Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan yang Perlahan Hilang
Ada saat di mana seseorang tidak lagi menangis karena sedih.
Bukan karena lukanya sembuh.
Melainkan karena dirinya sudah terlalu lelah untuk menangis.
Dan itulah yang terjadi pada Nandin.
Setelah kehilangan kedua orang tuanya.
Setelah mengetahui pengkhianatan Wisnu.
Setelah melihat langsung nama suaminya terpampang di pelaminan perempuan lain.
Ada sesuatu dalam dirinya yang patah.
Bukan hatinya.
Bukan perasaannya.
Melainkan sesuatu yang lebih dalam.
Pikirannya.
Tiga minggu setelah kejadian di rumah Seline, kondisi Nandin semakin memburuk.
Awalnya hanya menangis sendiri.
Lalu tertawa sendiri.
Kemudian berbicara dengan orang yang tidak ada.
Namun perlahan semuanya berkembang menjadi sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.
Pagi itu Bu Rini datang ke kontrakan Pak Darto seperti biasa.
Ia membawa bubur ayam untuk Shella dan Sherly.
Karena sejak Nandin sakit, banyak tetangga ikut membantu.
Bukan karena kasihan.
Tapi karena mereka memang peduli.
Mereka melihat sendiri bagaimana Nandin berjuang selama bertahun-tahun.
"Assalamualaikum."
ucap Bu Rini sambil membuka pagar.
Tidak ada jawaban.
"Din?"
Tetap tidak ada jawaban.
Perasaan Bu Rini langsung tidak enak.
Ia masuk ke dalam rumah.
Dan langsung membeku.
Shella dan Sherly duduk di lantai.
Menangis.
Sedangkan pintu rumah terbuka lebar.
"Nandin?"
teriaknya panik.
Tidak ada.
Nandin menghilang lagi.
Setengah jam kemudian seluruh warga satu gang ikut mencari.
Pak Darto.
Bu Ratna.
Pak Slamet.
Anak-anak muda kampung.
Semua ikut membantu.
Karena ini bukan pertama kalinya.
Dalam dua minggu terakhir, Nandin sudah tiga kali pergi tanpa tujuan.
Kadang ditemukan di pasar.
Kadang ditemukan di masjid.
Kadang ditemukan di makam kedua orang tuanya yang berada di Jawa Timur.
Dan setiap kali ditemukan, wajahnya selalu kosong.
Seolah tidak tahu bagaimana bisa sampai di sana.
Menjelang siang.
Akhirnya seorang warga menemukan Nandin.
Dia duduk di pinggir sungai kecil.
Kakinya menggantung.
Tatapannya kosong.
"Nandin!"
teriak Pak Slamet.
Nandin menoleh perlahan.
Lalu tersenyum.
"Ayah belum pulang."
ucapnya pelan.
Pak Slamet langsung menelan ludah.
Karena ayah Nandin sudah meninggal hampir sebulan lalu.
Kabar hilangnya Nandin sampai ke telinga Bu Sri.
Dan seperti biasa.
Alih-alih merasa bersalah.
Ia justru merasa terganggu.
"Kalau begini terus bagaimana?"
gerutunya.
"Orang kampung jadi ngomongin kita terus."
Wisnu yang masih berada di rumah orangtuanya tampak kesal.
"Lalu mau bagaimana?"
"Masukkan rumah sakit jiwa saja."
Kalimat itu membuat beberapa orang yang ada di rumah langsung terdiam.
"Kok bisa ngomong begitu Bu?"
protes kakak Wisnu.
"Lha terus?"
"Dia bahaya."
"Kalau nanti bunuh diri bagaimana?"
"Kalau nanti nyemplung sungai bagaimana?"
Bu Sri terus berbicara.
Namun tanpa sadar.
Bu Rini yang kebetulan datang mengantar Shella dan Sherly mendengar semuanya.
Dan wajahnya langsung berubah.
"Bu Sri."
"Apa?"
"Jangan sembarangan ngomong."
"Saya cuma bilang kenyataan."
"Yang bikin Nandin seperti ini siapa?"
Hening.
Bu Sri langsung diam.
Karena untuk pertama kalinya seseorang mengatakannya terang-terangan.
Keesokan harinya.
Percakapan tentang rumah sakit jiwa mulai menyebar.
Dan ternyata respons warga sangat keras.
Sangat keras.
"Akal sehat nggak sih?"
"Yang bikin sakit mereka."
"Terus mau dibuang ke rumah sakit jiwa?"
"Kalau begitu laporkan saja."
"Kasihan anak-anaknya."
"Kasihan Nandin."
Bahkan beberapa warga mulai mengancam.
Kalau Bu Sri memaksa memasukkan Nandin ke rumah sakit jiwa tanpa prosedur yang benar.
Mereka akan melapor ke dinas sosial.
Dan ancaman itu membuat Bu Sri ketakutan.
Karena untuk pertama kalinya.
Orang kampung benar-benar berada di pihak Nandin.
Bukan dirinya.
Akhirnya Wisnu membawa Nandin ke dokter spesialis kejiwaan.
Dokter itu memeriksa cukup lama.
Kemudian menghela napas.
"Pasien mengalami trauma berat."
Wisnu terdiam.
"Apakah harus dirawat di rumah sakit jiwa?"
Dokter langsung menggeleng.
"Tidak."
"Kondisinya belum seperti itu."
"Tapi dia membutuhkan rehabilitasi."
"Rehabilitasi?"
"Iya."
"Tempat yang tenang."
"Tempat dengan pendampingan."
"Dan lingkungan yang mendukung proses pemulihan."
Dokter lalu menyebut sebuah tempat.
Sebuah pondok rehabilitasi kesehatan mental di Jawa Timur.
Tempat yang selama ini membantu orang-orang dengan trauma berat.
Dan tanpa mereka sadari.
Tempat itulah yang kelak akan mengubah hidup Nandin.
Selamanya.
Sementara itu.
Di sisi lain.
Kehidupan Seline juga tidak berjalan mulus.
Setelah pernikahan batal.
Rumahnya menjadi bahan pembicaraan satu desa.
Banyak warga yang mencemooh.
Bukan karena dia gagal menikah.
Tapi karena dia tetap mempertahankan hubungan itu.
Padahal sudah tahu semuanya.
Suatu sore.
Ayahnya kembali mencoba bicara.
"Seline."
"Apa?"
"Kamu masih mau sama dia?"
Seline menatap lantai.
Lalu mengangguk.
"Iya."
Ayahnya sampai tidak percaya.
"Setelah semua ini?"
"Iya."
"Setelah lihat istrinya?"
"Iya."
"Setelah lihat anak-anaknya?"
Seline menangis.
Namun jawabannya tetap sama.
"Iya.”
Ayahnya memukul meja.
Brak!
"Kamu sudah nggak waras."
"Terserah Bapak."
"Aku tetap cinta Mas Wisnu."
Dan kalimat itu membuat seluruh keluarganya menyerah.
Karena terkadang seseorang tidak bisa ditolong sebelum dia sendiri ingin ditolong.
Kembali ke Jawa Timur.
Kondisi Nandin semakin mengkhawatirkan.
Malam hari dia menangis memanggil ibunya.
Pagi hari dia mencari ayahnya.
Siang hari dia bisa tertawa melihat tembok kosong.
Sore hari dia bisa duduk berjam-jam menatap jalan.
Dan yang paling menyakitkan...
Kadang dia bahkan lupa bahwa Shella dan Sherly adalah anaknya.
"Mbak."
kata Bu Rini suatu hari.
"Itu anakmu."
Nandin menatap kedua anak kecil itu.
Lama.
Sangat lama.
Lalu bertanya.
"Siapa?"
Air mata Bu Rini langsung jatuh.
Karena tidak ada pemandangan yang lebih menyakitkan daripada seorang ibu yang mulai kehilangan ingatan terhadap anak-anaknya sendiri.
Malam itu.
Wisnu duduk sendirian di teras rumah Bu Sri.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun.
Dia merasa takut.
Karena semua yang terjadi sudah jauh melampaui yang dia bayangkan.
Awalnya dia hanya ingin menikah lagi.
Awalnya dia hanya ingin memulai hidup baru.
Namun sekarang.
Ada seorang perempuan yang kehilangan kewarasannya.
Dua anak kecil yang kehilangan ibunya sedikit demi sedikit.
Dan satu kampung yang memandang dirinya sebagai penyebab semua itu.
Di kejauhan.
Lampu kontrakan Pak Darto masih menyala.
Tempat Nandin tinggal selama bertahun-tahun.
Tempat dia membesarkan Shella dan Sherly.
Tempat yang kini terasa semakin sunyi.
Sementara jauh di Jawa Barat.
Rumah peninggalan kedua orang tuanya berdiri kosong.
Halamannya mulai ditumbuhi rumput.
Cat tembok mulai memudar.
Tidak ada yang tinggal di sana.
Namun rumah itu tidak dijual.
Tidak ditinggalkan begitu saja.
Karena kakak dari mendiang ibunya yang tinggal di Kalimantan ketika mendengar kabar Nandin mengalami serangan gangguan mental akut masih rutin membayar pajaknya.
Masih merawat surat-suratnya.
Masih menjaganya.
Bahkan semua barang didalam rumah hingga mobil peninggalan orang tuanya Nandin.
Dengan satu harapan sederhana.
Suatu hari nanti.
Kalau Nandin sembuh.
Kalau hidupnya membaik.
Kalau luka-lukanya mulai pulih.
Dia masih punya rumah untuk pulang.
Masih punya tempat untuk memulai hidup lagi.
Namun untuk saat ini.
Semua itu masih terasa sangat jauh.
Karena esok hari.
Wisnu dan Bu Sri akan membawa Nandin ke pondok rehabilitasi di Jawa Timur.
Tempat yang belum pernah mereka kunjungi.
Tempat yang asing.
Tempat yang akan menjadi awal dari Arc baru dalam hidup Nandin.
Dan tidak ada seorang pun yang tahu.
Bahwa di tempat itulah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Takdir akan mempertemukannya dengan seseorang yang perlahan mengajarinya arti rumah yang sesungguhnya.