NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Di dalam mobil yang bergerak perlahan, keheningan terasa begitu mencekam. Bima terus menoleh ke belakang sesekali, menatap Samantha dengan pandangan yang tajam, penuh selidik, dan jelas sekali menunjukkan ketidaksukaan. Namun Samantha tidak membalas tatapan itu, ia tetap tenang, menatap lurus ke arah jalan raya yang dilewati, seolah tidak merasakan pandangan menusuk dari anak itu.

Tak tahan lagi menyimpan rasa penasaran sekaligus amarahnya, Bima tiba-tiba memecah keheningan dengan suara yang terdengar ketus dan penuh tantangan.

"Ayah... siapa sebenarnya wanita yang duduk di samping itu?" tanyanya tiba-tiba, matanya tak lepas menatap pantulan wajah ayahnya di kaca depan. "Kenapa Ayah mengajaknya ikut? Sejak kapan Ayah menjadi sedekat ini dengan orang asing?"

Samuel sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, namun ia tetap berusaha tenang sambil terus memusatkan pandangan pada jalanan.

"Bicara yang sopan, Bima," tegur Samuel lembut namun tegas. "Itu Nona Samantha. Dia adalah teman baik Ayah. Ayah mengajaknya ikut karena Ayah tidak ingin dia pergi sendirian di jam seperti ini. Tidak perlu bersikap kasar."

Bima mendengus kesal, tangannya mengepal erat di atas paha.

"Kenapa harus dia yang Ayah perhatikan? Apakah sekarang Ayah lebih mementingkan dia daripada aku?" tanyanya dengan nada tinggi yang bergetar. "Di mana-mana Ayah selalu bersamanya. Apa hubungan Ayah dan dia sebenarnya? Apakah Ayah berniat menjadikannya pengganti Ibu?"

Samuel tersentak, wajahnya berubah serius mendengar tuduhan itu. "Jangan bicara sembarangan begitu, bima. cepat minta maaf pada Tante samantha."

Namun Bima seolah tak mau mendengar, ia kembali melirik tajam ke arah Samantha yang masih diam tenang di belakang. Rasa cemburu dan takut kehilangan kasih sayang ayahnya bercampur aduk menjadi rasa benci yang salah sasaran kepada Samantha.

Mendengar nada bicara Bima yang semakin lancang, Samantha akhirnya angkat bicara dengan nada lembut namun tegas, berusaha meredakan ketegangan yang makin memuncak.

"Samuel, sudahlah... biarkan saja," ucap Samantha pelan. "Mungkin Bima tidak ada maksud berkata seperti itu . sudah Tidak perlu diperpanjang lagi."

Namun Samuel menggeleng mantap. Ia tidak ingin membiarkan sikap tidak sopan itu berlalu begitu saja, apalagi ini menyangkut harga diri orang lain.

"Tidak bisa begitu, Sam," tegas Samuel sambil sesekali melirik putranya. "Sikap tidak sopan tidak boleh dibiarkan, apalagi kepada wanita yang lebih tua dan tidak bersalah. Bima harus belajar menghargai orang lain, tidak peduli seberapa marah atau sedih pun perasaannya."

Lalu Samuel menatap tajam ke arah Bima. "Coba kamu perbaiki caramu bicara! Tidak ada alasan yang membenarkan kamu bersikap kasar dan tidak tahu sopan santun seperti itu kepada Tante Samantha. Minta maaf sekarang!"

Bima terperangah, wajahnya memerah menahan malu dan amarah, namun ia tetap diam membisu, menolak untuk menunduk atau meminta maaf.

Mobil akhirnya berhenti tepat di halaman rumah besar milik Samuel. Belum pintu terbuka lebar, Bima sudah menarik gagang pintu dengan kasar. Ia keluar dari mobil tanpa menoleh sedikit pun atau mengucapkan sepatah kata pun sebagai tanda perpisahan. Pintu mobil ia banting hingga berbunyi nyaring, seolah meluapkan segala kemarahan dan penolakan yang ada di dadanya.

Samuel menghela napas panjang, matanya menatap sedih punggung putranya yang berjalan cepat menghilang masuk ke dalam rumah. Ia lalu menoleh ke arah Samantha dengan penuh rasa bersalah.

"Maafkan aku, Samantha," ucapnya lirih dengan nada yang terguncang. "Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan Bima yang sangat tidak sopan dan kasar tadi. Aku sungguh malu memperlihatkan sisi buruknya padamu."

Samantha tersenyum tipis, mencoba menenangkan pria itu. "Aku tidak apa-apa, Samuel. Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku bisa memaklumi sikapnya saat ini."

Namun di dalam hati, Samantha bergumam pelan: "Mungkin semua kekasaran dan ketegaran yang ia tunjukkan hanyalah topeng. Mungkin selama ini ia benar-benar merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian..."

Mobil pun kembali melaju meninggalkan halaman rumah itu, menuju ruko yang akan menjadi tempat usaha Samantha. Sepanjang jalan suasana kembali hening, hanya terdengar suara mesin kendaraan yang membelah keheningan sore itu.

Tiba-tiba Samuel memecah kesunyian dengan suara ragu. "Kau pasti merasa sangat risih dan terganggu melihat kelakuannya tadi, bukan?"

Samantha perlahan menggelengkan kepala mantap, lalu menatap Samuel dengan pandangan yang tulus dan penuh pengertian.

"Sama sekali tidak, Samuel. Jauh dari merasa risih, hatiku justru terasa sangat kasihan pada Bima. Aku melihat ada kesedihan dan ketakutan yang tersembunyi di balik sikap kasarnya itu."

Samuel terdiam, menatap sekilas wajah Samantha yang tampak begitu lembut, dan rasa syukur bercampur haru perlahan mengisi hatinya.

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan ruko yang tampak megah dan bersih itu. Begitu mereka turun, mata mereka langsung disuguhi pemandangan barang-barang perlengkapan salon yang sudah tertata rapi di teras. Suci dan Gio tampak sibuk bergerak lincah mengangkat dan menata barang-barang itu ke dalam ruangan.

Samuel mendekati Gio yang sedang memegang sebuah kotak besar, lalu bertanya dengan nada sedikit heran namun tetap sopan.

"Gio, kenapa kamu masih ada di sini? Seharusnya kamu sudah kembali ke kantor untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang tertunda," tegur Samuel pelan.

Gio segera meletakkan barang yang dipegangnya, lalu menatap Samuel dengan wajah sedikit bingung namun tenang.

"Maaf, Pak. Tapi Bapak sendiri yang tidak menyuruh saya kembali ke kantor tadi," jawab Gio jujur. "Bapak hanya meminta saya mengantar Suci ke sini dan menemani sebentar. Jadi saya pikir, saya boleh membantu merapikan perlengkapan dulu sebelum anda datang ."

Samuel tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis menyadari kelalaiannya sendiri. "Ah, benar juga. Maafkan saya... maksudku, maafkan aku. Aku benar-benar lupa memberitahumu hal itu karena terlalu banyak hal yang terjadi hari ini."

Suci yang mendengar percakapan itu ikut mendekat dan menimpali dengan sopan. "Terima kasih banyak ya, Mas Gio sudah bersedia membantu kami membereskan semuanya. Kalau tidak ada Mas Gio, pasti kami akan kesulitan sekali memindahkan barang-barang yang cukup berat ini."

Samantha mengangguk pelan, lalu menatap sekeliling ruangan yang perlahan mulai terisi. "Baiklah kalau begitu. terimakasih pak gio sudah membantu teman saya merapikan semuanya. "

Gio tersenyum canggung namun tulus, lalu menggeleng pelan mendengar ucapan terima kasih itu.

"Tidak perlu berterima kasih , Samantha ," ucapnya pelan. "Saya melakukan ini semata-mata karena merasa kasihan jika Suci harus mengerjakannya sendirian. Barang-barang ini cukup berat, dan saya tidak tega melihat seorang wanita mengangkatnya sendiri."

Suci yang mendengar itu seketika merona wajahnya, ia menunduk sedikit menahan senyum malu. Sementara Samuel hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa di antara kecanggungan yang masih tersisa, ternyata perhatian kecil itu perlahan mulai tumbuh di antara mereka berdua.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!