NovelToon NovelToon
Devi'L Obsession

Devi'L Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: anastasia d lutvi

Marves Lucifer Arsenik Raja iblis dikenal kejam dan tanpa pandang bulu menyiksa nyawa pendosa. Namun Marves bukanlah pria biasa, tapi pria sepertinya mampu muak dengan neraka dan beralih menetap di bumi sekedar menenangkan pikirannya.

Nyatanya seorang wanita cupu dan dekil menyatakan cinta kepadanya di depan umum, tentunya Marves menolak sekaligus mengatakan kalimat menyakitkan yang membuat wanita yang ia ketahui bernama Vella lantas pergi dengan air mata yang bercucuran.

Terlanjur sakit hati membuat Vella gelap mata dan dengan nekat memasukan obat perangsang ke minuman Marves, membuatnya menjadi miliknya seutuhnya.

Menyadari kebodohannya dan tak ada gunanya menyesali perbuatannya yang telah terlanjur Vella lakukan, ia lantas pergi menjauh meninggalkan tempatnya berada, berharap tak bertemu Marves kembali.

Tanpa menyadari seorang iblis tengah mengamuk mencari dirinya dengan tatapan obsesi dan kemarahan memuncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anastasia d lutvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memiliki Teman

...----------------...

Rendy melihat Vella terdiam menatap intens dirinya membuatnya tersadar dengan ucapannya yang bisa saja menyakiti hati wanita di depannya.

"Em..., maaf.Perkataanku keterlaluan yah. Maafkan aku," ucap Rendy merasa bersalah.

Vella menggelengkan kepala. "Tidak kok, tidak sama sekali, perkataanmu memang benar. Dan aku memang salah."

Mendengar perkataan Vella sontak saja Rendy mendelik mata lantas menggelengkan kepala dengan cepat.

"Bukan! Bukan gitu, kayaknya kamu salah paham. Haduh... mulut ini, malah ngomong yang enggak-enggak."

Plak!

Plak!

"Eh- berhenti! Jangan gitu. Nanti sakit ." Khawatir Vella bingung melihat Rendy malah menepuk mulutnya dengan keras.

"Enggak Vella, mulut ini harus dikasi pelajaran," sahut Rendy tetap melanjutkan aksinya menampar mulutnya.

"Aku bilang berhenti! Kalau kamu nggak berhenti aku usir kamu ini yah." Seketika Rendy memberhentikan aksinya menampar mulutnya sendiri.

"Maaf." Menundukkan kepala merasa bersalah.

Menarik nafas lantas menghembuskan nafas panjang.

"lya, tapi lain kali jangan gitu. Mendengar perkataanmu tadi memang benar aku yang salah, jadi kamu nggak usah merasa bersalah gitu, aku selalu saja merasa paling rendah dari orang lain karena wajahku yang jelek membuat banyak orang jijik dengan mukaku ini jadi aku agak heran melihat kamu hanya menatap biasa diriku dan malah berteman denganku."

"Hei-hei! Jangan gitu, aku berteman denganmu itu ikhlas kok. Jadi jangan sedih lagi oke," timpal Rendy menatap Vella seolah menegaskan Vella.

Menganggukkan kepala, tersenyum bahagia mendengar perkataan Rendy.

"Terimakasih."

"Iya. Udah ah, dari tadi sedih mulu kan jadi ikutan mewek nih." Lerai Rendy mengusap air matanya padahal tak ada sama sekali air mata yang terjatuh.

Liza terkekeh melihat tingkah Rendy

mencairkan suasana. Hingga ia teringat sesuatu, lantas Liza menepuk dahi lupa.

Puk!

"Astaga! Aku lupa."

"Hah, lupa apa?" tanya Rendy bingung.

"Aku sebenarnya mau ngerayain hari pertama aku punya teman, tapi malah aku lupa," jawab Vella.

"Kenapa harus dirayain, kalau punya teman yah udah. Nggak usah pakai segala ngerayain." Tatap aneh Rendy.

"Tapi ini kan pertama kalinya aku punya teman. Jadi aku pengen rayain."

"Oh gitu yah, yasudah ayo. Aku ikut yah," ucap Rendy.

"Silakan saja, aku malah senang kalau kamu ikut, ayo." Ajak Vella kearah dapur.

Di dapur Rendy menggaruk kepala bingung apa yang harus ia lakukan, melihat Vella membuat kue dengan cekatan hingga ia tak kebagian tugas apapun.

"Vella, ini aku kebagian tugas apa?"

"Bantu aku aja," jawab Vella menatap fokus adonannya tanpa melirik Rendy.

"Gimana yah, sejak tadi kamu yang ambil tugasnya semua. Jadi aku nggak kebagian apa-apa."

Mendengar hal itu membuat Vella lantas menghentikan kegiatannya tersadar dengan apa yang dilakukannya.

"Eh- maafkan aku. Saking semangatnya aku sampai lupa kalau ada kamu juga bantu," ucap Vella merasa tak enak.

"Nggak apa-apa kok, aku paham. Santai aja. Yasudah ayo kita buat kuenya sama-sama," ucap Rendy.

Vella menganggukkan kepala dengan semangat lantas mereka membuat kue bersama-sama. Tak sadar jam menunjukan pukul 20.00 malam.

Sedangkan mereka tengah asik menunggu kue yang masih mengambang di dalam oven.

Keadaan mereka penuh dengan tepung di segala sisi membuat mereka tampak putih. Vella yang tadinya memakai masker ia lepas dan hanya terpampang wajahnya penuh akan tepung yang menempel.

Aroma vanila tersebar luar hingga mengenai Indra penciuman Vella. Tersenyum sumringah Vella lantas mengambil kain membuka oven dengan pelan lalu mengambil kue yang mengembang lantas Vella taruh ke meja.

Rendy yang melihat itu tanpa pikir panjang menghiasi kue itu dan Vella juga menyusul membantu Rendy menghiasi kue.

Hiasan ceri di atas kue dengan lapisan coklat menghiasi dinding sekitar membuat kue tampak cantik apalagi ditambah tulisan latin bertulisan bestie. Rendy dan Vella menghela nafas lega melihat kue karya buatan mereka telah jadi walaupun yang harus menjadi korban adalah dapur milik Vella yang tercakar bongkar seperti kapal pecah.

Meja dapur penuh dengan tepung tersebar kemana-mana, 3 adonan kue yang tampak gosong karena ulah Rendy yang malah menaikan suhu sampai 280° derajat saat adonan kue pertama, Lantaran Vella yang tak terlalu memperhatikan Rendy. Adonan kue 2, Vella menyuruh Rendy menjaga kue tapi yang ada Rendy tengah asik memainkan ponselnya. Adonan kue terakhir adalah kesalahan mereka berdua lantaran Vella dan Rendy lupa mematikan Oven.

Ini adalah kue ke-4 buatan mereka. Entah kenapa ada rasa senang di hati mereka melihat kue buatan mereka telah jadi menjadi bagus dan tampak cantik.

"Akhirnya." Lega Vella mengusap keringat deras membanjiri wajahnya.

"He-em." Rendy menghempas tubuh ke kursi mengipas - ngipas wajahnya dengan tangan.

"Trus gimana, ayo kita makan?" Ajak Vella mengambil pisau, bersiap memisahkan satu persatu menjadikan beberapa bagian.

"Yah..., Jadi jelek lagi dong." Menghela nafas kecewa.

Vella mengernyit heran. "Trus mau diapain kalau bukan dimakan, kan kita buat kue ini kan untuk dimakan bukan buat jadi pajangan, gimana sih?"

"Enggak gitu, tapi gimana yah, sayang aja, kita buat susah payah, buatnya sampai 9 jam malah akhirnya tetap dimakan."

"Trus kalau nggak dimakan, dibuat apa dong?" tanya Vella bingung lantas menurunkan pisau kemeja menduduki dirinya mengikuti Rendy tengah duduk di kursi.

"Dibuat apa yah," ucap Rendy berlagak berpikir.

Vella melihat itu lantas melipat tangan jadi ikutan berpikir. Tapi saat Vella tengah berpikir sebuah tangan mengambil pisau mengiris kue menjadi segitiga, mencolek krim dengan jari lantas dengan jahil mencoleknya ke pipi Vella hingga membuat Vella tersentak kaget.

"Rendy! Apa yang kau lakukan?" Kagetnya terbengong.

"Hahahaha! Apa lagi kalau bukan bermain, nggak asik tahu masa cuman makan doang nggak ada asik-asiknya tahu nggak!" timpal Rendy tertawa keras tapi terhenti sesaat melihat Vella terdiam menundukkan kepala.

"Hei-hei! Kamu kenapa? Maafkan aku, aku nggak akan ulangi lagi oke, tapi jangan nangis," ucap Rendy merasa bersalah lantas mendekati Vella berniat memeluknya.

Tapi sebuah lemparan kue mendarat tepat di wajah Rendy.

Buk!

Rendy terdiam sesaat lantaran kaget melanda, ia menatap Vella yang malah tertawa keras melihat nasibnya yang terkena lemparan kue penuh di area wajah. Mengusap wajah dengan tangan menyingkirkan krim kue yang memenuhi wajahnya. Menatap tajam Vella kesal.

"Vella!"

Alarm tanda bahaya berbunyi, tanpa sepatah kata Vella kembali melempar kue kearah wajah Rendy dan berlari meninggalkan Rendy yang tengah memerah marah.

"Vella Jangan kabur kamu! Awas saja kamu." Rendy berlari mengejar Vella dengan penuh amarah sedangkan Vella malah tertawa keras tanpa dosa.

"Vella berhenti! STOP!" teriak keras Rendy memenuhi ruangan.

"Hahahaha! Enggak akan. Kejar saja kalau bisa. Hahaha!" Tawa keras menggema di seluruh ruangan. Para dinding-dinding hanya bisa melihat tingkah absurd mereka tengah lari-larian seperti kucing dan tikus.

...****************...

1
Queen Petrunkevitch
OG Atau OB?
darins
alur cerita bagus bikin penasaran
darins
ayo dong thor up yg banyak kita nungguin update nya/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!