6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - TEROR MALAM PERTAMA
BRAKK!
Pintu balai desa tertutup keras. Kami berenam loncat kaget.
Riko langsung lari ke pintu, mengguncang gagang pintu kayu yang sudah berkarat. "Terkunci! Terkunci dari luar!"
Bima ikut membantu, menendang dan mendorong dengan bahu, tapi pintu itu tidak bergerak sama sekali, seperti ada yang menahannya dari luar dengan kekuatan besar.
Suara langkah kaki di luar semakin banyak. Bukan satu dua orang, tapi puluhan. Tap... tap... tap... mengelilingi balai desa. Mengitari kami.
Sinta sudah nangis kejer di pojok, memeluk Maya. "Gue mau pulang, Sel. Gue mau pulang sekarang!"
Gue coba tetap tenang sebagai ketua. Gue ambil HP dari saku, tidak ada sinyal sama sekali. Nol. Jam di HP menunjukkan pukul 12.30 siang, tapi di dalam balai desa ini gelap seperti sudah jam 7 malam. Kabut dari luar masuk melalui celah-celah dinding kayu.
Maya berbisik dengan suara gemetar, matanya melotot melihat ke arah sesajen di pojok, "Sel, itu... itu bukan sesajen buat kita. Itu sesajen buat mereka. Lihat."
Kami semua melihat ke pojok. Enam gelas teh yang tadi mengepul panas, sekarang airnya berubah menjadi merah kental seperti darah. Nasi kuning di piring berubah menjadi tanah basah yang ada belatungnya bergerak-gerak. Ayam panggangnya berubah menjadi bangkai tikus yang membusuk.
Bau busuk menyengat langsung memenuhi ruangan.
"Jangan ada yang sentuh!" teriak gue.
Tiba-tiba, foto hitam putih besar di dinding bergerak. Foto enam orang yang wajahnya mirip kami itu, mata mereka di foto mulai mengeluarkan air mata darah. Darah itu mengalir dari bingkai foto menetes ke lantai.
Dan foto itu tersenyum. Senyum mereka semakin lebar, melampaui batas wajah.
KREKKK... KREKKK...
Lantai kayu balai desa berderit. Dari bawah kolong papan kayu, muncul tangan-tangan pucat, kurus, kotor penuh tanah. Banyak sekali tangan yang mencoba meraih kaki kami.
"AAAKH!" Sinta menjerit, kakinya ditarik oleh tangan dari bawah lantai.
Riko dengan cepat menarik Sinta. Bima menginjak tangan-tangan itu, tapi tangan itu tidak hancur, malah semakin banyak muncul.
Farhan yang penakut tiba-tiba berani, dia ambil senter dari tasnya dan menyorot ke bawah lantai. Saat cahaya senter mengenai tangan-tangan itu, tangan itu menghilang dengan suara jeritan melengking.
"CAHAYA! MEREKA TAKUT CAHAYA!" teriak Farhan.
Kami semua langsung nyalakan senter HP.
Tangan-tangan itu mundur ke bawah lantai, hilang.
Tapi teror belum selesai. Dari luar jendela, wajah Nek Jum menempel di kaca. Wajahnya sekarang tidak seperti nenek-nenek. Kulitnya mengelupas, matanya hitam semua, senyumnya robek sampai ke telinga.
Dia mengetuk kaca pelan dengan kukunya yang panjang, "Tok... tok... tok... Anak-anak, waktunya makan malam. Keluarlah. Kami sudah menunggu 20 tahun."
Jam di dinding balai desa yang tadi mati, tiba-tiba berdetak. Jarumnya berputar cepat, berputar balik, dan berhenti tepat di jam 9 malam.
Padahal tadi masih jam 12 siang.
Listrik genset padam. Balai desa gelap total. Hanya cahaya senter kami.
Dan di kegelapan itu, kami baru sadar, di dalam balai desa ini bukan cuma kami berenam.
Ada bayangan-bayangan hitam lain berdiri di sudut-sudut ruangan. Diam mengamati kami. Jumlahnya puluhan. Dan satu per satu, mata mereka menyala merah di dalam gelap.
Malam pertama kami di Desa Kalijati baru saja dimulai.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐