NovelToon NovelToon
Cinta Kembarku

Cinta Kembarku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Badboy / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sanny Rama

Sequel DUREN MANIS...

Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.

Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.

Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?

Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.

Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.

Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?

Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Menggoda kamu

Diva sudah selesai membantu Mia memasak. Mia sangat

senang dengan hasil masakan Diva yang sangat lezat. Sambil menunggu keluarga

yang lain datang, Mia meminta Rava mengantar Diva berkeliling rumah Alex.

Rava mengajak Diva berjalan menuju halaman samping

tempat gasebo. Mereka mendekati bangunan gasebo itu dan memergoki Reva sedang

mencium Flora disana. Diva dan Rava saling pandang dengan canggung.

“Dia mirip denganmu. Kalian kembar ya?”tanya Diva

melihat ke halaman samping yang luas. Rava hanya mengangguk. Saat Diva datang

tadi, ia tidak sadar dengan kehadiran Reva. Jadi Diva tidak tahu kalau Rava

punya saudara kembar.

Rava menatap Reva horor ketika kembarannya itu sengaja

menatapnya saat sedang berciuman dengan Flora. Rava menarik tangan Diva,

langsung membawa gadis itu naik ke lantai dua. Untuk pertama kalinya, Rava

membawa Diva masuk ke kamarnya.

“N-ngapain kita disini, Rava?”tanya Diva sedikit

gugup. Ia melihat sekeliling rak kamar Rava yang banyak terisi buku. Rava

tersentak, ia melihat sekeliling kamarnya juga. Tiba-tiba Rava menepuk

kepalanya, ia malu sekali membawa Diva ke kamarnya. Padahal tadi ia ingin

membawa Diva ke samping kolam renang.

“K-kita disini dulu ya. Ngadem. Kamu nggak

kepanasan di dapur?”tanya Rava.

“Oh, gitu ya. Boleh aku melihat-lihat?”tanya Diva

untuk menghilangkan kecemasannya. Ia termasuk gadis kolot yang menganggap masuk

ke kamar seorang pria yang tidak ada hubungan dengannya adalah suatu hal yang

tidak boleh dilakukan.

Diva mulai membaca satu persatu judul buku yang ada

di rak buku Rava. Ia tertegun saat Rava mengikuti langkahnya. “Aku nggak punya

buku masakan, Diva.”kata Rava sangat dekat di belakang Diva.

“Hmm, kalo buku strategi pemasaran, ada kan?”tanya

Diva asal sebut judul. Rava langsung mode serius, ia mengingat salah satu judul

bukunya dan mulai mencari buku itu. Diva menahan senyumnya melihat wajah serius

Rava. Setidaknya perhatian pria itu sudah teralihkan ke tempat lain.

Diva kembali melihat-lihat buku milik Rava, ia

melihat salah satu buku yang warna sampulnya agak mencolok diatas kepalanya. Ketika

Diva menarik buku itu, salah satu buku lain hampir jatuh menimpa kepala Diva.

Melihat bahaya yang akan menimpanya, Diva refleks menutupi kepala dan

memejamkan matanya.

Saat Diva tidak merasakan sesuatu jatuh diatas

kepalanya, ia membuka mata dan melihat Rava menahan buku-buku itu. Diva

tersenyum lega, ia menatap mata Rava yang sudah menatapnya juga. Pria itu

tiba-tiba menunduk, mendekatkan wajahnya pada Diva. Senyuman Diva langsung

pudar dari wajahnya, gadis itu terpana melihat Rava mendekatkan wajahnya.

“R-Rava...”lirih Diva ketika menyadari Rava sudah

mengukungnya dengan kedua lengannya.

“Diva, aku su... addooww!!”teriak Rava mengagetkan Diva.

Buku yang tadi ditahannya, terjatuh menimpa kepala Rava. Diva refleks menahan buku

itu, sementara Rava berjongkok memegangi kepalanya.

“Aduh, sakit ya. Coba lihat berdarah, nggak?”tanya

Diva kuatir. Ia ikut berjongkok di samping Rava. Tapi karena terlalu cepat

berjongkok, Diva kehilangan keseimbangannya dan jatuh terlentang di lantai. Rok

yang dipakainya terangkat sampai setengah paha mulus Diva terlihat jelas.

Rava menelan salivanya melihat pemandangan indah di

depannya. Diva cepat-cepat membenahi roknya, ia berdiri membelakangi Rava. “Rava,

kita turun aja ya. Acaranya udah mau mulai.”kata Diva yang merasa tidak nyaman.

Rava menarik tangan Diva, “Diva, aku mau bicara

sama kamu. Sebentar saja.”pinta Rava.

Diva menarik nafasnya, ia mengikuti Rava yang sudah

duduk di pinggir tempat tidurnya. Diva mencoba menebak apa yang akan dikatakan

Rava.

“Diva, aku tau ini mungkin terlalu cepat untuk

kita. Tapi aku takut kalau aku nggak bilang sekarang, aku akan menyesal karena

terlambat mengatakannya. Aku... aku ingin mengejarmu, Diva.”kata Rava mencoba

mengatakan perasaannya pada Diva.

“Emangnya aku lari kemana, pake dikejar segala.”tanya

Diva menatap Rava dengan senyum yang kembali menghampiri wajahnya.

Rava terpana mendengar kata-kata Diva, ia langsung

putar otak mencari cara untuk meyakinkan Diva kalau dirinya tidak sedang

bercanda. “Aku suka sama kamu, Diva.”kata Rava lagi menunggu reaksi Diva.

“Aku juga suka sama kamu. Kamu orangnya baik, suka

nolong, sopan, ramah lagi.”kata Diva lagi mengingat kebaikan Rava.

“Bukan gitu maksudku.”kata Rava menepuk jidatnya.

Ia menggaruk kepalanya bingung sendiri.

Diva menahan tawanya, ekspresi wajah Rava tampak

lucu di mata Diva saat itu. Tidak sanggup menahan tawanya lagi, Diva tertawa

lepas di depan Rava. Bukannya illfeel, Rava justru terpesona melihat Diva

tertawa seperti itu.

“Hahaha... maaf, aku nggak maksud buat ketawa. Habis

daritadi kamu ngomongnya nggak jelas sich.

Aku nggak tahan mau ketawa. Udah, ach. Kita kebawah

yuk.”ajak Diva hampir beranjak dari sisi Rava.

“Diva, aku serius. Tolong pertimbangkan aku.”pinta

Rava menarik tangan Diva.

Diva duduk kembali, ia tersenyum pada Rava. “Dengar,

Rava. Aku ini barusan putus dengan Akbar. Aku nggak mau orang-orang berpikir

kami putus gara-gara kamu. Aku hargai banget perasaanmu, Rava. Makasih, tapi....”

“Aku ngerti.”potong Rava cepat.

Diva menatap Rava lagi, menggenggam tangan pria

itu. “Tolong dengarkan aku dulu. Aku nggak suka kalau omonganku dipotong, Reva.

Aku nggak mau ada salah paham diantara kita. Bagiku kamu teman yang sangat

baik. Tapi sepertinya kamu ingin yang lebih ya.”kata Diva.

Rava balas menggenggam tangan Diva, pria itu

mendekat lagi. Harum rambut Diva, membuat Rava memejamkan matanya.

“R-Rava, kamu mau apa?”tanya Diva gugup.

“Rambutmu harum sekali, Diva. Boleh aku menciumnya?”tanya

Rava sambil mengintip reaksi Diva.

Diva mengelak menoleh kearah lain tapi Rava

menganggapnya sebagai undangan untuk melanjutkan permintaannya. Setelah Rava

menyibak rambut Diva, gadis itu menahan gerakan Rava.

“Rava, kita turun yuk. Nanti dicariin mamamu.”kata

Diva berusaha menghindar. Ia tidak ingin terjadi sesuatu diantara mereka

sebelum memastikan perasaannya pada Rava. Lagipula hubungan mereka baru dimulai

beberapa hari.

Grep! Rava memeluk pinggang Diva, membenamkan

wajahnya ke untaian rambut gadis itu. “Rava, tolong jangan gini.”

“Diva, aku janji akan menjagamu kalau kau beri aku

kesempatan.”bisik Rava masih kekeh. Diva menghembuskan nafasnya kasar, tidak

mudah membuat Rava mengerti. Bicara dengan Rava lebih sulit daripada bicara

dengan kedua adiknya.

“Rava, bisakan kita jadi sahabat dulu. Lagian aku

baru putus.”bujuk Diva mulai merasa gerah dipeluk Rava terus.

“Aku nggak mau jadi sahabatmu, Diva. Aku mau jadi

kekasihmu.”tegas Rava menggetarkan hati Diva.

Gadis itu menggenggam erat ujung dress-nya. Bukan

bohong kalau Diva tidak ada rasa pada Rava. Sejak pertama bertemu, Diva merasa

senang mengobrol dengan Rava. Pria itu bisa memberikan kenyamanan dan perasaan

tenang bagi Diva.

*****

Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu

rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.

1
Eka Sari Agustina
👍👍👍👍👍
G
lanjut
Mella Soplantila Tentua Mella
dasar Reva mesuuum... ha ha hahaaa ketangkap basah sm ibu negara
Martini
di tunggu kelanjutannya Thor kan flora hamil
Martini
wah dapat mantu Sekai 2 mama jelita god
Martini
anaknya mami jelita gresek semua
Martini
bakal kena semprot tu jeny
Martini
gawangnya udah gol ya reva
Martini
selalu seru aja Thor karyamu
Martini
hahaha camer sama menantu klop geseknya
Martini
pembantu ganjen di pecat aja Thor bisng kerok itu
Martini
iya Reva itu kan bucin
Martini
jangan bikin aq baper donk Thor kasihan ravanya
Martini
aq sampai ikut nangis Thor kasihan rava perjuanganya tidak ada artinya di depan diva
Martini
diva kok sadis tadi aja berharap sekarang malah bikin rava hanjur
Martini
semoga Frank ya thor
Martini
aq setuju kalau Roger sama jeny
Martini
mungkin lagi berhai hai Thor Reva sama flo
Martini
kayaknya dapat lampu hijau dech Juan Ama devina 👍👍👍
Martini
Devina kok hadi gadis bar bar sich
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!