Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Di lounge eksekutif, Rina dan Lina sedang duduk sejak beberapa waktu. Keduanya sejak tadi membuat ulah, memperlakukan karyawan hotel dengan semena-mena, memarahi, dan memerintah tanpa alasan yang jelas. Suasana lounge yang seharusnya tenang dan eksklusif terasa tegang karena sikap mereka.
“Kak, hari ini kamu harus memberi pelajaran pada Kayla. Dia harus tahu dan merasakan betapa pedihnya kalau coba-coba menggoda tunangan Kakak,” ucap Rina sambil tersenyum sinis, bahkan terlihat menjilat situasi.
Lina yang mengenakan gaun putih tulang dipadukan dengan rok selutut duduk dengan angkuh, kaki disilangkan. Sorot matanya penuh kesombongan, seolah seluruh ruangan berada di bawah kendalinya.
“Aku akan membuat dia menderita hari ini. Biar semua orang tahu, kalau merebut tunangan Lina Lesamana adalah keburukan yang akan mereka terima,” ucap Lina dengan nada penuh kebanggaan dan amarah yang ditahan.
Tak lama kemudian, dari kejauhan Kayla datang dengan seragam karyawan hotel. Ia mengenakan kemeja biru tua yang rapi dengan rok selutut, rambutnya tertata sopan. Langkahnya tenang, profesional, dan penuh etika kerja. Ia berhenti tepat di hadapan Lina dan Rina.
Sekilas Kayla menatap Rina. Dalam pikirannya langsung terlintas firasat buruk; setiap kali Rina ada di dekat Lina, biasanya akan selalu muncul masalah yang tidak diinginkan.
Kayla mengangguk sopan. “Selamat siang, Nona. Apakah anggur merahnya perlu di-decanter?”
“Ya,” jawab Lina singkat dengan nada sinis. Tatapannya penuh penghinaan, dari ujung kepala hingga kaki menilai Kayla seolah tidak berharga.
Dengan sigap Kayla mengambil botol anggur merah mewah itu. Ia menuangkannya ke dalam decanter kaca, lalu menggoyangkannya dengan hati-hati sesuai prosedur. Setelah itu, ia menuangkan anggur tersebut ke dalam gelas Lina. Hampir seluruh gelas terisi sempurna.
Gerakan Kayla sangat terlatih dan elegan, tidak ada satu pun kesalahan. Namun, Lina memang sejak awal berniat mencari celah untuk merendahkannya.
“Di luar hujan deras, dingin sekali,” ucap Lina dengan nada mengejek. “Kamu malah menuangkan anggur merah dingin ini terlalu banyak.”
Kayla menunduk hormat. “Maaf, Nona. Jika Anda menginginkan anggur yang lebih hangat, akan saya ambilkan kembali.”
“Tidak perlu ambil yang baru,” sahut Lina tajam. “Pegang anggur itu. Hangatkan dengan tubuhmu.”
Tatapannya semakin merendahkan, membuat suasana di sekitar menjadi canggung dan tidak nyaman. Kayla mulai merasakan firasat buruk yang semakin kuat.
“Ya, hangatkan dengan tubuhmu, Kayla,” tambah Rina dengan senyum menghina. “Kamu saja pandai menghangatkan ranjang lelaki, masa menghangatkan anggur saja tidak bisa?”
Kayla tetap menjaga profesionalitasnya. “Maaf, tidak ada layanan seperti itu di hotel kami,” jawabnya dengan suara tenang, meski hatinya mulai tertekan.
“Kenapa tidak mau?” tanya Lina sambil merogoh tasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan melemparkannya ke arah Kayla.
Lembaran uang itu menghantam tubuh Kayla sebelum jatuh berserakan di lantai marmer. Beberapa tamu di lounge mulai melirik, namun Kayla tetap berusaha tidak bereaksi berlebihan. Dadanya terasa sesak, tetapi ia masih bertahan dalam sikap profesional.
“Kenapa? Masih diam saja?” Lina kembali melemparkan uang ke arahnya. “Benar-benar rakus.”
Untuk ketiga kalinya, Lina melemparkan uang merah itu. Kini lantai dipenuhi lembaran uang yang berserakan, tetapi Kayla tidak sekalipun memungutnya. Ia hanya berdiri diam, menahan emosi dan menjaga martabatnya di tengah perlakuan yang merendahkan.
Rina menatap tajam ke arah Kayla dengan sorot mata penuh penghinaan. Ia tersenyum sinis, seolah sedang menikmati situasi yang terjadi.
“Kak Lina, dia itu tidak tertarik pada uang recehanmu,” ucap Rina sambil terkekeh pelan. Tatapannya semakin merendahkan Kayla. “Dia itu serakah. Sudah hamil masih saja kerja dengan tujuan untuk menggoda Pak Adrian agar punya ayah kaya raya untuk bayi haram yang dia kandung.”
“Rina!” bentak Kayla dengan suara tinggi. “Kemarin kamu memfitnah aku berselingkuh dengan Pak Doni. Kamu sudah dihukum, apa kamu tidak kapok?”
“Hey,” ucap Lina dengan nada sinis, memotong perkataan Kayla. “Kamu ini siapa, berani-beraninya mengatur adikku?”
Lina berdiri perlahan, menatap Kayla dengan penuh kesombongan. “Aku ini Lina Lesamana. Dari keluarga Lesamana. Keluargaku punya saham sepuluh persen di hotel ini. Adikku mau berbuat apa pun terserah dia. Kamu tidak berhak menegurnya.”
Kayla terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan keduanya, tetapi ia masih berusaha menahan diri. Ia tahu, sebagai karyawan, ia harus tetap profesional. Ia juga tidak ingin kehilangan pekerjaannya, meskipun perlakuan yang ia terima sangat tidak adil.
“Malah diam? Cepat pegang anggur itu sampai hangat,” perintah Lina dengan nada tajam.
“Maaf, Nona. Saya tidak bisa melakukannya. Jika Anda tidak nyaman dengan pelayanan saya, saya akan meminta pelayan lain untuk melayani Anda,” jawab Kayla dengan sopan, sambil membalikkan badan hendak pergi.
“Berhenti! Siapa yang menyuruhmu pergi?” bentak Lina keras.
Kayla berhenti dan kembali menatap mereka. Kali ini, emosi yang ia tahan mulai terlihat di matanya, meskipun ia masih berusaha mengendalikannya.
“Kamu tidak melayani pelanggan dengan baik. Kamu sudah memegang botol anggur merah ini. Aku tidak mau meminumnya. Sebagai gantinya, kamu harus menghabiskan anggur itu. Anggur ini mahal, bahkan dengan menjual dirimu pun kamu tidak akan mampu membelinya. Cepat, habiskan!” kata Lina dengan nada penuh penghinaan.
Tubuh Kayla mulai gemetar. Tangannya mengepal kuat, menahan emosi yang hampir meledak.
“Maaf, Nona. Saya tidak bisa menerima perintah itu,” ucap Kayla, masih berusaha menahan diri.
“Kalau aku bilang habiskan sekarang, ya habiskan! Ngerti tidak kamu?” bentak Lina semakin kesal.
“Maaf, Nona. Saya sedang hamil. Saya tidak bisa minum minuman dengan kadar alkohol tinggi,” jelas Kayla dengan suara tegas.
“Oh, akhirnya mengaku juga hamil,” ucap Lina sambil menyilangkan tangan di dada. Senyumnya penuh ejekan. “Saking banyaknya kamu melayani laki-laki, sampai kamu sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak yang kamu kandung. Bahkan kamu rela mendekati Adrian demi mencari ayah untuk anak haram itu.”
“Kamu!” bentak Kayla, kali ini benar-benar kehilangan kesabarannya.
“Aku tidak mau tahu,” lanjut Lina dingin. “Ayahku punya sepuluh persen saham di sini. Aku bisa memecat kamu sekarang juga kalau kamu tidak mau minum anggur itu.”
Tiba-tiba, Lisa datang menghampiri mereka dengan wajah cemas.
“Maaf, Nona,” ucap Lisa sopan. “Kayla sedang hamil. Saya saja yang menggantikan minum untuk Kayla.”
“Siapa kamu, berani-beraninya menentang aku?” bentak Lina sambil menatap tajam ke arah Lisa.
“Saya temannya Kayla. Kasihan, dia sedang hamil,” jawab Lisa dengan suara pelan namun tegas.
“Plak!”
Tanpa ragu, Lina menampar Lisa keras. Lisa terhuyung, merasakan perih dan nyeri di pipinya.
“Kamu jangan kasar!” ucap Kayla panik. Ia segera menghampiri Lisa dan memegang pundaknya, mencoba menenangkannya.
Lina lalu mengambil gelas berisi anggur merah itu. Ia melangkah mendekati Kayla yang sedang menenangkan Lisa.
“Aku memang kasar,” ucap Lina dingin, lalu tiba-tiba mengguyurkan anggur merah itu ke kepala Kayla.
Cairan merah itu membasahi rambut dan seragam Kayla.
Lina menatapnya tajam. “Aku kaya, dan aku memang bisa kasar. Kamu mau apa?”
“Kamu!” bentak Kayla dengan tatapan penuh amarah. Tangannya mengepal, hampir saja ia memukul Lina, namun Lisa segera menahannya.
“Kayla, dia putri keluarga Permana. Kita tidak bisa melawannya,” kata Lisa sambil memegang pundak Kayla. “Mari kita pergi,” ajaknya pelan sambil mencoba membalikkan badan Kayla.
“Berhenti! Siapa yang menyuruh kalian pergi?” ucap Lina lagi. Ia mengambil kue dari meja, lalu melemparkannya ke lantai. “Lantai ini kotor. Kamu harus berlutut, minta maaf padaku, bersihkan sampai bersih baru kamu boleh pergi”