Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa, dan keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 29.
Ruang ICU dipenuhi cahaya putih yang dingin.
Mesin monitor berdetak pelan.
Bip… bip… bip…
Angkasa terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Wajahnya pucat, napasnya teratur namun lemah. Perban tebal membungkus bagian perutnya.
Arunika berdiri di samping tempat tidur itu, tatapannya terus tertuju pada pria yang baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya.
Beberapa jam telah berlalu sejak operasi selesai, namun ia masih belum pergi.
Di sudut ruangan, seorang wanita berdiri dengan wajah tegang.
Veronica.
Tatapannya tidak pernah lepas dari Arunika sejak tadi, namun tatapan itu bukanlah rasa terima kasih, melainkan sesuatu yang jauh lebih tajam.
Kebencian.
Akhirnya Veronica berjalan mendekat, sepatu haknya terdengar jelas di lantai ruang ICU yang sunyi.
“Arunika.” Nada suara wanita itu terdengar dingin. Veronica tak lagi berusaha menyembunyikan sikapnya—ia jelas menunjukkan bahwa dirinya memang tidak menyukai Arunika.
Arunika menoleh perlahan.
Veronica menatapnya beberapa detik.
“Aku baru saja mendapat laporan dari keamanan.” Tatapannya semakin tajam. “Bang Angkasa tertembak... karena melindungimu.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
Ekspresi Arunika tetap tenang. “Itu benar.”
“Apa itu membuatmu merasa tersentuh?” Veronica tertawa kecil, namun tawa itu sama sekali tidak hangat.
Arunika tidak menjawab.
Veronica melanjutkan dengan nada yang semakin tajam. “Bang Angkasa tidak pernah melakukan hal sebodoh ini sebelumnya.”
Tatapan Veronica turun pada wajah Angkasa yang pucat, lalu kembali menatap Arunika. “Dia selalu rasional dan selalu berhati-hati. Tapi begitu menyangkut dirimu… dia bahkan tidak ragu menghadang peluru.”
Suasana di ruang ICU menjadi sunyi.
Arunika menatap Veronica dengan datar. “Apa yang ingin kau katakan?”
“Aku ingin kau menjauh darinya.” Veronica menatapnya tajam.
Kalimat itu diucapkan tanpa basa-basi.
Arunika sedikit mengangkat alis. “Kenapa?”
“Jangan pura-pura bodoh.” Veronica terkekeh kecil, Ia melipat tangannya. “Semua orang di rumah sakit ini mungkin mengagumimu.”
“Dokter jenius.”
“Wanita hebat.”
“Cantik.”
“Tapi bagiku… kau hanya masalah.”
Tatapan Veronica kini benar-benar dingin. “Aku sudah berada di sisi Bang Angkasa selama bertahun-tahun. Dan aku... tidak akan membiarkan seorang wanita yang baru muncul tiba-tiba membuatnya mempertaruhkan nyawanya seperti ini.”
“Jadi... ini tentang perasaanmu.” Arunika tidak terlihat tersinggung dan berkata tenang.
Veronica tidak menyangkal. “Benar, aku mencintainya.”
Kalimat itu diucapkan dengan tegas, tanpa rasa malu sedikit pun.
“Aku tidak peduli orang lain menganggapku adik angkatnya. Bagiku, dia adalah pria yang ingin aku miliki.”
Tatapan Veronica semakin tajam. “Dan kau…”
Ia menunjuk Arunika. “…adalah sainganku.”
Ekspresi Arunika tetap tenang seperti biasa. “Jika begitu, kau salah orang.”
Veronica mengerutkan kening. “Maksudmu?”
Arunika menjawab datar.
“Aku tidak tertarik padanya.”
Kalimat itu membuat Veronica terdiam sejenak, namun detik berikutnya ia tersenyum sinis. “Benarkah? Kalau kau tidak tertarik… kenapa Bang Angkasa sampai melindungi mu dengan nyawanya?”
Arunika tidak bisa menjawab, karena bahkan ia sendiri belum memiliki jawaban untuk itu.
Veronica mendekat satu langkah lagi.
“Dengarkan aku baik-baik, Arunika.” Suaranya kini lebih rendah, penuh ancaman. “Jika sesuatu terjadi pada Bang Angkasa karena dirimu…”
Ia menatap Arunika dengan dingin. “…aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang di rumah sakit ini.”
Beberapa detik ruangan itu sunyi, ancaman itu jelas. Namun Arunika hanya menatap Veronica dengan wajah tanpa ekspresi.
Bahkan Arunika malah tersenyum. “Kau terlalu arogan.”
Veronica menyipitkan mata.
Arunika menoleh sebentar ke arah Angkasa yang masih tertidur, lalu kembali menatap Veronica. “Karena jika kakakmu mendengar ucapanmu barusan… aku yakin, dia akan memarahimu.”
Wajah Veronica langsung menegang, namun sebelum ia sempat menjawab, suara keributan tiba-tiba terdengar dari luar lorong ICU.
Seorang perawat masuk dengan wajah panik.
“Dokter Arunika…”
“Ada banyak wartawan lagi di depan rumah sakit.”
Veronica mengerutkan kening.
Perawat itu menelan ludah sebelum melanjutkan. “Dan… seseorang datang bersama mereka.”
Arunika sudah bisa menebaknya tanpa bertanya.
“Suami Anda, Tuan Simon.”
Veronica langsung menatap Arunika dengan ekspresi yang berubah aneh.
“Ah… benar.” Ia tersenyum sinis. “Kau bahkan masih memiliki suami.”
Tatapan Veronica kembali tajam. “Sepertinya... hidupmu memang penuh drama.”
Arunika tidak menanggapi, lalu tiba-tiba suara monitor di samping ranjang tiba-tiba berubah.
BIP…
Arunika menoleh ketika melihat jari Angkasa bergerak sedikit. Kelopak mata pria itu bergetar perlahan, lalu beberapa detik kemudian terbuka.
Tatapan Angkasa masih samar, seolah dunia di sekelilingnya belum sepenuhnya kembali jelas. Namun orang pertama yang tertangkap oleh matanya… adalah Arunika.
“Angkasa, bagaimana perasaanmu?” tanya Arunika.
Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi nada suaranya jelas menyimpan kekhawatiran.
Angkasa tersenyum lemah. Ia mencoba membuka mulut untuk berbicara, namun tenggorokannya terasa kering dan tercekat.
“Kamu mau minum?” Arunika segera berkata. “Tunggu sebentar. Jangan banyak bergerak, luka di perutmu masih belum stabil. Aku akan mencari alat agar kamu bisa minum.”
Namun sebelum Arunika sempat beranjak—
“Bang, ini aku. Abang butuh apa? Biar aku saja yang menyiapkannya.” Veronica tiba-tiba menyela sambil mendorong tubuh Arunika ke samping.
Arunika sempat terhuyung satu langkah ke samping akibat dorongan itu. Namun ia tidak mengatakan apa pun. Wanita itu hanya berdiri kembali dengan tenang, wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Veronica sudah berada di sisi ranjang Angkasa.
“Bang, Abang mau minum, kan?” ucapnya lembut, nada suaranya berubah manja. “Aku ambilkan.”
Ia segera menuangkan air ke dalam gelas kecil, lalu membantu Angkasa sedikit mengangkat kepalanya.
Namun baru saja Veronica hendak menyentuhkan gelas ke bibirnya... tangan Angkasa bergerak pelan. Pria itu menahan pergelangan tangan Veronica.
“Bukan…” suaranya serak.
Veronica tertegun. “Bang?”
Angkasa mengerjapkan mata beberapa kali, seolah memaksakan dirinya untuk lebih sadar. Lalu perlahan, pandangannya kembali mencari sosok Arunika.
“Dia…” bisiknya lemah.
Veronica mengerutkan dahi. “Apa?”
Angkasa mengangkat tangannya sedikit, menunjuk ke arah Arunika yang berdiri beberapa langkah dari ranjang.
“Biarkan… dia.”
Ruangan itu seketika menjadi sunyi.
Veronica menatap Angkasa dengan wajah yang mulai menegang.
Sementara Arunika sendiri tampak sedikit terkejut, meski ekspresinya tetap terkendali. Beberapa detik berlalu... sebelum akhirnya ia melangkah kembali mendekat.
Tanpa mempedulikan tatapan tajam Veronica, Arunika mengambil gelas dari tangan wanita itu dengan tenang.
“Angkat sedikit kepalamu,” ucapnya lembut.
Angkasa menurut.
Arunika membantu menyandarkan kepala Angkasa dengan hati-hati, lalu menuntun gelas itu ke bibir pria tersebut.
Angkasa meminum air itu perlahan. Setelah beberapa teguk, ia menghela napas panjang, seolah rasa kering di tenggorokannya akhirnya sedikit berkurang.
Tatapannya kembali jatuh pada Arunika. Untuk sesaat… pria itu hanya menatapnya.
Sudut bibir Angkasa terangkat tipis.
“Terima kasih…,” ucapnya lemah, lalu ia menatap Arunika lebih lama dari biasanya. “Wajahmu terlihat berbeda, apa kamu sangat mencemaskan ku?”
Ada jeda singkat sebelum pria itu melanjutkan dengan suara yang masih serak. “Kalau memang begitu… sepertinya terluka juga tidak terlalu buruk. Dikhawatirkan olehmu adalah sebuah keberuntungan bagiku.”
Biasanya Arunika tetap tenang saat mendengar pujian dari laki-laki mana pun, kata-kata seperti itu tidak pernah mampu menggoyahkan hatinya.
Namun kali ini berbeda.
Entah mengapa, jantungnya justru berdegup lebih cepat.
Apa pria ini sudah kehilangan akal?
jangan marahan lagi..,..
ga enak tau memendam perasaan....berasa ada batu di dada....sesak kali buat nafas....🤭