Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEKERJAAN DI BALIK BUKIT
Tikarnya sudah kosong ketika aku bangun.
Parang kecil Ayah juga tidak ada. Di meja, sepiring nasi dingin masih utuh. Ibu duduk dekat tungku sambil memisahkan obat pagi dari obat malam.
“Ayah tidak makan?” tanyaku.
“Katanya dibawa.”
“Nasinya masih di sini.”
Ibu melihat piring itu. Ia tidak menjawab. Nira mengambil satu kepal nasi, membaginya dua, lalu memasukkan setengah ke dalam daun pisang.
“Buat nanti,” katanya.
“Ayah sudah pergi.”
“Besok.”
Ia menaruh bungkusan itu di rak, seolah nasi semalam dapat menunggu sampai pagi berikutnya.
Sejak bekerja di tempat pemecahan batu, Ayah berangkat sebelum ayam berkokok. Aku tidak lagi melihatnya duduk di teras sambil mengikat sandal. Saat kami pulang sekolah, tikarnya masih kosong. Ia baru muncul setelah lampu minyak dinyalakan.
Pada malam pertama, Nira hampir berteriak ketika melihatnya di pintu.
Wajah Ayah tertutup debu abu-abu. Debu menempel pada rambut, alis, telinga, dan lipatan leher. Kemejanya yang semula cokelat tampak seperti kain lama yang dicelup abu.
“Ayah jadi tua,” kata Nira.
Ayah mengangkat alis. Debu jatuh dari sana. “Baru sehari.”
“Rambutnya putih.”
“Besok hitam lagi kalau dicuci.”
Ibu menunjuk sumur. “Cuci di luar. Jangan bawa debu dekat tempat tidur.”
Ayah tidak membantah. Air bekas cuciannya mengalir kelabu sampai ke selokan kecil. Setelah itu pun masih ada garis debu di belakang telinganya.
Tempat pemecahan batu berada di balik dua bukit. Kalau angin datang dari timur, suara mesinnya terdengar sampai kebun karet. Dengungnya panjang, disusul benturan palu yang tidak teratur.
Ayah dibayar dari jumlah keranjang yang diangkat. Semakin banyak batu masuk ke truk, semakin besar upahnya. Ia membawa bekal nasi jagung dan garam, tetapi beberapa kali pulang dengan bungkusan masih berat.
Pada hari keempat, isi bungkusannya bahkan belum dibuka. Nasi sudah keras di tepi. Ibu merendamnya dengan air panas untuk makan malam. Ayah duduk sambil menempelkan kedua telapak ke cangkir. Jari-jarinya terus bergetar. Ketika Nira bertanya apakah palunya juga ikut bergetar, Ayah hanya menggeleng dan menyuruhnya menghabiskan makan.
“Kenapa tidak dimakan?” tanya Ibu.
“Lupa.”
“Orang bisa lupa makan?”
“Kalau truknya sudah datang, semua buru-buru.”
Ibu membalik kain penutup hidung Ayah. Warnanya hitam di bagian tengah.
“Ini dicuci.”
“Besok kupakai lagi.”
“Justru itu.”
Ibu merobek ujung sarung lama dan membuat dua kain pengganti. Jahitannya miring. Jarinya beberapa kali berhenti karena batuk. Ayah mengambil kain itu setelah kering dan menyelipkannya ke saku. Ia tidak mengatakan apa-apa. Malamnya, ketika Ibu tertidur, ia menarik selimut sampai menutup bahunya.
Aku dan Nira mengambil lebih banyak pekerjaan di rumah. Sebelum sekolah, aku menimba air dan memotong kayu. Nira memberi makan ayam serta menyiapkan gelas obat Ibu. Sepulang sekolah, kami membersihkan halaman dan memanaskan nasi.
“Kenapa obat Ibu ada banyak sekali?” tanya Nira suatu sore.
“Karena sakitnya di dalam.”
“Kalau lukanya di luar, tinggal ditempel daun.”
“Tidak semua luka bisa ditempel daun.”
Ia mengangguk, lalu menaruh obat malam di atas tutup botol. Dua menit kemudian ia bertanya lagi apakah paru-paru bentuknya seperti kantong beras.
Aku tidak tahu.
Di sekolah, angka-angka mulai tertukar. Pada soal tentang berat, aku menulis dua puluh kilogram sebagai dua kilogram. Bu Satya menghapusnya dengan ujung penghapus dan memintaku menghitung ulang.
“Kurang satu nol,” katanya.
Aku menambahkan nol tanpa melihat seluruh soal.
“Kau tidur berapa jam semalam?”
“Banyak.”
“Berapa?”
Aku pura-pura memeriksa pensil. Bu Satya tidak melanjutkan pertanyaan karena kelas lain mulai ribut. Namun, saat kembali ke papan, ia menatapku sekali lagi.
Jalur kebun karet tergenang pada akhir minggu. Gala mengajak kami memutar melewati jalan dekat pemecahan batu. Dari kejauhan, bukit itu tampak terkelupas. Debu menggantung di atasnya meskipun tanah di sekitar basah.
Nira menutup hidung dengan kerah bajunya. “Ayah di mana?”
Aku melihat barisan pekerja. Semua tampak sama: baju kusam, kepala terbungkus kain, tubuh abu-abu. Truk berdiri di dekat tumpukan batu. Seorang pekerja mengangkat keranjang besar ke bahu, lalu berjalan dengan badan miring.
Aku mengenali langkahnya.
“Itu.”
Nira melambaikan kedua tangan. “Ayah!”
Mesin menelan suaranya.
Kami mendekati pagar bambu. Seorang lelaki berkaus tanpa lengan keluar dari pos kecil.
“Jangan dekat-dekat,” katanya. “Anak siapa?”
“Itu ayah kami.”
“Tunggu di sana. Kalau truk mundur, bahaya.”
Kami berdiri dekat pohon sampai peluit istirahat berbunyi. Ayah datang sambil melepas kain penutup hidung. Keringat membentuk jalur di pipinya.
“Kenapa lewat sini?”
“Jalurnya banjir,” jawabku.
“Besok lewat dusun Gala.”
“Jauh,” kata Nira.
“Lebih jauh sedikit tidak apa-apa.”
Nira menyerahkan bungkusan nasi yang ia simpan dari pagi. Daunnya sudah lemas.
“Ini buat Ayah.”
Ayah memandang bungkusan itu, lalu Nira. “Kau bawa dari rumah?”
“Iya. Jangan lupa makan.”
Ayah membuka daun dan langsung mengambil satu kepal nasi. Ia makan sambil berdiri.
Di belakangnya, pekerja lain menumpuk batu ke keranjang. Sebagian batu sebesar kepala. Sebagian kecil dan tajam. Nira menunjuk truk yang sudah penuh.
“Batu ini dibawa ke mana?”
“Katanya ke kota,” jawab Ayah.
“Buat apa?”
“Bangunan. Jalan.”
“Jalan kita?”
Ayah berhenti mengunyah. “Bukan.”
“Kenapa?”
“Yang pesan orang kota.”
Nira mengernyit. “Mereka sudah punya jalan.”
Peluit berbunyi lagi. Ayah melipat sisa nasi dan memasukkannya ke saku.
“Kalian pulang. Jangan tunggu.”
Kami berjalan menjauh. Di belakang, Ayah sudah kembali mengangkat keranjang. Gala beberapa kali menoleh, tetapi tidak berkata apa-apa. Nira menendang kerikil kecil sampai keluar jalur.
Malam itu Ayah memasukkan uang ke kotak kayu Ibu. Tidak banyak. Ibu memisahkan untuk beras, obat, dan utang Pak Darma. Setelah dibagi, kotak itu hampir kosong lagi.
“Ayah kerja sampai kapan?” tanyaku.
“Sampai utang berkurang.”
“Kapan berkurang?”
Ayah menutup kotak. “Sedikit-sedikit.”
Aku tidak bertanya lagi. Setiap hari selalu ada sesuatu yang mengambil bagian: minyak tanah, garam, obat, atau atap yang bocor. Uang datang dalam lembaran tipis lalu hilang sebelum sempat terasa milik kami.
Pada akhir minggu kedua, Ayah belum pulang saat kami tidur. Aku terbangun karena pintu membentur dinding.
Ia berdiri sambil menahan lengan kanan dengan tangan kiri. Kemejanya robek dari bahu sampai siku. Bagian robek itu basah oleh darah dan lumpur.
Ibu bangkit dari dipan. “Kenapa?”
“Talinya putus.”
“Tali apa?”
“Keranjang.”
Ayah mencoba membuka kancing kemeja, tetapi tangan kanannya tidak terangkat. Aku mendekat dan memotong kain yang menempel pada kulit.
Di bawahnya, bahu Ayah membengkak. Warnanya merah keunguan. Saat ujung kain terlepas, ia menggigit bibir dan memalingkan wajah.
Nira berdiri di belakang Ibu. Bungkusan nasi untuk besok masih ada di rak.