NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 — Menghindari Peluru dengan Mata Terpejam, Menembak AK dengan Satu Tangan

Jari Sienna hampir saja meraih celana pendek bermotif mencolok milik Adrian.

Namun Adrian masih berdiri di tempat.

Bahkan lututnya tidak sedikit pun menekuk.

Dia malah mengangkat kaki kanannya, menggoyangkan sandal jepit birunya di udara beberapa kali.

Sepertinya ada pasir yang masuk di sela-sela jarinya.

Sienna hanya bisa menatapnya dengan wajah pucat.

Orang ini gila.

Itulah satu-satunya kesimpulan yang muncul di kepalanya.

Di saat berikutnya, puluhan peluru melesat menuju Adrian.

Namun tepat sebelum rentetan peluru itu menghantam tubuhnya—

[Prediksi Krisis Tingkat Dasar aktif.]

Sensasi geli yang sangat halus muncul di dalam kepala Adrian.

Dunia di sekelilingnya seolah melambat.

Peluru-peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi kini terlihat seperti garis-garis lintasan yang jelas di dalam persepsinya.

Arah angin.

Kecepatan peluru.

Lintasan tembakan.

Jarak.

Semuanya diproses secara otomatis.

Adrian menurunkan kaki kanannya.

Sandal jepit itu kembali menapak dengan mantap di atas pasir.

Dia kemudian melangkah setengah langkah ke kiri.

Tiga peluru melintas tepat di tempat dia berdiri sebelumnya.

Whus! Whus! Whus!

Ketiganya menghantam bukit pasir di belakangnya dan menyemburkan pasir ke udara.

Adrian memiringkan kepalanya lima sentimeter ke kanan.

Dua peluru melintas di sisi helm merah mudanya.

Salah satunya bahkan menggores permukaan plastik helm dan meninggalkan bekas hangus tipis.

Adrian mengernyit.

“Yah.”

Dia menepuk helmnya.

“Helm lima dolar memang kualitasnya menyedihkan.”

Kemudian dia sedikit mencondongkan tubuh ke belakang.

Sebuah rentetan peluru melintas tepat di depan dadanya.

Ujung beberapa peluru bahkan hampir menyentuh kaus putih bertuliskan “Harapan Seluruh Desa” yang dikenakannya.

Adrian malah menguap.

Sienna yang masih berbaring di pasir sampai lupa bernapas.

Apa yang sedang dia lihat?

Pria itu berjalan di tengah hujan peluru.

Bukan berguling.

Bukan merangkak.

Bukan berlindung di balik kendaraan.

Dia hanya berjalan santai.

Kadang memiringkan kepala.

Kadang menggerakkan bahu.

Kadang bahkan membetulkan helmnya.

Namun setiap peluru selalu meleset beberapa sentimeter dari tubuhnya.

Sienna pernah menjalani pelatihan militer paling keras.

Dia tahu betapa mustahilnya bertahan di tempat terbuka ketika menghadapi tembakan sebanyak itu.

Bahkan seorang agen terbaik pun akan kesulitan bertahan beberapa detik tanpa perlindungan.

Namun pria di depannya...

Seolah sedang berjalan-jalan di tengah hujan.

“Bidik yang benar!”

Pemimpin Blood Viper berteriak histeris.

“Jangan cuma menembak pasir!”

“Bos! Kami sudah membidik!”

Salah seorang anak buahnya hampir menangis.

“Saya bahkan sudah mengarahkan bidikan tepat ke kepalanya!”

“Lalu kenapa tidak kena?!”

“Saya juga tidak tahu!”

Pemimpin itu semakin marah.

“Habisi dia!”

Rentetan tembakan kembali menggila.

Adrian justru berhenti.

Dia mengangkat kepala.

Matahari siang Darsen terasa sangat menyengat.

Cahayanya memantul di pasir gurun dan membuat mata terasa perih.

Adrian menyentuh bagian depan helm merah mudanya.

Tidak ada kaca pelindung mata.

Dia menghela napas.

“Lima dolar cuma dapat begini.”

Adrian menggeleng.

“Besok harus beli yang lebih bagus.”

Kemudian dia menutup matanya.

Sienna langsung membelalak.

“Adrian!”

“Jangan tutup mata!”

Namun Adrian tidak menjawab.

Dia mengangkat AK-47 dengan satu tangan.

Matanya tetap terpejam.

Bahkan kepalanya tidak mengarah langsung kepada musuh.

Sienna benar-benar merasa jantungnya berhenti berdetak.

Dia sedang apa?

Puluhan senapan masih mengarah kepadanya.

Adrian justru berdiri santai dengan mata tertutup.

Kemudian jarinya menyentuh pelatuk.

DOR!

Satu tembakan terdengar.

Pemimpin Blood Viper yang sejak tadi berteriak paling keras tiba-tiba terdiam.

Tubuhnya membeku.

Kemudian dia jatuh ke belakang.

Semua orang di sekitarnya langsung terdiam.

Adrian masih menutup mata.

“DOR!”

Tembakan kedua.

Seorang pria di sisi kiri langsung jatuh.

“DOR!”

Tembakan ketiga.

Pria lain terhuyung dan tumbang.

Adrian tidak membuka mata.

Tangannya bergerak dengan ritme yang stabil.

Setiap kali moncong AK berhenti sesaat—

DOR!

Satu musuh jatuh.

Kemudian berpindah.

DOR!

Satu lagi.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Tidak ada pembidikan panjang.

Tidak ada keraguan.

Kemampuan Penguasaan Senjata Tingkat Maksimal membuat setiap gerakan Adrian begitu alami seolah-olah senjata itu merupakan bagian dari tubuhnya sendiri.

Ditambah kemampuan Prediksi Krisis, setiap ancaman yang mendekat langsung terbaca dalam pikirannya.

Musuh mencoba berpencar.

Adrian mengubah arah tembakan.

Musuh mencoba berlindung di balik kendaraan.

Adrian menunggu sepersekian detik, lalu menembak saat kepala mereka muncul.

Musuh mencoba menyerang dari sisi kanan.

Adrian bahkan tidak membuka mata.

Dia hanya memutar tubuh sedikit.

DOR!

Pria itu jatuh.

Barisan Blood Viper mulai kacau.

“Monster!”

“Dia bukan manusia!”

“Lari!”

Salah seorang anggota Blood Viper menjatuhkan senjatanya dan berbalik.

Yang lain ikut panik.

Mereka yang sebelumnya yakin jumlah mereka cukup untuk menghabisi Adrian kini hanya ingin menyelamatkan diri.

Namun Adrian tetap berdiri.

Matanya masih terpejam.

Seorang pria mencoba merangkak di bawah kendaraan.

Adrian memiringkan kepalanya.

DOR!

Gerakan itu berhenti.

Dua orang lainnya sudah berlari belasan meter.

Adrian mengangkat senjata sedikit.

DOR! DOR!

Keduanya jatuh di atas pasir.

Kemudian...

Hening.

Suara tembakan berhenti.

Tidak sampai satu menit.

Lebih dari dua puluh anggota Blood Viper yang sebelumnya mengepung Adrian kini sudah tidak lagi mampu melanjutkan perlawanan.

Adrian membuka matanya.

Dia mengangkat AK-47 dan meniup ringan ujung larasnya.

Kemudian dia mengangguk puas.

“Lumayan.”

Sienna hanya duduk terpaku.

Dia tidak bisa berkata apa-apa.

Selama bertahun-tahun menjalani pelatihan, dia telah melihat banyak penembak hebat.

Namun menutup mata sambil menghindari rentetan peluru...

Kemudian membalas dengan satu tangan...

Itu sudah berada di luar batas pemahaman manusia biasa.

Adrian menyampirkan AK-47 ke bahunya.

“Kerja, kerja.”

Dia berjalan menuju para anggota Blood Viper yang telah tumbang.

Sienna memperhatikannya dengan tatapan aneh.

Pria yang barusan bertarung seperti monster...

Kini jongkok di samping salah satu musuh.

Tangannya masuk ke saku korban.

Beberapa lembar uang dolar yang kusut keluar.

Adrian membersihkan pasir yang menempel di uang itu.

Kemudian memasukkannya ke saku celana pendek.

Dia menemukan sebuah korek api.

Melihatnya sebentar.

“Tidak berguna.”

Korek itu dilemparkan kembali.

Adrian berpindah ke korban berikutnya.

“Kenapa miskin sekali?”

Dia menghela napas.

“Organisasi sebesar ini, anggota patroli bahkan tidak membawa uang tunai.”

Sienna benar-benar tidak tahu harus tertawa atau takut.

Pria ini baru saja mengalahkan lebih dari dua puluh orang bersenjata.

Sekarang dia malah sibuk mencari uang receh.

Beberapa menit kemudian, Adrian selesai memeriksa semuanya.

Hasilnya tidak terlalu banyak.

Beberapa lembar dolar.

Uang receh.

Dan dua jam tangan mekanis yang masih terlihat cukup bagus.

Adrian memasukkan semuanya ke saku.

“Lumayan.”

Dia menepuk saku celananya.

Kemudian kembali menuju motor tuanya.

Sienna menatapnya.

“Kamu...”

Adrian sudah menaiki motor.

“Hm?”

“Siapa sebenarnya kamu?”

Adrian memegang stang motor.

“Adrian.”

Jawabannya sederhana.

Dia menekan pedal starter.

“Tok... tok... tok...”

Mesin motor kembali menyala.

Asap hitam keluar dari knalpot.

Adrian hendak pergi ketika tiba-tiba—

Grrr...

Tanah bergetar.

Adrian menghentikan gerakannya.

Pasir di sekitar mereka mulai bergerak.

Butiran-butiran kecil melompat naik turun.

Sienna langsung menoleh ke arah cakrawala.

Wajahnya berubah pucat.

Suara mesin terdengar dari kejauhan.

Bukan satu kendaraan.

Banyak.

Semakin dekat.

Semakin keras.

BRUUUMMM!

Debu gurun membumbung tinggi.

Sesuatu muncul dari balik bukit pasir.

Sebuah kendaraan lapis baja beroda berukuran besar melaju dengan kecepatan tinggi.

Rantai kecil pasir beterbangan di belakang rodanya.

Di bagian atas kendaraan, sebuah senjata berat mulai bergerak.

Laranya perlahan turun.

Kemudian berhenti tepat mengarah ke posisi Adrian dan Sienna.

Sienna langsung merasa tubuhnya dingin.

“Tidak...”

Dia menatap kendaraan itu dengan ngeri.

“Mereka benar-benar mengirim kendaraan lapis baja.”

Adrian menatap kendaraan tersebut.

Kemudian melihat motor tuanya.

Lalu melihat lagi kendaraan lapis baja.

Wajahnya perlahan berubah serius.

“Wah.”

Dia menghela napas.

“Kalau begini...”

Tangannya meraih AK-47.

“...lembur hari ini sepertinya bakal lebih panjang.”

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!