"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
Hari Minggu pagi menyelimuti kediaman Al-Idrus dengan ketenangan yang berbeda. Habib Umar dan Umi Syarifah telah berangkat sejak subuh untuk menghadiri acara pengajian akbar di luar kota, meninggalkan rumah besar itu hanya untuk Zaid dan Khadijah. Bagi Zaid, ini adalah pertama kalinya ia merasa "rumah" benar-benar menjadi tempat yang ia rindukan, bukan sekadar tempat untuk menumpang tidur.
Di dapur, Khadijah sibuk dengan celemek yang membungkus gamisnya. Ia sedang mencoba membuat camilan tradisional kesukaan Zaid bakwan jagung dan beberapa kue ringan. Suara sutil yang beradu dengan wajan menjadi musik latar di pagi yang cerah itu. Namun, nasib malang tak dapat ditolak; saat ia hendak menuangkan adonan tepung yang cukup cair ke dalam wadah lain, tangannya tersenggol pinggiran meja.
Crat!
Adonan putih kental itu muncrat, mengenai sebagian besar kain cadar hitam yang dikenakannya.
"Astaghfirullahaladzim..." Khadijah mematung, meraba kain yang kini terasa lengket dan basah di wajahnya.
Zaid, yang sedari tadi sebenarnya hanya mondar-mandir di ruang tengah mencari alasan untuk mendekati istrinya, segera masuk ke dapur. Ia melihat Khadijah yang tampak panik mencoba mengelap cadarnya dengan tisu.
"Kenapa? Kena adonan?" tanya Zaid, langkahnya mendekat. Ia mengambil alih tisu dari tangan Khadijah.
"Iya, Zaid. Kotor sekali, saya harus menggantinya," jawab Khadijah dengan suara yang sedikit sengau karena kain yang basah menempel di hidungnya.
Zaid menatap sekeliling rumah yang sepi. Tidak ada Abi, tidak ada Umi, tidak ada asisten rumah tangga yang sedang lewat. Ia menatap mata Khadijah lekat-lekat.
"Buka saja," ujar Zaid santai. "Nggak ada orang selain kita berdua di rumah ini. Kamu malah susah napas kalau pakai kain basah begitu."
Khadijah ragu sejenak, namun melihat sorot mata Zaid yang kini jauh lebih hangat dan teduh dari biasanya, ia perlahan melepas jarum cadarnya. Wajah bidadari itu kembali terpampang nyata di depan Zaid. Meskipun ada sedikit noda tepung di dekat dagunya, kecantikan Khadijah justru terlihat menggemaskan.
"Nah, begini kan lebih enak. Sini, aku bantu masaknya. Aku lagi nggak ada kerjaan," Zaid menggulung lengan kemejanya, mencoba mengambil posisi di samping Khadijah.
"Mas Zaid bisa masak?" tanya Khadijah sangsi, bibir pink ranumnya sedikit melengkung membentuk senyuman tipis.
"Meremehkan ya? Begini-begini, kalau lagi touring sama anak-anak, aku yang paling jago bikin mi instan spesial," jawab Zaid percaya diri, yang disambut tawa kecil oleh Khadijah.
Suasana dapur yang kaku perlahan mencair. Khadijah yang biasanya pendiam mulai berani menggoda suaminya. Saat Zaid sedang serius mengaduk adonan dengan wajah yang sangat tegang seolah sedang merakit bom, Khadijah mencelupkan jarinya ke sisa tepung kering dan...
*Pluk!*
Ia mengoleskan tepung itu tepat di pipi kanan Zaid yang memiliki lesung pipi.
Zaid tertegun. Ia menoleh ke arah Khadijah yang sedang menutup mulutnya sambil menahan tawa. "Oh, berani ya sekarang?" desis Zaid dengan seringai nakal yang jarang terlihat.
"Wajah Mas Zaid terlalu serius, jadi saya kasih hiasan sedikit," goda Khadijah sambil menjauh dari jangkauan Zaid.
"Sini kamu!" Zaid menyambar segenggam tepung dan mulai mengejar Khadijah di area dapur yang luas.
Tawa pecah memenuhi ruangan. Zaid yang dikenal dingin dan ditakuti di jalanan, kini berlarian seperti anak kecil mengejar istrinya. Khadijah tertawa lepas, rambut panjangnya yang hanya dijepit asal bergoyang indah. Namun, saat Khadijah mencoba berbelok di dekat meja makan yang licin, kakinya terselip.
"Aah!" Khadijah memekik, tubuhnya limbung ke belakang.
Dengan sigap, Zaid melompat dan menangkap pinggang Khadijah. Lengan kekarnya menahan tubuh istrinya agar tidak menghantam lantai. Dalam sekejap, tawa itu hilang, digantikan oleh keheningan yang luar biasa pekat.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Zaid bisa merasakan deru napas Khadijah yang memburu di kulit wajahnya. Khadijah terpaku, tangannya mencengkeram bahu kaku Zaid. Mata Zaid turun, terpaku pada bibir pink ranum milik istrinya yang sedikit terbuka karena terengah-engah.
Entah dorongan insting sebagai suami atau tarikan magnet cinta yang sudah lama ia pendam, Zaid memberanikan diri. Ia perlahan menundukkan wajahnya. Khadijah tidak menghindar, ia justru memejamkan matanya, menyerahkan seluruh dunianya pada pria yang kini menjadi imamnya.
Zaid mencium bibir Khadijah dengan sangat lembut, sebuah kecupan penuh rasa syukur dan permintaan maaf atas semua luka di masa lalu. Khadijah yang awalnya kaget, perlahan membalas ciuman itu dengan kaku namun tulus. Di tengah dapur yang berantakan karena tepung, waktu seolah berhenti berdetak untuk memberi ruang pada dua hati yang baru saja menyatu.
Momen magis itu terhenti secara tiba-tiba saat suara nyaring ponsel Khadijah di atas meja berdering keras. Mereka berdua tersentak dan melepaskan diri dengan wajah yang sama-sama memerah sempurna. Zaid berdeham kaku, pura-pura sibuk merapikan tumpahan tepung, sementara Khadijah dengan tangan gemetar mengangkat teleponnya.
"Halo... Assalamu’alaikum, Ummah?" suara Khadijah terdengar bergetar.
Ternyata itu adalah telepon dari ibundanya di Yogyakarta. Suara Ummah Khadijah terdengar penuh kerinduan.
"Khadijah, Sayang... Ummah rindu sekali. Rasanya rumah sepi sejak kamu menikah," ujar Ummah di seberang sana. "Ummah dan Abah sudah bicara, kalau Zaid tidak keberatan dan jadwal kuliah kalian senggang, maukah kalian pulang ke Jogja sebentar? Menginaplah di sini beberapa hari. Ummah ingin memeluk putri Ummah."
Khadijah melirik ke arah Zaid yang rupanya juga mendengarkan pembicaraan itu karena suasana rumah yang sepi. Zaid mengangguk pelan, memberikan kode bahwa ia setuju.
"Iya, Ummah. Nanti Khadijah bicara dengan Mas Zaid ya. Insya Allah kami akan pulang untuk mengobati rindu Ummah dan Abah," jawab Khadijah dengan senyum haru.
Zaid mendekat setelah telepon ditutup, ia mengusap sisa tepung di dahi Khadijah. "Kita berangkat besok sore setelah kelas terakhirku selesai. Aku juga ingin mengenal orang yang sudah mendidik bidadari seperti kamu."
Khadijah menatap Zaid dengan binar bahagia. Perjalanan ke Jogja bukan sekadar pulang kampung, tapi menjadi babak baru bagi Zaid untuk benar-benar masuk ke dalam akar kehidupan Khadijah yang suci.