NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kau Siakan

Wanita Yang Kau Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.

Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.

Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.

​Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.

​Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Ulang Tahun Pernikahan yang Hampa

   ​Sore itu, gerimis tipis mengguyur kota Bandung, membuat udara dingin masuk ke dalam celah-celah jendela kaca. Namun di dalam dapur, suasana terasa hangat.

   Sejak pukul tiga sore, Mahira sudah disibukkan dengan berbagai olahan masakan. Wajahnya yang polos tampak diterangi cahaya lampu dapur, fokus memotong bahan makanan dengan ketelitian yang luar biasa.

   ​Hari ini, tanggal dua belas Agustus, adalah genap tiga tahun usia pernikahan mereka.

   ​Di balik jemarinya yang lincah mengolah hidangan, nurani Mahira sebenarnya sedang mempertaruhkan segalanya. Walau sikap suami dan ibu mertuanya sudah sebegitu merendahkan dan sengaja menyakitinya, terlebih dengan kehadiran Clarissa yang terus disanjung tinggi di depan matanya, Mahira masih memilih untuk melapangkan dada.

   Hari ulang tahun pernikahan ini adalah ruang kesempatan terakhir yang ia berikan secara tulus. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Mahira masih sangat berharap... ada sedikit saja kehangatan, sisa kebaikan, atau iktikad manis dari Ziko yang bisa meluluhkan hatinya.

   Sebuah sapaan lembut atau pelukan hangat dari Ziko malam ini sudah cukup untuk membuat Mahira membuang seluruh niatnya untuk pergi dan kembali bertahan sebagai seorang istri.

   ​Mahira mengusap peluh di dahinya menggunakan punggung tangan. Ia memasak hidangan kesukaan Ziko sejak masa-masa awal pernikahan mereka, sop buntut sapi dengan kuah rempah yang kaya, perkedel kentang yang lembut, dan sambal hijau favorit suaminya.

   Tidak berhenti di situ, Mahira bahkan menjahit sendiri sebuah sapu tangan kain putih bersih, membubuhkan inisial nama Ziko dengan sulaman benang emas di sudutnya. Sebuah perhatian sederhana, namun dibuat dengan penuh ketulusan dan doa di setiap tusukan jarumnya.

   ​Mahira menatap jam dinding yang kini menunjukkan pukul tujuh malam. Meja makan sudah dihias sedemikian rupa. Lilin aromaterapi yang menenangkan menyala di tengah meja, di samping piring-piring hidangan hangat yang tertutup rapi.

   Mahira mengenakan gaun kain sederhana berwarna merah muda pudar, gaun terbaik yang ia miliki, yang dulu dibelikan Ziko di pasar malam saat mereka baru setahun menikah.

   ​Suara deru mobil Ziko terdengar memasuki pekarangan. Hati Mahira berdesir hangat. Rasa lelahnya menghilang seketika. Dengan senyum lembut yang tulus dan harapan kecil yang membuncah, Mahira melangkah cepat menuju pintu depan untuk menyambut suaminya.

   ​Pintu terbuka, menampilkan Ziko yang tampil sangat rapi menggunakan kemeja batik sutra modern. Namun, raut wajah pria itu tampak tergesa-gesa, matanya tertuju pada layar ponsel di tangannya.

   ​"Mas Ziko, sudah pulang...." sapa Mahira lembut. Ia mengulurkan tangannya, menyalami tangan Ziko dan mencium punggung tangan suaminya dengan penuh takzim, sebuah gestur pengabdian yang tak pernah ia lewatkan sehari pun.

   ​Ziko hanya membiarkan tangannya dicium tanpa membalas genggaman itu. "Iya, Hira. Aku cuma pulang sebentar mau ambil berkas di ruang kerja."

   ​"Mas... Mas belum makan malam, kan?" tanya Mahira halus, matanya memancarkan binar kehangatan yang amat tulus. "Aku sudah masak sop buntut kesukaan Mas. Kuahnya masih hangat. Mas mandi dulu, baju santainya sudah aku siapkan di atas kasur, lengkap dengan minyak aromaterapi untuk pijat kaki Mas kalau Mas capek."

   ​Ziko menghentikan langkahnya di dekat tangga, menatap Mahira dengan dahi berkerut heran. Pandangannya menyapu gaun yang dikenakan Mahira, lalu beralih ke meja makan yang tertata rapi dengan lilin menyala.

   ​"Kamu ini kenapa, sih?" tegur Ziko dengan nada bingung bercampur ketus. "Kenapa dandan seperti itu dan pakai menyalakan lilin segala? Rumah ini jadi makin aneh."

   ​Mahira tersenyum tipis, matanya menatap Ziko dengan pandangan yang penuh rasa rindu. Langkah kakinya mendekati Ziko. Dengan lembut, jemari Mahira merapikan kerah kemeja Ziko yang sedikit melipat.

   ​"Mas lupa ya?" bisik Mahira pelan, suaranya begitu lembut seperti belaian angin. "Hari ini tanggal dua belas Agustus, Mas. Tiga tahun lalu, Mas mengucapkan janji suci di depan ayahku untuk menjagaku...."

   ​Ziko tertegun sejenak. Ingatannya berputar lambat, namun rasa terkejut itu hanya bertahan dua detik sebelum digantikan oleh desah napas jengkel dari bibirnya.

   ​"Ya ampun, Hira... Cuma gara-gara ulang tahun pernikahan?" Ziko menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menepis pelan tangan Mahira dari kerah kemejanya. "Aku ini sedang sibuk setengah mati. Perusahaan sedang dalam masa transisi besar setelah dapat investasi kemarin. Otakku dipenuhi urusan klien dan ekspansi bisnis, dan kamu malah memikirkan hal-hal sepele seperti ini?"

   ​"Ini bukan hal sepele untukku, Mas," lirih Mahira. Suaranya bergetar pelan, bukan karena marah, melainkan karena rasa haus akan sedikit saja perhatian dari pria yang dicintainya. Mahira memberanikan diri menyentuh lengan Ziko, menatap mata suaminya dalam-dalam. "Aku cuma ingin kita makan malam berdua saja malam ini. Sebentar saja, Mas... Aku rindu mengobrol dengan Mas seperti dulu."

   ​Mahira mendekatkan tubuhnya, menyandarkan dahinya di dada bidang Ziko beberapa saat untuk mencari sedikit perhatian suaminya agar ia bisa luluh.

   ​Namun, bukannya merengkuh tubuh istrinya, Ziko justru memegang kedua bahu Mahira dan mendorongnya mundur dengan agak kasar.

   ​"Hira, stop! Jangan lebay!" bentak Ziko dengan nada muak. "Kamu ini makin hari makin kekanak-kanakan dan dramatis. Aku ini pria dewasa, pemimpin perusahaan besar, bukan anak remaja yang harus merayakan ulang tahun pernikahan dengan lilin-lilin murahan begini. Malu kalau sampai kelihatan orang!"

   ​Dada Mahira terasa terhantam gada besar. Dorongan Ziko membuat tubuhnya sedikit terhuyung. Penolakan itu menjadi jawaban paling pahit atas harapan yang baru saja ia rakit. Ia menatap Ziko dengan mata yang berkaca-kaca, menyadari bahwa pintu kebaikan di hati suaminya telah terkunci rapat.

   ​Tepat saat itu, Bu Rani turun dari lantai atas dengan pakaian mewahnya, disusul oleh suara deru mobil lain yang berhenti di luar.

   ​"Ziko! Kamu sudah siap, Nak?" tanya Bu Rani cepat. Lalu ia melirik Mahira dengan pandangan jijik. "Lho, Hira? Kenapa kamu berdiri menempel-nempel Ziko begitu? Jangan bikin Ziko terlambat!"

   ​"Ada apa, Bu?" tanya Ziko beralih memandang ibunya.

   ​"Clarissa sudah nunggu di luar!" ujar Bu Rani dengan binar mata gembira. "Malam ini kan Clarissa mengundang kita makan malam merayakan kembalinya dia ke Indonesia di restoran fine dining termahal di pusat kota. Ziko, kamu harus mendampingi Clarissa. Dia kan relasi bisnis pentingmu sekarang."

   ​Ziko seketika tersenyum lebar. "Oh iya! Aku hampir lupa. Berkasnya sudah di tas. Ayo Bu, kita berangkat sekarang."

   ​Ziko berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun baru tiga langkah, ia berhenti dan menoleh pada Mahira yang masih berdiri mematung di dekat tangga.

   ​Dari dalam saku bajunya, Mahira merogoh sapu tangan putih bersulam benang emas buatan tangannya. Ia melangkah mendekati Ziko, mengulurkan sapu tangan itu dengan kedua tangannya yang gemetar pelan.

   ​"Mas... ini sapu tangan untuk Mas. Aku sulam sendiri inisial nama Mas di sini. Biar bisa Mas pakai kalau Mas berkeringat di kantor...." ucap Mahira, suaranya tetap selembut kain sutra, penuh kepasrahan seorang istri yang telah menuntaskan ikhtiarnya.

   ​Ziko melirik sapu tangan kain itu dengan tatapan meremehkan. Tanpa menyentuhnya, Ziko justru mendengus pelan.

   ​"Kain kaku begini untuk apa, Hira? Di kantor aku sudah pakai tisu premium atau sapu tangan merek Hermes yang dibelikan Clarissa kemarin," ujar Ziko dingin. "Simpan saja barang murahanmu itu. Dan satu lagi, makanan di meja itu kamu bereskan. Jangan biarkan bau aromaterapi itu memenuhi rumah saat aku pulang nanti malam!"

   ​Tanpa rasa iba sedikit pun, Ziko berbalik dan berjalan keluar menyambut Clarissa yang sudah menunggu di balik pintu dengan senyuman cantiknya.

   ​"Ziko! Wah, kamu tampan sekali malam ini," puji Clarissa manja, melingkarkan tangannya di lengan Ziko tanpa canggung di depan mata Bu Rani dan Mahira.

   ​"Terima kasih, Clarissa. Ayo, aku yang setir mobilnya," sahut Ziko mesra, membiarkan Clarissa merapat ke tubuhnya, kehangatan yang baru saja ia haramkan untuk istrinya sendiri.

   ​Pintu jati besar itu tertutup rapat dengan suara dentuman keras.

   ​Rumah megah itu seketika kembali sunyi. Hanya menyisakan desir angin malam dan nyala lilin aromaterapi yang menari-nari di meja makan.

   ​Mahira berdiri sendirian di tengah ruangan dingin itu. Ia memandangi sapu tangan putih bersulam emas di tangannya, lalu beralih menatap meja makan penuh hidangan kesukaan Ziko yang kini perlahan mulai dingin.

   ​Mahira meremas sapu tangan itu perlahan di dadanya. Usahanya telah usai, harapannya telah pupus sepenuhnya malam ini. Sebuah senyuman paling tipis, paling dingin, dan paling tenang terukir di bibirnya yang pucat. Tidak ada tangisan, dan keraguan lagi.

   ​"Terima kasih untuk malam ini, Mas Ziko," bisik Mahira pelan pada lilin yang membara. "Setiap kebaikan yang kutanam hari ini, akan menjadi duri paling tajam yang mencabik ingatanmu di kemudian hari."

   ​Mahira melangkah mendekati meja makan, meniup mati nyala lilin tersebut, membiarkan kegelapan menyelimuti seluruh kehangatan yang baru saja ditolak dan diruntuhkan oleh suaminya sendiri.

1
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
Sri Widiyarti
semoga lekas bangkrut ziko ...
Sri Rahayu
Ziko...Ziko....ini buah dari keserakahan, keegoisan dan ketololan mu Ziko 🤪🤪🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Oke....
total 1 replies
Sri Rahayu
suka dgn tokoh Mahira...tegas tdk ada ampun utk Ziko /Good//Good//Good/ lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
Mahira sdh mulai mengeluarkan taringnya siap mengoyak Ziko, bu Rani dan Clarissa... lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
berpestalah kalian bertiga Ziko, bu Rani dan Clarissa...merayakan kebangkrutan Ziko 😇😇😇🤪🤪🤪...lanjut Thorf😘😘😘
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
lope lope utk Mahira /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/.... dan vote utk Authorr...ditunggu lanjutan nya😘😘😘😘😘
Nasir: Makasih Kak...
total 1 replies
Sri Rahayu
suka ceritanya Thorr, lanjutin donk kepo ma si Ziko, mama nya n Clarisa setelah proposalnya ditolak....tetap optimis Thorr dan semangat selalu 😘😘😘😘😘
Nasir: Besok ya...
total 1 replies
Ika
luar biasa
Sri Rahayu
kehancuran menunggu mu Ziko 🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Besok ya.. m
total 1 replies
EVA OKTASARI
padahal ceritanya bagus lho thor,semangat thor sampai cerita tamat
Nasir: Entahlah Kak... tapi kenyataannya tdk banyak yg tertarik. Sedih sih. Bisa saja saya tamatkan di sini, tapi gak kontrak. Sebab klo dikontrakpun gak dpt apa2 selain dr pembaca. Pdhl udah sy usahakan boom bab, tp msh blm tercapai retensi. Semoga di bab 40 retensi tercapai...
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Lanjut kak Author ceritanya bagus kok sat set juga penyelesaiannya cepat, Tetap Semangat Jangan Pindah ke Tempat lainnya 🙏
Nasir: Makasih ya Kak... 🙏🙏🙏
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Tetap Semangat Melanjutkan ceritanya bagus tidak bertele2 kakak AUTHOR , ditunggu kelanjutannya ya 🙏
Nasir: Makasih Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
asyikkk...Mahira uda nyuruh Jessi menolak proposal prshn Ziko...kebangkrutan akan Ziko rasakan bgt jg dgn nenek lampir yg sombong 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Ma Em
lama Thor Mahira keluar dari rumah Ziko , entah maunya Mahira apa msh tinggal dirumah Ziko meskipun selalu dihina dan dijadikan babu tiap hari
Nasir: Sabar ya Bun....
total 1 replies
Ma Em
kenapa sih Mahira msh mau bertahan dirumah Ziko dan rela dihina dan diinjak harga dirinya .
Sri Rahayu
Mahira keren...uda dihina, direndahkan tp tetap tenang...nunggu bom waktu yg akan diledakkan nya 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu: eh salah bukan Ardi tp Ziko...maaf salah sebut nama /Silent/
total 4 replies
Sri Rahayu
jgn tanda tangan proposal dr pershn Ardi...mereka bertiga jahat pd mu Mahira...biarkan saja prshn Ardi kolaps... lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mahira sdh terlalu lama kamu menyia nyiakan hdp mu msh juga mau bertahan dgn suami dan mertua yg selalu menghina dan merendahkan mu Mahira untuk apa Mahira bertahan tinggal bersama Ziko , lbh baik segera keluar dari rumah Ziko dan balas semua perbuatan Ziko , Bu Rani juga Clarisa .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!