Sedang revisi dan pembenahan novel.
MAAF
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Fauziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Hari ini aku sudah siap untuk kembali ke apartemenku. Masa cutiku sudah habis, padahal rasa lelahku masih sangat meletak ditubuhku. Kemarin aku bersuka ria hari ini aku harus kembali ke duniaku.
"Kamu mau kemana sudah rapi kaya gitu?".
Aku melompat karna kaget. Aku menoleh dan melihat Kak Sidiq keluar dari kamarnya.
"Kamu mau kemana?". tanyanya lagi.
"Aku mau pulang. Aku harus kembali kerja". kataku.
"Tidak lelah?".
"Lelah si lelah. Tapi, bagaimana lagi ini sudah menjadi hidupku".
"Kalau begitu hati-hati dijalan". kata Kak Sidiq.
"Siap Kak. Salam buat yang lain ya Kak".
"Iya". Kak Sidiq mengajak rambutku.
Aku berjalan beberapa meter untuk sampai ke jalan raya. Beberapa kali aku menghentikan taxsi namun semuanya tidak berhenti sampai sebuah mobil berwarna biru berhenti didepanku. Aku kira Mas Naja.
"Ayo masuk". Alan langsung menarikku masuk ke dalam mobil.
Dia memasukan koperku ke belakang dan masuk ke mobil lagi untuk kembali menyetir.
"Kenapa kamu disini?". tanyaku padanya.
"Aku hanya ingin bersamamu".
Aku memalingkan wajahku. Kini Alan semakin berani untuk mendekatiku. Padahal aku sudah mencoba menghindar. Semua ini karna Mas Naja.
"Kenapa diam?". tanya Alan yang masih fokus dengan jalan.
"Aku hanya merasa aneh. Kenapa kamu melakukan ini?".
"Aku kan pacarmu. Jadi tidak aneh". katanya dengan santai.
"Sejak kapan aku menjadi pacarmu. Kita hanya teman. Dan kamu harus ingat. Hubungan seperti ini bukan sebuah mainan". Entah kenapa aku merasa sangat berapi-api ketika berbicara.
"Sejak tadi malam. Kamu kan yang menyatakan sendiri di depan mantanmu".
"Kamu seharusnya tau situasiku. Aku hanya ingin menghentikan Mas Naja". Aku semakin marah.
Alan langsung memarkirkan mobilnya dan mendekat padaku. Aku merasa sangat kaget. Alan semakin mendekat sementara aku sekarang sudah terpojok karna sabuk pengaman.
"Apa yang kamu mau lakukan?". tanyaku. Setidaknya agar Alan sadar.
"Aku ingin melakukan hal yang biasa untuk sepasang kekasih".
Aku membulatkan mataku mendengar Alan mengatakanya. Sampai sebuah ketukan di jendela Alan membuatnya berhenti.
"Tunggu Aku". Alan langsung keluar dari mobil. Wajahnya sangat jelas jika merasa kecewa.
Setelah beberapa saat Alan kembali masuk ke mobil. Wajah marahnya kini semakin merah padam.
"Kenapa?". tanyaku pada Alan.
"Diam".
Aku langsung diam. Aku tidak mengira kalau Alan akan semarah ini. Bahkan aku tidak tahu apa karna aku atau karna yang lain.
💞 💞 💞
Sampai di depan apartemenku. Alan masih saja diam. Aku tidak tahu harus menghiburnya atau bagaimana.
"Alan. Trimakasih". Akupun turun karna memang harusnya begitu.
"Hari ini jangan berangkat kerja. Aku akan mampir". Alan ikut turun dari mobil. Aku sudah membuka mulut untuk mengatakan pendapatku. "Aku tidak ingin ada penolakan lagi".
Alan langsung nyelonong masuk membawa koperku. Aku hanya mengikutinya dari belakang. Apa yang sudah aku perbuat hingga Alan sampai seperti ini.
💞 💞 💞
Alan sekarang sudah tidur dikamarku. Sedangkan aku, aku sedang memasak untukku dan Alan tentunya. Aku tidak mungkin keluar dan makan diluar sedangkan ada orang lain disini.
Aku mengambil beberapa bahan makanan dan mulai memotong-motongnya.
"Lelah juga dari kemarin aku tidak istirahat".
Aku meliahat Alan ke kamarku dan dia sedang tidur dengan lelapnya. Tahu begini aku tadi ambil cuti sehari lagi.
Semua makanan sudah siap. Aku sudah meletakan semua makanan di meja dan aku tutup dengan tudung saji.
"Saatnya istirahat". Akupun mengambil selimut dan tidur di sofa.
💞 💞 💞
Aku terbangun karna merasa sebuah tangan memelukku. Aku mencoba bangkit namun pelukan tangan itu semakin kuat.
"Lepaskak aku. Ku mohon". aku berteriak cukup kuat.
"Bangun Kei. Bangun".
Aku langsung membuka mataku dan melihat Alan tepat didepanku. Aku merasa badanku sakit semua.
"Ayo bangun. Jangan teriak-teriak". kata Alan yang langsung pergi.
Aku kembali akan bangun namun tetap tidak bisa. Aku baru sadar kalau tubuhku terlilit selimut. Pantas saja aku tidak bisa bangun.
Dengab perasaan dongkol aku masuk ke kamarku.
"Aaaaa". Aku langsung menjerit begitu melihat Alan masih dikamarku dengan hanya memakai handuk.
"Kamu kenapa?". tanya Alan dengan santainya.
"Apa yang kamu lakukan dikamarku. Cepat keluar".
Alan tiba-tiba memelukku dari belakang. "Kamu tanya padaku. Aku kan kekasihmu".
"Kamu gila. Cepat lepaskan aku".
Aku histeris dengan perlakuan Alan yang tiba-tiba. Kenapa dia senekat ini sekarang. Aku harus keluar dari kamar dan mencoba mengusirnya.
"Cepat keluar dari apartemenku." Aku kini berteriak dengan keras.
"Ok. ok. aku akan keluar. Jangan marah". Alan langsung memakai bajunya dan keluar dari kamar.
Aku mengikutinya dari belakang dan benar saja. Alan langsung keluar dari apartemenku setelah berhasil mengerjaiku.
Aku kembali masuk dan melihat makanan di dapur. "Ya ampuuun. dasar Alan". Aku hanya melihat tumpukan piring kotor. Dan semua makananya habis.
"Mungkin aku memang harus makan mi instan". Aku hanya menghela nafas panjang.
💞 💞 💞
Aku melihat pantulan diriku di kaca. Ternyata aku tidak secantik fikiranku. Aku tertawa dalam hati. Setelah mengambil tas tanganku akupun langsung berangkat untuk bekerja.
Hari ini aku memilih untuk jalan kaki. Setidaknya aku mampu untuk menurunkan berat badanku.
"Kei".
Aku menoleh setelah mendengar seseorang memanggilku. Ternyata Linda dan Reno.
"Tumben jalan kaki?". tanya Linda.
"Aku kan baru cuti. Jadi, pengen suasana baru". Aku tersenyum dan berpaling pada Reno. "Pagi Pak".
"Katanya cuti dua hari. Kok kemarin kamu nggak berangkat?". tanya Linda yang masih tetap menggandeng Reno.
"Ada urusan".
Aku melihat Reno sedikit tersenyum. Mungkin dia tahu kelakuan Alan kemarin. Aku hanya menghela nafas dan kembali berjalan.
"Jangan terlalu mesra. Banyak yang liat". akupun langsung mendahului mereka.
Aku memang sengaja agar mereka tidak terlalu intim di depan umum. Apa lagi didepan teman kantor lain.
Sampai di kantor Linda sudah berada disampingku dengan wajah lucunya. Aku hanya diam, bukan karna apa-apa tapi karna fikiranku sendiri.
"Kei. Kamu dipanggil sama Pak Alan".
Sesaat aku melongo mendengar perkataan Reno.
"Denger nggak. Kamu harus ketempat Pak Alan". Linda langsung menyikutku melihat aku hanya diam.
"O..oh. Iya. saya akan langsung kesana".
Akupun langsung bergegas keruangan Alan. Siapa tahu ada sesuatu yang penting. Aku juga baru beberapa hari kerja. Mungkin aku membuat kesalahan.
Aku beberapa kali mengatur nafasku saat akan masuk keruangan Alan. Aku harus tetap tenang dan jangan membuat kesalahan. Sebelum aku didepak dari kantor ini.
"Permisi pak, apa bapak mencari saya?". aku sudah berada di depan Alan namun dia tetap fokus dengan komputernya.
"Iya. Kamu silahkan duduk dulu".
"Baik pak". Akupun duduk menunggu Alan menyelesaikan tugasnya.
Kini aku dan Alan sudah saling berhadapan namun tidak ada kata-kata yang terucap darinya. Apa mungkin aku akan di pecat ya.
"Maaf Pak. Ada apa saya dipanggil kesini ya Pak?". tanyaku dengan hati-hati. Takut mengacaukan hati atasanku ini.
"Tumben kamu panggil Pak. Biasanya juga teriak-teriak namaku".
Mendengar penuturanya membuat aku geram. Bagaimanapun saat ini dia atasanku. Aku tidak boleh gegabah. Mungkin dia sedang mengujiku.
"Maaf Pak. Sekali lagi saya kenapa dipanggil kesini ya?". Aku masih mengontrol emosiku.
"Kenapa lagi. Aku kan memanggil kekasihku".
Aku langsung berdiri tanpa sadar. Aku tidak mengira jika Alan mau berbuat seperti ini di kantor.
"Maaf Pak. saya masih ada pekerjaan. Permisi" Aku langsung berjalan kearah pintu.
"Kamu tidak ingin bekerja disini lagi?".
Aku menoleh pada Alan. Mungkin dia sengaja ingin memecatku dengan sebuah ancaman.
"Anda ingin memecatku?".
"Kenapa tidak. Kamu sudah mempermainkan aku Kei". Alan mendekat kearahku.
Aku tidak tahu apa maksudnya. Aku bahkan tidak mengerti kenapa dia memanggilku kesini.
"Aku hanya ingin bertanggung jawab untuk perasaanku. Jangan mainkan perasaan ini"
Aku tidak lagi menggubris dirinya. Aku langsung membuka pintu untuk kembalu bekerja.
"Aku sangat mencintaimu Kei. Sejak awal". Alan langsung menarikku kepelukanya.
"Kamu harus tahu. Hati tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mencintaimu". Aku langsung keluar dari ruangan itu.
Seharusnya Alan bisa memilih mana urusan peibadi dan mana urusan kantor. Jika seperti ini aku tidak akan tenang bekerja.
💞 💞 💞
to be continue
paling jengkel pula sama key
kok Kei itu karakternya seperti itu !?
segitu cintanya kah kei dgn mas naja !?
kenapa kamu kejam Thor Ama kei
kayak ngk ada harga diri nya benar benar wanita bodoh si kei ini ya
galak2 sayang
mohon dukungan ny