NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 Utang Darah

Ratu Ayu Kusumawardani tiba di Gedung Wayang Enam sebelum tengah malam.

Kereta tuanya berhenti begitu keras hingga kuda di depan meringkik. Perempuan tua itu turun tanpa menunggu dayang. Rambutnya sudah banyak memutih, tetapi langkahnya masih tegak. Semua orang di halaman menunduk. Tidak ada yang berani menyebutkan belasungkawa lebih dulu.

Arjuna berdiri di depan pintu samping gedung.

Ratu Ayu menatapnya. "Di mana anakku?"

"Di dalam. Tabib sudah memeriksa."

"Aku tidak bertanya tabib memeriksa apa." Suaranya dingin. "Aku bertanya di mana anakku."

Arjuna memberi jalan.

Sinta dibaringkan di ruang kecil yang sudah dikosongkan. Tubuhnya ditutup kain putih sampai dada. Wajahnya tampak lebih muda dalam kematian, seolah semua kesombongan yang biasa menajamkan matanya ikut jatuh dari balkon.

Ratu Ayu berhenti di ambang pintu.

Tidak ada jeritan.

Tidak ada tangis keras.

Ia berjalan mendekat, duduk di sisi tubuh putrinya, lalu menyentuh pipi Sinta dengan dua jari. Gerakan itu begitu lembut hingga beberapa dayang mulai menangis.

"Anakku bodoh," katanya pelan. "Tapi dia anakku."

Arjuna menunduk. Ia tidak menawarkan penghiburan kosong. Tidak ada kata yang cukup untuk ibu yang baru melihat anaknya pulang tanpa napas.

Beberapa saat kemudian, Ratu Ayu mengangkat kepala.

"Siapa?"

Satu kata itu lebih tajam daripada teriakan.

Garuda meletakkan tiga benda di atas meja: catatan tanpa nama yang ditemukan di ruang atas, potongan kayu balkon yang penyangganya dipotong, dan kain dengan tanda kecil Puri Baskara yang robek dari lengan salah satu pria yang menahan jalan Garuda.

Ratu Ayu melihat semuanya tanpa berkedip.

"Bisa saja kau yang menyiapkan ini," katanya kepada Arjuna.

"Bisa."

Jawaban itu membuat semua orang terkejut.

Arjuna melanjutkan, "Karena itu hamba tidak meminta Ratu Ayu percaya pada hamba malam ini. Hamba hanya meminta Ratu Ayu melihat siapa yang paling diuntungkan bila Sinta mati di tempat milik jaringan Puri Baskara, setelah ia menerima pesan memakai tanda mereka."

Ratu Ayu menatapnya lama. "Jangan bersembunyi di balik kata hamba. Kau Pangeran Mahkota."

"Malam ini Ratu Ayu adalah seorang ibu. Hamba berdiri di sini sebagai orang yang gagal menyelamatkan anak Ratu Ayu tepat waktu."

Wajah Ratu Ayu bergetar. Untuk sesaat, dinding keras yang menahan dirinya hampir retak.

"Apakah Baskara ada di sini?"

"Tidak."

"Tentu tidak." Ia tertawa pendek tanpa suara. "Anak Permaisuri Ratih selalu pandai menjaga tangannya tetap bersih."

Di luar, Garuda menerima laporan baru dan mendekat. "Parman lolos lewat lorong rahasia. Dua anak buahnya tewas menahan jalur. Satu tertangkap hidup."

Ratu Ayu menoleh. "Bawa dia."

Pria yang tertangkap itu diseret masuk dengan tangan terikat. Wajahnya memar karena perlawanan, tetapi ketakutannya lebih besar daripada luka. Begitu melihat Ratu Ayu, ia langsung menunduk.

"Siapa yang menyuruhmu menjaga lorong?" tanya Ratu Ayu.

Pria itu diam.

Garuda menekan bahunya sampai ia meringis.

"Parman," jawabnya akhirnya. "Parman dari Puri Baskara."

"Dan Parman menyuruh kalian melakukan apa?"

"Menahan siapa pun yang mengejar. Setelah Raden Ayu jatuh, kami harus membawa Parman keluar."

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

Ratu Ayu menutup mata. Ketika ia membukanya lagi, air mata tidak jatuh. Justru karena tidak jatuh, wajahnya tampak lebih mengerikan.

"Bawa anakku pulang."

Dayang-dayangnya bergerak dengan isak tertahan.

Sebelum pergi, Ratu Ayu berhenti di depan Arjuna.

"Aku tidak akan berteriak di depan Balai Agung besok."

Arjuna menatapnya.

"Kalau aku berteriak sekarang, Ratih akan menangis, Baskara akan pura-pura mencari pelaku, dan Naradewa akan menutup kasus ini sebagai kecelakaan tragis. Aku sudah terlalu tua untuk memberi musuhku panggung gratis."

Untuk pertama kalinya malam itu, Arjuna melihat mengapa perempuan ini pernah ditakuti di antara cabang keluarga kerajaan.

"Apa yang Ratu Ayu inginkan?"

Ratu Ayu menatap kain putih yang menutup tubuh putrinya.

"Kebenaran yang membuat mereka tidak bisa tidur."

Ia lalu menoleh pada Arjuna. "Saat waktunya tiba, kirim kabar. Aku akan ingat siapa yang membawa anakku ke gedung ini."

Ia tidak menyebut nama Baskara. Ia tidak perlu.

Ratu Ayu melepas cincin tua dari jarinya, cincin perak dengan ukiran bunga kusuma yang sudah aus.

"Tunjukkan ini kepada orangku bila kau membutuhkan pintu di antara keluarga cabang kerajaan. Mereka tidak akan bergerak untuk Pangeran Mahkota." Suaranya turun. "Tapi mereka akan bergerak untuk ibu yang kehilangan anak."

Arjuna menerima cincin itu dengan kedua tangan. "Hamba akan mengingatnya."

***

Saat jenazah Sinta dibawa pulang, Puri Timur juga menerima kabar.

Anggraini yang sejak tadi ditahan di ruang samping mendengar suara langkah terburu-buru. Ia menatap dayangnya yang sudah menangis sampai suara habis.

"Apa yang terjadi?" tanyanya.

Tidak ada yang menjawab.

Adi masuk membawa wajah dingin. "Raden Ayu Sinta meninggal di Gedung Wayang Enam."

Anggraini terdiam.

Lalu ia tertawa.

Tawa itu kecil pada awalnya, lalu naik menjadi suara patah yang membuat dayangnya merinding.

"Tidak mungkin. Mereka hanya ingin menakutinya. Mereka bilang Sinta akan dijadikan bukti bahwa Puri Timur kacau. Mereka bilang setelah itu Yang Mulia akan membenci Anindya. Mereka bilang..."

"Mereka siapa?" tanya Adi.

Anggraini berhenti tertawa. Matanya melebar.

"Baskara tidak akan membiarkanku jatuh."

Adi tidak menjawab.

Justru diam itu menghancurkannya.

Anggraini merangkak ke depan. "Pangeran Baskara berjanji. Dia bilang jika aku membantu, aku akan mendapat tempat. Aku akan..."

Pintu terbuka. Arjuna masuk.

Anggraini langsung membeku.

"Baskara tidak mengirim siapa pun untukmu," kata Arjuna.

"Tidak."

"Parman melarikan diri. Sinta mati. Dayangmu sudah memberi kesaksian. Kau ditinggalkan."

Wajah Anggraini berubah seperti kertas yang terkena air. Semua warna luntur.

"Tidak," ulangnya, kali ini hampir seperti anak kecil. "Aku cantik. Aku berguna. Aku..."

Ia mencengkeram rambutnya sendiri, lalu tertawa lagi. Air matanya bercampur dengan tawa, membuat wajah yang dulu selalu ditata lembut menjadi asing.

"Putri Mahkota," gumamnya. "Semua karena Putri Mahkota. Kalau dia tidak datang..."

Arjuna memberi isyarat pada Garuda. "Bawa dia keluar dari Puri Timur. Serahkan pada pengawasan keluarganya dan Pengadilan Kerajaan. Jangan biarkan ia mendekati Anindya lagi."

Anggraini menjerit saat dua abdi membawanya pergi. "Yang Mulia! Hamba mencintai Yang Mulia! Hamba lebih pantas!"

Jeritan itu memudar di koridor.

Arjuna berdiri diam beberapa saat. Tidak ada rasa puas di wajahnya. Hanya dingin yang lebih dalam. Bidak kecil sudah hancur, tetapi tangan yang menggerakkannya masih duduk nyaman di Puri Baskara.

Wulan muncul dari arah kamar Anindya. "Gusti Putri terbangun. Beliau bertanya apa yang terjadi."

Arjuna menutup mata sebentar.

"Katakan padanya Sinta sudah pulang ke ibunya."

Wulan terkejut oleh pilihan kata itu, tetapi mengangguk.

"Dan katakan," lanjut Arjuna, suaranya rendah, "orang yang membuat semua ini terjadi belum akan tidur tenang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!