Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.
"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebebasan Anna
Sejak persidangan itu, Anna menjalani hukumannya di dalam penjara. Anna tidak dapat melihat lagi matahari. Senyum Dika, tawa candanya. Hari hari kelam Anna di dalam penjara.
Alan kembali menjalani hidupnya bersama istri mudanya. Ia berani membawanya pulang ke rumah sejak Elama koma.
Tasya kembali pada Rangga meski hubungannya sudah tidak harmonis lagi. Namun hubungannya dengan Sano terus berlanjut hingga ia hamil. Rangga tidak dapat menerima dan memaafkan lagi perbuatan Tasya, akhirnya ia menceraikannya. Dan Rangga pergi jauh ke luar Indonesia.
Mau tidak mau, Sano menikahi Tasya dan menceraikan Adrien. Tidak terima suaminya selingkuh hingga memiliki anak. Aldrien jatuh sakit, tak lama wanita itu meninggal karena depresi. Keluarga Genzo tidak dapat menanggung malu perbuatan putra bungsunya. Akhirnya nyonya Haira pergi menyusul Genzo ke Luar Negeri, istri dan putri Genzo memilih pulang ke orangtuanya setelah perusahaan nyonya Haira mengalami kemunduran drastis.
Minggu berlalu, bulan pun berganti. Dika masih setia menjenguk Anna meski tidak ada perubahan sejak pertama kali Anna masuk penjara. Gadis itu tidak pernah bicara sepatah katapun pada Dika, ia hanya diam membisu. Hatinya telah patah, hatinya telah membeku seperti es. Tidak ada lagi cahaya kelembutan di mata Anna. Hanya ada tatapan kosong tak berjiwa lagi.
Sekian lama Dika mencoba untuk mencairkan, tapi gadis itu tetap sama. Akhirnya Dika menyerah, ia mulai mengenal gadis lain dan merekapun memulai hidup baru, membina rumah tangga. Perlahan tapi pasti, Dika mulai melupakan Anna. Pria itu tidak lagi menjenguk Anna karena kesibukannya di cafe dan keluarga kecilnya.
Kemarin ia masih bisa menghirup udara segar. Menikmati hidup dan sedikit kebahagiaan yang Dika berikan. Kemrin semuanya masih baik baik saja meski masalah datang bertubi tubi. Kemarin masih bisa melihat wajah Elama, senyumannya, suaranya. Kini ia telah pergi selamanya sebelum Anna merasakan sentuhan hangat, belaian lembut dari tangan Ibunya. Kini Yang Maha Kuasa sudah mengambilnya kembali sebelum Anna menyecap kasih sayang dari sang Ibu yang ia rindukan.
Kini di manakah sang Ibu saat ia merindukannya walau sekedar untuk menyapanya. Kini harapan terbesarnya musnah, padam juga sisi cahaya dalam hati Anna. Yang tersisa adalah kegelapan, kebencian pada segala hal yang ada di dunia ini.
Saat kepercayaan, keyakinan, harapan telah musnah bersama kenyataan yang berkali kali menghempaskannya kedalam jurang terdalam. Adakah cahaya terang mampu menyentuh sisi gelap Anna yang muncul dalam dirinya?
Kini, Anna benar benar sendirian.
***
Seorang wanita paruh baya, tinggi besar dengan berpakaian seksi. Rambutnya di sanggul di hiasi berbagai macam pernak pernik, datang ke kantor Polisi bersama ajudannya.
Kedatangannya ke kantor Polisi untuk membebaskan Anna dari dalam penjara. Wanita itu sangat tertarik dengan Anna setelah ia mengikuti kisah Anna yang di sebut pembunuh berdarah dingin, karena telah membunuh Ibunya sendiri menurut kacamata media yang beritanya simpang siur.
Setelah melewati banyak proses, Anna juga berkelakuan baik di dalam penjara dan mendapat keringanan hukuman. Wanita itu berhasil membebaskan Anna.
Tak lama menunggu, wanita itu tersenyum lebar saat melihat Anna keluar dari pintu gerbang penjara.
"Hai Anna." Wanita itu menyapa Anna dan mengulurkan tangannya.
"Kau siapa?" tanya Anna dingin.
"Ow, panggil aku, Mami Rani." Mami Rani menarik tangannya.
"Oh," jawab Anna singkat.
"Ayo ikut Mami." Mami Rani berjalan mendahului Anna. Sesaat gadis itu diam, lalu melangkah menyusul Rani. Mereka masuk ke dalam mobil, lalu meluncur ke kediaman Mami Rani.
Sepanjang perjalanan, Mami Rani banyak cerita tentang dirinya dan profesi yang di tekuni selama ini. Tapi Anna hanya diam enggan untuk menimpali atau sekedar basa basi. Melihat sikap Anna yang seperti itu, membuat Mami Rani semakin senang dan menyukai Anna.
"Apa alasanmu membebaskanku? apa yang kau ingunkan?" Anna yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Tenang sayang, nanti juga kau tahu sendiri. Mami harap kau betah di rumahku, dan sementara kau boleh istirahat. Anggap saja rumah sendiri."
Anna melirik tajam sesaat ke arah Mami Rani. "Baiklah."
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah Mami Rani. Mereka langsung keluar dari mobil. Melangkah bersama memasuki rumah Mami Rani yang berukuran cukup besar.
"Anna, sekarang kau boleh istirahat. Itu kamarmu, dan semua keperluanmu sudah Mami sediakan." Rani menunjuk ke arah pintu kamar yang ada di paling ujung di antara kamar lainnya.
"Terima kasih." Anna berjalang menuju kamar yang di tunjuk Mami Rani. Matanya menatap sekitar ruangan kamar, lalu Anna pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak lama kemudian ia telah selesai mandi, lalu memilih pakaian yang sudah di sediakan mami Rani. Pilihan Anna jatuh pada kaps berwarna hitam dan celana jeans pendek selutut. Setelah selesai menggunakan pakaiannya, Anna berjalan menuju balkon kamar. Ia menatap lurus ke depan tanpa menunjukkan exspresi apapun. Perlahan ia menarik napas panjang lalu ia hembuskan ke udara. Matanya terpejam menikmati udara segar setelah sekian lama mendekam dalam penjara.
"Aku bebas?" tanya Anna pada dirinya sendiri. "Untuk apa kebebasan ini?" Anna tersenyum sinis. Bebas atau tidak, baginya sudah tidak berarti apa apa lagi. Anna duduk di kursi menatap langit terlihat semburat oranye di ufuk barat.
"Nikmati hidupmu yang baru Anna."
Anna menoleh ke belakang menatap mami Rani sudah berdiri di belakangnya membawakan secangkir kopi lalu ia berikan pada Anna. Tangan Anna mengambil cangkir di tangan Mami Rani, ia menatap cairan kental berwarna hitam pekat di dalam cangkir itu. Hidup yang baru? tidak. Anna sudah lama mati bahkan sebelum ia di lahirkan. Tidak ada lagi Anna yang baik, tidak ada lagi Anna yang pemaaf. Anna yang selalu berjuang, Anna yang penuh cinta. Anna sudah mati!
"Kau tidak suka, Anna?" tanya Mami Rani memperhatikan gadis itu hanya bengong menatap cangkir di tangannya.
Anna melirik sesaat ke arah Mami Rani, lalu menyecap perlahan kopinya.
"Aku pergi dulu sebentar, kau tenang saja di rumahku." Mami Rani berdiri menatap sesaat ke arah Anna yang terlihat cuek. Lalu wanita itu melangkahkan kakinya meninggalkan Anna sendirian.
Sepeninggal Mami Rani, gadis itu meletakkan cangkir di atas meja. Menyandarkan tubuhnya di kursi menatap ke arah langit. Sejak peristiwa itu, entah apa yang Anna pikirkan. Jauh di lubuk hatinya yang dalam, menyimpan perih memendam luka. Atas apa yang menimpanya. Sampai saat ini, ia tidak ingin berkata kata lagi. Sampai pada saat ini, ia tidak ingin melupakan atau memulihkan perasaannya yang telah hancur. Menikmati itu kelukaan yang ada membuatnya merasa hidup.
Istilahnya pagar makan tanaman nih
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
lanjutkan
Salam kenal kak💐💐