya ada satu tempat yang ia kenali: sebuah hutan kelam, tempat pertama kali ia menemukan cermin ini.
"Aku... aku melihat beberapa tempat di dalamnya," ucap Su Ying, suaranya bergetar. "Selain hutan itu, aku tidak mengenali yang lain."
Zhao Yun akhirnya menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata Su Ying.
"Kau bisa melihatnya?" Suara Zhao Yun terdengar begitu datar, namun menyembunyikan keterkejutan yang dalam. "Cermin ini hanya bicara pada pemiliknya. Bahkan para Dewa di langit tertinggi sekalipun akan buta jika menatap ke dalam sini. Tapi kau... kau bisa melihatnya."
Zhao Yun menarik kembali hawa saktinya. Ia berbalik, menatap tajam ke arah Su Ying—seolah sepasang matanya adalah pisau bedah yang ingin menguliti setiap rahasia dari tubuh gadis polos di depannya.
"Sejak pertama kali aku melihatmu, aku tidak menemukan sedikit pun aura dewi, ataupun jejak bahwa kau adalah titisan makhluk langit. Namun melihat kejadian ini, aku mulai curiga... kau adalah Mahadewi Xuan Nu yang agung."
Zhao Yun melipat tangan di depan dada. Pandangannya yang dingin mengunci pergerakan Su Ying. "Jika kau benar-benar Mahadewi Xuan Nu yang hilang, maka semua misteri yang membingungkan ini telah terjawab."
Su Ying tersentak. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding kayu pondok yang dingin. "A-apa... apa maksudmu?"
...****************...