NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenan Kembali Menguasai Hidup Kinasih

Suasana di halaman rumah itu mendadak menjadi hening. Amara yang berdiri di samping kakaknya hanya menggeleng pelan dalam hati, menyadari bahwa ancaman itu justru akan memperburuk posisi Kamila sendiri.

Namun, Kenan justru hanya tersenyum tipis, seolah tidak merasa terancam sedikit pun. Ia menatap wajah Kamila dengan pandangan yang tenang dan mantap.

“Coba saja, kalau memang kamu mampu melakukannya,” tantangnya dengan nada datar.

Kamila semakin emosi mendengarnya. “Kamu sedang menantang aku, ya?”

“Bukan menantang,” jawab Kenan tegas. “Aku hanya tidak ingin lagi hidup dalam sebuah hubungan yang setiap harinya dipenuhi rasa takut, kecurigaan, dan ancaman seperti ini. Hidup seperti itu tidak ada gunanya bagi siapa pun.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih berat namun jelas. “Dan ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan dengan tegas.”

“Apa lagi?” tanya Kamila dengan nada tinggi.

“Aku akan segera mengurus proses perceraian kita, sesuai prosedur dan aturan hukum yang berlaku,” ucap Kenan mantap.

Wajah Kamila seketika memucat, seolah darahnya tersedot habis. Ia melangkah mundur sedikit, matanya terbelalak tak percaya mendengar keputusan itu.

“Mas… kamu tidak bisa melakukan ini!”

“Keputusanku sudah bulat dan tidak akan berubah,” tegaskan Kenan.

“Tapi secara hukum dan di depan keluarga, aku masih istrimu! Kamu tidak bisa membuangku begitu saja!” seru Kamila berusaha mempertahankan posisinya.

Kenan menatapnya dalam-dalam selama beberapa detik, lalu bertanya dengan nada yang menusuk. “Kalau begitu, coba jawab jujur saja. Selama ini, apakah kita benar-benar menjalani kehidupan rumah tangga yang sehat, penuh kepercayaan, dan bahagia?”

Pertanyaan itu membuat Kamila terdiam. Ia tidak mampu menjawab sepatah kata pun, karena ia sadar jawabannya hanya akan menguatkan posisi Kenan.

Kenan tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Ia membuka pintu sisi pengemudi mobilnya, lalu menoleh ke arah adiknya.

“Amara, ayo kita berangkat.”

“Baik, Mas,” jawab Amara singkat sambil segera masuk ke kursi penumpang.

Sebelum melangkah masuk ke balik kemudi, Kenan menoleh sekali lagi menatap Kamila yang masih berdiri kaku di tempat. Suaranya terdengar lebih lembut namun tetap tegas.

“Jaga dirimu baik-baik, Kamila. Semoga kamu juga bisa menemukan jalan terbaik untuk dirimu sendiri.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Kenan masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya rapat. Mesin mobil pun segera dinyalakan.

Kamila hanya bisa berdiri terpaku di tempat, menatap mobil yang perlahan melaju meninggalkan halaman rumah. Rasa marah, kecewa, dan takut bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Dengan gerakan kesal, ia menghentakkan kakinya ke lantai semen, lalu menggerutu dengan suara tinggi.

“Dasar pria keras kepala! Jangan kira aku akan menyerah begitu saja!”

Namun, di balik amarahnya, hati Kamila mulai merasakan ketakutan yang semakin besar, menyadari bahwa kali ini keputusan Kenan sudah benar-benar tidak bisa diganggu gugat lagi.

Malam itu, kota Surabaya menyambut kedatangan Kenan dengan udara lembap yang terasa menyesakkan di paru-paru. Begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu, pikiran Kenan sudah tidak tertuju pada urusan bisnis yang baru saja diselesaikannya, melainkan hanya pada satu nama: Kinasih. Ada rasa gelisah dan tidak tenang yang terus menggerogoti dadanya, seolah ada insting dalam dirinya yang memberi tahu bahwa ada sesuatu, atau seseorang, yang mencoba masuk ke dalam ruang kehidupan yang seharusnya hanya miliknya.

Setibanya di lobi apartemen, langkah kaki Kenan yang tegas dan berat terdengar jelas menggema di ruangan yang sepi. Namun, langkahnya sempat melambat saat pandangannya menangkap sosok pria berjas putih yang rapi sedang berjalan keluar menuju pintu.

Dokter Firdaus.

Keduanya berpapasan tepat di tengah lorong. Udara di sekitar mereka seketika terasa membeku dan kaku. Firdaus menatap Kenan dengan tatapan datar, dingin, dan tanpa ekspresi apa pun. Tidak ada sapaan, tidak ada anggukan kepala, seolah-olah Kenan hanyalah udara kosong yang tidak memiliki arti apa pun baginya. Ia melewati Kenan begitu saja tanpa berhenti sedikit pun.

Kenan pun tidak membalas. Rahangnya mengeras rapat, matanya menatap tajam punggung Firdaus yang menjauh sampai menghilang di balik pintu keluar. Baru setelah itu ia berbalik menuju lift dengan aura kemarahan yang tertahan rapat di dadanya. Beraninya dia mengabaikanku di wilayahku sendiri, batin Kenan dengan nada kesal yang membara.

Begitu sampai di depan pintu apartemen Kinasih, Kenan tidak mengetuk dengan lembut. Ia menekan bel pintu dengan tegas dan mantap. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Reyna yang segera menyunggingkan senyum tipis melihat kedatangan tuannya.

“Pak Kenan. Silakan masuk,” sapa Reyna sopan sambil membukakan pintu lebih lebar.

Kenan melangkah masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung berjalan menuju ruang tamu, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk. Ia menyandarkan punggungnya, melonggarkan kancing teratas kemejanya yang terasa sempit, dan menatap sekeliling ruangan dengan pandangan yang menyelidik.

“Ibu Kinasih baru saja pulang kerja, Pak. Tadi sempat beristirahat sebentar di kamar,” jelas Reyna sambil berjalan menuju dapur.

Kenan hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, namun pikirannya masih terus terbayang-bayang akan pertemuan singkatnya dengan Firdaus di lobi tadi. Tak lama kemudian, Reyna kembali membawa nampan berisi cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap, serta beberapa potong camilan ringan. Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.

“Kinasih! Ada Pak Kenan yang sudah datang!” seru Reyna memanggil ke arah pintu kamar tidur.

Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Kinasih muncul dari baliknya. Ia baru saja mengganti pakaian kerjanya dengan setelan rumah yang lebih santai dan nyaman, sebuah gaun katun tipis yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya, memperlihatkan tonjolan kecil di perutnya yang membuat jantung Kenan berdebar kencang seketika.

Kinasih tertegun sesaat melihat sosok pria itu sudah duduk tenang di ruang tamunya, seolah tempat itu memang miliknya. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang agak ragu, namun tetap terlihat anggun di mata Kenan.

“Mas? Kapan sampai?” tanya Kinasih dengan suara lirih. Panggilan itu keluar begitu saja tanpa sengaja, sebuah kebiasaan lama yang ternyata masih melekat erat di lidahnya.

Kenan tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia menatap Kinasih dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan tajam, lalu menatap lurus ke dalam mata wanita itu dengan intensitas yang terasa mengintimidasi.

“Ngapain Firdaus ke sini?” suara Kenan terdengar rendah, berat, dan mengandung nada interogasi yang kuat.

Kinasih sedikit tersentak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hal pertama yang ditanyakan Kenan adalah mengenai dokter itu. “Dia… dia hanya mampir sebentar saja. Tadi Dokter Firdaus yang mengantarku pulang dari rumah sakit.”

Mendengar kata “mengantar”, rahang Kenan semakin mengeras dan otot di lengannya terlihat menegang. Ia langsung bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekat hingga jarak di antara keduanya hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Kinasih bisa merasakan panas tubuh Kenan yang terasa begitu dekat, serta aroma maskulin khas pria itu yang terasa sangat mendominasi, membuatnya merasa sedikit terpojok namun di sisi lain tetap merasakan getaran yang sulit dijelaskan.

“Mulai hari ini,” ucap Kenan dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan sedikit pun, “akan ada sopir pribadi yang aku tugaskan khusus untuk mengantarmu ke mana pun kau pergi. Ke kantor, ke rumah sakit, ke tempat periksa kandungan, atau ke mana pun kau mau.”

Kinasih segera mengerutkan kening, merasa keberatan dengan keputusan sepihak itu. “Tapi Mas, aku bisa pergi sendiri kok. Atau kalau butuh bantuan, aku bisa minta tolong ke Dokter Firdaus—”

“Aku tidak mau mendengar nama pria itu keluar dari mulutmu lagi,” potong Kenan cepat dengan nada yang menekan. Ia lalu menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Kinasih, dan membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika. “Aku tidak mau Firdaus, atau pria mana pun, menyentuhmu, mengantarmu, atau terlalu dekat denganmu. Kau mengerti maksudku?”

Kinasih membuka mulutnya, ingin membantah dan mengatakan bahwa ia bukan lagi milik Kenan yang bisa diatur sesuka hati. Namun, saat ia menatap kembali ke dalam mata Kenan yang terlihat begitu tajam dan penuh kepemilikan, ia sadar bahwa perlawanannya saat ini hanya akan sia-sia. Mantan suaminya ini adalah pria paling keras kepala dan tegas yang pernah ia kenal, dan dalam hal memiliki sesuatu, atau seseorang, yang dianggapnya miliknya, Kenan tidak pernah mengenal kata kompromi.

Kinasih hanya bisa terdiam tanpa menjawab, sementara Kenan perlahan menyunggingkan senyum tipis, senyum kemenangan yang membuat Kinasih sadar, bahwa tanpa sadar ia baru saja kembali masuk ke dalam lingkaran dan pengawasan ketat pria itu.

Kenan tidak segera bergerak pergi. Ia tetap berdiri di posisinya, mengunci sosok Kinasih dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Ada campuran rasa rindu yang mendalam, gairah yang terpendam, serta keinginan untuk menguasai sepenuhnya yang terlihat jelas memancar dari balik matanya yang gelap.

Kinasih yang merasa terintimidasi sekaligus kesal dengan sikap Kenan yang terasa semena-mena itu, akhirnya menghela napas panjang. Ia membuang muka ke arah lain, berusaha tidak tenggelam lebih jauh dalam pusaran tatapan yang membuat jantungnya berdebar kencang itu.

“Kalau sudah tidak ada lagi yang mau disampaikan… aku mau istirahat, Mas,” ujar Kinasih dengan nada datar, meski terselip rasa kesal yang cukup terasa di dalamnya.

Kenan terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang terasa misterius.

“Istirahatlah, Kinasih,” jawabnya. Suaranya terdengar rendah dan berat, seolah memberi izin, namun di balik nada itu terselip nuansa perintah yang halus dan tidak bisa dibantah.

Kinasih tidak menunggu lebih lama. Ia segera berbalik badan dan melangkah cepat menuju kamar tidur. Kenan tidak melepaskan pandangannya sedikit pun; ia mengikuti setiap gerak-gerik wanita itu, memperhatikan bagaimana gaun tipis yang dikenakannya berayun lembut mengikuti irama langkahnya, hingga akhirnya pintu kamar tertutup rapat dan memisahkan mereka kembali.

Begitu sosok Kinasih menghilang dari pandangan, raut wajah lembut yang sempat muncul di wajah Kenan seketika lenyap begitu saja. Berganti dengan ekspresi dingin, tegas, dan penuh perhitungan. Ia berbalik menghadap Reyna yang masih berdiri tak jauh dari situ, menunggu perintah selanjutnya.

“Aku pamit dulu, Reyna,” ucap Kenan dengan nada singkat.

Reyna mengangguk sopan. “Baik, Pak. Hati-hati di jalan.”

Namun, sebelum Kenan melangkah keluar melewati ambang pintu, ia tiba-tiba berhenti dan menoleh kembali. Ia menatap Reyna dengan tatapan yang sangat serius, tidak memberi ruang sedikit pun untuk pembantahan.

“Reyna, dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan,” suara Kenan kini terdengar sangat tegas dan berwibawa. “Aku ingin kau melaporkan semua hal yang dilakukan Kinasih kepadaku. Mulai dari jam berapa dia bangun tidur, apa saja yang dia makan dan minum, siapa saja yang menghubunginya atau datang ke sini, hingga hal-hal terkecil sekalipun yang menyangkut kondisinya. Jangan ada satu pun hal yang terlewat atau disembunyikan dariku.”

Reyna sempat tertegun mendengar perintah bosnya yang begitu mendetail dan ketat. Namun, ia sudah lama bekerja bersama Kenan dan sangat paham betapa posesifnya pria itu terhadap segala sesuatu yang dianggapnya penting, terutama sekarang, menyangkut Kinasih dan janin di dalam kandungannya.

“Semua aktivitasnya, Pak?” tanya Reyna untuk memastikan agar tidak salah paham.

“Semuanya,” tegaskan Kenan dengan nada mantap. “Kirim laporannya setiap malam ke ponselku. Dan jika ada pria lain, siapa pun itu, yang mencoba mendekatinya, mengantarnya, atau sekadar mengirim pesan, aku ingin tahu hal itu saat itu juga. Tanpa menunda.”

Reyna mengangguk tanda mengerti dan siap melaksanakan tugas itu. “Baik, Pak. Saya mengerti dan akan melakukannya sesuai perintah.”

Kenan mengangguk puas mendengar jawaban itu. Ia melemparkan satu tatapan terakhir ke arah pintu kamar utama tempat Kinasih beristirahat, lalu akhirnya melangkah keluar meninggalkan apartemen itu.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!