"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Setelah berhasil membawanya ke ranjang, aku hanya menatapnya. Tubuhnya begitu panas dan lemah. Aku ingin membantu, tapi aku masih kesal saat melihat foto itu, foto yang di kirim Dewa ke nomor ponsel ku.
Dia baru saja liburan ke puncak bersama pujaan hatinya, sampai-sampai dia tidak perduli dengan kesehatannya sendiri. Aku ingin tidak perduli, tapi mendengarnya merintih membuat rasa kemanusiaan ku tergugah, pada akhirnya aku tidak bisa abai padanya. Aku mengambilkan baju ganti, memanaskan bubur yang ku buat dan memberinya obat.
Tidak ada percakapan sedikit pun di antara kami, andai hubungan kami tidak sekaku ini, aku pasti sudah memijitnya, mencium keningnya, mendekapnya agar lebih hangat. Tapi kami seperti minyak dan air, meski aku mencoba memberikan begitu banyak curahan perhatian untuknya, kami tetap saja tidak bisa menyatu.
"Tidur mas, istirahat" Ucapku pasnya. Dia hanya menatapku tanpa mengagguk ataupun mengatakan sepatah kata apapun. Matanya nanar, mungkin karena menahan panas di tubuhnya, dia juga pasti lelah karena mendaki seharian.
"Mau di bawa ke rumah sakit?" Tanyaku. Dia seorang letnan yang kuat, tapi dia juga tetap manusia, yang dalam keadaan sakit perlu berobat dan istirahat. Bukan malah keluyuran dan mendaki di gunung yang dingin.
Andai saja dia tidak ada jarak pada kami, aku pasti sudah mengomeli dia sejak tadi.
"Tidak usah"
Aku mengagguk, ku ambil mangkuk sisa bubur di nakas, aku ingin ke dapur untuk mengambilkan dia air kompres. Tubuhnya benar-benar panas, mungkin karena kelelahan juga, jadi panasnya tidak kunjung turun.
Aku kembali dengan baskom kecil, dia nampak duduk sambil memejamkan mata. Ku lihat di dinding hampir jam satu malam. Sebenarnya aku sangat mengantuk, tapi mau bagaimana lagi? Ada Bayi besar yang harus aku rawat.
"Tiduran mas, biar aku kompres"
Dia mengagguk dan membaringkan tubuhnya, aku membenarkan selimutnya dan segera mengompres dia.
"Besok kalau badan mas masih panas, kita harus ke rumah sakit"
Namun dia hanya diam saja, jadi aku ikut tidak bersuara lagi.
Aku duduk di lantai sambil mengompres kepalanya, berharap suhu panas di tubuhnya sedikit menurun.
Mata ini mulai mengantuk, akhirnya aku tertidur di samping ranjang Aga.
Keesokan harinya, aku mengira tubuhku akan kaku, karena aku tidak tidur dengan benar, namun semua itu salah, rasanya tubuh ini begitu nyaman, pundak dan punggung ku juga tidak pegal-pegal. Saat aku membuka mata, aku begitu terkejut karena tubuhku sudah berada di atas ranjang Aga.
Apa Aga yang memindahkan ku ke atas? Apa semalam dia menggendong ku? Apa di hatinya mulai menerimaku? Apa ini awal hubungan kami yang akan membaik? Aku begitu senang, namun aku menggeleng pelan, aku tidak boleh terlalu bahagia, mungkin mas Aga hanya kasihan padaku tidur di lantai, mungkin ini sebagai tanda terima kasih karena semalam aku merawatnya.
Aku segera turun dari ranjang, dia masih di sampingku sambil memegangi kepalanya. Entah dia sudah terjaga atau masih tidur, aku juga tidak tahu, karena dia menutup matanya rapat.
Aku bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh yang sudah sedikit kesiangan.
Ku lihat mas Aga masih menutup kepalanya dengan lengan, jadi aku berinisiatif memeriksa keadaannya.
"Masih sangat panas" Gumamku pelan.
Aku segera menelfon Nana agar mencarikan aku seorang supir. Aku berniat membawa mas Aga ke rumah sakit.
Panasnya tidak turun hanya dengan obat, Mas Aga perlu di infus agar tidak terlalu dehidrasi.
Aku menyiapkan barang-barang yang akan ku bawa.
"Mas ayo ke rumah sakit" tanyaku padanya. Dia sedikit menurunkan lengannya.
"Aku tidak mau"
"Badan mas panas sekali, mas harus ke sana"
"Tapi aku tidak bisa menyetir dalam keadaan begini"
"Arin sudah pesan supir, Ayo Arin bantu ke mobil"
Mas Aga bangun sediri, awalnya dia tidak ingin ku papah, namun tubuhnya oleng, jadi aku langsung memegangi tangannya.
"Jangan hawatir, Arin tidak akan macam-macam"
"Kau tidak akan meminta balas budi dari ku kan?"
Aku sangat terkejut saat mas Aga mengatakan itu.
"Kenapa mas berpikir begitu? Tentu saja aku tidak akan menuntut apa-apa dari mas Aga"
Dia meringis sambil sedikit mengejek.
"Pertama kali menolong ku kau minta imbalan jadi anaknya ibu, yang kedua kau minta aku jadi suamimu, padahal kita masih SMA, aku hanya takut kamu akan meminta anak dari ku setelah melaksanakan ini"
Astaga! Jadi itu anggapan mas Aga tentang diriku? Aku sama sekali tekan pernah minta apa-apa, Ibu yang memaksa ku, dulu ibu yang memintaku ikut, dulu ibu juga yang memaksa perjodohan ini. Aku sama sekali tidak pernah memintanya.
"Aku tidak pernah memikirkan balasan apapun saat aku membantu mas Aga, Ibu yang meminta ku ikut ke sini, Ibu juga yang meminta mas menikah dengan ku. Mas pikir aku bahagia dengan pernikahan ini? Mas pikir hanya mas yang terluka di sini? Mas kira aku senang menikah dengan mas Aga? Tidak mas. Aku juga tersiksa, jika mas berani bahkan aku bersedia bercerai hari ini juga dengan mas Aga. Aku masih berdiri di sini hanya karena ibu. Mas selalu abai padaku, mas selalu dingin, selalu menelfon wanita lain, bahkan punya kekasih di luar sana. Mas bahkan tidak mau menyentuh ku, mas tahu kenapa aku tidak pergi? itu semua demi melihat ibu tetap tersenyum. Bukan demi kamu!"
Aku memaksa memapahnya dengan sedikit kasar, ternyata tubuhnya begitu berat,untung saja aku terbiasa mengangkat karung berisi tepung jadi tubuhku tidak oleng.
Jujur ini pertama kalinya badan kami bersentuhan begitu dekat, Hati ini masih kesal karena dia begitu berpikiran pendek tentang ku.
Sampai di mobil, supir sudah menunggu kami, kami langsung ke rumah sakit. Aku diam saja tanpa suara, tak menatap nya juga.
Aku bahkan duduk menjauh darinya, awalnya aku ingin di kursi depan saja, tapi aku hawatir dia kenapa-kenapa jadi aku duduk di kursi belakang.
Aku hanya menatap ke arah jendela, hati ini benar-benar sesak di buatnya, pantas saja mas Aga selama ini sangat membenciku, ternyata dia mengaggap ku wanita yang haus akan balas Budi. Tidak tahukah dia kalau dulu aku juga jatuh sakit setelah mendonorkan banyak darah untuknya? Tidak tahukah dia aku pernah kehilangan satu pendengaran ku saat menolong dia di laut.
Aku bahkan menggunakan semua uang tabungan ku untuk sekolah militernya. Bisa-bisanya dia berpikir aku memanfaatkan keadaan.
Sesampainya di rumah sakit, aku meminta Pak supir yang memapah dia masuk ke IGD. Aku berjalan mendahului dia dan meminta perawat yang berjaga agar membawakan brangkar untuk mas Aga.
Dokter segera mengecek keadaannya dan benar dugaanku, dia mengalami radang dan juga kelelahan berlebih. Mas Aga di minta rawat inap. Jadi aku bilang ke Nana, kalau besok jangan buka pesanan dulu, cukup buka toko saja. Karena aku tidak bisa ke toko kue kami.
Aku ke parkiran, meminta supir meninggalkan kami, aku memberinya upah dan minta nomer ponselnya jika aku memerlukan bantuannya. Setelah urusan pak supir selesai, aku kembali masuk ke IGD, namun seseorang menghentikan langkah ku.
"Dia begitu bersikap buruk padamu, kenapa kamu masih perduli dengannya?"
Aku menoleh, ternyata itu Dewa. Kenapa dia bisa tahu aku di sini?
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...