Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Kebohongan di balik Pondok Kayu
Suara ketukan kapak yang menghantam kayu gelondongan terdengar berirama dari halaman depan, memecah kesunyian Hutan Bambu Ungu. Setiap hantaman terdengar konstan, mencerminkan tenaga yang stabil dan tanpa cela.
Di dalam kamar, Shen Liya bersandar pada dinding tempat tidur kayu yang keras. Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, sementara jemarinya meremas pinggiran selimut katun kasar yang membungkus tubuhnya. Matanya menatap lurus ke arah jendela, tetapi pikirannya melayang jauh.
Rasa hangat menjalar di bawah pusat energinya (dantian). Itu adalah fenomena yang sangat aneh. Jiwanya yang semalam hampir hancur lebur oleh keganasan Jue Qing San, kini terasa begitu tenang—terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja lolos dari maut. Di dalam meridian tubuhnya, sisa-sisa energi dingin murni milik sang tabib fana masih mengalir, melingkari inti sucinya seperti untaian benang sutra yang melindungi kaca rapuh.
Namun, di tengah ketenangan spiritual itu, ada riak energi lain yang sangat halus. Riak itu begitu samar, berdenyut pelan di dalam rahimnya seirama dengan detak jantungnya sendiri. Shen Liya meletakkan telapak tangannya di atas perutnya yang masih rata. Sebagai seorang dewi, ia memiliki kepekaan insting yang tinggi terhadap penciptaan kehidupan.
Apakah... energi penyatuan semalam telah menyalakan percikan baru?
Sebuah debaran ketakutan sekaligus kebingungan melanda hatinya. Penyatuan spiritual antara dewa tingkat tinggi dan makhluk lain selalu membawa kemungkinan besar lahirnya keturunan.
Jika benar benih kehidupan telah tertanam di rahimnya akibat peristiwa darurat semalam, maka takdirnya akan menjadi seratus kali lipat lebih rumit. Anak itu akan lahir tanpa pengakuan dari langit, memikul darah seorang dewi pelarian dan... seorang manusia fana.
Suara langkah kaki yang mendekat membuyarkan lamunan Shen Liya. Ia langsung menarik tangannya dari perut, menegakkan punggung, dan memasang kembali wajah dingin penuh kewaspadaan saat pintu kamar berderit terbuka.
Gu Jue melangkah masuk. Jubah rami abu-abunya sedikit kotor oleh serpihan kayu, dan beberapa bulir keringat tampak menempel di pelipisnya, menambah kesan jantan pada garis wajahnya yang tegas. Di tangannya, ia kembali membawa mangkuk tanah liat berisi cairan hitam yang mengepulkan uap panas.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan mangkuk itu di atas meja kecil di samping ranjang dengan ketukan pelan.
"Ini obat baru. Aku mengganti beberapa akarnya agar tidak terlalu pahit," ujar Gu Jue datar, tanpa menatap langsung ke arah mata Shen Liya. Ia beralih merapikan beberapa gulungan perkamen obat di sudut meja.
Shen Liya menatap mangkuk itu, lalu beralih menatap punggung tegap Gu Jue. Rasa canggung yang membungkus ruangan ini begitu pekat hingga rasanya sulit untuk bernapas. Mengingat bagaimana tubuh mereka saling memeluk dan menjalin energi semalaman, berada di dalam satu ruangan yang sama dalam kondisi sadar seperti ini terasa seperti sebuah siksaan mental.
"Aku... aku tidak butuh obatmu, Tuan Gu Jue," suara Shen Liya terdengar lebih pelan dari sebelumnya, kehilangan sebagian besar amarahnya yang meledak-ledak tadi pagi. Yang tersisa hanyalah harga diri yang defensif.
"Tubuhku sudah jauh lebih baik. Aku bisa memulihkan diri dengan meditasiku sendiri."
Gu Jue menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Shen Liya dengan sepasang mata sehitam tinta yang tajam dan tidak terbaca.
"Meditasi?" Gu Jue mendengus tipis, sebuah tawa hambar yang terdengar dingin. "Kau mengira tubuhmu sembuh karena kekuatan gaibmu? Jika bukan karena ramuan herbal yang kuseduh sepanjang pagi dan fakta bahwa aku harus berbagi energi hidupku semalaman, saat ini kau bahkan tidak akan memiliki mulut untuk menolak obat ini."
Wajah Shen Liya merona merah mendengar kalimat "berbagi energi hidupku semalaman". Memori penglihatan tentang dada bidang pria ini dan sentuhan kulit mereka yang intim kembali berputar di kepalanya tanpa permisi.
"Kau... kau tidak perlu terus-menerus mengingatkanku tentang apa yang terjadi semalam!" potong Shen Liya dengan gugup, memalingkan wajahnya ke arah jendela demi menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Aku tahu kau melakukannya demi menyelamatkanku. Aku bersyukur untuk itu. Tapi bukan berarti kau bisa bersikap sombong dan mengaturku seolah aku adalah pelayanmu."
Gu Jue berjalan mendekat hingga bayangan tubuhnya yang tinggi besar mengurung posisi Shen Liya di atas ranjang. Ia membungkuk sedikit, menumpu sebelah tangannya di atas sandaran ranjang kayu, tepat di samping kepala sang Dewi. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau kayu kering dari tubuh Gu Jue seketika mengunci indra Shen Liya, membuatnya menahan napas.
"Aku tidak mengaturmu, Nona Asing," bisik Gu Jue, suaranya rendah dan sarat akan intimidasi yang tertahan. "Aku hanya memastikan investasiku tidak sia-sia. Aku sudah mengorbankan kesucian dan energiku untuk menyelamatkanmu dari racun supernatural itu. Jika kau mati sekarang hanya karena menolak minum obat, maka akulah yang rugi besar di sini."
Shen Liya menoleh kembali, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Gu Jue yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Jarak mereka hanya berkisar belasan senti. Untuk sesaat, Shen Liya terpaku. Di dalam kedalaman mata pria fana ini, ia seperti melihat sebuah ruang hampa yang sangat luas, sesuatu yang tidak mencerminkan jiwa seorang manusia biasa yang berumur pendek. Ada aura keagungan yang tertekan dengan sangat rapi di balik pakaian kumalnya.
Siapa sebenarnya pria ini? batin Shen Liya bertanya-tanya. Namun, egonya menolak untuk menggali lebih dalam. Baginya, semakin sedikit ia tahu tentang manusia ini, semakin aman pria ini dari jangkauan amarah Dewa Tinggi Ling Cang kelak.
"Jauhkan tubuhmu," desis Shen Liya, mencoba mendorong dada Gu Jue dengan telapak tangannya. Namun, begitu telapak tangannya menyentuh dada bidang tersebut, ia merasa seolah sedang mendorong sebuah dinding batu yang kokoh. Pria itu tidak bergeming sedikit pun.
Gu Jue menatap tangan kecil Shen Liya yang bersandar di dadanya, lalu perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.
"Minum obatnya selagi panas. Kamar mandi ada di bagian belakang pondok jika kau ingin membersihkan diri. Pakaian bersih milik ibuku yang sudah lama meninggal ada di dalam lemari itu. Pakailah," kata Gu Jue, menunjuk sebuah lemari kayu tua di sudut ruangan sebelum ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban.
Pintu kayu kembali tertutup. Shen Liya menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang menumpuk di dadanya. Ia memandang mangkuk obat tanah liat itu sekali lagi. Kali ini, ia tidak menolaknya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengangkat mangkuk tersebut dan meminum cairannya hingga tandas. Rasanya memang pahit di awal, namun begitu melewati tenggorokannya, sebuah rasa hangat yang lembut langsung menyebar, menenangkan gejolak aneh yang sempat ia rasakan di rahimnya tadi.
Setelah merasa tenaganya sedikit pulih, Shen Liya turun dari tempat tidur. Langkah kakinya masih agak goyah, tetapi ia berhasil berjalan menuju lemari kayu yang ditunjukkan Gu Jue. Di dalamnya, tersusun rapi beberapa helai gaun kain katun sederhana berwarna biru muda dan putih. Pakaian manusia fana yang jauh dari kemegahan kain sutra langit miliknya.
Ia mengambil sehelai gaun katun berwarna biru muda polos, lalu berjalan ke bagian belakang pondok untuk membersihkan diri.
Setengah jam kemudian, Shen Liya keluar dari pondok. Rambut hitam panjangnya yang basah dibiarkan terurai menutupi bahunya, bergoyang lembut ditiup angin hutan pagi. Gaun katun fana itu ternyata sangat pas di tubuhnya, membungkus lekuk tubuh anggun sang Dewi dengan kesederhanaan yang justru memancarkan pesona alami yang luar biasa.
Di halaman depan, Gu Jue sedang sibuk menyusun potongan kayu yang telah dibelah ke dalam rak penyimpanan. Mendengar langkah kaki, pria itu menoleh. Untuk sekilas, gerakan tangan Gu Jue terhenti. Sepasang matanya terpaku melihat penampilan baru Shen Liya.
Gaun sederhana itu tidak mampu menyembunyikan aura suci dan kecantikan mistis yang melekat pada diri sang Dewi. Wanita ini tampak seperti sekuntum bunga teratai murni yang mekar di tengah lumpur dunia fana.
Namun, Gu Jue dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia membuang muka dan kembali menyusun kayu dengan acuh tak acuh.
"Kau terlihat lebih mirip manusia sekarang," komentar Gu Jue pendek.
Shen Liya berjalan mendekat, menghentikan langkahnya beberapa meter di dekat rak kayu. Ia menatap Hutan Bambu Ungu yang mengelilingi tempat itu. Kabut tebal tampak berputar-putar di antara batang-batang bambu, menciptakan batas pemisah yang kokoh dengan dunia luar.
"Hutan ini... memiliki pelindung yang sangat kuat," ujar Shen Liya, menyuarakan kecurigaannya. Sebagai seorang dewi, ia tahu perisai tak kasat mata yang mengurung pondok ini bukanlah sesuatu yang bisa dibuat oleh tabib biasa. "Kau bilang kau hanya manusia fana, Tuan Gu Jue. Tapi perisai yang menyembunyikan tempat ini... frekuensinya terlalu pekat untuk ukuran sihir manusia."
Gu Jue tidak menghentikan pekerjaannya. "Dunia fana ini luas, Nona. Ada banyak kultivator manusia yang mempelajari ilmu gaib demi melindungi diri dari binatang buas atau gangguan bandit. Aku hanya menggunakan sedikit trik warisan kuno untuk memastikan ketenanganku tidak terusik. Jika kau merasa perisai ini aneh, itu hanya karena kau terlalu banyak mencurigai orang yang sudah menyelamatkan nyawamu."
Mendengar jawaban defensif tersebut, Shen Liya memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia tahu setiap orang memiliki rahasia yang ingin dijaga.
Ia berjalan menuju sebuah rak anyaman bambu kosong yang terletak di bawah sinar matahari. "Ada yang bisa kubantu? Aku tidak suka tinggal menumpang tanpa melakukan apa pun."
Gu Jue menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Seorang wanita yang bahkan tidak bisa memegang jarum tanpa gemetar ingin membantuku? Masuklah ke dalam dan istirahat. Kau hanya akan merusak tanaman obatku jika mencoba menyentuhnya."
"Aku bisa belajar!" bantah Shen Liya, egonya sebagai dewi tertinggi terusik oleh nada remeh pria fana ini. Ia melangkah maju, meraih sekeranjang daun obat hijau yang baru dipetik dari meja luar. "Hanya menjemur daun seperti ini, kan? Aku tidak selemah yang kau kira."
Gu Jue hanya menghela napas panjang, membiarkan wanita itu melakukan apa yang diinginkannya sembari terus mengawasi dari sudut matanya.
Matahari kian meninggi di atas Hutan Bambu Ungu. Di halaman pondok terpencil itu, untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun hidup di atas kemegahan langit yang dingin dan penuh kepalsuan, Shen Liya merasakan sebuah kehangatan yang sangat sederhana. Sembari membalik daun-daun obat di bawah terik matahari, sesekali matanya mencuri pandang ke arah Gu Jue yang bekerja dalam diam di seberang halaman.
Ia tidak tahu berapa lama kedamaian terisolasi ini akan bertahan sebelum bayangan zirah emas Ling Cang menemukan tempat ini. Namun, di dalam relung rahimnya, denyut spiritual kecil itu kembali bergetar halus—sebuah pengingat bisu bahwa apa pun yang terjadi di masa depan, sekerat takdir dari malam itu kini telah mengakar dan tumbuh di dalam dirinya, mengikat jiwanya dengan sang tabib fana selamanya.