NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Penerbangan Terakhir

"Sinar," katanya, "selidiki keluarga Liem. Cari tahu apakah mereka pernah kehilangan seorang putri."

Pada saat Rayhan mulai mengejar masa lalu, Keira sudah bergerak untuk menyelamatkan masa depan orang lain.

Yolanda Mulyadi masih terbaring di ruang VIP rumah sakit dengan mesin yang berbunyi pelan di sisi ranjang. Dokter lokal menyebut peluangnya kecil. Anya menyebutnya tragedi keluarga. Keira menyebutnya terlalu tepat waktu.

Satu-satunya orang yang berani memberi peluang operasi adalah Morgan Liem.

Ko Morgan baru tiba di sebuah kota dekat Surabaya setelah menghadiri konferensi bedah saraf. Jadwalnya penuh, tetapi begitu Keira menelepon, ia hanya bertanya satu hal.

"Pasiennya bisa dipindahkan dalam enam jam?"

"Bisa," jawab Keira.

"Kalau begitu jemput aku."

Kevin ingin mengirim tim lengkap, tetapi Keira memilih berangkat sendiri dengan pesawat charter kecil milik jaringan Liem. "Semakin banyak orang tahu, semakin cepat Anya bergerak."

Kevin tidak suka, tetapi ia tahu adiknya benar.

Pagi itu, langit Surabaya cerah ketika Keira naik pesawat dari bandara kecil. Ia membawa map medis Yolanda, tablet berisi rekam CT scan, dan satu koper kecil untuk Morgan. Di kabin, hanya ada Keira, pilot, kopilot, satu pramugara, dan pengawal yang duduk di belakang.

Sebelum lepas landas, ponselnya bergetar.

Celine:

Jangan mati. Aku baru diculik sekali, belum sempat balas dendam.

Keira hampir tersenyum.

Aku sibuk. Balas dendam antre.

Pesawat naik dengan mulus.

Di tempat lain, Rion berdiri di lorong parkir bawah tanah, menatap layar ponselnya. Anya mengirim satu pesan suara yang ia dengarkan dengan rahang tegang.

"Aku tidak minta kau membunuhnya," suara Anya lembut, tetapi dingin. "Cukup pastikan dia tidak membawa Morgan tepat waktu. Kalau Yolanda bangun, hidupku selesai. Kau berutang padaku, Rion."

Rion menutup mata.

Utang itu selalu kembali seperti rantai.

Ia sudah menyuap satu teknisi agar memasukkan perangkat gangguan ke sistem komunikasi pesawat charter. Rencananya hanya memaksa pesawat mendarat darurat di bandara lain, membuat Morgan terlambat. Bukan jatuh. Bukan membunuh.

Setidaknya itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Namun manusia yang bermain dengan langit sering lupa, langit tidak selalu mau mengikuti rencana.

Keira menjemput Morgan di bandara kecil menjelang siang. Ko Morgan masuk kabin dengan jas dokter di lengan dan wajah tenang seperti orang yang hendak masuk ruang operasi, bukan pesawat kecil.

"Kau kurus," katanya begitu duduk.

Keira mengangkat alis. "Itu kalimat pertama setelah bertahun-tahun?"

"Aku dokter. Aku bicara berdasarkan observasi."

"Aku baik-baik saja."

Morgan melihat plester tipis di tangan Keira. "Itu bukan definisi baik-baik saja."

Keira menutup map medis Yolanda. "Setelah operasi selesai, Ko boleh mengomeliku satu jam."

"Dua jam."

"Setengah jam."

Morgan akhirnya tersenyum tipis. "Kau masih keras kepala."

Pesawat lepas landas kembali menuju Surabaya.

Tiga puluh menit pertama berjalan normal. Keira dan Morgan membahas kondisi Yolanda. Morgan meminta ruang operasi disiapkan, darah cadangan, tim anestesi, dan akses penuh ke data radiologi. Keira mengirim semua instruksi ke rumah sakit.

Lalu lampu kabin berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Pilot berbicara dari kokpit, suaranya berusaha tenang. "Sedikit gangguan cuaca. Mohon tetap duduk."

Keira menatap jendela.

Langit di luar tidak tampak buruk.

Morgan juga menyadarinya. "Itu bukan cuaca."

Pesawat mendadak turun beberapa meter. Pramugara terhuyung. Gelas air jatuh dan pecah. Alarm kecil berbunyi dari kokpit.

Pengawal Keira berdiri, tetapi pesawat terguncang lagi.

Keira melepas sabuk sebentar dan bergerak ke arah kokpit. "Apa yang terjadi?"

Kopilot menoleh dengan wajah pucat. "Sistem navigasi dan komunikasi terganggu. Ada sinyal asing masuk. Kami kehilangan jalur."

"Bisa mendarat?"

"Kalau mesin stabil, bisa. Tapi..."

Suara mesin kanan berubah. Tidak mati sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat tubuh pesawat bergetar aneh.

Morgan muncul di belakang Keira. "Kei."

Keira melihat panel, wajah pilot, lalu peta darurat di layar yang berkedip. Mereka berada di atas kawasan pegunungan. Jika pesawat dipaksa turun di tempat yang salah, semua orang di kabin bisa mati sebelum Yolanda sempat masuk ruang operasi.

"Ada parasut?" tanya Keira.

Pilot menatapnya seperti ia gila. "Ada dua untuk keadaan darurat kru."

"Berikan satu untuk Ko Morgan."

"Keira," suara Morgan mengeras.

"Ko harus hidup. Yolanda butuh Ko."

"Dan kau?"

Keira menatap kakaknya. "Aku juga akan hidup."

Guncangan makin keras. Radio hanya mengeluarkan suara statis. Pengawal Keira membantu mengambil parasut darurat. Morgan menolak memakainya sampai Keira memasangkan tali itu sendiri.

"Dengar," kata Morgan, untuk pertama kalinya wajah tenangnya retak. "Kita lompat bersama."

"Tidak. Ko lompat dulu dengan map medis ini. Titik jatuhmu harus lebih dekat ke jalan utama. Aku akan mengulur waktu supaya pilot bisa menstabilkan pesawat dan pengawal keluar."

"Kau bukan pilot."

"Aku pernah latihan darurat lebih banyak daripada yang Ko tahu."

Morgan mencengkeram lengannya. "Kei, jangan jadikan dirimu tumbal."

Kata tumbal membuat dada Keira panas, tetapi ia tidak punya waktu untuk merasa.

Ia mendorong map medis ke dada Morgan. "Kalau aku terlambat, operasi tetap jalan. Janji."

Pintu darurat dibuka.

Angin menghantam kabin seperti dinding. Suara mesin dan alarm bercampur menjadi satu. Morgan menatap Keira, matanya merah, lalu melompat setelah pengawal mendorongnya sesuai aba-aba pilot.

Parasutnya terbuka di kejauhan.

Keira menghela napas.

Sinyal aneh di panel makin kuat. Ia melihat perangkat kecil menempel di bawah salah satu panel samping, lampunya berkedip merah.

Sabotase.

Keira meraihnya dengan tangan kosong. Panas. Kulit jarinya seperti terbakar. Ia menarik benda itu sekuat tenaga sampai kabelnya putus. Panel komunikasi sempat menyala lagi, cukup untuk mengirim satu potongan koordinat otomatis.

Lalu pesawat kembali menukik.

"Nona!" teriak pengawal.

Keira mengambil parasut terakhir.

Ia melompat.

Angin merobek napasnya. Dunia berputar, langit dan hutan berganti tempat berkali-kali. Keira menarik tuas. Parasut terbuka kasar, menghentak bahunya sampai nyeri menjalar ke tulang.

Di bawahnya hanya hijau.

Terlalu banyak pohon. Terlalu sedikit tanah lapang.

Ia menabrak kanopi hutan dengan suara cabang patah. Tubuhnya terguling, bahunya menghantam batang, lalu dunia menjadi gelap sebentar.

Ketika membuka mata, bau tanah basah memenuhi hidungnya.

Ponselnya retak. Tidak ada sinyal.

Dari kejauhan terdengar suara ledakan kecil.

Pesawat.

Keira mencoba berdiri, tetapi kakinya nyaris menyerah. Ia menggigit bibir sampai berdarah, lalu memaksa tubuhnya bergerak.

Di Surabaya, kabar sinyal darurat pesawat masuk ke beberapa pihak sekaligus.

Kevin menerima telepon dari tim Liem dan wajahnya langsung kehilangan warna.

Rayhan menerima laporan dari Rion yang datang terlambat dengan suara gemetar.

"Pesawat Keira hilang kontak."

Gelas di tangan Rayhan jatuh dan pecah.

"Apa katamu?"

Rion pucat. Untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti orang yang memahami ukuran dosanya.

"Koordinat terakhir di kawasan pegunungan. Tim SAR belum masuk karena sinyal putus."

Rayhan mengambil jaket tanpa menunggu. "Siapkan helikopter."

"Tuan, cuaca di area itu mulai buruk."

"Siapkan."

Rion menahan napas. "Rayhan, ini mungkin..."

Rayhan menatapnya. "Kalau kau tahu sesuatu, doakan Keira hidup sebelum aku bertanya."

Tidak sampai satu jam, Rayhan sudah berada di kaki pegunungan bersama tim pencari. Hujan mulai turun, tipis namun menusuk. Kevin tiba dari arah lain dengan wajah lebih keras daripada batu.

"Aku yang akan menemukan adikku," kata Kevin.

Rayhan menatap hutan gelap di depan mereka. "Kalau kau ingin bertengkar, tunggu dia selamat."

Kevin tidak menjawab.

Mereka masuk ke hutan dari dua jalur berbeda.

Hujan turun makin rapat setelah satu jam pertama. Jalur tanah berubah menjadi lumpur, akar pohon menyembul seperti jerat, dan suara radio tim pencari patah-patah sebelum akhirnya hilang sama sekali.

Rayhan berjalan paling depan di jalurnya. Dua kali anggota tim memintanya berhenti karena tebing di sisi kanan terlalu licin. Dua kali pula ia mengabaikan.

"Keira!" teriaknya ke dalam gelap.

Tidak ada jawaban.

Hanya hujan, daun, dan napasnya sendiri.

Di sebuah lereng, senter Rayhan menangkap sesuatu yang tersangkut di ranting. Sehelai kain merah tua, sobek kecil, basah oleh hujan. Warna itu sama dengan gaun Keira di pesta Mulyadi, warna yang belum hilang dari kepalanya.

Rayhan meraih kain itu.

Di ujungnya ada noda gelap.

Darah.

Untuk sesaat, semua suara di hutan lenyap.

"Tuan, hati-hati!" seru salah satu anggota tim.

Tanah di bawah kaki Rayhan longsor. Ia tergelincir, bahunya menghantam batu, telapak tangannya robek saat menangkap akar. Rasa sakit menjalar sampai siku, tetapi ia tidak melepaskan kain itu.

Ia naik lagi dengan napas berat.

"Lanjut," katanya.

"Tuan terluka."

"Lanjut!"

Darahnya menetes, bercampur hujan di punggung tangan.

Di jalur lain, Kevin menerima kabar dari timnya bahwa parasut Morgan ditemukan dekat jalan kecil dan Morgan sudah dievakuasi dalam keadaan sadar. Morgan menolak dibawa pulang sebelum tahu Keira selamat, tetapi Kevin memaksanya menuju rumah sakit karena operasi Yolanda tidak bisa menunggu.

"Selamatkan pasien itu," kata Kevin lewat telepon, suaranya pecah oleh marah dan takut. "Aku akan cari Kei."

Morgan terdiam di ujung sana, lalu menjawab, "Bawa adikku pulang."

Malam turun cepat. Sinyal hilang. Hujan membuat tanah licin. Di suatu tempat di antara pohon-pohon, Keira berjalan tertatih dengan ponsel retak di tangan, tidak tahu bahwa dua pria yang sama-sama merasa berhak menyelamatkannya sedang menembus hutan dari arah berlawanan.

Lalu kabut menelan semuanya.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!