Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30: Niat Membunuh di Tengah Hutan
Setelah kegaduhan di Paviliun Seratus Herbal perlahan surut, Qin Xiang memutuskan untuk tidak berlama-lama. Meski Ru Tian sempat menawarkannya untuk menginap dan memulihkan diri, keputusan Qin Xiang sudah bulat untuk kembali ke Sekte Pedang Giok malam itu juga. Ru Tian hanya bisa berdiri pasrah di ambang pintu, menatap punggung Qin Xiang yang perlahan hilang ditelan pekatnya malam. Alkemis itu menghela napas panjang, lalu berbalik masuk kembali ke dalam paviliunnya.
Dalam perjalanan melintasi hutan yang memisahkan kota dan sekte, Qin Xiang memfokuskan pikirannya pada Alam Rahasia yang akan terbuka tiga bulan lagi. Waktunya sangat singkat. Meski kekuatan fisiknya kini sudah sebanding dengan ranah Inti Formasi, ia memiliki hambatan besar: Dantiannya hampir kosong setelah pemurnian pil tadi. Ia butuh tempat dengan konsentrasi energi yang sangat padat untuk mengisi kembali Qi Emasnya.
"Ruang Kultivasi Tertutup di sekte luar tidak akan mampu mendorongku menembus Inti Formasi dalam waktu sependek ini," gumamnya lirih. Sebenarnya, Aula Kultivasi milik murid dalam adalah solusi terbaik, namun sebagai murid luar, ia tidak memiliki akses ke sana. Satu-satunya jalan adalah mencari keberuntungan di luar lingkungan sekte.
Saat langkahnya semakin dalam memasuki jantung hutan, suasana mendadak berubah menjadi sunyi yang mencekam. Qin Xiang menghentikan langkah, matanya melirik ke sekitar dengan tatapan sinis yang mampu menembus kegelapan.
"Bukankah niat membunuh kalian terlalu berlebihan untuk disembunyikan?" Suara Qin Xiang menggema, memecah kesunyian hutan.
Detik berikutnya, tiga siluet melompat keluar dari balik pepohonan. Sosok-sosok itu memancarkan aura ranah Qi Fondasi dan Inti Formasi yang cukup kuat, namun Qin Xiang tetap berdiri dengan tenang, seolah kehadiran mereka bukanlah ancaman.
"Bagaimana kau bisa tahu keberadaan kami?" tanya salah satu dari mereka.
"Siapa yang mengirim kalian?" Qin Xiang balik bertanya, suaranya tajam. Matanya tertuju pada pemimpin mereka yang berada di ranah Inti Formasi Tahap 1, yang wajahnya tertutup kain merah bersimbol bulan sabit. Qin Xiang sedikit mengernyit. "Kelompok Assassin Bulan Sabit Merah?"
Ia teringat rumor tentang organisasi bawah tanah Kota Giok yang bersedia melakukan pekerjaan kotor apa pun demi segenggam koin emas.
"Bos, informasinya benar. Dia hanya berada di Qi Fondasi Tahap 2," lapor salah satu bawahan dengan nada menghina. "Biarkan aku saja yang mengurus sampah ini."
"Pergilah," titah sang pemimpin yang tak ingin membuang waktu.
Bawahan yang berada di ranah Qi Fondasi Tahap 9 itu langsung menerjang maju. Sebuah sabit merah tajam, senjata khas kelompok mereka, menebas udara dengan kecepatan tinggi menuju arah Qin Xiang. Qin Xiang tidak bergeming. Meski energinya sedang menipis, insting tempur seorang kaisar tetap tidak bisa diremehkan.
"B*jing*n yang mengirim kalian benar-benar meremehkanku!" cibir Qin Xiang sembari menggeser kakinya ke belakang untuk menghindari sabetan sabit.
Singgg—!
Sabit itu hanya membelah angin tepat di samping tubuhnya. Pembunuh itu terkejut, namun segera merespons dengan serangan susulan yang lebih liar. "Kau hanya sedang beruntung!"
Qin Xiang terus berkelit tanpa mengeluarkan setetes pun Qi Emas yang hanya tersisa riak di dalam tubuhnya. Ia membiarkan lawannya terus melompat seperti katak yang frustrasi, hingga tiba satu momen di mana jarak mereka sangat dekat.
"Mati!"
Qin Xiang mengunci pergerakan lawan dan melayangkan satu tinju telak di atas tubuh pembunuh itu. Serangan ini murni kekuatan fisik tanpa bantuan energi spiritual!
BAMMM—!
"Uakkk...!" Pembunuh itu terpelanting jauh, tubuhnya menghantam pohon besar dengan keras hingga tak lagi menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Qin Xiang menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia menatap dua pembunuh lain yang masih mematung, seolah tak percaya salah satu rekan mereka tumbang begitu mudah. "Katakan siapa yang mengirim kalian. Mungkin aku akan membunuh kalian dengan cara yang lebih halus," ancamnya dengan niat membunuh yang mulai meluap.
"Cih! Kau terlalu cepat seratus tahun untuk bisa mengalahkanku!" pemimpin mereka berteriak murka sembari menghunus sabitnya yang merupakan senjata kelas Tinggi. "Periksa dia, lihat apakah dia masih hidup!" titahnya pada bawahan terakhir.
Kini tersisa Qin Xiang dan pemimpin assassin itu yang saling berhadapan. Qin Xiang mengernyit sedikit; dengan kondisi tubuhnya yang lelah, pertarungan ini akan sedikit merepotkan.
"Jika kau tidak mau menyerang, maka aku yang duluan!" Pemimpin itu melesat menggunakan teknik khusus yang mempercepat langkah kakinya. Dalam sekejap, ia sudah berada di atas Qin Xiang dengan sabit terayun. "Mati kau!"
Sring—!
Senyum kemenangan sempat muncul di wajah si pembunuh saat sabitnya terasa mengenai target. Namun, senyum itu lenyap saat sabitnya menembus tubuh Qin Xiang seolah-olah ia sedang menebas hantu.
‘Teknik tipuan?’Ia menoleh cepat dan mendapati Qin Xiang sudah berdiri beberapa langkah dari posisinya semula dengan keringat lelah yang membanjiri wajah. Tanpa menunggu, ia langsung melemparkan sabitnya layaknya sebuah bumerang menuju tempat targetnya berada.
Wush...
"Bodoh..." gumam Qin Xiang. Di tangan kanannya kini sudah tergenggam Pedang Kelas Misterius bergagang naga. Ia mengayunkannya secara vertikal untuk menghancurkan sabit yang dilemparkan pihak lain.
Srekkk—!
Tinggg—!
Sabit kelas Tinggi itu terbelah menjadi dua bagian, semudah memotong melon dan rumput liar di ladang! Pedang kelas Misterius Qin Xiang menunjukkan dominasinya yang mutlak.
"Apa? Senjata kelas Misterius?"
Qin Xiang tidak membuang waktu karena seluruh Qi Emasnya sudah hampir kering. Tanpa memberi kesempatan lagi, ia menerjang dengan Teknik Pembunuh: Langkah Hantu. Membuat tubuhnya seolah membelah diri menjadi beberapa bayangan yang mengelilingi lawan, menghancurkan fokus sang pembunuh.
"Jangan main-main denganku!" Si pembunuh memukul membabi buta ke arah bayangan-bayangan itu, namun tinjunya selalu menembus udara kosong. Tiba-tiba, instingnya berteriak ada bahaya besar yang mengancam punggungnya. Ia berputar dan melayangkan tinju keras tepat ke arah Qin Xiang yang berniat menusuknya.
Woosh—!
Tinju itu mengenai tubuh Qin Xiang, namun sekali lagi hanya menembus bayangan.
Srukk—!
Bilah pedang hitam yang dingin justru menembus tubuh pembunuh itu dari arah yang berlawanan.
"Uhuk!"
Darah segar menyembur dari mulutnya. Wajah pemimpin assassin itu pucat pasi saat merasakan maut mulai merenggut kesadarannya. Qin Xiang memutar gagang pedangnya dengan kasar, lalu menendang jasad itu hingga jatuh ke tanah.
Brakk--!
"Huft... Huft..." Napas Qin Xiang tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi setelah mengerahkan seluruh sisa tenaganya di saat-saat terakhir.
Ia kemudian menoleh ke arah pembunuh terakhir—bawahan ranah Qi Fondasi Tahap 9 yang sedari tadi diliputi rasa takut yang luar biasa. Melihat bosnya tewas mengenaskan, keberanian pembunuh itu lenyap seketika. Ia memilih untuk berbalik dan melarikan diri sekencang mungkin layaknya pengecut.
"Kau pikir bisa datang dan pergi sesukamu di hadapan Kaisar ini?" Qin Xiang mencibir sinis melihat punggung pria tersebut yang sudah berada cukup jauh itu di kedalaman hutan.
Dengan gerakan halus, ia memutar tangannya dan mengeluarkan pedang lama kelas Tinggi yang sudah rusak dari tas penyimpanannya. Ia menggenggamnya seolah sedang memegang sebuah tombak. Tatapannya menjadi sangat intens. Menggunakan insting ahli yang berpengalaman, ia melakukan perkiraan presisi sebelum melemparkan pedang tersebut melambung tinggi menembus kegelapan di atas hutan.
"Teknik Tombak: Takdir Kematian!"
Wooshh—!
Pedang yang rusak itu meluncur seperti bintang jatuh, melesat sejauh beberapa ratus meter menuju targetnya.
"AHKKKKKKKKK!!!"
Jeritan pilu yang menyayat malam itu membuat Qin Xiang tersenyum puas. "Teknik tombakku rupanya masih sedikit bagus," batinnya. Ia pun meninggalkan dua mayat di sana dan melangkah tenang menuju sumber jeritan untuk menuntaskan urusannya.
...
Bersambung!