Setiap kisah cinta mempunyai cerita sendiri, memiliki awal dan akhir yang berbeda, bukan? Setiap pasangan pasti ingin perjalanan cintanya berakhir bahagia,bukan? Tapi... pasti juga akan ada pasangan yang berakhir menyedihkan, iyakan?
Lalu bagaimana akhir dari perjalanan cinta Ketua Tim Basket dan Ratu Es sekolah?
ikuti kisah mereka dalam novel ku yang kedua.
'journey of love'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurFitriAnisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Surat Reno
"Apa ini Ma?"
"Surat dari calon suamimu."
Setelah mendengar ucapan Ibuku, itu membuat hatiku berbunga-bunga. Aku tersenyum dengan lebatnya sendiri sambil menerima surat itu. Dan tanpa sadar mataku mulai berair. Segera saja kupeluk erat tubuh kecil Ibuku.
"Ma, kalau aku sudah nikah aku masih anak kesayangan Mama, kan?" Tanyaku tiba-tiba.
"Tentu saja! Kamu masih anak kesayangan Mama, mau kamu sudah nikah atau sudah punya anak, kamu tetap anak perempuan mama satu-satunya," ucap Ibuku.
"Kecuali, ketiga Kakak kamu sudah nikah nanti, itu lain lagi ceritanya, hehehe." Lanjut Ibuku.
"He, padahal aku sudah terharu, loh." Ucapku.
"Hehehe, ya, maaf."
"Kamu, jangan sedih gitu dong, meski kamu sudah nikah kamu tetap anak perempuan kesayangan mama, kok." Ucap Ibuku.
Aku memeluk lagi Ibuku, mengucapkan terimakasih sudah menerima lamaran Reno dan Keluarganya. Menurutku, Restu dari orang tua itu sangat penting. Maka, jika orang tuaku tidak setuju, aku pun tidak akan menyetujui lamaran Reno.
"Sudah-sudah, bisa sesak napas Mama kalau begini." Ucap Ibuku.
Aku segera melepaskan pelukan ku, setelah mendengar Ibuku berkata seperti itu. Setelah lepas dari pelukanku Ibuku berjalan ke arah dapur.
Aku bergegas ke kamarku untuk menaruh surat dari Reno di atas meja belajar. Tak sabar rasanya ingin melihat isi surat tersebut. Tapi aku harus membantu Ibuku mencuci dulu semua piring kotor didapur.
Setelah selesai, aku segera menuju ke kamar. Aku melihat Amplop putih yang di kirimkan Reno untukku. Tapi, aku berpikir. "Mengapa dia menulis surat untukku? Bukankah dia bisa mengirim pesan saja ke ponselku? Mengapa dia repot-repot menulis surat untukku?"
Meski begitu, aku tetap saja bahagia menerima surat darinya. Rasa gugup meliputi aku saat ingin membuka Surat dari Reno itu, yah, mungkin tepatnya aku bisa mengatakan Surat Cinta dari Reno. Perlahan dan dengan hati-hati kubuka surat itu. Isinya.
Assalamu'alaikum. Wr. Wb.
Untuk kekasih hatiku.
Raina Puteri Permatasari.
Di tempat
Kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa aku menulis surat ini? Mengapa tidak mengirimkan pesan saja ke ponsel mu?
Sebab, aku ingin kamu menyimpan surat ini, di tempat kamu menyimpan barang-barang yang berharga bagimu. Dan berharap kamu bisa merasakan apa yang kurasakan saat ini. Aku sebenarnya tidak tahu harus memulai dari mana, haruskah aku memulainya saat pertama kali aku melihatmu? Atau saat kita berjumpa kembali setelah dua tahun?
Mungkin, kamu masih beranggapan waktu pertama kali kita bertemu adalah saat kamu di UKS, kan? Tapi, kamu salah, sebelum itu kita sudah pernah bertemu, kamu bahkan memarahiku saat itu.
Biar aku memberitahu kamu dimana sebenarnya pertemuan pertama kita. Kita bertemu pertama kali adalah di lapangan perumahan di kota S, saat itu, aku dan teman-temanku sedang bermain bola basket disana, sedangkan kamu dan temanmu ingin bermain bulutangkis disana. Akan tetapi, aku dan teman-temanku, kami ... hampir menguasai seluruh lapangan.
Aku ingat kalimat pertama yang kamu katakan padaku, kamu bilang. "Lapangan ini milik bersama, mengapa kalian menguasai semua lapangan?! Kami juga ingin bermain disini!"
Saat itu, aku sudah mulai menaruh hati ku padamu, aku jatuh hati kepada gadis yang baru saja memarahi aku, aku aneh bukan? Aku malah menyukai orang yang memarahiku, hehehe.
Setelah itu, Aku mulai mencari informasi tentangmu, dan aku baru tahu ternyata kamu juga bersekolah di sekolah yang sama denganku, bahkan kamu adalah Wakil Ketua Osis yang sering di bicarakan oleh teman-temanku! Wakil Ketua Osis yang orangnya sulit untuk di dekati!
Sejak mengetahui bahwa aku dan kamu satu sekolah, Aku selalu mencari cara agar bisa berbicara lagi denganmu, dan sepertinya Tuhan mendengar keinginanku. Kesempatan untuk berbicara denganmu muncul di hadapanku.
Sebenarnya, bukan aku yang melempar bola basket kearahmu, itu ulah rekan tim ku. Tapi, melihat kamu yang terkena bola saat itu, aku langsung bergegas menghampirimu dan membawa kamu ke UKS. Inilah pertemuan pertama kita, bagimu.
Juga, soal rumor yang tersebar di sekolah, yang mengatakan bahwa aku dan kamu adalah sepasang kekasih, sebenarnya itu adalah ulahku, aku yang meminta mereka melakukan itu, aku ingin melihat respon kamu dalam menanggapi rumor tersebut. Karena aku tidak melihat kamu menolak rumor tersebut, membuat aku berpikir bahwa kamu menyetujui perkataan mereka, yang mengatakan aku dan kamu adalah sepasang kekasih. Hal itulah yang membuat aku berani mengatakan perasaanku padamu. Tapi, ternyata aku salah, aku malah di tolak olehmu.
Aku cukup terpukul oleh penolakanmu yang pertama, hingga aku berpikir, aku dan kamu tidak bisa berteman kembali, dan aku tidak akan bisa melihatmu tersenyum lagi padaku, sebab mengindari aku.
Beruntung aku memiliki orang tuaku, mereka memberikan aku solusi agar kamu percaya bahwa aku benar-benar menyukaimu, itu sebabnya, mereka memintaku agar menunjukkan arah ke rumahmu.
Aku sebenarnya ingin memberitahu kamu, soal kecelakaan yang menimpaku dua tahun lalu. Tapi, aku berpikir lagi, kecelakaan yang menimpaku adalah kenangan buruk bagi aku, kamu, dan semua orang yang menyayangiku. Maka, aku putuskan untuk tidak mengungkitnya lagi!
Aku hanya ingin menulis dan memberitahu kamu, hal-hal yang bisa membuatmu tersenyum saja!
Yang terakhir yang ingin aku katakan padamu adalah Aku sangat berterimakasih kepada Allah swt, karena-Nya lah, aku bisa menemukanmu lagi, jika tanpa-Nya, aku mungkin tidak bisa bertemu denganmu lagi.
Terimakasih sudah menerima lamaranku.
Aku Mencintaimu.
Wassalamu'alaikum. Wr. Wb.
Dari seorang pria yang insyaallah akan selalu membuatmu tersenyum bahagia.
Reno Askara.
Aku membaca surat dari Reno, dan tanpa sadar air mataku sudah membasahi kedua pipiku, aku juga tidak tahu mengapa aku menangis? Mungkin ini yang dikatakan oleh orang-orang, menangis karena bahagia!
Yah, saat ini hatiku bagai lautan bunga yang sedang mekar, saking bahagianya. Aku sudah tidak bisa lagi mengungkapkan rasa bahagia, serta rasa syukur ku pada Allah swt.
Aku masih tidak percaya! Kami, Aku dan Arzil memang tidak akan pernah bersama, itu sudah di takdirkan oleh pemilik alam semesta! Tapi, Tuhan memiliki takdir lain untuk Aku dan Arzil.
Meski Tuhan tidak memasangkan aku dengan Arzil, melainkan dengan Reno! Yang pada akhirnya mereka adalah orang yang sama.
Aku masih terlalu senang, hingga aku berpikir mungkin aku tidak bisa tidur malam ini! Aku takut jika keesokan harinya ketika aku bangun, yang kudapati adalah semua ini hanya bunga tidur ku saja!
Menepis semua pikiran buruk itu, Aku berusaha menenangkan hati dan pikiranku agar bisa memejamkan mata. Sebab, besok aku masih harus bersekolah. Setelah merasa tenang, perlahan aku mulai memejamkan mataku, dan mulai masuk kedalam alam mimpi.
...~~~...
🤔 cerita apa ya ku penasaran