Saffana gadis 23 tahun yang sering di gunjing, di hina, di pojokkan, di anggap wanita tidak benar oleh tantenya sendiri bernama Rachel yang memiliki putra bernama Aksa yang taat agama dan sering di bandingkan dengan Saffana.
Malam di hari proses lamaran Aksa putra pertama Rachel dengan wanita pilihan Rachel. Saffana sakit hati dengan perkataan Rachel yang juga mengutuk dirinya dengan kata-kata pedas yang membuat kesabaran Saffana habis. Gadis itu nekat bertindak gegabah dengan menjebak Aksa. Agar-agar orang-orang memberikan makian dan hinaan seperti apa yang dirasakannya yang sering dilontarkan oleh mulut ibu Aksa kepadanya.
Saffana dan Aksa ditemukan di dalam kamar berduaan dengan hasil jebakan Saffana. Yang membuat orang-orang schok. Mungkin apa yang diinginkan Saffana terbalas dengan sakit hati dari Rachel.
Tetapi Saffana berpikir semuanya akan selesai saat itu juga. Ternyata tidak Saffana justru terjebak dalam pernikahan akibat jebakan yang di lakukannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Rumah baru
Aksa yang berada di meja makan yang sedang sarapan. Saffana yang sudah selesai berenang dan juga sudah selesai mandi menuju dapur yang juga ingin melakukan sarapan. Langkah Saffana berhenti ketika melihat Aksa ada di sana.
"Nona Saffana Bibi sudah membuatkan nasi goreng yang Nona mau!" tegur Bibi yang membuat Aksa melihat ke arah Saffana yang baru menyadari jika sang istri sudah ada di sana.
"Oh nanti saja Bi saya makan, soalnya belum lapar," jawab Saffana tiba-tiba mengubah pendiriannya dan berbalik badan.
"Sarapan lah. Jika nanti namanya bukan sarapan melainkan makan siang," sahut Aksa membuat Saffana tidak jadi melangkahkan kaki.
"Jangan masih berdiri di sana. Ayo sarapan!" ajak Aksa. Saffana mengangguk dan akhirnya membalikkan tubuh kembali dan perlahan dengan rasa gugup menghampiri meja makan.
Saffana menarik kursi dengan duduk di depan Aksa. Bibi langsung menyiapkan sarapan yang sudah dipesan Saffana.
"Silahkan Nona di makan!" ucap Bibi.
"Makasih Bi!" sahut Saffana yang dengan menunduk yang langsung makan. Aksa hanya memperhatikan Saffana sembari dia juga makan.
"Bagaimana mungkin pasangan suami istri bisa diam-diaman seperti itu. Apa mereka sedang bertengkar," batin Bibi yang melihat Saffana dan Aksa sejak tadi hanya diam-diaman dan makan masing-masing.
"Aku sudah menemukan rumah!" ucap Aksa yang membuka pembicaraan.
"Di mana?" tanya Saffana mengangkat kepala.
"Hanya 1 jam dari sini," jawab Aksa.
"Kamu sudah melihat rumah itu?" tanya Saffana.
"Seharusnya semalam aku ada jadwal untuk melihat rumah itu. Tetapi ternyata ada kendala dan aku tidak bisa melihatnya," jawab Aksa.
"Begitu!" sahut Saffana.
"Lalu bagaimana dengan kamu. Apa kamu setuju untuk pindah apa tidak?" tanya Aksa membuat Saffana melihat ke arah Aksa.
"Pertanyaan itu apa tidak menjebakku. Jika aku bilang iya, maka dia akan berpikiran jika aku benar-benar ingin hanya tinggal berdua dengan dia di dalam 1 rumah dan jika aku mengatakan tidak pasti dia akan mengoceh dan ribut," batin Saffana.
"Kita tidak mungkin tinggal di rumah bunda terus. Mama akan marah dan akan terjadi permasalahan lagi. Mau tidak mau kita berdua harus berpisah dari mama, papa dari bunda dan ayah," tegas Aksa.
"Terserah mau bagaimana baiknya, aku juga tidak mau ribut," sahut Saffana yang akhirnya menemukan jawaban yang cocok.
"Baiklah berarti kamu setuju kita akan tinggal satu rumah dan berpisah dari orang tua kita masing-masing," ucap Aksa. Saffana mengangguk.
Aksa dan Saffana kembali makan.
"Mau ikut melihat rumah denganku?" tanya Aksa tiba-tiba menawarkan.
"Boleh!" sahut Saffana yang juga setuju ternyata. Karena memang Saffana itu harus melihat tempat tinggal itu apakah nyaman untuk dia atau tidak.
*********
Saffana dan Aksa hari ini sama-sama melihat rumah. Mereka berdua sudah memasuki rumah dua lantai tersebut. Rumah itu masih kosong dan belum diisi dengan barang-barang apapun. Kepala Saffana berkeliling melihat isi rumah itu, dari ruang tamu sampai menuju dapur.
"Aku sengaja membeli rumah kosong dan belum ada furniture atau barang-barang lain. Karena aku pikir mungkin kamu menyukai furniture yang sesuai dengan selera kamu," ucap Aksa memberikan alasan.
"Aku bukan orang yang suka ribet. Jadi mau barang-barang seperti apapun tidak menjadi masalah," sahut Saffana.
"Oh benarkah! Bukankah kamar kamu penuh dengan keribetan dan harus satu warna," ucap Aksa membuat Saffana menoleh ke arah Aksa.
"Kenapa jadi mengaitkan dengan kamarku," sahut Saffana dengan dahi mengkerut.
"Keribetan seseorang bisa dilihat dari kamar. Jika kamu bukan orang yang ribet kamar kamu tidak akan seperti itu dan pasti simple," jawab Aksa.
"Namanya juga kamar perempuan," sahut Saffana membela diri.
"Dan maka dari itu, aku memberikan kamu kebebasan untuk memilih barang-barang seperti apa dan warna yang kamu inginkan sesuai dengan apa yang kamu mau," ucap Aksa.
"Baiklah!" sahut Saffana santai.
"Jika aku dan kak Aksa satu rumah dan tidak ada orang lain. Lalu apa kami berdua akan satu kamar. Pernikahan kami berdua tidak seperti pada umumnya. Kami satu kamar hanya karena ada orang tua dan di dalam kamar kami sama sekali tidak satu ranjang. Jika kami berdua sudah di rumah yang tidak ada siapa-siapa. Mungkin saja kami akan pisah kamar," batin Saffana yang tiba-tiba memikirkan hal itu.
"Kamarnya ada di atas ayo!" ajak Aksa yang berjalan terlebih dahulu menaiki anak tangga yang seolah tahu apa yang di pikirkan Saffana.
Saffana mengikuti Aksa sampai mereka berdua sudah berada di dalam kamar yang cukup luas itu. Sama dengan ruang tamu dan juga ruangan yang lain masih terlihat kosong. Kamar itu juga terlihat kosong dan bahkan warna cat yang masih putih.
"Ini kamar utama untuk kita," ucap Aksa. Pernyataan Aksa sudah menjawab apa yang menjadi pertanyaan dalam pikiran Saffana.
"Jadi tetap satu kamar!" batin Saffana yang tiba-tiba mengukir senyum tipis
"Kamu suka?" tanya Aksa.
''Iya!" jawab Saffana dengan mengangguk.
"Pemilik rumah ini sebentar lagi akan datang, kamu juga bisa request kepada mereka ingin diberi cat seperti apa dan juga ingin ditambahkan interior seperti apa," jelas Aksa.
"Baiklah!" sahut Saffana.
Aksa dan Saffana kembali melihat-lihat isi kamar tersebut Saffana yang melangkah menuju kamar mandi dan membuka kamar mandi.
Bruk
"Ahhh!"
Aksa kaget yang melihat ke arah kamar mandi. Saffana yang tiba-tiba berjongkok, ada sesuatu di atas pintu kamar mandi dan saat pintu itu dibuka Saffana jatuh ke kaki Saffana. Benda seperti kayu kecil namun sangat tebal.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aksa yang khawatir langsung menghampiri Saffana dan berjongkok di depan Saffana.
Saffana memegang kaki yang terlihat memerah karena perkakas yang jatuh itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Aksa lagi.
"Biar aku lihat!" Aksa yang langsung melihat luka Saffana.
"Syyysssss!" lirih Saffana saat merasakan pedih saat luka itu disentuh oleh sang suami.
"Apa di sini tidak ada obat!" Aksa melihat ke sekitar kamar dan memang tidak ada apa-apa.
"Ayo berdiri!" Aksa membantu Saffana untuk berdiri dan Saffana langsung berdiri dengan tetap merasa kesakitan dan bahkan tidak bisa berdiri dengan tegak. Saat Saffana ingin jatuh, Aksa menahan Saffana.
"Apa begitu sakit?" tanya Aksa lagi. Saffana mengangguk.
Melihat Saffana yang seperti itu membuat Aksa tidak tega dan langsung menggendong Saffana ala bridal style yang membuat Saffana kaget sampai tidak bisa berbicara apa-apa.
"A__aku tidak apa-apa sama sekali," ucap Saffana dengan gugup.
"Kamu kesulitan berjalan. Jadi akan aku bantu!" ucap Aksa yang berjalan dengan tetap menggendong Saffana.
Hal itu benar-benar membuat Saffana grogi dengan debaran jantung Saffana yang sangat tidak terkendali sangat berharap Aksa tidak mendengarkan suara debaran jantung Saffana.
**********
Saffana sekarang duduk jok mobil dengan pintu yang terbuka dan mengarah keluar dan sementara Aksa yang berjongkok di depan Saffana yang mengobati kaki Saffana dengan lembut.
Aksa baru menemukan obat ketika mereka pergi dari komplek perumahan. Saffana tidak mau di bawa kerumah sakit. Jadi Aksa yang turun tangan sendiri untuk mengobati Saffana.
Setelah selesai memberikan obat, Aksa membalutkan perban pada bagian kaki punggung kaki Saffana. Saffana hanya memperhatikan bagaimana sang suami yang begitu manis mengobati dia.
Bersambung