Zanna Kemal lebih memilih tinggal seorang diri setelah ayahnya meninggal dunia dari pada tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, hidup dengan sederhana menjadi seorang perawat di rumah sakit swasta di kota Praha. Anna begitu ia disapa suatu hari terpilih menjadi perawat untuk merawat anak sang pemilik rumah sakit tempatnya bekerja yang bernama Kerem Abraham, ia sudah terbaring koma selama dua belas tahun akibat kecelakaan yang dialaminya.
Setelah beberapa bulan merawat Kerem, pria itu pun akhirnya sadar dari komanya, tapi sejak Kerem sadar mereka tidak pernah bertemu lagi.
Bagaimana kisah pertemuan mereka kembali sehingga keduanya terikat dalam sebuah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba menerima
Entah gelombang apa yang mendera tubuh Anna sehingga membuat badannya bergetar saat kata sah meluncur dari kedua bibir saksi pernikahan antara dirinya dan Kerem, dan kata itu telah mengubah statusnya sekarang bukanlah seorang wanita single lagi tapi telah sah menjadi istri Kerem Abraham pria yang
tengah duduk disampingnya.
Tak berbeda jauh dengan Anna kalimat itu keluar begitu lancar dari bibirnya sehingga mengubah statusnya menjadi seorang suami, Kerem tidak menyangkah hari ini terjadi dan mengubah kehidupannya, ia merasa seperti sedang bermimpi saja hati dan pikirannya begitu kosong, hingga suara lirihan do'a menariknya dari lamunannya, ia ikut menampung kedua tangannya melirik Anna wanita yang sudah resmi menjadi istrinya ikut menengadahkan tangannya.
“Kerem sekarang kau boleh memasangkan cincinya ke jari manis istrimu," ucap sang wali hakim. Kerem pun mengiyakan dan mengambil kotak kecil diatas meja dan membukanya pelan, ia melihat dua
buah cincin tersemat disana, Tangan kanan Kerem terulur mengambil salah satunya
dan menghadapkan sedikit tubuhnya pada Anna, begitu pun dengan Anna sehingga
tubuh mereka saling berhadapan.
Kerem menjangkau tangan Anna untuk sesaat pandangan mereka bertemu namun dengan cepat keduanya
memutuskan kembali pandangannya, dengan hati-hati Kerem menyorongkan cincin itu
di jari manis Anna yang lentik hingga terpasang dengan sempuran begitu pas melekat pada jarinya, cincin mas putih dengan hiasan batu permata yang sangat indah.
Tiba giliran Anna untuk menyematkan cincin di jari manis kanan Kerem, dengan tangan gemetar ia mengambil cincin itu dan menyorongkannya dengan hati-hati supaya cincin itu tak terjatuh dari tangannya. Setelah keduanya bertukar cincin Kerem mendekatkan wajahnya meletakkan tangannya dikedua sisi kepala Anna dan
mengecup lembut kening Anna, cukup lama sampai akhirnya ia melepaskannya, tak
terasa butiran bening meluncur dari mata Anna, entah perasaan apa yang sedang
menyelimutinya sekarang.
Keluarga bergantian menghampiri keduanya memberikan pelukan dan ucapan selamat kepada pasangan pengantin yang baru beberapa menit lalu sah mengikat janji suci pernikahan, Anna tak bisa menahan air matanya lagi saat Maryam memeluknya, bayangan ayah dan ibunya melintas begitu saja, tak terbayangkan akan melewati sakral pernikahan tanpa dihadiri satu pun oleh
keluarganya, meskipun pernikahan ini terjadi diluar bayanganya, tapi pernikahan tetaplah sebuah pernikahan walaupun mereka melakukan dalam keterpaksaan.
Setiap moment itu diabadikan oleh fotografer dengan begitu apik, beberapa sesi foto keluarga selesai diambil walaupun dengan senyum yang dipaksa dari bibir keduanya, mereka terlihat sangat irit bicara dan juga terlihat begitu canggung ketika fotografer mengambil foto mereka berdua. Sesi itu harus terpotong ketika waktu sholat magrip telah masuk, mereka berhenti sejenak
dan bergegas menunaikan kewajiban mereka. Dan acara akan dilanjutkan setelah sholat magrip mereka akan mengadakan pesta kecil untuk merayakan pernikahan Kerem dan Anna juga ulang tahun Maryam.
****
Anna melepaskan mukenahnya yang basah dengan air matanya, air matanya mengalir deras saat lafasan-lafasan doa meluncur dari bibirnya, setiap bisikan yang ia lantunkan wajah ayahnya selalu terlintas dalam pikirannya, mungkin dari atas sana ayahnya mengetahui perasan yang sedang mengganggu hatinya, jujur dalam hati kecilnya ia masih meragukan apakah ini keputusan yang tepat yang telah diambilnya, tapi ia akan mencoba menerima dengan ikhlas keputusan yang telah diambilnya jika ini memang sudah garis hidup yang ditakdirkan untuknya, dan mencoba menerima Kerem sebagai suaminya walaupun ia belum mencintainya.
Anna melipat kembali mukenannya saat mendengar ketukan pintunkamarnya, jantungnya berdebar kencang saat menduga-duga apakah Kerem yang
sedang mengetuk pintu kamarnya, mereka berdua belum sempat bicara sampai ijab
Kabul diucapkan. Semua perasaan berkecamuk dalam pikiran Anna dengan rasa takut dan cemas yang lebih mendominasinya.
“Anna….Apakah kau sudah selesai sholatnya,” terdengar suara Kayla dari luar membuat Anna bernapas lega.
“Iya kak, tunggun sebentar aku segera keluar,” sahut Anna cepat. Anna bergegas
menyimpan kembali mukenahnya dan merapikan sedikit dandannya lalu bergegas
menemui Kayla yang sudah menunggu di depan pintu.
Keduanya berjalan beriringan menuju halaman samping Villa, sebuah meja dengan ukuran sangat panjang sudah penuh dengan makanan dan minuman yang tersusun rapi diatasnya dengan dihiasi nyala lilin ditengannya, sebuah kue ulang tahun yang cukup besar juga tampak disana. Anna mencoba tersenyum bersikap biasa saat melihat semuanya sudah duduk dan menunggunya disana, Anna melihat beberap wajah baru yang turut hadir disana, sehingga malam ini terlihat lebih ramai dari acara akad nikahnya tadi sore, mungkin saja itu saudara dari keluarga ayah dan ibunya Kerem itulah yang terlintas dalam pikiran Anna. Anna melihat hanya tersisa dua bangku kosong saja disana, satunya disebelah Burack yang
tentu saja akan ditepati oleh Kayla, dan satunya disebelah kanan Kerem yang
tentu saja disanalah ia duduk.
Sekilas Anna melirik pada kerem yang sedang menatap kearahanya dengan sorot mata yang sulit diartikan, Anna menarik napas panjang
mencoba untuk menenangkan pikirannya yang begitu sarat dengan beban.
Mengumpulkan segenap keberaniannya berjalan mendekat dan mendudukan tubuhnya disana, Anna dapat merasakan hawa dingin begitu mendudukan tubuhnya disana.
Pesta kecil itu pun dimulai diawali dengan menyanyikan lagu ucapan selamat ulang tahun untuk Maryam yang terlihat begitu sangat bahagian malam ini, kemudian dilanjutkan dengan menyantap hidangan yang sudah tersaji diatas meja, Anna dan Kerem yang tak banyak bicara beberapa kali digoda oleh paman dan sepupunya, keduanya hanya mengulum senyum membals candaan mereka. Maryam dan Hayet memperkenalkan Anna pada saudara sepupu Kerem yang turut hadir bersama suami dan istri mereka, dan juga membawa serta anak-anak mereka,
sehingga suasana menjadi ramai dengan suara anak-anak.
Suara musik mengalun dengan lembut membuat beberapa pasangan turun berdansa di atas rumpu hijua yang terbentang, tak ketinggalan Maryam dan Hayet yang terlihat masih sangat mesra diusia mereka yang sudah tak muda lagi. Tatapan Anna berpindah pada anak-anak dari saudara sepupu Kerem yang terlihat begitu asik bermain perang-perangan dengan senjata ditangan masing-masing, bukan hanya bocah laki-laki saja yang ikut tapi juga anak perempuan termasuk Nuha, sesekali terdengar debat dari mereka yang tidak terima ketika merasa dicurangi, Anna hanya menahan tawanya melihat tingkah bocah-bocah itu yang terlihat
menggemaskan.
Anna melirik bangku kosong yang sudah sejak tadi ditinggalkan oleh Kerem, ia pergi begitu saja tanpa bicara pada Anna, ia tidak memikirkan sikap dingin Kerem padanya karena ini memang sangat mengejutkan mereka berdua. Anna bangkit dari duduknya ingin pergi ke toilet karena ingin buang air kecil, ia melangkah masuk kedalam Villa dan mencari toilet yang ada dilantai bawah saja
dari pada harus ke kamarnya yang terletak dilantai dua.
Ketika melewati lorong yang membatasi halaman belakang dengan dapur telinga Anna menangkap suara dari dua orang yang sangat dikenalnya, rasa penasaran membuat Anna menahan langkahnya dan menguping pembicaraan itu.
“Kerem, belajarlah untuk mencintai Anna dia wanita yang sangat baik, perempuan seperti apa lagi yang ingin kau cari.” Terdengar suara Kayla yang lembut membujuk Kerem. Anna melangkah lebih mendekat saat namanya
disebut-sebut dan mengintip keduanya dari balik tonggak besar yang ada disana.
“Tentu saja kau sangat mudah mengatakannya karena kau tidak berada diposisiku,” ucap Kerem dengan suara dingin dan wajah datarnya.
“Berhantilah mengatakan hal itu Kerem, harus berapa kali aku katakan padamu kalau aku tidak pernah menyimpan perasaan apa pun padamu, dari awal aku memnag sangat mencintai kakakmu Burack, aku….
“Jadi untuk apa kau memberikan semua perhatian itu padaku kalau kau tidak mencintaku,”potong Kerem dengan suara mulai meninggi.
“Aku mendukung apa yang kau lakukan karena ibumu tidak mendukung keinginanmu untuk menjadi seorang pembalap begitu pun dengan daddymu, mereka ingin kau melanjutkan bisnisnya sama seperti Burack. Hanya aku dan Burack yang selalu mendukungmu karena aku sudah menganggapmu seperti adikku
sendiri.” Suara Kayla masih terdengar sabar tidak terpancing oleh sikap Kerem
yang mulai dikuasai amarah.
“Tapi tidak denganku. Aku mencintaimu Kayla, dan sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa mengubah perasaanku padamu.”
Plakkk….
Emosi Kayla pun terpancing saat mendengar ucapan Kerem,” mulutmu sungguh kurang ajar Kerem, aku ini istri kakakmu dan kau harus menghormatiku sebagai istrinya. Simpan kata-katamu yang terdengar begitu
menjijikan ditelingaku, cintaku pada Burack tidak akan pernah tergantikan oleh apa pun, jika pun kami dipisahkan kematian aku tidak akan pernah membagi cintaku pada pria mana pun di dunia ini,” tegas Kayla dengan suara bergetar.
Perasan sesak memenuhi dada Anna sehingga ia pun menjauh dari sana, pembicaraan antara Kerem dan Kayla sungguh sangat mengejutkannya, ia tidak menyangkah kalau Kayla adalah wanita yang dicintai oleh Kerem bahkan setelah wanita itu menjadi istri kakaknya, begitu besar perasaan Kerem pada Kayla dan itulah alasan kenapa ia tidak mau menikah, dan Anna tidak menyangkah kalau Kayla tau hubungan sebenarnya antara dirinya dan Kerem, dan sungguh pandai Kayla menutupi darinya. Anna seakan melupakan niatnya awalnya masuk ke Villa kakinya menggiringnya menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, entah kenapa Anna sudah tidak berselera lagi untuk mengikuti pesta yang masih berlangsung di luar sana.
.
.
.
.
Bersambung
Selamat Membaca readers 🙏🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi like dan komentarnya 🤗
ana jangan pernah percaya sama temen dekat...