NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM YANG PENUH RACUN

Jam dinding di ruang rapat menunjukkan pukul tujuh malam. Pak Hendra baru saja menutup laptopnya, wajahnya lelah namun puas dari ekspresinya. Kami telah menghabiskan empat jam penuh membedah data, menyusun strategi, dan mematahkan setiap celah kelemahan dalam jaringan Fadli.

"Rencana awal sudah solid, Nyonya," ucap Pak Hendra sambil meregangkan punggungnya.

"Tapi ada satu variabel yang belum kita hitung: reaksi emosional Tuan Fadli ketika dia menyadari bahwa Anda bukan lagi istri yang bisa dikendalikan. Dia mungkin akan bertindak irasional sebelum rencana kita matang."

Aku mengangguk, menatap papan tulis putih yang dipenuhi diagram alur dana dan catatan strategis.

"Itu justru keuntungan bagi kita, Pak Hendra. Orang yang panik membuat kesalahan. Orang yang tenang bisa melihat kesalahan itu dan memanfaatkannya. Saya tidak perlu mengendalikan emosinya. Saya hanya perlu memastikan kesalahannya terlihat jelas oleh semua orang yang tepat."

Pak Hendra tersenyum tipis, lalu berdiri.

"Baik. Saya akan kirimkan ringkasan pertemuan ini ke email pribadi Tuan Arya. Nyonya sebaiknya pulang sekarang. Istirahat yang cukup sama pentingnya dengan strategi yang matang."

"Terima kasih, Pak Hendra," jawabku sambil merapikan tas.

"Sampai jumpa besok pagi."

Aku berjalan keluar dari Wijaya Tower dengan langkah ringan. Udara malam Jakarta terasa segar di kulit. Di kehidupan sebelumnya, jam segini aku biasanya sedang menangis di kamar mandi atau menunggu Fadli pulang dengan makan malam yang sudah dingin. Tapi malam ini, aku merasa hidup. Benar-benar hidup.

Ponsel ku bergetar di tanganku. lagi lagi Nama Fadli ❤️ muncul di layar. Dulu, nama itu membuat jantungku berdegup kencang karena harap. Sekarang, hanya membuatku menghela napas panjang. Aku mengangkat telepon, suaraku langsung berubah menjadi nada lembut yang dulu selalu kugunakan—nada yang kini terasa seperti kostum yang terlalu sempit.

"Halo, Sayang?"

"Siren! Kamu di mana? Aku sudah di rumah dari sejam yang lalu! Kamu bilang mau rayain anniversary kita, tapi kamu malah menghilang!" Suara Fadli terdengar marah, tapi di balik kemarahannya ada ketakutan yang jelas.

"Aku sekarang dalam perjalanan pulang, Sayang," jawabku tenang.

"Ada urusan mendadak yang harus kuurus. Tapi jangan khawatir, aku sudah siapkan kejutan untukmu di rumah."

"Kejutan apa? Kamu nggak bohong kan, Ren? Tadi pagi kamu ngomong aneh-aneh soal email dan meeting..."

"Fadli," potongku pelan, suaraku tetap manis tapi mengandung peringatan halus.

"Kalau aku mau bohong, aku nggak akan bilang ada kejutan. Aku akan bilang aku sakit kepala dan tidur lebih awal. Percayalah padaku kali ini, ya?"

Ada keheningan di seberang sana. Lalu suara Fadli terdengar lebih lembut, hampir memohon.

"Oke... oke. Aku tunggu di rumah. Hati-hati di jalan, ya."

"makasi Sayang," ucapku sebelum menutup telepon.

Dua puluh menit kemudian, mobil pribadiku berhenti di depan gerbang rumah mewah kami. Sopir membukakan pintu, dan aku melangkah masuk dengan senyum yang sudah kusiapkan. Ruang tamu terang benderang. Lilin-lilin aromaterapi menyala di atas meja kopi. Di tengah ruangan, terdapat kotak kado berukuran sedang dibungkus kertas emas mengkilap.

Fadli duduk di sofa, wajahnya tegang. Saat melihatku, matanya langsung tertuju pada kotak kado itu.

"Itu... apa?" tanyanya, suaranya serak.

Aku berjalan mendekat, lalu duduk di sebelahnya. Jarak antara kami hanya selebar lengan, tapi rasanya seperti jurang yang tak terjembatani. Aku mengambil kotak kado itu, lalu menyerahkannya ke tangannya.

"Buka saja, Sayang," bisikku, mataku menatap wajahnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Ini hadiah anniversary ketiga kita."

Fadli menelan ludah keras. Tangannya gemetar saat merobek kertas pembungkus. Di dalamnya terdapat sebuah bingkai foto kecil. Foto itu menampilkan dirinya dan Nia sedang berciuman mesra di lobby Hotel Grand Mercure, tanggal terpampang jelas di sudut bawah: 17 Agustus 2021. Hari ini. Hari ulang tahun pernikahan kami.

Wajah Fadli pucat pasi. Matanya membelalak, napasnya tersengal-sengal. Ia menatap foto itu, lalu menatapku, lalu kembali ke foto itu. Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali tanpa suara.

"K-Kamu dapat dari mana foto ini?" akhirnya ia berhasil mengeluarkan kata-kata, suaranya parau.

Aku tersenyum, senyum yang tidak mencapai mata.

"Dari sumber yang sangat terpercaya, Sayang. Sumber yang tahu persis di mana kamu berada setiap kali kamu bilang 'meeting penting'. Sumber yang juga tahu bahwa Nia sedang hamil tiga bulan, dan anak itu bukan milikmu."

Fadli terhuyung mundur, seolah ditampar fisik.

"H-Hamil? Nia bilang... Nia bilang itu anakku! Dia bilang dia tes DNA dan hasilnya positif!"

"Dia berbohong, Fadli," jawabku datar.

"Karena ayah biologis anak itu adalah bosnya di perusahaan tempat dia bekerja. Pria yang juga menjadi klien gelapmu. Nia menggunakan kehamilan itu sebagai leverage untuk memerasmu, sekaligus sebagai alat untuk menjauhkanmu dariku. Dan kamu, dengan bodohnya, percaya padanya."

Air mata mulai mengalir di pipi Fadli. Bukan air mata penyesalan, tapi air mata ketakutan. Ketakutan akan kehilangan kendali, kehilangan uang, kehilangan citra.

"Ren... Ren, tolong... aku salah. Aku menyesal. Beri aku kesempatan kedua. Aku akan putuskan semuanya. Aku akan tinggalkan Nia. Aku akan fokus pada keluarga kita. Tolong, Ren..."

Aku menatapnya lama. Melihat pria yang dulu kucintai buta kini merangkak di hadapanku, memohon belas kasihan. Dulu, pemandangan ini akan membuat hatiku hancur lebur. Dulu, aku akan memeluknya dan berkata 'aku maafkan kamu'.

Tapi hari ini? Hari ini aku hanya merasakan kepuasan yang dingin dan tajam.

"Kesempatan kedua?" ulangku pelan, suaraku hampir berbisik.

"Fadli, kamu sudah mendapat ribuan kesempatan. Setiap kali kamu berbohong, setiap kali kamu menyentuh wanita lain, setiap kali kamu mengabaikan perasaanku... itu adalah kesempatan. Dan kamu menyia-nyiakan semuanya."

Aku berdiri, berjalan menuju jendela besar di ruang tamu. Menatap lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan.

"Kamu pikir aku memberimu foto ini karena aku masih mencintaimu?" lanjutku, punggungku masih menghadapnya.

"Kamu pikir ini adalah upaya terakhir untuk menyelamatkan pernikahan kita?"

Aku berbalik, menatap matanya yang basah oleh air mata.

"Ini bukan upaya penyelamatan, Fadli. Ini adalah deklarasi perang. Aku tidak ingin memperbaiki pernikahan yang sudah busuk dari dalam. Aku ingin menghancurkannya. Dan aku ingin kamu menyaksikan setiap detik kehancuran itu dengan mata kepalamu sendiri."

Fadli terpaku. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar melihatku. Bukan sebagai istri penurut, bukan sebagai objek kepemilikan, tapi sebagai wanita yang telah bangkit dari abu pengkhianatan. Wanita yang tidak akan pernah lagi meminta maaf karena eksistensinya.

"Kamu sudah berubah," gumamnya, suaranya pecah.

"Aku tidak berubah, Fadli," balasku tegas.

"Aku hanya akhirnya menjadi diriku sendiri. Diriku yang sebenarnya. Dan dirimu yang sebenarnya? Ternyata hanyalah pria lemah yang butuh validasi dari wanita lain karena tidak mampu mencintai istrinya dengan utuh."

Aku berjalan kembali ke sofa, duduk di hadapannya. Jarak antara kami masih sama, tapi dinamika kekuasaannya telah berbalik seratus delapan puluh derajat.

"Malam ini, kamu punya dua pilihan," ucapku, suaraku rendah namun penuh otoritas.

"Pilihan pertama: kamu mengakui semua kesalahanmu, menyerahkan akses penuh ke semua aset dan rekeningmu, dan menandatangani perjanjian pra-cerai yang sudah kusiapkan. Sebagai gantinya, aku tidak akan membuka skandal perselingkuhanmu ke publik. Karirmu mungkin selamat, tapi pernikahan kita berakhir dengan damai."

"Pilihan kedua," lanjutku, menatap matanya dalam-dalam,

"kamu menolak. Dan dalam waktu dua minggu, semua bukti perselingkuhan, transaksi suap, dan kehamilan palsu Nia akan bocor ke media, ke rekan bisnis, dan ke keluarga besarmu. Kamu akan kehilangan segalanya. Karir, reputasi, uang, dan harga diri."

Fadli menatapku dengan mata kosong. Seperti pria yang baru saja menyadari bahwa dunia yang ia kenal telah runtuh di bawah kakinya.

"A-Aku... aku butuh waktu..."

"Waktu?" tawarku, senyum tipis terbentuk di bibirku.

"Kamu sudah menghabiskan waktumu selama lima tahun, Fadli. Malam ini adalah batas akhirnya. Pilih sekarang, atau biarkan aku yang memilihkan untukmu."

Keheningan turun di ruang tamu. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Tick. Tock. Tick. Tock. Seperti hitungan mundur menuju kehancuran.

Akhirnya, Fadli menurunkan kepalanya. Bahunya turun. Seluruh tubuhnya tampak menyusut, seperti balon yang kempes.

"Aku... aku pilih pilihan pertama," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar.

Aku mengangguk, lalu berdiri. Berjalan menuju lemari di sudut ruangan, membuka pintunya, dan mengeluarkan sebuah folder tebal berwarna hitam. Meletakkannya di atas meja kopi di hadapannya.

"Bagus," ucapku, suaraku kembali lembut. Tapi kali ini, kelembutan itu bukan tanda cinta. Itu adalah tanda kemenangan.

"Bacanya teliti. Tanda tangani. Dan besok pagi, kita akan mulai proses hukumnya."

Fadli mengambil folder itu dengan tangan gemetar. Membuka halaman pertamanya. Matanya menyapu klausul-klausul yang tertera di sana. Wajahnya semakin pucat dengan setiap halaman yang dibalik.

"Ren... ini... ini terlalu..."

"Ini adil, Fadli," potongku.

"Karena kamu telah mengambil segalanya dariku selama lima tahun. Sekarang, giliranmu yang memberikan kembali. Bukan karena cinta. Tapi karena konsekuensi."

Ia menatapku lagi. Kali ini, tidak ada kemarahan. Tidak ada manipulasi. Hanya kepasrahan total. Kepasrahan seorang pria yang telah kalah dalam permainan yang bahkan tidak ia sadari sedang dimainkan.

"Aku tanda tangani," ucapnya pelan.

"Bagus," jawabku. "Sekarang, tidurlah. Besok hari yang panjang menantimu. Dan aku ingin kamu istirahat yang cukup. Karena kamu akan membutuhkannya."

Fadli mengangguk, lalu berjalan menuju kamar tidur dengan langkah berat. Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya.

Aku tinggal sendirian di ruang tamu. Lilin-lilin aromaterapi masih menyala. Kotak kado emas masih tergeletak di lantai. Foto perselingkuhan masih tergeletak di atas meja kopi.

Aku berjalan menuju jendela again. Menatap lampu-lampu kota yang berkelip. Kali ini, senyumku asli. Senyum kemenangan. Senyum kebebasan.

Permainan baru saja memasuki babak ketiga. Dan Fadli baru saja menyadari bahwa ia bukan pemain. Ia hanyalah pion.

Dan aku? Aku adalah ratu yang akhirnya memegang kendali atas papan catur kehidupannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!