Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Tarian Bayangan Tanpa Suara
Tiga hari tersisa sebelum Ujian Akademi Kota Qingyun.
Hujan telah berhenti, meninggalkan udara yang lembap dan berat. Di halaman belakang gubuk reyot keluarga Lin, Lin Fan berdiri telanjang dada di tengah genangan air lumpur. Tubuhnya tidak lagi kurus kering; otot-ototnya kini terdefinisi dengan jelas, serat-serat dagingnya terlihat seperti kabel baja yang dipilin rapat di bawah kulit yang bersinar sehat.
Ia tidak berlatih gerakan dasar tinju atau tendangan. Ia tidak memukul karung pasir. Ia bahkan tidak bergerak sama sekali.
Lin Fan berdiri dalam posisi Wuji—posisi kosong, kaki selebar bahu, tangan tergantung longgar di sisi tubuh. Matanya setengah tertutup, napasnya hampir tak terdengar. Ia sedang mempertahankan keadaan "Kehampaan Jiwa" yang ia pelajari dari Sutra Hitam.
Di sekelilingnya, dunia terasa berbeda.
Dengan persepsi mutlak yang dimilikinya, Lin Fan tidak melihat pohon bambu di depannya sebagai objek visual. Ia merasakan getaran seratnya, aliran cairan di dalamnya, dan tekanan angin yang membelah daun-daunnya. Ia bisa mendengar detak jantung seekor kumbang yang bersembunyi di balik batu sepuluh meter jauhnya.
"Ini belum cukup," gumam Lin Fan. "Persepsi saja tidak membunuh. Aku perlu mengubah persepsi menjadi aksi."
Ia membuka matanya. Pupilnya hitam pekat, tanpa kilatan emosi.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Gerakannya begitu lambat hingga tampak seperti orang tua yang sakit. Namun, di ujung jari telunjuknya, udara mulai bergetar. Karena ia mengetahui persis titik tekanan udara di sekitarnya, ia bisa memanipulasi aliran Qi mikro untuk menciptakan densitas tinggi di satu titik kecil.
Tek.
Suara kecil terdengar saat jarinya menyentuh batang bambu setebal pergelangan tangan. Tidak ada ayunan. Tidak ada momentum. Hanya sentuhan ringan.
Namun, batang bambu itu langsung retak di titik sentuhan, lalu patah bersih seolah-olah dipotong oleh pedang tak terlihat.
Lin Fan tersenyum tipis. Ini adalah hasil dari gabungan Teknik Tubuh Naga Chaos (yang memperkuat tulang dan otot hingga level mikroskopis) dan Persepsi Hampa (yang memungkinkan presisi absolut).
Di beri nama "Jari Naga Tersembunyi"
Gerakan ini tidak membutuhkan ancang-ancang. Tidak membutuhkan teriakan. Ia bisa menyerang dari jarak nol, dengan tenaga minimal, namun dampak maksimal karena semua energi difokuskan pada satu titik sekecil jarum. Bagi lawan yang mengandalkan kecepatan atau kekuatan brutal, serangan ini akan terasa seperti hantu—mereka tidak akan melihat datangnya, hanya merasakan sakitnya.
Namun, Lin Fan tahu kelemahan teknik ini: jangkauannya pendek. Ia hanya efektif dalam pertarungan jarak dekat atau jika musuh lengah. Untuk ujian akademi, di mana ia mungkin menghadapi banyak lawan atau beast tingkat rendah, ia butuh variasi.
Ia mundur beberapa langkah, mengambil napas dalam, dan mengubah sikap tubuhnya. Kali ini, ia merendahkan pusat gravitasinya, kakinya membentuk kuda-kuda yang stabil namun fleksibel.
"Sekarang, langkah kaki," bisiknya.
Ia mulai bergerak. Bukan berlari, tapi meluncur. Kakinya tidak menginjak tanah dengan keras, melainkan menyentuh permukaan dengan ringan seperti daun yang jatuh. Dengan persepsinya, ia bisa mendeteksi ketidakrataan tanah sekecil apapun sebelum kakinya menyentuhnya, sehingga setiap langkahnya selalu menemukan pijakan paling efisien.
Geser. Putar. Melompat.
Ia bergerak di antara genangan air tanpa membuat cipratan. Air di sekitarnya tetap tenang, seolah-olah ia adalah bayangan yang tidak memiliki massa. Ini adalah adaptasi dari teknik langkah dewa masa lalunya, Langkah Awan Hening, yang kini disederhanakan agar sesuai dengan kapasitas energinya saat ini.
Kombinasi Jari Naga Sunyi dan Langkah Awan Hening membuatnya menjadi pembunuh senyap yang sempurna. Ia tidak akan menang dalam adu kekuatan frontal melawan raksasa, tapi ia bisa menghindari pukulan mereka dan menghancurkan titik vital mereka sebelum mereka sadar diserang.
Tiba-tiba, Lin Fan berhenti. Telinganya menangkap suara langkah kaki yang berat di luar pagar bambu halamannya.
Seseorang mengintai.
Lin Fan tidak panik. Ia tidak berbalik. Ia tetap dalam posisi meditasi, namun seluruh indranya terkunci pada sumber suara itu. Ia bisa merasakan napas orang itu yang tertahan, detak jantungnya yang sedikit cepat karena gugup.
Lin Hao? pikir Lin Fan. Tidak, detak jantungnya terlalu teratur. Ini mata-mata profesional.
Mungkin utusan dari Klan Zhao? Atau pengawal pribadi Lin Hao yang lebih kompeten?
Lin Fan memutuskan untuk memberikan "Sambutan".
Dengan kecepatan yang meledak tiba-tiba, ia menghilang dari tempatnya berdiri. Dalam sepersekian detik, ia sudah muncul di atas pagar bambu, tepat di depan wajah si pengintai.
Pengintai itu—seorang pria bertopeng hitam—terkejut hebat. Ia hampir terjatuh ke belakang. Sebelum ia sempat menarik senjata, jari telunjuk Lin Fan sudah menempel di tenggorokannya.
Tidak ada tekanan. Hanya sentuhan dingin.
"Jika kau bernapas lagi, "aku akan menusuk trakeamu. Dan kau akan mati lemas dalam lima detik." bisik lin fan
Si pengintai membeku. Matanya melebar penuh teror. Ia tidak melihat Lin Fan bergerak. Satu detik dia di dalam halaman, detik berikutnya dia sudah di hadapannya. Ini bukan kemampuan manusia biasa. Ini monster.
"Se.. Sejak kapan kau?" gagap si pengintai.
"Pergi," perintah Lin Fan.
"Dan sampaikan pada tuanmu: Jangan ganggu keluargaku. Jika aku menemukan jejak kalian di sekitar gubuk ini lagi, aku tidak akan sekadar menakut-nakuti. Aku akan memburu kalian satu per satu sampai akar-umbinya."
Si pengintai mengangguk kaku, lalu melompat turun dari pagar dan lari sekencang-kencangnya ke arah hutan, seolah-olah dikejar oleh iblis.
Lin Fan menontonnya pergi, lalu kembali turun ke halaman. Ia menghela napas. Menggunakan teknik itu secara tiba-tiba menguras sedikit energinya. Ia masih perlu efisiensi lebih baik.
Ia melanjutkan latihannya. Kali ini, ia menambahkan elemen pertahanan. Ia mengambil beberapa kerikil kecil dari tanah, lalu melemparkannya ke udara. Saat kerikil-kerikil itu jatuh, Lin Fan memukulnya dengan jari-jarinya, mengubah arah jatuhnya hingga saling bertabrakan di udara dan hancur menjadi debu sebelum menyentuh tanah.
Ini adalah latihan kontrol reaksi. Jika ia bisa mengendalikan benda kecil yang jatuh, ia bisa membelokkan pedang atau anak panah yang datang kepadanya.
Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan ungu dan oranye. Lin Fan akhirnya berhenti. Tubuhnya berkeringat, tapi bukan karena kelelahan, melainkan karena panas internal dari sirkulasi Qi yang intens.
Ia berjalan masuk ke gubuk, di mana ibunya sudah menyiapkan makan malam sederhana: ikan goreng dan sayur rebus. Tapi kali ini, porsinya dua kali lipat dari biasanya.
"Makanlah, Fan'er," kata Nyonya Li dengan lembut, meski matanya masih menunjukkan kecemasan setelah insiden penggeledahan kemarin. "Kau butuh tenaga."
Lin Fan duduk, memakan makanannya dengan lahap namun tetap sopan. Rasanya enak. Ikan itu segar, sayurnya manis. Ia menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya di dunia ini, ia benar-benar menikmati makanan. Bukan karena lapar yang menyiksa, tapi karena tubuhnya yang sehat mampu menghargai nutrisi tersebut.
"Bu," kata Lin Fan tiba-tiba. "Besok, jangan keluar rumah. Kunci pintu. Apapun yang terjadi, jangan buka untuk siapa pun kecuali aku."
Nyonya Li menatapnya khawatir. "Apakah ada bahaya?"
"Hanya pencegahan," jawab Lin Fan sambil tersenyum menenangkan. "Setelah ujian besok lusa, semuanya akan berubah. Aku janji."
Nyonya Li mengangguk, meski keraguan masih terlihat di wajahnya. Ia percaya pada anaknya, tapi dunia di luar sana kejam.
Malam itu, Lin Fan tidak tidur nyenyak. Ia bermeditasi dalam posisi duduk, menjaga aliran Qi-nya tetap stabil. Ia memeriksa ulang persiapannya:
Tubuh: Sudah ditempa dengan Teknik Naga Chaos. Kuat, padat, tahan racun ringan.
Pikiran: Sudah dikosongkan dengan Sutra Ketenangan. Kebal terhadap ilusi emosional.
Senjata: Jari Naga Sunyi dan Langkah Awan Hening. Mematikan dan tak terduga.
Persediaan: Sisa Air Spirit dan dua pil pemulihan darurat disembunyikan di sepatu botnya.
semua nya siap.
Esok hari adalah hari terakhir persiapan. Ia akan menghabiskan waktu dengan istirahat total dan visualisasi mental tentang arena ujian. Ia akan membayangkan setiap skenario kemungkinan: bertemu Lin Hao, bertemu jenius klan lain, menghadapi beast liar, dan melewati tes teori.
Lin Fan menutup matanya. Di dalam kegelapan kelopak matanya, ia melihat dirinya berdiri di puncak podium, bukan sebagai pemenang yang sombong, tapi sebagai Kaisar yang baru saja kembali ke takhtanya.
"Tunggu aku, dunia lama," bisiknya dalam hati. "Aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku."
Dan dengan pikiran itu, Lin Fan akhirnya tertidur, mimpi-mimpinya tenang, hampa, dan penuh dengan kekuatan yang siap meledak.
* Besok adalah hari terakhir sebelum ujian. Apa yang akan dilakukan Lin Fan di hari terakhir? Dan bagaimana suasana di Arena Ujian ketika hari H tiba?*