Kehidupan Vlad Ignasevich awalnya sangat sempurna. Paras tampan dan kekayaan melimpah. Namun, insiden mengerikan telah merenggut seluruh kesempurnaan itu.
Vlad harus hidup dengan satu kaki, setelah dokter memutuskan mengamputasinya sehingga membuat Vlad mengisolasi diri di desa kecil nan tenang bernama Sieseby, Jerman.
Namun, ketenangan Vlad yang mengisolasi diri di sana mulai terusik, ketika Mikola Vanko yang merupakan ajudan setianya, datang dengan membawa gadis bernama Altea Miller.
Altea adalah gadis liar dengan seribu satu masalah. Namun, dia berhasil membawa Vlad keluar dari 'persembunyian sunyi'.
Dengan kaki palsunya, Vlad bertualang mencari Altea yang diculik oleh Ludwig Stegen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Etiquette
Mykola mengembuskan napas panjang. Dia menggaruk kening yang tak gatal. Pria tampan berdarah Rusia-Ukraina tersebut mengulum bibirnya, karena sedang berusaha menahan tawa. Dia tahu bahwa akan jadi masalah besar, andai dirinya sampai hilang kontrol.
“Siapa yang mengatakan itu?” tanya Vlad. Walau terlihat sedikit tidak nyaman, tapi pria tampan tersebut berusaha untuk tetap terlihat berwibawa.
“Dietmar Kreuk,” jawab Herbert dengan segera.
“Siapa Dietmar Kreuk?” tanya Vlad lagi.
Herbert menyeka sisa air mata yang membasahi pipi. Pria paruh baya itu bangkit. Meski agak gontai, tetapi dia tetap berusaha berdiri tegak. "Dietmar adalah penanggung jawab di Kasino Goldgeld. Dia merupakan tangan kanan langsung Ludwig Stegen,” terangnya.
“Pria yang pernah kuceritakan dulu,” ucap Mykola mengingatkan Vlad, tentang obrolan mereka beberapa waktu yang lalu tentang Ludwig Stegen dan sederet bidang usaha milik pria itu.
Vlad manggut-manggut. Dia masih ingat dengan apa yang Mykola jelaskan. Walaupun, data yang mereka pegang tentang Ludwig masih terbilang sangat minim. Namun, bukan hal sulit bagi Vlad, untuk mendapatkan yang jauh lebih banyak lagi.
“Di mana pria bernama Dietmar itu berada saat ini?” tanya Vlad lagi penuh selidik.
“Dietmar biasa berada di kasino. Jika tidak di sana, berarti dia sedang di kediaman pribadinya.” Herbert menyebutkan alamat. Letaknya tak begitu jauh dari Kasino Goldgeld. “Aku mohon. Jika kau masih sempat menyelamatkan putriku, tolong bawa dia kembali. Aku akan berlutut di hadapannya untuk meminta maaf,” ucap Herbert kembali menangis.
Akan tetapi, Vlad hanya berdecak kesal saat menanggapi permintaan pria paruh baya tersebut. Dia menggeleng pelan seraya berlalu dengan sikap yang terkesan tak acuh. Vlad tak menganggap serius, sikap Herbert yang menurutnya hanya berpura-pura. Kalaupun ayahanda Altea tersebut memang benar-benar menyesal, rasanya itu sudah terlambat
“Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan?” tanya Mykola setelah mereka berada di luar.
Vlad yang hendak membuka pintu mobil, langsung menoleh. “Aku lelah. Aku ingin tidur satu atau dua jam,” jawab pria berambut pirang itu seraya masuk ke mobil.
“Apa Anda akan menginap di apartemenku?” tanya Mykola lagi, sebelum Vlad melajukan mobil double cabinnya.
“Jika ada yang gratis, kenapa harus mencari yang berbayar,” sahut Vlad enteng.
“Oh, ya. Tentu, Tuan. Gratis,” balasnya seraya mengulum senyuman.
Melihat sikap aneh Mykola, Vlad merasa tersindir. Dia menatap lekat sang asisten kepercayaan. “Jangan menyindirku!” sergahnya. “Wanita itu yang datang sendiri dan … ah sudahlah! Aku tak memiliki kewajiban apapun untuk memberikan penjelasan padamu.” Vlad mendengkus kesal. Dia menyalakan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas.
Melihat kendaraan milik sang majikan telah melaju kencang, Mykola bergegas menyusul. Dia tahu seperti apa cara mengemudi seorang Vlad Ignashevich. Mykola pun memperlihatkan kebolehannya dalam menaklukan jalanan. Dia dapat menyusul mobil milik Vlad yang semakin menambah kecepatan, hingga mereka tiba di depan gedung apartemen tempat tinggal Mykola.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Altea sudah terbangun. Wanita muda itu berjalan mengendap-endap keluar kamar. Namun, betapa terkejutnya dia, karena di ujung koridor sudah ada dua orang wanita muda seusia dirinya. Altea terpaku di tempat dia berdiri.
“Selamat pagi, Nona Miller,” sapa Delma yang muncul dari belakang kedua wanita muda tadi. Penampilan wanita paruh baya itu terlihat sangat berbeda. Rambut ikal yang semalam terlihat sedikit acak-acakan, kali ini sudah tersanggul rapi. Delma juga telah mengenakan pakaian yang terbilang formal, yaitu kemeja putih dilengkapi rok span sebatas lutut. “Kuharap kau sudah siap,” ucap Delma dengan gaya bicaranya yang terlihat sangat indah.
Altea meringis kecil. “Siap untuk apa, Nyonya?” tanyanya. Dia masih tak mengerti dengan tujuan Ludwig mengirimkannya ke sana.
“Bersiap untuk pelajaran pertama,” jawab Delma diiringi senyum lembut, yang membuatnya tampak semakin anggun dan elegan.
Altea mengembuskan napas pelan. Dia yang tadinya bermaksud untuk melarikan diri dari sana, tak punya pilihan lain. Wanita itu mencoba mengikuti permainan yang Ludwig siapkan untuknya. “Baiklah. Aku memang tidak sempat melanjutkan sekolah hingga ke bangku perkuliahan. Jadi, pelajaran apa yang akan Anda berikan hari ini?” tanyanya sambil mengikuti langkah anggun Delma.
“Oh, tidak. Ini bukan tentang matematika atau semacamnya, Sayangku,” sahut Delma. Dia mempersilakan Altea masuk ke sebuah ruangan yang sangat indah. Di sana, terdapat sebuah meja berbentuk bundar dengan dua kursi. Ada pula tempat tidur mewah berhiaskan kelambu putih. Selain itu, di ruangan tersebut terdapat beberapa perabot yang entah untuk apa fungsinya.
“Silakan duduk, Nona Miller.” Delma mengarahkan Altea ke sofa mewah tak jauh dari tempat tidur tadi.
Altea berjalan dengan langkah tenang khas dirinya, lalu duduk seperti biasa. Hal itu membuat Delma tersenyum padanya. Delma menggeleng pelan. Dia lalu mencontohkan sikap duduk yang benar, juga cara meletakkan posisi tangan yang tepat.
“Akan kujelaskan sesuatu padamu, Nona Miller,” ucap Delma masih dengan gaya bicara serta bahasa tubuhnya sang terlihat sangat indah. “Tak semua gadis dikirim kemari oleh Tuan Ludwig. Itu artinya, kau termasuk seseorang yang beruntung,” jelas Delma.
“Kenapa?” tanya Altea penasaran.
“Tuan Ludwig mempersiapkanmu untuk orang-orang kalangan atas. Kau tahu seperti mereka? Bersih, wangi, dan tentu saja kehidupan yang sangat layak. Kau bisa mendapat banyak kesempatan baik jika bertemu dan berkenalan dengan para pembesar,” jelas Delma lagi.
“Akan tetapi, para pria kalangan atas hidup dengan tata krama dan attitude yang terjaga. Mereka terbiasa dengan sesuatu yang tertata rapi. Kebersihan yang terjamin dalam segala hal. Di sini, aku akan mengajarimu bagaimana caranya menjadi wanita yang tak hanya memiliki keindahan fisik. Namun, kau juga akan memperoleh pendidikan kepribadian, yang akan menuntun dirimu menjadi seorang penghibur kelas atas.”
Altea ternganga mendengar penuturan Delma. Dia tak pernah tahu bahwa ada pendidikan semacam itu bagi para wanita penghibur. Altea tertawa renyah. “Apakah Anda juga akan mengajariku bagaimana caranya melayani pria hidung belang di atas ranjang?” Pertanyaan Altea terdengar seperti sebuah sindiran penuh ironi.
“Ya,” jawab Delma dengan yakin.
Sulit dipercaya. Altea kembali tak habis pikir. Entah kehidupan gila macam apa yang dirinya jalani kali ini. “Oh, terima kasih ayah,” gumam wanita muda itu pelan, sambil menunggu Delma yang sedang menyiapkan berbagai properti untuk penunjang pelatihannya kali ini.
Sementara Altea menjalani berbagai pelatihan kepribadian bersama Delma, Vlad kembali mendatangi Kasino Goldgeld. Kali ini, dia dapat bertemu langsung dengan Dietmar dan Folke.
“Berhati-hatilah, Tuan. Dia bukan pria sembarangan. Pria itulah yang telah melukai pahaku tempo hari,” besok Folke.
Mendengar itu, Dietmar tampak waspada. Namun, dia berusaha agar tetap terlihat tenang di hadapan Vlad. “Apa yang kau inginkan? Kau yang telah mengacau di sini kemarin?” tanyanya dengan penuh percaya diri. Dietmar menunjukkan bahwa dia tak merasa takut terhadap pria di hadapannya.
“Masih sama seperti kemarin. Tujuanku kemari hanya untuk Altea Miller,” jawab Vlad tenang, tapi tetap waspada.
“Dia tidak ada di sini,” jawab Dietmar dengan segera. “Wanita liar tak berguna itu sudah dibawa pergi oleh Tuan Ludwig,” terangnya.
“Ke mana?” desak Vlad.
“Ke manapun, itu bukanlah urusanmu,” sahut Dietmar diiringi senyuman mencibir.
“Kalau begitu pilihlah! Kaki kanan atau kiri yang ingin kau pertahankan?” gertak Vlad.
menunggu asmara up sampai ngabisin baca 2 judul novel otor😁 semua bagus
ludwig datangnya diakhir ya kedahuluan.
menyerah saja lud kau gak akan bisa memiliki altea meskipun sudah ngincipin🤣🤣🤣
mayan gak pakai sewa perias semua disiapkan delma setelah siap vlad yang jadi mempelainya.
mykola nanti apa jatuh hati sama gadis yang menemani ibunya itu
salah lawan hancur habis usahamu
lumayan gak usah kursus
jelas sangat jelas kemarin masih segol kok sekarang gak pelakunya ketangkap basah🤣🤣🤣
seru bawa pasukan banyak biar porak poranda tempatnya
willy gak rugi kan mengikuti mykola jadi tau keindahan rumah sultan rusia😁
mykola bawa umpan yang pas dan menguntungkan
sudah er duga dari awal kalau atlea pandai menyanyi dan hidup dijalanan dia pasti seorang pengamen
vlad ini yang gaya rambutnya man bun itu ya tor yang di novel the bodyguard