Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan Belas
Lampu-lampu di ruang makan rumah Farhan menyala hangat malam itu. Meja panjang yang biasanya terasa terlalu besar untuk dua orang kini dipenuhi berbagai hidangan. Aroma sup ayam, tumis sayur, dan ayam panggang menyatu, menciptakan suasana yang terasa rumah.
Chika berdiri di samping meja, memastikan semua piring tertata rapi. Ia mengenakan dress sederhana berwarna krem, rambutnya diikat setengah, memperlihatkan leher jenjangnya. Wajahnya tampak cantik, meski ada sedikit ketegangan yang ia sembunyikan di balik senyum tipisnya.
Dari arah pintu depan, suara langkah kaki terdengar. “Chikaaa .…” Suara ceria itu langsung memenuhi rumah.
Chika menoleh dan tersenyum lebih lebar. “Ma!”
Mama Meri masuk dengan penuh energi, seperti biasa. Tas mahal menggantung di lengannya, wajahnya berseri-seri. Begitu melihat Chika, ia langsung merentangkan tangan.
“Anak Mama!” serunya.
Chika menyambut pelukan itu dengan hangat. “Mama sehat?”
“Sehat dong! Apalagi kalau lihat kamu makin cantik begini,” jawab Mama Meri sambil mengelus pipi Chika.
Dari belakang, Farhan muncul dengan langkah santai. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
“Ma,” sapa Farhan singkat.
Mama Meri langsung menoleh. “Nah, ini dia anak Mama yang satu lagi.”
Farhan hanya tersenyum tipis saat ibunya mendekat dan menepuk lengannya. “Kamu kelihatan capek,” komentar Mama Meri.
“Lagi banyak kerjaan,” jawab Farhan singkat.
“Kerjaan, kerjaan … jangan lupa istri juga diperhatikan,” sahut Mama Meri sambil melirik Chika.
Chika hanya tersenyum kecil, sedikit menunduk.
“Ya sudah, ayo kita makan dulu. Mama lapar,” lanjut Mama Meri dengan nada riang.
Mereka bertiga duduk di meja makan. Suasana awalnya hangat. Sendok dan garpu beradu pelan, sesekali diselingi obrolan ringan.
Mama Meri tampak sangat menikmati makanannya. “Masakan kamu enak sekali, Chika. Mama suka.”
Chika tersenyum. “Terima kasih, Ma. Aku masak sendiri tadi.”
“Pantas saja,” sahut Mama Meri bangga. “Farhan, kamu beruntung sekali.”
Farhan mengangguk pelan. “Iya.”
Namun jawabannya yang singkat itu membuat suasana sedikit berubah. Tidak dingin, tapi ada jeda yang terasa.
Mama Meri tidak langsung menyadarinya. Ia masih sibuk mengambil lauk, lalu kembali membuka pembicaraan.
“Kalian sekarang bagaimana? Sudah mulai terbiasa tinggal bersama sebagai suami istri?” tanyanya santai.
Chika menjawab lebih dulu. “Sudah, Ma. Pelan-pelan.”
“Bagus. Memang butuh waktu,” ucap Mama Meri sambil mengangguk.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan ringan. Lalu tiba-tiba, Mama Meri meletakkan sendoknya dan menatap Chika dengan ekspresi yang sedikit lebih serius, tapi tetap hangat.
“Ngomong-ngomong .…” Mama memulai obrolan.
Chika menoleh, menunggu.
Mama Meri tersenyum lebar. “Mama berharap kamu cepat hamil, ya.”
Kalimat itu keluar dengan ringan. Tapi dampaknya langsung terasa. Chika sedikit terdiam. Farhan yang sedang minum juga berhenti sejenak.
“Mama sudah nggak sabar ingin gendong cucu,” lanjut Mama Meri dengan nada penuh harap. “Mama yakin kamu subur, Chika. Kamu pasti bisa kasih Mama cucu.”
Chika tersenyum tipis, tapi matanya sedikit berkedip gugup. “Iya, Ma … doakan saja.”
Namun Mama Meri belum selesai. “Tidak seperti .…” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang berubah lebih tajam, “Mantan istrinya Farhan.”
Suasana langsung membeku. Sendok di tangan Farhan berhenti bergerak. Rahangnya mengeras sedikit. Ia menarik napas pelan, lalu meletakkan gelasnya.
“Jangan bawa-bawa Hana, Ma,” ucapnya tegas, meski tidak meninggikan suara.
Mama Meri menoleh cepat. “Kenapa? Salah?”
Farhan menatap ibunya. “Hana juga menginginkan anak. Tapi Tuhan yang belum menitipkan pada kami.”
Nada suaranya datar, tapi jelas ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.
Mama Meri langsung mengerutkan kening. “Kamu masih membela dia?”
Farhan tidak menjawab.
“Farhan,” suara Mama Meri naik satu tingkat, “kamu ini bagaimana sih? Apa kamu nggak punya perasaan? Istrimu sekarang itu Chika!” lanjut Mama Meri dengan nada kesal. “Masih saja membela wanita lain!”
Farhan menghela napas panjang. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan. Wajahnya tetap tenang, tapi jelas ia memilih diam daripada membalas.
Chika akhirnya angkat bicara, suaranya pelan dan sendu. “Tak apa, Ma. Mungkin Mas Farhan belum bisa sepenuhnya melupakan Hana,” lanjut Chika, matanya sedikit berkaca-kaca. Kalimat itu membuat suasana semakin tegang.
Mama Meri langsung bereaksi. “Tidak! Tidak boleh begitu.”
Ia menatap Farhan dengan tajam. “Kamu dengar Farhan, Mama tidak mau dengar nama itu lagi di rumah ini,” kata Mama Meri tegas. “Mulai detik ini, kamu tidak boleh menyebut namanya lagi.”
Chika menunduk lebih dalam, seolah merasa bersalah telah berkata seperti itu.
Mama Meri lalu menggenggam tangan Chika. “Kamu jangan sedih, Nak. Kamu itu istri Farhan sekarang.”
Chika mengangguk pelan. “Iya, Ma .…”
Mama Meri kembali menatap Farhan. “Gimana dia bisa cepat hamil kalau kamu terus membuat dia berpikir dan stres?”
Kalimat itu seperti ultimatum. Farhan terdiam beberapa detik. Lalu akhirnya, ia mengangguk pelan.
“Iya, Ma,” jawabnya singkat.
Tidak ada bantahan. Tidak ada penjelasan. Hanya persetujuan yang terasa kosong.
Makan malam itu akhirnya berlanjut, tapi suasananya tidak lagi sama. Obrolan menjadi lebih hati-hati. Tawa yang muncul terasa dipaksakan.
Beberapa saat kemudian, Mama Meri berdiri. “Sudah malam. Mama harus pulang."
Chika langsung ikut berdiri. “Aku antar, Ma.”
Farhan juga bangkit, mengambil kunci mobil.
“Tidak usah, Mama bawa sopir,” ucap Mama Meri sambil tersenyum.
Ia memeluk Chika sekali lagi. “Jaga diri baik-baik, ya. Jangan terlalu capek.”
“Iya, Ma.”
Lalu ia menepuk bahu Farhan. “Ingat kata Mama tadi.”
Farhan hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, mobil Mama Meri meninggalkan halaman rumah. Lampu-lampu depan kembali sepi.
Farhan berdiri sebentar di ruang tamu, menatap pintu yang sudah tertutup. Wajahnya sulit dibaca. Lalu tanpa mengatakan apa pun, ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerja.
Tinggal Chika sendirian di ruang keluarga. Ia duduk perlahan di sofa, menatap kosong ke arah televisi yang mati. Tangannya masih menggenggam ujung bajunya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu ia menghela napas panjang.
Wajah sendu yang tadi ia tunjukkan perlahan menghilang. Berganti dengan ekspresi yang lebih dingin. Lebih berpikir.
“Mungkin Mas Farhan belum bisa melupakan Hana …,” gumamnya pelan, mengulang ucapannya sendiri.
Chika bersandar ke sofa, menatap langit-langit. Pikirannya mulai berputar cepat.
Ucapan Mama Meri tadi terngiang jelas di kepalanya. Mama ingin cucu secepatnya. Dan itu berarti ia harus hamil.
“Tapi .…” Ia bergumam, “kalau terus begini .…”
Ia menoleh ke arah pintu ruang kerja Farhan yang tertutup. “Kalau Mas Farhan nggak bisa .…” Ia berhenti.
Kalimat itu menggantung di udara. Beberapa detik ia hanya diam. Seolah menimbang sesuatu yang besar.
Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis. Licik.
“Aku harus cari cara lain,” gumamnya.
Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan. Dan di dalam hatinya, sebuah keputusan mulai terbentuk.
“Aku harus bisa mencari pria yang mau jadi simpanan …,” bisiknya sangat pelan. Matanya menyipit. "Dan bisa buat aku hamil.”
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....