warning!!
Pertengahan Bab untuk 18 ta hun keatas ya
Aurora Zanita, gadis berusia 18 tahun yang merupakan anak angkat dari keluarga Dirgantara. Ia adalah seorang yatim piatu yang bahkan tak pernah diketahuinya hingga dia dewasa.
Ia memiliki kekasih bernama Arvin Bagaskara yang sangat dicintainya. Namun ada satu fakta antara mereka yang belum terkuak.
Pertemuannya dengan pria sombong bernama Tristan Herdiansyah tanpa sengaja pun membuat hidupnya menjadi semakin porak poranda.
"Jadilah pacarku," ucap Tristan.
"Kau gila? Aku sudah memiliki kekasih," jawab Aurora.
"Aku tidak peduli, aku butuh kamu sebagai pacar kontrakku," ucap Tristan lagi tak mempedulikan penolakan Aurora.
Berawal dari pacar kontrak paksa hingga nikah paksa.
Kenapa sih Aurora mau aja dipaksa sama Tristan?
Apakah Arvin benar-benar akan meninggalkan Aurora?
dan rahasia apa yang belum terkuak?
yuk baca kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Akhirnya setelah memakan perjalanan yang cukup melelahkan, Aurora, Tristan dan Putri tiba di vila milik keluarga Tristan.
Perjalanan mereka dari Bandara pukul 15.25 waktu Indonesia bagian barat dan sampai di Macau pada pukul 21.55 malam hari waktu setempat, setelah transit di Kuala Lumpur untuk check in ulang ke penerbangan selanjutnya.
Setibanya di vila, Putri yang sudah sangat mengantuk bergegas menuju kamarnya. "Kak Aurora jadi tidur sama aku?" tanya nya sembari menguap.
"Iya," jawab Auror singkat lalu mengikuti langkah Putri.
Tristan yang melihat itu pun menarik tangan Aurora agar berjalan sejajar dengannya.
"Apa sih Tristan, aku ngantuk mau tidur, jangan cari gara-gara deh," ucap Aurora kesal.
"Kamu tidur di kamar kamu sendiri, Putri di kamarnya sendiri, kenapa mesti tidur berdua?" sewot Tristan.
"Mulai kan, emang apa masalahnya kalau aku tidur sama Putri?" tanya Aurora heran.
Putri yang sudah berjalan jauh lebih dulu telah tiba di kamarnya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri tapi tak menemukan Aurora.
"Kemana Kak Aurora?" pikirnya.
Ia sudah sangat mengantuk. Ingin tidur duluan dan mengunci pintu, takut Aurora datang. Tapi untuk kembali menghampiri Aurora lagi, rasanya sudah tak punya tenaga.
Ia pun mengambil ponsel dan menelpon Tristan.
"Kak, Kak Aurora jadi tidur di kamarku gak ya?"
"Enggak, kamu tidur sendiri aja," jawab Tristan ketus.
"Oh ya udah aku masuk ya, bye," Putri menutup telponnya lalu masuk ke dalam kamarnya untuk segera tidur
"Kenapa kamu bilang gitu Tristan? Aku kan mau tidur sama Putri," tanya Aurora kesal dengan sikap Tristan.
"Kamu ada kamar sendiri, kenapa mesti sama Putri sih?" tanya balik Tristan yang tak kalah kesal.
"Ya suka-suka aku lah, kan aku yang mau tidur."
"Aku yang punya tempat ini," sahut Tristan tak mau kalah.
"Kamu," ucap Aurora benar-benar kehabisan kata-kata.
"Sudahlah, kamu tak memiliki pilihan selain menurut. Pilih tidur di kamarmu atau tidur di kamarku?" tanya Tristan mendominasi.
Aurora menoleh ke arahnya dan menatapnya kesal.
"Tuh kan, kamu selalu saja begitu, ya sudah lah mana kunci kamarku?" tanya Aurora.
"Aku akan membukakannya untukmu," jawab Tristan lalu menggandeng Aurora agar berjalan bersamanya.
Aurora akhirnya mengikuti Tristan. Sudah badan lelah karena perjalanan, kalau berdebat dengan makhluk itu akan membuatnya semakin lelah.
Tristan membuka pintu kamar yang akan menjadi kamar Aurora lalu membawa gadis itu masuk.
Ia meletakkan koper Aurora di sudut ruangan dekat lemari.
"Kamu tidur di sini, aku tidur di kamar sebelah," ucap Tristan yang tak dijawab oleh Aurora.
Gadis itu memilih langsung merebahkan dirinya di tempat tidur empuk nan luas yang sangat nyaman, karena rasa lelah dan kantuknya yang sedari tadi menyerang.
Aurora tertidur dengan posisi meringkuk di tengah tempat tidur. Tristan yang melihat itu pun mendekatinya.
Ditatapnya Aurora sesaat, wajahnya yang tertutup sebagian poni rambut itu masih sangat terlihat cantik.
"Ra, kamu gak mau ganti baju dulu? ini baju habis dari mana-mana loh," Tristan mencoba membangunkan Aurora.
"Aku ngantuk Tristan, besok saja sekalian mandi," jawab Aurora dengan suara yang mulai parau.
"Nanti kamu sakit karena baju ini ada bakterinya, bangun Ra," Tristan mencoba menarik tangan Aurora.
Namun tubuh Aurora yang menolak untuk bangun, membuatnya terasa berat.
"Kau yang ganti baju sendiri atau aku yang menggantikan?" tanya Tristan pada akhirnya, karena Aurora masih saja menolak untuk bangun.
Mendengar itu Aurora langsung membuka matanya. Ia terduduk di hadapan Tristan dengan tatapan kesal.
"Kamu ini selalu saja memaksaku," ucap Aurora.
"Ini demi kebaikanmu," sahut Tristan acuh.
"Ya sudah aku ganti baju dulu, kamu keluar sana," usir Aurora dengan pandangan yang masih sedikit mengantuk.
"Oke, aku akan keluar, jangan lupa untuk ganti," sahut Tristan dan beranjak dari duduknya.
Aurora mendorong Tristan agar segera keluar dari kamarnya.
"Cepat keluar, aku sudah ngantuk," usirnya lagi.
"Iya, iya."
Tristan pun akhirnya keluar kamar Aurora dengan membawa kopernya ke kamar sebelahnya.
Setibanya di dalam kamar, Tristan meletakkan koper di samping tempat tidur, bermaksud ingin mengambil pakaian ganti.
Namun saat ia ingin mengganti bajunya, ia bingung melihat koper yang dibawanya berubah.
"Loh, ini bukan koperku," pikirnya.
"Astaga, gara-gara gadis itu mengusirku dengan kasar aku jadi terburu-buru pergi dan salah membawa koper," gumamnya menepuk keningnya sendiri.
Akhirnya Tristan memutuskan untuk kembali ke kamar Aurora. Karena jika ia menunggu besok dan tidur tanpa mengganti pakaiannya, ia merasa jorok sekali.
Baju itu sudah melewati jalanan Jakarta, Kuala lumpur, pesawat, dan bandara di Macau. Pasti sudah tidak steril jika digunakan untuk tidur dan harus segera diganti.
Tristan pun membuka pintu kamar Aurora dengan kunci yang dimilikinya. Begitu masuk, ia terkejut melihat Aurora tidur tanpa mengenakan pakaian. Sepertinya hanya memakai dalaman saja dan tertutup selimut.
Ia melihat sweater dan celana jeans yang tadi dikenakan Aurora sudah tergeletak di kursi.
"Astaga benar-benar," gumam Tristan tak habis pikir.
Tristan pun berjalan menuju lemari, dimana ia tadi meletakkan kopernya. Ia menaruh koper Aurora kembali ke tempat itu dan mengambil koper miliknya.
Aurora yang belum terlalu nyenyak itu pun tiba-tiba membuka matanya. Ia merasa sangat haus karena sejak transit tadi belum minum air putih.
Aurora pun bangun terduduk di ranjangnya masih dalam keadaan yang setengah sadar. Lalu perlahan ia turun dari ranjang, dan berjalan menghampiri kulkas yang terletak di sebelah lemari.
Tristan yang sedang menukar koper itu pun terperanjat kaget. Melihat Aurora yang sedang berdiri di sebelahnya dengan keadaan yang — setengah tel*njang.
Aurora terlihat membuka kulkas dan mengambil minum lalu segera meneguknya.
Setelah itu Aurora pun kembali meletakkan air mineral dalam lemari es dan menutupnya kembali. Sepertinya kesadarannya saat ini sudah pulih, karena rasa ngantuk nya telah sedikit berkurang.
Ia pun hendak berjalan kembali menuju tempat tidurnya. Namun baru saja ingin berjalan, ia merasa ada yang aneh.
Aurora menoleh ke sebelah kanannya yang kini sedang berdiri seorang Tristan dengan tatapan yang tertuju padanya.
"Tristan," ucapnya heran melihat lelaki itu ada di kamarnya.
Lalu ia pun tersadar akan penampilan dirinya saat ini.
"Aaaaaaaaaakkk," teriaknya sembari menutupi aset-asetnya.
"Tristan! Kamu ngapain ada di kamarku hah??" jerit Aurora.
Tristan yang tersadar dari keterkejutannya itu pun menormalkan kembali pandangannya.
"Aku mau ambil koperku yang tertukar," sahutnya cuek.
Aurora berjalan ke tepi ranjang lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Bagaimana bisa kau masuk? Kamarku sudah aku kunci," tanya nya heran.
Tristan memutar tubuhnya lalu berjalan perlahan mendekati Aurora.
"Kau lupa siapa pemilik vila ini?" tanya Tristan lalu menarik Aurora dalam dekapannya, membuat selimut yang dikenakan Aurora melorot.
apa mau minta maaf atau makin mengzolimi aurora?
sesayang itu dia sama Aurora
padahal dia tau bahwa aurora sangat membenci nya
mana mau aurora klu bgtu.
dia sangat membenci mu sampai di tulang tulang nya😅
meski kesal sama tristan tapi tetap harus sopan dgn senior nya.
di tambah lagi dgn kesombongan nya. makin ngak suka. kan kasian tristan berasa ngak di hargai sama yunior nya
tapi semoga sifat itu hanya saat di hadapan tristan ajah.
apa tristan akan menjahati aurora atau malah jatuh cinta ?
apa akan jadi orang ketiga antara arvin dan aurora?
tapi seperti nya bagus cerita nya
semangat thor