NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 PERPISAHAN

Kabut tipis menyelimuti pelataran gua saat fajar mulai membias. Api unggun telah padam sejak tengah malam, menyisakan tumpukan abu dingin yang diterpa angin perbatasan.

Mu Jin berdiri di mulut gua. Tangan kanannya yang tak lagi terbungkus kain kasa kusam tampak dipenuhi bekas luka dan memar kebiruan yang mulai mengering. Di punggungnya, pedang besi hitam terikat erat. Dia tidak lagi membiarkan besi itu bergantung kaku. Posisinya kini sedikit miring, pas dengan tumpuan panggulnya setelah berhari-hari berlatih tanpa henti.

Lu Xian keluar dari kegelapan gua. Pedang ganda di pinggangnya terikat rapi, dan gaun birunya yang robek telah dijahit ala kadarnya. Wajahnya tampak lebih tenang, meski bayangan duka atas musnahnya Sekte Burung Hong masih bersisa di matanya.

“Kau benar-benar akan pergi sekarang?” tanya Lu Xian, menatap punggung Mu Jin yang kusam.

“Aku sudah terlalu lama berhenti,” jawab Mu Jin serak. “Bekas lukaku sudah cukup keras untuk dipakai berjalan.”

Lu Xian menatap pria di hadapannya. Tiga minggu lalu, Mu Jin hanyalah bayangan gila yang mengayunkan pedang seperti kapak membelah kayu. Kini, meski masih tanpa tenaga dalam, setiap pijakan kaki Mu Jin membumi dan penuh perhitungan.

“Jalan ke utara dipenuhi darah,” kata Lu Xian pelan. “Lu Chen dan Sekte Bulan Merah mengepung setiap perbatasan. Kau tidak akan bisa menembusnya sendirian.”

Mu Jin berbalik perlahan, menatap mata Lu Xian. “Lalu bagaimana denganmu?”

Lu Xian meremas gagang pedangnya. Ada pendar integritas yang mendalam di matanya—sebuah tekad yang tidak bisa dihancurkan oleh pembantaian Puncak Awan Putih.

“Aku tidak bisa ikut denganmu ke utara,” ujar Lu Xian mantap. “Aku harus pergi ke Lembah Pedang Hijau di wilayah selatan. Ketua mereka adalah sahabat mendiang guruku. Aku akan membongkar kejahatan Lu Chen di hadapan mereka, mengumpulkan sekte-sekte kecil yang tersisa, dan mencari keadilan yang sebenarnya.”

Mu Jin mendengarkan dalam hening. Keadilan. Sebuah kata yang sangat dipercayai oleh Lu Xian, namun telah mati di hati Mu Jin sejak Lembah Nian dibakar. Bagi Lu Xian, kebenaran harus ditegakkan melalui aliansi dan nama baik sekte. Bagi Mu Jin, satu-satunya kebenaran yang tersisa adalah membuat Lu Chen membayar setiap abu yang pernah tercipta.

Mereka berdiri berseberangan dalam jarak tiga langkah. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada janji setia di antara dua jiwa yang sama-sama kehilangan tempat kembali ini.

“Terima kasih atas jalannya,” kata Mu Jin datar, menundukkan kepalanya sekilas, sebuah penghormatan jujur dari seorang tukang kayu atas ilmu memegang pedang yang dia dapatkan.

Lu Xian menatap Mu Jin dengan pandangan rumit. “Jangan mati di utara, Mu Jin. Jika dunia ini memang sudah membusuk, setidaknya biarkan orang-orang seperti kita melihat bagaimana akhirnya.”

Mu Jin tidak membalas. Dia berbalik, merapatkan tali pedangnya, lalu mulai melangkah turun menelusuri alur tebing batu yang terjal menuju jalan setapak perbatasan utara.

Lu Xian berdiri menatap punggung kusam itu hingga sosok Mu Jin perlahan melenyap di balik gulungan kabut pagi. Setelahnya, sang pendekar wanita berbalik melangkah ke arah selatan, membawa sisa-sisa kehormatan sektenya untuk mencari sekutu baru.

Di bawah langit timur yang mendung, dua alur perjalanan telah berpisah. Lu Xian berjalan membawa integritas untuk membangun kembali apa yang runtuh, sementara Mu Jin melangkah seorang diri memasuki kegelapan utara, membawa besi kaku di punggungnya menuju takdir yang kian berdarah.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!