Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Malam itu, suasana rumah kembali diselimuti keheningan. Jarum jam telah menunjukkan pukul sembilan malam.
Biasanya pada jam seperti ini, Aurora sudah terlelap di dalam boks bayinya. Namun, entah mengapa, malam ini bayi mungil itu tampak gelisah. Laras sudah mencoba menidurkannya beberapa kali, dia menggendongnya dan juga menyusuinya. Mengusap lembut punggungnya sambil bersenandung pelan. Tetapi setiap kali diletakkan di tempat tidur, Aurora kembali merengek.
"Hei ... kenapa, Sayang?" bisik Laras sambil mengelus kepala putrinya. Aurora hanya mengoceh pelan, lalu kembali memeluk dada Laras. Laras tersenyum tipis.
"Bosan di kamar, ya?" Karena merasa Aurora memang tidak mau berada di dalam kamar, Laras akhirnya membawanya keluar.
Ia berjalan menuju ruang tamu yang luas. Lampu utama hanya dinyalakan sebagian sehingga suasana terasa hangat dan nyaman. Laras duduk di sofa sambil memangku Aurora.
Sesekali ia menunjukkan hiasan lampu gantung di langit-langit.
"Lihat ... cantik, ya."
Aurora menggerakkan tangan mungilnya ke udara, lalu tertawa kecil. Tawa itu membuat Laras ikut tersenyum.
"Baru juga tiga bulan sudah pintar minta jalan-jalan."
Tak lama kemudian. Suara mobil memasuki halaman rumah terdengar dari luar. Laras refleks menoleh ke arah pintu utama.
"Sepertinya Evan sudah pulang." Ia melirik jam dinding. Sudah hampir pukul sepuluh malam.
Sementara itu, mobil Carolin belum juga terlihat. Beberapa detik kemudian, pintu utama terbuka. Evan melangkah masuk sambil melepas jas yang dikenakannya. Begitu melihat Laras masih berada di ruang tamu bersama Aurora, pria itu tampak sedikit terkejut.
"Laras?"
Laras segera berdiri sambil menggendong Aurora.
"Selamat malam, Tuan."
"Malam." Evan meletakkan tas kerjanya di atas sofa. "Kalian belum tidur?"
Laras tersenyum kecil. "Sebenarnya saya sudah mencoba menidurkan Baby. Tapi dia baru saja bangun. Terus rewel."
Evan menghampiri mereka.
"Rewel?"
"Iya, padahal saya sudah menyusuinya. Sudah saya gendong juga. Tapi tetap gelisah."
Laras menatap Aurora yang kini tampak anteng memandangi wajah Evan.
"Begitu saya ajak keluar kamar ... dia malah tenang."
Evan memperhatikan putrinya. "Benar juga. Tidak menangis sama sekali."
Laras mengangguk. "Mungkin Baby sedang bosan berada di kamar. Atau ingin melihat suasana lain."
Evan tersenyum tipis. "Bisa jadi."
Pria itu kemudian mengulurkan jari telunjuknya. Aurora langsung menggenggamnya dengan tangan mungilnya.
Evan spontan tersenyum lebih lebar.
"Anak pintar."
Melihat pemandangan itu, Laras menundukkan kepala agar ekspresinya tidak terlihat. Di balik wajah tenangnya. Hatinya terasa hangat melihat Aurora begitu nyaman berada di dekat ayah kandungnya. Namun, kehangatan itu hanya berlangsung sesaat. Ia segera mengingat kembali tujuan kedatangannya ke rumah itu. Bukan untuk membangun keluarga. Melainkan menghancurkan kebohongan yang selama ini dibangun Evan dan Carolin.
Meski begitu, dia tetap berharap, jika suatu hari nanti Aurora mengetahui semua kebenaran, anak itu tidak perlu membenci siapa pun. Terutama dirinya sendiri yang terpaksa menyembunyikan identitas demi bisa tetap berada di sisinya.
Evan mengusap lembut kepala Aurora yang berada di dalam baby box. Bayi mungil itu tampak tenang memainkan jemarinya sendiri. Sesekali ia mengeluarkan suara ocehan kecil yang membuat sudut bibir Evan terangkat.
Sudah lama ia tidak melihat putrinya setenang ini.
"Laras."
Wanita itu yang sedang berdiri di samping baby box langsung menoleh.
"Iya, Tuan?"
Evan mengembuskan napas pelan.
"Boleh minta tolong buatkan teh susu hangat?"
"Tentu, Tuan."
Pria itu tersenyum tipis. "Biar Aurora aku yang jagain. Aku merasa agak lelah hari ini. Sepertinya butuh minuman yang hangat."
Laras mengangguk sopan. "Baik."
Ia kemudian tersenyum kecil sebelum bertanya, "Kalau begitu ... sekalian saya buatkan makan malam?"
Evan mengangkat wajahnya. "Maksudmu?"
"Saya bisa membuat nasi goreng. Tuan pasti belum sempat makan malam."
Evan terkekeh pelan. "Kok tahu?"
Laras tersenyum. "Wajah Tuan kelihatan lelah. Biasanya orang yang pulang selelah itu lupa makan." Jawaban sederhana itu membuat Evan tersenyum lebih lebar.
"Kalau begitu ... boleh juga. Sudah lama aku tidak makan nasi goreng buatan rumah."
"Baik, Tuan."
"Saya buatkan." Laras pun berjalan menuju dapur.
Langkahnya tenang, sementara celemek yang dikenakannya berkibar pelan mengikuti langkahnya. Tak lama kemudian terdengar suara peralatan dapur mulai digunakan.
Evan masih duduk di depan baby box. Ia menggerakkan perlahan boneka kecil yang tergantung di atas Aurora. Bayi itu langsung tertawa kecil. Tawa polos itu membuat hati Evan terasa hangat. Tatapannya kemudian tanpa sadar mengarah ke dapur.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Laras sedang sibuk memasak dengan cekatan. Sesekali wanita itu mengaduk nasi di atas wajan, lalu menyiapkan teh susu hangat.
Entah mengapa, suasana rumah malam itu terasa berbeda. Evan mengembuskan napas panjang sambil tersenyum tipis.
"Laras memang berbeda dari Carolin..." Gumamnya lirih. "Dia peka, selalu tahu apa yang dibutuhkan orang lain. Dan yang paling penting ... dia tidak pernah marah-marah."
Tanpa disadari, ucapan itu keluar begitu saja. Aurora kembali tertawa kecil seolah ikut menanggapi suara ayahnya. Evan menunduk menatap putrinya.
"Ayah berharap ... rumah ini bisa terus setenang malam ini."
Namun, ia tidak menyadari. Di balik sikap lembut Laras yang perlahan membuatnya nyaman, wanita itu sedang menyusun langkah demi langkah untuk meruntuhkan kehidupan yang selama ini ia banggakan.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,
kasih tau Ama dunia ini orang jadi ibu palsu
pencitraan aja
tapi emang.. jadi keinget dulu ada artis China yg nyari ibu pengganti buat ngelahirin ank ank nya karena dia ga mau badannya berubah
hadeeeh🫣🥹🥹.
ya..pas udah lahir,ga ada sama sekali ikatan batin nya sama anknya
akhirnya ga Deket...dan kyk orang asing