UPDATE SETIAP HARI
kana, mahasiswi jurusan busana semester 5 yang hidup seorang diri di kota besar.
ia kuliah setelah mendapatkan beasiswa karena kepintarannya. namun, walaupun begitu dia juga membutuhkan uang untuk hidup.
hal itu membuatnya harus bekerja setelah pulang kuliah dan beberapa kali mengambil pekerjaan sampingan lain agar kebutuhannya tercukupi.
hal-hal di setiap harinya berlalu seperti biasa. setelah pulang kerja ia juga sempat membaca novel dan kadang membaca komik karena itu satu-satunya hiburan untuknya.
di malam itu, kana mendapat suatu masalah. kana yang selama ini hidup sendiri tiba-tiba didatangi beberapa pihak bank dan mengatakan bahwa kerabat jauhnya mempunyai hutang yang lumayan besar.
mereka datang berkali-kali bahkan ada beberapa rentenir ilegal ikut datang menagih hutang kerabatnya yang bahkan kana tak kenal.
hal itu membuatnya sedikit depresi dan bahkan takut untuk keluar rumah.
hingga beberapa hari berlalu kana mencoba bunuh diri di kamarnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penimelinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
"kamu baik-baik ya disana. Ada bastian yang mengurus mu"
"ayah dan ibu tak bisa kembali sekarang karena harus mengurus sisa rapat perang"
Damian mengelus pucuk kepala putrinya dengan sayang. Sedangkan nadin sedari tadi memeluk anaknya merasa sedih saat mendengar kabar mengenai pertunangan putra mahkota. Ternyata saat ini Ia mengira roselyn dan raizen memang sedang dalam berpacaran.
"jangan sedih-sedih ya nak"
Ucapnya menepuk punggung roselyn beberapa kali penuh sayang.
"iya ibu.. Kalau begitu aku akan berangkat"
Roselyn melepaskan pelukan lalu tersenyum hangat menatap damian dan nadin secara bergantian. Setelah pamit ia akhirnya naik ke kereta kuda diikuti anne dan andrew.
Tanpa lama-lama lagi kereta pun bergerak dan mulai menjauh dari perkarangan istana kekaisaran.
Sedangkan saat ini seseorang tengah menatap sendu didepan jendela memperhatikan roselyn sedari tadi.
"kapan kau bisa tersenyum seperti itu untukku?"
Gumamnya yang kini menatap kereta kuda sudah mulai menjauh. Dengan perasaan yang campur aduk akhirnya ia kembali duduk di kursi kerjanya. Menatap ksatria setianya, jorce.
"jangan tinggalkan dia, kau harus menjaganya selagi aku berada disini"
Raizen menatap jorce yang sepertinya enggan untuk meninggalkannya tanpa ksatria bayangan. Terlebih lagi fred saat ini sedang ditugaskan untuk mengawasi aisha, jika dia pergi mengikuti roselyn tak ada lagi ksatria bayangan yang kuat menjaganya.
"lakukan perintah tuanmu"
Terlihat wajah raizen menjadi serius menatap mata jorce. Ia menutup matanya saat menyenderkan tubuh ke kursi dan kembali berbicara.
"jangan lupakan anak itu, ksatria terkuat ku ada tiga"
Saat mengucapkan itu tiba-tiba saja seseorang ksatria yang agak muda mulai muncul tersenyum menatap jorce.
"hai senior"
Ia tersenyum lebar melambai kearah jorce beberapa kali. nathan, salah satu ksatria bayangan terkuat yang baru-baru ini diangkat raizen sebagai pengawal pribadinya.
3 orang ksatria ini dikenal dengan 'secret'. Karena identitas bahkan wajah mereka tidak ada sekalipun yang mengetahuinya ditambah beberapa ksatria bayangan lainnya tak ada yang tahu.
Kekuatan mereka sangat kuat untuk melindungi putra mahkota, namun setahun yang lalu sejak putra mahkota masuk academy semuanya berubah. Putra mahkota bahkan tak pernah memberi perintah dan hanya membuat mereka menjadi malas-malasan saja.
Jorce yang melihat nathan tengah tersenyum lebar menatapnya akhirnya mengangguk faham. Setelah memberi salam ia pun pergi dari ruangan kerja raizen dan langsung mengikuti kereta kuda roselyn.
"tidak mungkin aku menyukainya secepat ini"
Raizen kembali menghela nafas merasa bingung dengan perasaan asing yang baru pertama kali dirasakan olehnya.
***
Lewat beberapa minggu sejak pesta ulang tahun putra mahkota selesai, seluruh bangsawan kini mulai kembali sibuk dengan tugasnya masing-masing. Terlebih lagi, kabar mengenai raizen dan merida tak kunjung reda.
Begitupun dengan para jurnalis yang selalu mendatangi kediaman rigerd merasa penasaran akan keadaan roselyn setelah pertunangan itu.
Berkali-kali pihak rigerd mengusir mereka, namun mereka masih saja datang. Karena di manapun itu seorang jurnalis memiliki hak khusus dari kekaisaran untuk mewawancarai narasumber.
Itu agak aneh menurutnya, namun ia tak ingin lagi diganggu terus menerus dengan suara berisik mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk berbicara.
Setelah berminggu-minggu diteror jurnalis akhirnya roselyn merasa benar-benar kesal. Ia merasa privasi untuknya sudah tak ada lagi, apalagi ayah dan ibunya belum kembali.
"itu nona roselyn!"
Teriak salah seorang jurnalis dan langsung berhamburan berebut ingin mendekat kearah roselyn.
Seluruh orang terpesona akan dirinya, melihat bagaimana wajah cantik dan tubuhnya yang membuat siapapun tak bisa memalingkan pandangan darinya.
"aku akan menjawab tentang pertunangan ini, setelah itu silahkan pergilah dari rigerd"
Ucap roselyn berdiri di tangga menatap para jurnalis yang sudah sibuk memegang kertas dan pulpennya.
"baiklah nona, jadi apa tanggapan anda mengenai putra mahkota dan putri merida?"
tanya salah satu jurnalis perempuan bersama timnya sudah mulai bersiap mencatat.
"harusnya di cerita aslinya saat putra mahkota dan merida bertunangan saking gilanya roselyn sampai tak bangun dari pingsannya beberapa hari"
"disaat inilah dia bertekad ingin menghancurkan putra mahkota karena tak menerima cintanya. Bahkan selalu mengganggu aisha dan itu semakin parah"
"jadi, apa yang harus kukatakan agar aisha semakin yakin untuk menjalankan rencananya?"
Roselyn terdiam sejenak menatap satu persatu jurnalis yang ada dibawah.
"saya tak mencintai putra mahkota, begitupun dengan rumor mengenai kami sebagai sepasang kekasih"
"itu tidak benar"
Jawaban roselyn membuat siapapun yang ada disana terkaget. Dengan cepat mereka mencatat apa yang dikatakan roselyn.
Anne yang ada disana menatap nona nya dengan sendu. Ia tahu akhir-akhir ini pikiran roselyn sedang tidak baik, terlebih lagi ia menjadi seperti itu setelah putra mahkota mengantarnya ke kediaman dengan gaun penuh darah.
"nona.."
Ia membatin menatap roselyn yang berdiri didepannya. Dengan perasaan yang ikut kacau akhirnya anne hanya diam saja melihat kembali apa yang akan dilakukan nona nya.
"kalian sudah mendapatkan jawabannya, jadi saya mohon untuk tidak mengganggu di kediaman duke rigerd lagi"
Roselyn memberi salam dengan anggun dan langsung pergi menuruni tangga melewati banyaknya jurnalis yang membuka jalan untuknya.
memang benar ia tak ada hubungan apapun dengan raizen. Terlebih lagi saat ini ia tak yakin dengan perasaannya, ia juga tak merasa bahwa ini perasaan suka atau hanya kepikiran saja.
Namun setelah berminggu-minggu ia mencerna dan mencoba berpikir akhirnya roselyn sadar akan perasaannya. Ini bukanlah perasaannya yang sebenarnya.
ia berpikir bahwa itu hanyalah reaksi dari tubuh roselyn yang asli.
"sudah lama tak berjalan kemari"
Ucapnya menatap bunga yang ada di taman milik duchess.
Saat tengah berjalan ia tak sengaja melihat gerald tengah duduk sendirian dibawah pohon.
"anne"
Panggil roselyn memberhentikan langkah kakinya menatap gerald dengan mata yang memicing.
"ya nona?"
Tanya anne langsung berjalan maju melihat wajah nonanya.
"anak itu, kenapa masih bisa keluar masuk rigerd?"
anne langsung mencari kearah mana roselyn memandang. Hingga matanya menatap kearah gerald yang sedang terduduk di bawah pohon.
"saya kurang tahu nona, bagaimana jika saya bertanya dengan bastian?"
Tanya nya sedikit khawatir takut roselyn akan meledakkan amarahnya jika melihat gerald.
"coba tanyakan padanya"
Roselyn langsung berjalan maju kearah gerald meninggalkan anne.
"aku ingin tahu sebenarnya apa yang kau rencanakan dengan aisha akhir-akhir ini"
Gumamnya lalu berjalan semakin dekat hingga langkah kakinya terhenti. Ia berdiri menatap gerald yang tengah duduk.
"roselyn?"
Gerald menaikkan kepalanya menatap wajah roselyn. Senyumnya terukir saat melihat wajah roselyn.
"apa yang kau lakukan disini?"
Roselyn mengerutkan keningnya menatap gerald sedikit sinis.
"ah, aku hanya ingin melihatmu. Karena sudah sangat lama aku tak bertemu denganmu"
Ucapnya dengan pipi yang merona. Melihat hal itu, roselyn rasanya ingin menampar pria masokis dan psikopat ini.
"anak ini, harusnya kau sudah mencintai aisha. Kenapa kau disini bodoh !"
roselyn membatin lalu menghela nafasnya kasar.
"aku dengar setelah pertunangan putra mahkota, kamu selalu mengurung diri dirumah"
gerald menggaruk tengkuknya sedikit tersenyum menatap roselyn.
"dih? kamu? Kau pakai bahasa informal padaku?"
Roselyn hanya diam kini menatap gerald dengan ekspresi jijiknya.
"jadi..sebenarnya saat itu aku ingin memberikan hasil buruanku padamu"
"tapi saat itu aisha meminta padaku untuk memberikannya hasil buruan ku. Itu karena aku pernah berjanji padanya"
Sambung gerald memperlihatkan wajah polosnya. Ia benar-benar ahli membuat sandiwara, jika saja roselyn tak tahu apa-apa tentang dirinya. Mungkin ia akan terperangkap oleh wajah tampannya, walaupun kepribadian nya itu gila.
"lalu?"
"sial, siapapun yang melihat wajahnya saat ini benar-benar akan mengira dia seorang laki-laki tampan yang polos"
"aku tahu sifat aslimu. Dan mungkin karena ini lah roselyn dibuat untuk menyiksamu"
Roselyn kini membalikkan tubuhnya dan langsung pergi dengan perasaan yang merinding. Bisa-bisanya pria psikopat itu bertingkah sok lemah dihadapannya.
ia bernafas lega karena tadi hampir saja tangannya terangkat untuk memukul wajah gerald.
"jangan pernah datang lagi ke kediaman ini"
ucap roselyn sebelum pergi menghilang dari pandangan gerald. Sedangkan gerald melihat bagaimana cara roselyn menatapnya malah semakin senang dan tersenyum lebar.
"aku suka saat kau kasar. tapi, bagaimana jika kau menangis?"
"aku rasa aku akan lebih menyukai itu"
Ia terkikik geli melebarkan senyumnya menatap tubuh roselyn penuh dengan nafsu.
Jorce yang sedari tadi memperhatikan dan mendengar gerald hanya menatap sinis lalu pergi mengikuti roselyn.
"menjijikkan"
***
Bersambung
...(MERIDA VOGWART)...