NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Nama Dia Terukir

Naomi paling tidak suka membongkar koper.

Bukan karena malas. Justru karena setiap barang di dalam koper selalu mengingatkannya bahwa hidupnya bisa dimasukkan ke ruang yang terlalu kecil. Dua koper dari kos Tebet itu sudah berdiri di sudut kamar tamu sejak malam ia pindah. Awalnya ia berencana merapikan semuanya besok. Besok berubah menjadi lusa. Lusa berubah menjadi minggu berikutnya.

Hari itu, setelah kelas dibatalkan mendadak, Naomi akhirnya duduk di lantai kamar tamu dan membuka koper kedua.

Felix langsung masuk seolah koper itu harta karun.

"Jangan," kata Naomi, cepat menahan moncongnya. "Ini bukan mainan."

Felix mendengus kecewa, lalu duduk di sampingnya dengan wajah tersinggung.

Koper itu berisi barang-barang yang jarang ia sentuh. Jaket lama. Kartu peserta lomba bahasa Jerman. Map beasiswa. Beberapa foto ukuran kecil yang ia selipkan di antara buku catatan. Dan satu folder plastik buram yang sudah menguning di pinggirnya.

Naomi berhenti saat melihat folder itu.

Ia tahu isinya.

Seharusnya ia membuangnya sejak lama.

Namun ada beberapa luka yang aneh. Terlalu sakit untuk disimpan, tapi terlalu penting untuk dibuang. Seolah jika ia membuang bukti, masa lalu akan menang karena berhasil membuat dirinya pura-pura tidak pernah terjadi.

Naomi membuka folder itu pelan.

Di dalamnya ada kertas ulangan lama.

Beberapa lembar soal matematika, catatan biologi, dan satu kertas bahasa Indonesia yang sudutnya sudah robek. Nilainya tidak buruk. Naomi dulu selalu belajar. Ia tidak punya banyak hal lain yang bisa ia banggakan.

Tapi bukan nilai yang membuat tangannya dingin.

Di bagian belakang salah satu kertas, ada tulisan tangan yang memenuhi hampir seluruh ruang kosong.

Satu nama.

Ditulis berkali-kali.

Dengan ukuran berbeda. Dengan tekanan pena berbeda. Kadang rapi, kadang miring, kadang hanya huruf pertama lalu dicoret. Nama yang dulu tidak berani Naomi ucapkan bahkan ketika sendirian, tapi tangannya menuliskannya sampai tinta pulpen hampir habis.

Naomi menutup kertas itu cepat.

Terlambat.

Detak jantungnya sudah kembali menjadi anak SMA yang berdiri di belakang kantin, menyembunyikan kertas dari teman sekelas yang tertawa terlalu keras.

"Mommy?"

Naomi tersentak, lalu sadar itu bukan suara Felix. Itu suara Kelvin dari luar kamar, memakai nada datar yang jelas-jelas sedang menirukan cara ia menerjemahkan Felix.

"Felix masuk ke kamarmu?"

Naomi buru-buru memasukkan kertas itu kembali ke folder. "Iya. Sebentar."

Felix, seolah mengkhianati semua upaya penyelamatan, menggigit ujung salah satu lembar kertas catatan dan mundur.

"Felix!" Naomi panik.

Doberman itu berlari keluar kamar dengan kertas di mulut.

Naomi langsung berdiri dan mengejarnya.

Di ruang tengah, Kelvin baru keluar dari dapur membawa gelas air dingin. Felix berlari memutar sofa, bangga seperti baru menang lomba. Kertas di mulutnya melambai-lambai.

"Felix, kasih!" Naomi berusaha tidak berteriak.

Kelvin menaruh gelas di meja. "Apa yang dia ambil?"

"Kertas lama."

"Penting?"

"Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Kelvin menatapnya.

Felix akhirnya menjatuhkan kertas di dekat meja, lalu duduk dengan wajah tidak bersalah. Naomi cepat mengambilnya, tapi satu lembar lain ikut terseret keluar dari folder yang ia bawa tergesa-gesa.

Lembar itu meluncur ke bawah meja.

Naomi membeku.

Itu bukan kertas yang digigit Felix.

Itu kertas ulangan lama.

Yang belakangnya penuh tulisan.

Kelvin membungkuk lebih dulu.

"Biar aku ambil."

"Tidak perlu!"

Suaranya terlalu keras.

Kelvin berhenti, satu tangan masih di bawah meja. Matanya naik padanya. "Kenapa?"

Naomi merasakan seluruh darah naik ke wajah. "Itu... kotor."

"Kertas?"

"Sudah lama."

"Aku tidak akan sakit karena menyentuh kertas lama."

Sebelum Naomi bisa mencari alasan lain, Kelvin sudah mengambil lembar itu.

Dunia Naomi berhenti.

Ia tidak bisa bernapas.

Kelvin memegang kertas itu di sisi yang berisi soal, bukan bagian belakang. Ada coretan jawaban lama, nilai merah di pojok, dan nama sekolah yang hampir pudar. Ia melirik sekilas.

"Ulangan lama?"

Naomi mengangguk sangat pelan.

"Nilaimu bagus."

Ia tidak tahu harus lega atau semakin takut.

Kelvin membalik sedikit kertas itu untuk melihat ujung belakang.

Naomi hampir melompat.

Namun pada saat yang sama, gelas air dingin di meja meninggalkan lingkaran basah di permukaan kayu. Kelvin melihatnya, lalu tanpa berpikir panjang meletakkan kertas itu di bawah gelas sebagai alas.

Sisi belakang kertas tertutup oleh meja.

Nama itu tersembunyi.

Naomi berdiri kaku, seperti seseorang yang baru lolos dari kecelakaan kecil tapi masih bisa mendengar suara rem di telinga.

"Kelvin..."

"Hm?"

"Itu..."

"Aku pinjam sebentar. Meja basah."

Naomi menatap gelas di atas kertas itu.

Gelas air dingin.

Kertas lama.

Nama yang tersembunyi tepat di bawahnya.

Ia ingin menariknya, tapi jika ia terlalu panik, Kelvin justru akan melihat. Jadi ia memaksa dirinya duduk di sofa, meraih Felix, lalu pura-pura sibuk memarahi anjing itu.

"Kamu tidak boleh ambil barang sembarangan."

Felix menjilat tangannya.

Kelvin duduk di sofa seberang. "Dia tidak merasa bersalah."

"Kelihatan."

"Kamu yang kelihatan bersalah."

Naomi berhenti mengusap Felix.

Kelvin menatapnya di atas rim gelas. "Ada rahasia di koper?"

Jantung Naomi kembali jatuh.

"Semua orang punya rahasia di koper," jawabnya pelan.

Kelvin tampak memikirkan jawaban itu, lalu tidak mengejar. "Kalau ada yang mau dibuang, bilang. Nanti aku minta orang turun."

"Tidak perlu. Saya bisa buang sendiri."

"Aku tahu."

Jawaban itu membuat Naomi menatapnya.

Kelvin mengembalikan tatapannya dengan tenang. "Aku cuma menawarkan."

Untuk beberapa detik, Naomi lupa pada kertas di bawah gelas.

Lalu tetes air dingin mengalir turun dari sisi gelas, menyentuh pinggir kertas.

Naomi langsung berdiri. "Saya ambil tisu."

Ia bergerak terlalu cepat. Kelvin melihatnya, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Saat Naomi mengangkat gelas dan mengambil kertas itu, ia memastikan sisi belakang tetap menghadap tubuhnya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengelap meja, melipat kertas, lalu memasukkannya kembali ke folder.

Kelvin memperhatikannya.

"Kertas itu benar-benar penting, ya?"

Naomi memeluk folder ke dada.

"Tidak," katanya.

Kebohongan itu begitu tipis sampai bahkan Felix pun tampak tidak percaya.

Kelvin tidak membongkarnya.

Ia hanya mengambil gelasnya lagi, meneguk air, lalu berkata seolah tidak ada apa-apa, "Kalau begitu simpan baik-baik."

"Barang lama tidak selalu harus dibuang?" Naomi bertanya tanpa sadar.

Kelvin menatap folder di pelukannya. "Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Kalau masih menyakitkan tapi kamu belum siap melepas, simpan dulu."

Naomi terdiam.

Ia tidak tahu Kelvin sedang bicara tentang kertas itu, atau tentang sesuatu miliknya sendiri.

Naomi mengangguk.

Di dalam folder yang ia peluk terlalu erat, nama yang dulu ia tulis berkali-kali masih basah sedikit di pinggirnya.

Dan Kelvin duduk hanya dua meter darinya, sama sekali tidak tahu bahwa dirinya baru saja hampir membaca seluruh masa muda Naomi yang paling memalukan.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!