Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Panggung Pembantaian di Gedung Darah
Keheningan yang mencekam menyelimuti Gedung Darah. Ratusan kultivator sesat di aula utama menahan napas, mata mereka terbelalak menatap kepala kering Jin Wuya yang tergeletak di atas meja paviliun nomor empat.
Zhao Yan menatap kepala rekan konspiratornya, lalu menatap Token Besi Hitam, dan akhirnya mengangkat wajahnya untuk menatap sosok berjubah abu-abu di paviliun sebelah. Ingatan tentang malam pembantaian di Kota Qingshui kembali ke permukaannya. Wajah pemuda yang dulu bersembunyi di balik bayangan dan sumpah darah yang ia dengar dari kejauhan, kini menyatu dengan wajah dingin di hadapannya.
"Seorang anak anjing dari keluarga Lin yang lolos dari penyembelihan?" Zhao Yan akhirnya bersuara. Tawanya pecah, terdengar serak dan menggema penuh dengan niat membunuh yang membuat obor-obor hijau di dinding gua berkedip liar. "Aku seharusnya memenggal kepalamu sendiri malam itu, bukan membiarkan anjing-anjing Istana Langit Hitam yang melakukannya."
"Bunuh dia! Potong dia menjadi seratus bagian dan bawa cincin spasialnya padaku!" perintah Zhao Yan.
Keempat pengawal berbaju zirah hitam di belakangnya langsung melesat. Mereka adalah kultivator Pondasi Awal yang telah meminum ramuan penghilang rasa sakit, mengubah diri mereka menjadi mesin pembunuh tanpa emosi. Mereka melompati celah antar paviliun, menghunus pedang lebar yang memancarkan aura darah kental.
Lin Tian tidak mencabut pedang hijaunya. Ia bahkan tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Saat pengawal pertama mendarat dan mengayunkan pedangnya ke leher Lin Tian, pemuda itu hanya mengangkat tangan kirinya dan menangkis bilah besi tersebut dengan telapak tangan kosong.
Klang!
Pedang lebar itu terhenti mendadak, tidak mampu memotong kulit Lin Tian sedikit pun. Mata pengawal itu membelalak ngeri di balik topengnya. Sebelum ia sempat bereaksi, tangan kanan Lin Tian sudah menembus dada bajanya seolah menembus kertas basah, meremas jantungnya hingga hancur.
Tiga pengawal lainnya tidak sempat mundur. Lin Tian melesat bagai bayangan hitam. Tinjunya yang diselimuti qi hitam keemasan menghantam dada mereka berturut-turut. Suara tulang rusuk dan tulang dada yang remuk terdengar beruntun. Dalam waktu kurang dari tiga detik, keempat mayat kultivator Pondasi Awal itu terlempar jatuh dari paviliun tingkat dua, menghantam lantai batu di aula utama dan memancing jeritan panik dari para penonton di bawah.
Senyuman di wajah Zhao Yan lenyap, digantikan oleh tatapan dingin dan waspada. "Tubuh fisik monster... dan qi yang bukan berasal dari jalan ortodoks. Ternyata kau telah jatuh ke jalan iblis, bocah Lin."
Zhao Yan berdiri, jubah hitamnya berkibar tanpa angin. Ia tidak menyerang secara fisik. Sebagai gantinya, kedua tangannya membentuk segel rumit dan aura darah yang sangat pekat meledak dari tubuhnya, memenuhi seluruh Paviliun Kehormatan nomor empat.
"Seni Pengendali Darah Kuno: Didihkan!"
Ini adalah teknik yang digunakan Istana Langit Hitam untuk membantai keluarga Lin. Teknik ini secara paksa mendidihkan dan meledakkan darah di dalam tubuh siapa pun yang memiliki garis keturunan Penjaga Kunci. Zhao Yan yakin, satu gerakan ini sudah cukup untuk membuat Lin Tian meledak dari dalam.
Gelombang darah tak kasat mata menerjang Lin Tian. Di dalam tubuh Lin Tian, darahnya memang bereaksi hebat, mendidih dan bergejolak. Namun, bukan karena kendali Zhao Yan.
Darah jantung naga purba yang mengalir di nadi Lin Tian merasa terhina oleh percobaan pengendalian ini. Qi hitam berurat emas dari lautan dantiannya langsung menyambar gelombang darah milik Zhao Yan, menelannya, dan mencernanya menjadi energi murni.
Lin Tian tertawa kecil. Tawa yang terdengar mengerikan dan penuh ejekan. "Kau mencoba mengendalikan darahku dengan teknik murahan ini, Zhao Yan? Darah keluarga Lin memang milik kami, tapi darah yang mengalir di nadiku sekarang... adalah darah naga yang memakan dewa!"
Zhao Yan terbelalak, merasakan koneksi spiritualnya dengan teknik darahnya terputus paksa. "Mustahil! Tidak ada darah fana yang bisa menolak kutukan Istana Langit Hitam!"
Di bawah sana, juru lelang yang panik melihat pertarungan meletus di paviliun kehormatan, segera menutup peti giok berisi Sumur Darah Yin dan berusaha melarikan diri melalui pintu belakang panggung.
Mata Lin Tian menyipit. "Barang itu milikku."
Ia menghentakkan kakinya ke lantai kayu paviliun. Kayu keras itu hancur berkeping-keping. Lin Tian melesat turun menuju panggung utama, mengabaikan Zhao Yan yang kini menarik keluar sebuah cambuk tulang bermata sembilan dari cincin spasialnya.
Lin Tian mendarat di depan juru lelang yang gemetar. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia merebut peti giok putih itu dari tangan pria kurus tersebut, lalu menendangnya hingga terpental jauh ke dinding gua.
Ia membuka peti itu sekilas. Cairan merah pekat di dalam sumur miniatur itu berputar, memancarkan aura kesedihan yang menusuk jiwa. Lin Tian bisa mendengar jeritan samar dari leluhurnya di dalam cairan itu. Ia menutup peti tersebut dengan kasar dan menyimpannya ke dalam cincin spasial Jin Wuya. Utang darah pertama telah ia amankan.
"Kurang ajar! Kau berani merampok barang lelang di Gedung Darah?!"
Suara menggelegar tiba-tiba terdengar dari lorong belakang panggung. Tiga pria tua berjubah merah darah dengan aura Pondasi Awal Puncak melesat keluar. Mereka adalah Tetua Penegak Hukum Gedung Darah, yang ditugaskan untuk menjaga ketertiban lelang dengan kekuatan brutal.
"Perkumpulan Dagang Gerhana tidak akan membiarkan—"
Kalimat Tetua terdepan terpotong saat cambuk tulang bermata sembilan milik Zhao Yan melesat dari atas, melilit leher pria tua itu dan merobeknya hingga putus dalam satu tarikan. Darah menyemprot ke mana-mana, membasahi panggung obsidian.
Zhao Yan mendarat di atas panggung, cambuk tulang di tangan kanannya meneteskan darah segar. Matanya terkunci pada Lin Tian, mengabaikan dua Tetua Gedung Darah lainnya yang kini menatapnya dengan campuran antara amarah dan ketakutan.
"Ini urusan pribadiku, anjing-anjing Gerhana. Mundurlah, atau kalian akan kuubah menjadi pupuk darah bersama bocah ini," ancam Zhao Yan, aura Pondasi Awal Puncaknya meledak, menekan kedua Tetua tersebut hingga mundur beberapa langkah.
Lin Tian akhirnya menarik pedang hijau bergeriginya dari pinggang. Bilah korosif itu mendesis saat bersentuhan dengan udara, memancarkan asap hijau tipis yang berbau racun mematikan.
"Panggung ini cukup luas untuk kuburanmu, Zhao Yan," ucap Lin Tian, qi hitam keemasan mulai menyelimuti tubuhnya, membentuk siluet iblis bertanduk samar di belakang punggungnya. "Malam ini, aku akan menguliti Istana Langit Hitam, dimulai dari wajahmu."