“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Elowen duduk di sisi ranjangnya, melihat para pelayan yang sibuk memindahkan barang-barangnya.
Seolah diburu waktu, para pelayan itu bahkan tidak sadar kalau Elowen sedari tadi memperhatikan mereka. Elowen membuka bibirnya, sambil mengangkat tangan ketika seseorang memindahkan salah satu meja.
Meja itu adalah tempat Elowen menulis catatan hariannya. Ia ingin mencegah pelayan itu untuk tidak menyentuhnya. Namun, hanya suara desahan lirih yang keluar dari bibir mungilnya. “Akh,” desahnya kecewa.
Nyonya Wilson yang menyadari bahwa Elowen ingin mengatakan sesuatu langsung mendekat. “Anda butuh sesuatu, Yang Mulia?” tanyanya.
Elowen sempat menoleh, bibirnya menekan rapat, ragu untuk sekedar bilang bahwa pelayan tidak perlu memindahkan barang-barangnya ke kamar Cassian.
Tapi, tentu saja itu tidak masuk akal. Jadi Elowen hanya menggeleng.
Nyonya Wilson mengangguk mengerti dan kembali mengawasi para pelayan mengerjakan pekerjaan mereka.
Karena tidak ada yang bisa Elowen lakukan di sana. Elowen memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.
Wanita itu berdiri dari tempatnya.
“Yang Mulia, anda mau kemana?” tanya Nyonya Wilson pada Elowen.
Elowen tersenyum tipis, kemudian menunjuk ke luar kamar.
“Anda mau berjalan-jalan di luar?” tanya Nyonya Wilson menebak.
Elowen tersenyum dan mengangguk.
Sepertinya Nyonya Wilson adalah satu-satunya orang yang mungkin mengerti Elowen. Wanita paruh baya itu bahkan tahu yang ingin dilakukannya tanpa Elowen harus menulis di catatan.
Syukurlah, dari semua orang yang tidak Elowen kenal di kastil besar ini. Elowen senang bisa mengenal Nyonya Wilson yang baik.
Lihat saja, setelah Elowen mengangguk, wanita itu berbalik menyambar sebuah mantel lalu membantu memasangkannya di tubuh Elowen.
“Udara malam di luar sangat dingin. Anda akan memerlukan ini untuk menjaga tubuh Anda tetap hangat,” ucap Nyonya Wilson.
“Terima kasih Nyonya Wilson,” tulis Elowen di catatannya.
Nyonya Wilson mengangguk dengan senyum ramahnya yang khas. “Dengan senang hati, Your Grace,” balasnya, kemudian dia memanggil seorang pelayan perempuan yang cukup muda mendekat. “Naima!”
“Saya Nyonya Wilson?” seorang pelayan bernama Naima mendekat.
“Temanilah Duchess berjalan-jalan,” perintah Nyonya Wilson.
Elowen langsung menoleh ke arah kepala pengurus rumah tangga itu. Matanya melebar, kenapa Nyonya Wilson meminta pelayan untuk menemaninya.
“Saya tidak bisa menemani anda karena harus mengawasi yang lainnya. Naima akan mendampingi anda menggantikan saya.” Ujar Nyonya Wilson.
Padahal, Elowen bisa sendiri.
“Aku tidak perlu pengawal, Nyonya Wilson. Aku hanya jalan-jalan di sekitar kastil,” Elowen mengangkat catatannya.
“Tetap saja harus ada yang menemani Anda, Your Grace.”
Sepertinya Nyonya Wilson tidak bisa dibantah lagi. Akhirnya mau tidak mau Elowen menurut.
Sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya. Elowen pun mengangguk, lalu pergi ditemani oleh Naima.
Naima ternyata perempuan muda yang sangat ceria. Baru saja beberapa menit berjalan, Naima sudah banyak sekali bercerita.
“Saya sangat mengagumi Anda,” kata pertama yang keluar dari bibir Naima ketika berjalan bersama Elowen.
Elowen mengedipkan matanya, sambil memiringkan kepala. Seolah bertanya, benarkah? Bibir Elowen mencetak senyuman ramah.
“Saya juga punya saudara perempuan seperti anda di rumah. Namanya Neira, dia juga tidak bisa bicara. Saat melihat Anda, saya berharap suatu saat nanti dia juga bisa menemukan pasangan sehebat Duke of Clyvedon.”
Naima terlihat berbinar ketika bercerita tentang hidupnya.
Seumur hidup Elowen baru pertama kali ada orang yang kagum kepadanya. Meski rasa kagum itu sebenarnya agak keliru.
Elowen menulis di buku catatannya.
“Apa menikah dengan seorang Duke itu hebat untukmu, sampai kau mendoakan adikmu seperti itu?”
Naima mengerutkan keningnya, menatap catatan Elowen lama. Tidak semua pelayan bisa membaca dengan cepat.
Elowen pun sabar menunggu Naima selesai membaca catatannya meski harus memakan waktu lebih lama.
“Tentu saja, Yang Mulia.” Jawab Naima dengan menggebu-gebu. “Anda tidak tahu? Setahu saya standar pernikahan keluarga bangsawan itu sangat ketat,” ucapnya, lalu sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah sendu. “Siapa laki-laki yang mau menikah dengan perempuan bisu…” lirihnya.
Deg.
Elowen membeku. Tangannya meremas pena sampai tintanya meleber mengotori telapak tangannya.
“Oh!” pekik Naima. “Yang Mulia, tangan Anda…” Naima menunjuk tangan Elowen yang sudah menghitam karena kantung tinta penanya pecah.
Elowen menunduk melihat ke arah yang sama. Buru-buru dia menjauhkan tangannya agar tidak mengotori gaun.
“Saya akan mengambil kain untuk menyekanya. Yang Mulia tolong tunggu sebentar.” Naima berlari mencari kain.
Sementara Elowen duduk di tepi jendela kastil. Wanita itu termenung dengan pandangan yang menerawang jauh. Kata-kata Naima sungguh mengganggu pikiran Elowen.
Siapa laki-laki yang mau menikah dengan perempuan bisu…?
Naima benar, standar pernikahan bangsawan cukup ketat. Bahkan sebelum ini, Elowen tidak pernah dipertimbangkan untuk mengikuti pasar pernikahan.
Kalau saja Cleona tidak pergi, apa mungkin Elowen akan menikah dengan Cassian?
Elowen hanya rencana cadangan, yang tidak pernah dipertimbangkan dari awal. Sampai sekarang, Elowen masih belum tahu kenapa Cassian memilihnya sebagai istri.
Duke of Clyvedon itu bisa saja menikah dengan wanita yang lebih baik daripada Elowen.
Saat Elowen masih termenung, seseorang berjalan mendekat ke arahnya.
“Sedang apa kau di sini?”
Elowen mengangkat wajahnya, alisnya terangkat. Lalu, buru-buru berdiri kemudian menunduk hormat seolah memberi sapaan paling ramah.
Lady Valerie memandang remeh Elowen.
“Apa yang kau tawarkan kepada Cassian sampai dia memilih menikahimu, hah?” tanya Lady Valerie ketus.
Elowen mengangkat kepalanya. Wanita itu menggeleng, tidak mengerti dengan pertanyaan ibu kandung Cassian itu.
Dia memang tidak menawarkan apa-apa untuk Cassian. Pria itu sendiri yang tiba-tiba ingin menikahinya.
Elowen menunduk mencari catatan kecilnya. Namun, kemudian dia sadar tidak bisa menulis karena pena di tangannya sudah rusak.
Alhasil, Elowen hanya menunduk tidak berani menatap Lady Valerie.
Lady Valerie menggeleng, rahangnya mengeras. Emosi sudah menguasai ibu kandung Cassian, sampai akhirnya dia tega meremas dagu Elowen.
Elowen memejamkan mata menahan sakit yang amat dari cengkeraman tangan Lady Valerie.
“Jawab aku! Kau pasti menggodanya dengan sikap rendahanmu itu kan?” geram Lady Valerie.
“Egh,” hanya suara erangan lirih yang keluar dari bibir Elowen.
“Kenapa bisa anakku menikah dengan wanita bisu sepertimu! Sampai kapanpun aku tidak akan rela!” Lady Valerie melepaskan cengkeramannya dari Elowen. Kemudian pergi begitu saja setelah mendorong Elowen hingga membentur dinding kastil.
Elowen terbatuk-batuk, dengan matanya yang menatap punggung Lady Valerie yang berjalan menjauh.
Ternyata selama ini Elowen tidak pernah benar-benar diterima dimanapun.
Elowen terduduk di lantai kastil. Tanpa sadar air matanya jatuh.
Tak selang berlama lama setelah itu. Langkah kaki kembali terdengar mendekat. Kali ini, Elowen tidak berniat mencari tahu siapa yang datang.
“Apa yang kau lakukan di tanah?” suara berat Cassian terdengar dari belakang Elowen.
Elowen mengangkat kepalanya, kemudian menoleh ke belakang. Benar saja, pria itu berdiri tepat di belakangnya.
Cassian mengerutkan kening, melihat begitu berantakan keadaan Elowen. Dia merendahkan dirinya. “Apa yang terjadi?” tanyanya sambil memegang tangan Elowen yang menghitam karena cairan tinta dari pena.
Tatapan cemas dari Cassian membuat Elowen menatap suaminya itu penuh tanda tanya. Apa ini benar-benar kepedulian? Atau hanya sebuah rasa kasihan?
***
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer