Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Menggoda kamu
Diva sudah selesai membantu Mia memasak. Mia sangat
senang dengan hasil masakan Diva yang sangat lezat. Sambil menunggu keluarga
yang lain datang, Mia meminta Rava mengantar Diva berkeliling rumah Alex.
Rava mengajak Diva berjalan menuju halaman samping
tempat gasebo. Mereka mendekati bangunan gasebo itu dan memergoki Reva sedang
mencium Flora disana. Diva dan Rava saling pandang dengan canggung.
“Dia mirip denganmu. Kalian kembar ya?”tanya Diva
melihat ke halaman samping yang luas. Rava hanya mengangguk. Saat Diva datang
tadi, ia tidak sadar dengan kehadiran Reva. Jadi Diva tidak tahu kalau Rava
punya saudara kembar.
Rava menatap Reva horor ketika kembarannya itu sengaja
menatapnya saat sedang berciuman dengan Flora. Rava menarik tangan Diva,
langsung membawa gadis itu naik ke lantai dua. Untuk pertama kalinya, Rava
membawa Diva masuk ke kamarnya.
“N-ngapain kita disini, Rava?”tanya Diva sedikit
gugup. Ia melihat sekeliling rak kamar Rava yang banyak terisi buku. Rava
tersentak, ia melihat sekeliling kamarnya juga. Tiba-tiba Rava menepuk
kepalanya, ia malu sekali membawa Diva ke kamarnya. Padahal tadi ia ingin
membawa Diva ke samping kolam renang.
“K-kita disini dulu ya. Ngadem. Kamu nggak
kepanasan di dapur?”tanya Rava.
“Oh, gitu ya. Boleh aku melihat-lihat?”tanya Diva
untuk menghilangkan kecemasannya. Ia termasuk gadis kolot yang menganggap masuk
ke kamar seorang pria yang tidak ada hubungan dengannya adalah suatu hal yang
tidak boleh dilakukan.
Diva mulai membaca satu persatu judul buku yang ada
di rak buku Rava. Ia tertegun saat Rava mengikuti langkahnya. “Aku nggak punya
buku masakan, Diva.”kata Rava sangat dekat di belakang Diva.
“Hmm, kalo buku strategi pemasaran, ada kan?”tanya
Diva asal sebut judul. Rava langsung mode serius, ia mengingat salah satu judul
bukunya dan mulai mencari buku itu. Diva menahan senyumnya melihat wajah serius
Rava. Setidaknya perhatian pria itu sudah teralihkan ke tempat lain.
Diva kembali melihat-lihat buku milik Rava, ia
melihat salah satu buku yang warna sampulnya agak mencolok diatas kepalanya. Ketika
Diva menarik buku itu, salah satu buku lain hampir jatuh menimpa kepala Diva.
Melihat bahaya yang akan menimpanya, Diva refleks menutupi kepala dan
memejamkan matanya.
Saat Diva tidak merasakan sesuatu jatuh diatas
kepalanya, ia membuka mata dan melihat Rava menahan buku-buku itu. Diva
tersenyum lega, ia menatap mata Rava yang sudah menatapnya juga. Pria itu
tiba-tiba menunduk, mendekatkan wajahnya pada Diva. Senyuman Diva langsung
pudar dari wajahnya, gadis itu terpana melihat Rava mendekatkan wajahnya.
“R-Rava...”lirih Diva ketika menyadari Rava sudah
mengukungnya dengan kedua lengannya.
“Diva, aku su... addooww!!”teriak Rava mengagetkan Diva.
Buku yang tadi ditahannya, terjatuh menimpa kepala Rava. Diva refleks menahan buku
itu, sementara Rava berjongkok memegangi kepalanya.
“Aduh, sakit ya. Coba lihat berdarah, nggak?”tanya
Diva kuatir. Ia ikut berjongkok di samping Rava. Tapi karena terlalu cepat
berjongkok, Diva kehilangan keseimbangannya dan jatuh terlentang di lantai. Rok
yang dipakainya terangkat sampai setengah paha mulus Diva terlihat jelas.
Rava menelan salivanya melihat pemandangan indah di
depannya. Diva cepat-cepat membenahi roknya, ia berdiri membelakangi Rava. “Rava,
kita turun aja ya. Acaranya udah mau mulai.”kata Diva yang merasa tidak nyaman.
Rava menarik tangan Diva, “Diva, aku mau bicara
sama kamu. Sebentar saja.”pinta Rava.
Diva menarik nafasnya, ia mengikuti Rava yang sudah
duduk di pinggir tempat tidurnya. Diva mencoba menebak apa yang akan dikatakan
Rava.
“Diva, aku tau ini mungkin terlalu cepat untuk
kita. Tapi aku takut kalau aku nggak bilang sekarang, aku akan menyesal karena
terlambat mengatakannya. Aku... aku ingin mengejarmu, Diva.”kata Rava mencoba
mengatakan perasaannya pada Diva.
“Emangnya aku lari kemana, pake dikejar segala.”tanya
Diva menatap Rava dengan senyum yang kembali menghampiri wajahnya.
Rava terpana mendengar kata-kata Diva, ia langsung
putar otak mencari cara untuk meyakinkan Diva kalau dirinya tidak sedang
bercanda. “Aku suka sama kamu, Diva.”kata Rava lagi menunggu reaksi Diva.
“Aku juga suka sama kamu. Kamu orangnya baik, suka
nolong, sopan, ramah lagi.”kata Diva lagi mengingat kebaikan Rava.
“Bukan gitu maksudku.”kata Rava menepuk jidatnya.
Ia menggaruk kepalanya bingung sendiri.
Diva menahan tawanya, ekspresi wajah Rava tampak
lucu di mata Diva saat itu. Tidak sanggup menahan tawanya lagi, Diva tertawa
lepas di depan Rava. Bukannya illfeel, Rava justru terpesona melihat Diva
tertawa seperti itu.
“Hahaha... maaf, aku nggak maksud buat ketawa. Habis
daritadi kamu ngomongnya nggak jelas sich.
Aku nggak tahan mau ketawa. Udah, ach. Kita kebawah
yuk.”ajak Diva hampir beranjak dari sisi Rava.
“Diva, aku serius. Tolong pertimbangkan aku.”pinta
Rava menarik tangan Diva.
Diva duduk kembali, ia tersenyum pada Rava. “Dengar,
Rava. Aku ini barusan putus dengan Akbar. Aku nggak mau orang-orang berpikir
kami putus gara-gara kamu. Aku hargai banget perasaanmu, Rava. Makasih, tapi....”
“Aku ngerti.”potong Rava cepat.
Diva menatap Rava lagi, menggenggam tangan pria
itu. “Tolong dengarkan aku dulu. Aku nggak suka kalau omonganku dipotong, Reva.
Aku nggak mau ada salah paham diantara kita. Bagiku kamu teman yang sangat
baik. Tapi sepertinya kamu ingin yang lebih ya.”kata Diva.
Rava balas menggenggam tangan Diva, pria itu
mendekat lagi. Harum rambut Diva, membuat Rava memejamkan matanya.
“R-Rava, kamu mau apa?”tanya Diva gugup.
“Rambutmu harum sekali, Diva. Boleh aku menciumnya?”tanya
Rava sambil mengintip reaksi Diva.
Diva mengelak menoleh kearah lain tapi Rava
menganggapnya sebagai undangan untuk melanjutkan permintaannya. Setelah Rava
menyibak rambut Diva, gadis itu menahan gerakan Rava.
“Rava, kita turun yuk. Nanti dicariin mamamu.”kata
Diva berusaha menghindar. Ia tidak ingin terjadi sesuatu diantara mereka
sebelum memastikan perasaannya pada Rava. Lagipula hubungan mereka baru dimulai
beberapa hari.
Grep! Rava memeluk pinggang Diva, membenamkan
wajahnya ke untaian rambut gadis itu. “Rava, tolong jangan gini.”
“Diva, aku janji akan menjagamu kalau kau beri aku
kesempatan.”bisik Rava masih kekeh. Diva menghembuskan nafasnya kasar, tidak
mudah membuat Rava mengerti. Bicara dengan Rava lebih sulit daripada bicara
dengan kedua adiknya.
“Rava, bisakan kita jadi sahabat dulu. Lagian aku
baru putus.”bujuk Diva mulai merasa gerah dipeluk Rava terus.
“Aku nggak mau jadi sahabatmu, Diva. Aku mau jadi
kekasihmu.”tegas Rava menggetarkan hati Diva.
Gadis itu menggenggam erat ujung dress-nya. Bukan
bohong kalau Diva tidak ada rasa pada Rava. Sejak pertama bertemu, Diva merasa
senang mengobrol dengan Rava. Pria itu bisa memberikan kenyamanan dan perasaan
tenang bagi Diva.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.