NovelToon NovelToon
CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

CAGE THE REBEL : MENJINAKKAN SANG PEWARIS IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.

Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10. Pesona Asisten Bar-bar

Kesabaran Kiera Anandita kembali diuji pada hari Jumat malam. Alih-alih bisa merebahkan diri di kasur kontrakannya setelah seminggu penuh diperas tenaga dan pikirannya oleh sang tiran, Kiera justru berakhir di kursi belakang mobil mitsubishi hitam milik kantor, berdampingan dengan sang CEO yang memancarkan aura sedingin es kutub.

Yudhistira Group malam ini mengadakan *gala dinner* semi-formal bersama para investor kelas kakap di salah satu hotel bintang lima di kawasan Mega Kuningan. Dan sebagai asisten pribadi yang merangkap menjadi tameng hidup, Kiera wajib ikut demi membawa dokumen kerja sama yang sewaktu-waktu perlu ditandatangani.

Namun, ada satu hal yang membuat atmosfer di dalam mobil malam itu terasa sangat berbeda dari biasanya.

Arsenio sejak tadi tidak berhenti melirik ke arah kirinya melalui sudut mata. Rahangnya mengeras, dan tangannya yang terbalut jam tangan Rolex mewah sesekali mengetuk lututnya dengan gelisah. Penyebabnya hanya satu: penampilan Kiera malam ini.

Gadis ugal-ugalan yang biasanya mencepol rambutnya sekencang tali lasso dan memakai kemeja putih standar itu malam ini bertransformasi total. Kiera mengenakan gaun malam sederhana berwarna hijau zamrud berpotongan sabrina yang mengekspos leher jenjang dan tulang selangkanya yang indah. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dengan gelombang lembut di ujungnya, dan riasan wajahnya yang natural namun segar membuat kecantikan alaminya memancar mutlak.

*“Sialan... dia sengaja mau bikin saya jantungan atau bagaimana?”* maki Arsenio habis-habisan dalam hati. Dadanya bergemuruh panas sejak pertama kali melihat Kiera masuk ke dalam mobil. Ada rasa tidak rela yang mendadak menyeruak di relung hatinya saat menyadari bahwa malam ini, mata pria-pria lain di aula hotel pasti akan menatap asisten pribadinya ini.

"Kiera," panggil Arsenio dengan suara berat yang sengaja dibuat sedingin mungkin untuk menutupi kepanikannya.

Kiera menoleh, memamerkan senyum profesionalnya. "Iya, Pak Bos? Ada dokumen yang mau diperiksa lagi?"

"Gaun kamu..." Arsenio menggantung kalimatnya, menatap leher Kiera dengan pandangan tidak suka yang dibuat-buat. "Kenapa terbuka begitu? Kamu mau datang ke acara bisnis atau mau pergi ke pantai? Tidak profesional sekali."

Kiera mengerjalkan matanya, lalu menatap gaunnya sendiri yang bahkan panjangnya mencapai mata kaki. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan diri agar tidak menyiram muka tampan bosnya pakai botol parfum di tasnya.

*“Titisan iblis ini bener-bener gak capek ya cari masalah?! Ini gaun sopan banget, bagian mananya yang kayak mau ke pantai, dasar matanya juling!”* maki Kiera sekasar-kasarnya di dalam hati, sementara wajah cantiknya tetap memamerkan senyum anggun.

"Ini standar gaun malam semi-formal, Pak Arsenio yang terhormat. Saya pastikan tidak akan merusak reputasi estetik perusahaan Bapak," jawab Kiera selembut mungkin, meski ada sedikit penekanan di setiap katanya.

Arsenio hanya mendengus ketus, memalingkan wajahnya ke arah jendela luar mobil untuk menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di telinganya.

---

Begitu mereka memasuki *ballroom* hotel yang megah, Kiera langsung menjalankan tugasnya dengan baik. Ia berdiri satu langkah di belakang Arsenio, memegang *clutch* berisi tablet dan dokumen penting, sementara Arsenio sibuk bersalaman dan berbasa-basi dengan para petinggi korporasi. Wibawa Arsenio sebagai tiran muda yang gagah dan perfeksionis terpancar sempurna, membuat beberapa wanita sosialita di ruangan itu menatapnya dengan pandangan memuja.

Namun, fokus Arsenio malam itu buyar total ketika mereka dihampiri oleh salah satu investor muda dari perusahaan kompetitor, Raditya.

"Wah, Arsenio! Senang bisa melihatmu di sini," sapa Raditya ramah, menjabat tangan Arsenio. Namun, pandangan mata Raditya tidak bertahan lama di wajah Arsenio. Sepasang mata pria itu langsung beralih dan terkunci pada sosok Kiera yang berdiri di samping Arsenio. Matanya berbinar terang penuh ketertarikan.

"Dan... siapa wanita cantik di sebelahmu ini? Kolega baru? Atau... pasanganmu malam ini?" tanya Raditya dengan nada suara yang sengaja dibuat se-menawan mungkin, mengabaikan aura gelap yang mendadak keluar dari tubuh Arsenio.

Kiera tersenyum ramah, berniat memperkenalkan diri secara profesional. "Saya Kiera Anandita, asisten pri—"

"Dia asisten pribadi saya. *Hanya* asisten," potong Arsenio cepat dengan nada ketus yang luar biasa kentara. Ia sengaja menggeser posisi berdiri tubuh tegapnya, memblokir jalur pandang Raditya dari Kiera seolah-olah ia sedang melindungi aset negara yang sangat rahasia.

Raditya menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan reaksi defensif Arsenio yang berlebihan, namun ia justru tersenyum menantang. Pria itu sedikit menggeser posisinya agar bisa kembali menatap Kiera. "Asisten pribadi? Beruntung sekali kamu, Arsen. Hai Kiera, kalau bosmu yang terkenal kejam ini mulai membuatmu lelah, pintu kantorku selalu terbuka lebar untuk asisten seindah kamu." Raditya mengedipkan sebelah matanya, lalu mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Kiera.

Kiera yang merasa ini adalah bagian dari relasi bisnis, mengulurkan tangannya dengan sopan. "Terima kasih atas sanjungannya, Pak Raditya—"

Belum sempat jemari Kiera menyentuh tangan Raditya, sebuah tangan kekar berurat milik Arsenio mendadak menyelinap cepat. Dengan gerakan posesif yang sangat dominan, Arsenio justru mencengkeram pergelangan tangan Kiera dan menarik gadis itu mundur hingga menempel di belakang tubuh tegapnya.

*DEG!*

Jantung Kiera berdegup kencang saat punggungnya bersentuhan langsung dengan dada bidang Arsenio yang terasa hangat dan kokoh.

Arsenio menatap Raditya dengan sorot mata menghujam yang sangat mematikan. Sumbu pendeknya benar-benar terbakar habis. Hatinya terasa sangat panas, terbakar oleh rasa cemburu dan kesal yang luar biasa melihat bagaimana pria lain berani menggoda dan mencoba menyentuh Kiera di depan matanya. Ego raksasanya meronta gila, tidak rela jika senyuman manis Kiera yang malam ini terlihat sangat cantik dinikmati oleh orang lain.

"Maaf, Raditya. Waktu bertamu kamu sudah habis. Asisten saya harus ikut saya sekarang untuk urusan internal," ucap Arsenio dengan suara rendah yang sangat dingin dan penuh penekanan berbahaya.

Tanpa menunggu jawaban dari Raditya yang melongo heran, Arsenio langsung menarik tangan Kiera dengan genggaman yang kuat namun tidak menyakiti, menyeret gadis itu keluar dari keramaian aula menuju koridor sepi di dekat area taman dalam hotel.

---

Begitu sampai di area yang sepi, Arsenio melepaskan genggamannya, lalu berbalik dan menatap Kiera dengan napas yang sedikit memburu akibat emosi yang tertahan di dada.

Kiera yang ditarik secara tiba-tiba langsung emosional. Ia mengusap pergelangan tangannya, menatap Arsenio dengan pandangan tidak percaya. Senyum palsunya hilang total, digantikan oleh kilatan amarah yang berani.

"Bapak apa-apaan sih?! Itu tadi investor penting, Pak! Kenapa Bapak bertingkah kekanak-kanakan dan tidak sopan begitu?!" protes Kiera ketus, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan ajaib bosnya malam ini.

*“Dasar tiran gila! Kesurupan setan apa lagi sih ini orang, tiba-tiba narik orang kayak barang bawaan!”* jerit Kiera dalam hati, napasnya naik turun menahan kesal.

"Saya yang apa-apaan atau kamu yang kegatelan?!" bentak Arsenio frustrasi, suaranya menggema di koridor sepi itu. Pria itu maju satu langkah, mengurung tubuh Kiera di antara dinding koridor dan tubuh tegapnya. "Kenapa kamu tersenyum semanis itu pada Raditya, hah?! Kamu sengaja mau pamer leher dan senyuman kamu ke semua pria di ruangan itu?! Kamu itu asisten saya, Kiera! Fokus dan senyuman kamu itu cuma hak milik saya selama jam kerja!"

Kiera melongo, otaknya mendadak macet mendengar kalimat egois bernada cemburu buta yang keluar dari mulut sang tiran perfeksionis ini.

*“Tunggu... apa katanya? Hak milik dia? Ini orang beneran cemburu atau emang urat saraf di otaknya udah putus total?!”* batin Kiera berteriak histeris, menyadari bahwa benteng pertahanan es sang CEO tampan di depannya ini baru saja runtuh berkeping-keping akibat api cemburu yang ia sulut sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!