Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Rizal, untuk apa kamu masuk ke butik ini? Kamu mau melamar jadi petugas kebersihan di sini?"
"Saya datang ke sini untuk membeli pakaian, bukan untuk mencari kerja."
Jawaban tenang dari Rizal langsung disambut dengan tawa yang jauh lebih keras dari Hendra dan selingkuhannya.
Dua pelayan toko yang sedari tadi diam juga ikut menahan tawa sambil menutup mulut mereka.
"Membeli pakaian? Hahaha! Kamu sedang bermimpi di siang bolong ya?"
Hendra melangkah maju dan menarik kerah jas yang sedang dilihat oleh Rizal.
"Kamu tahu tidak berapa harga jas yang sedang kamu sentuh ini, hah?"
"Tentu saja saya tidak tahu, makanya saya sedang melihat label harganya."
"Biar aku beritahu dasar gembel, harga jas ini adalah lima puluh juta rupiah!"
Hendra menepuk dada Rizal dengan keras menggunakan punggung tangannya.
"Gajimu setahun pun tidak akan cukup untuk membeli lengan jas ini, jadi berhentilah berkhayal!"
"Pak Hendra, sebaiknya Anda urus saja wanita simpanan Anda itu dan jangan mengganggu urusan saya."
Wajah Hendra seketika memerah padam karena amarah saat mendengar sindiran telak dari Rizal.
Apalagi Rizal berani mengatakannya dengan suara lantang di depan banyak orang.
"Dasar anak kurang ajar! Kamu berani menceramahiku?!"
Hendra berkacak pinggang dan menatap Rizal dengan tatapan penuh kebencian.
"Dengar ya Rizal, jangan berlagak kaya di depanku."
"Saya tidak berlagak, saya memang sedang ingin memborong pakaian di sini."
"Omong kosong! Saldo rekeningmu itu pasti nol dan kamu cuma datang ke sini untuk mencuri kan?!"
Ting!
[Mendeteksi adanya omong kosong dan tuduhan palsu yang diarahkan kepada Tuan.]
[Kebohongan: Saldo rekening Anda nol dan Anda berniat mencuri di butik ini.]
Rizal tersenyum sangat lebar saat mendengar suara mekanis sistem berdenging di kepalanya.
Ini adalah momen yang sangat dia tunggu-tunggu sejak bertemu dengan mantan bosnya itu.
"Bagaimana kalau ternyata saya bisa membeli semua pakaian di toko ini, Pak Hendra?"
Hendra meludah ke lantai karpet butik dengan sikap sangat merendahkan.
"Kalau gembel sepertimu bisa membeli satu helai saja pakaian di sini, aku akan merangkak keluar dari mall ini sambil menggonggong seperti anjing!"
Ting!
[Mendeteksi janji kebohongan yang diikrarkan dengan sangat percaya diri.]
[Kebohongan: Hendra akan merangkak dan menggonggong seperti anjing jika Anda bisa membeli pakaian.]
[Memproses manipulasi realitas...]
[Manipulasi berhasil. Otoritas tertinggi Kartu Naga Emas Anda telah diaktifkan, dan sistem akan memastikan Hendra menepati janjinya secara mutlak.]
Rizal merogoh saku celananya secara perlahan dan mengeluarkan kartu hitam bermotif naga emas tersebut.
"Pelayan, tolong panggilkan manajer butik ini sekarang juga."
Rizal mengangkat kartu itu tinggi-tinggi dengan dua jarinya.
Kedua pelayan yang tadinya meremehkan Rizal seketika membelalakkan mata saat melihat lambang naga emas yang berkilau.
Mereka sangat tahu apa arti dari kartu eksklusif tersebut.
Tanpa perlu disuruh dua kali, salah satu pelayan langsung berlari terbirit-birit menuju ruang belakang.
"Cih, kartu hitam mainan dari mana yang kamu beli di pasar malam itu?"
Hendra masih belum menyadari bahaya yang sedang mengintainya dan terus melontarkan hinaan.
"Sayang, lihatlah betapa memalukannya pria miskin ini berakting."
"Iya Mas Hendra, dia benar-benar tidak tahu malu ya."
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan setelan jas sangat rapi berlari tergesa-gesa keluar dari ruang staf.
Pria itu adalah Manajer Butik yang wajahnya kini terlihat sangat panik dan pucat pasi.
Dia berhenti tepat di depan Rizal dan matanya langsung tertuju pada Kartu Naga Emas di tangan pemuda itu.
Bruk.
Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang, sang Manajer langsung menundukkan kepalanya hingga 90 derajat.
"Selamat datang, Tuan VVIP! Saya adalah Manajer di sini, mohon maaf atas kelalaian kami dalam menyambut Anda!"
Suara Manajer itu bergetar hebat karena ketakutan.
Hendra dan wanita simpanannya seketika membeku seperti patung es.
"M-manajer, apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda menunduk pada gembel ini?!"
Hendra berteriak tidak terima melihat pemandangan tidak masuk akal di depannya.
Manajer butik itu langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Hendra dengan tatapan membunuh.
"Jaga mulut Anda! Pria ini adalah pemegang Kartu Naga Emas, tamu paling terhormat dari seluruh Wijaya Group!"
Duarr.
Kata-kata manajer itu bagaikan palu godam yang menghantam kepala Hendra dengan sangat keras.
"K-kartu Naga Emas?! I-itu tidak mungkin... dia ini cuma pengangguran yang baru saya pecat!"
Hendra mundur beberapa langkah dengan kaki yang mulai gemetar.
"Tuan VVIP, apa pesanan yang bisa kami siapkan untuk Anda hari ini?"
Manajer mengabaikan ocehan Hendra dan kembali melayani Rizal dengan senyum paling manis yang dia miliki.
"Kemas semua pakaian, sepatu, dan aksesoris dengan ukuran saya di seluruh butik ini."
Rizal memberikan perintah dengan nada santai yang membuat rahang Hendra hampir lepas.
"Dan pastikan pria buncit ini menepati janjinya sebelum dia keluar dari sini."
"Baik Tuan VVIP! Perintah Anda adalah hukum bagi kami!"
Manajer langsung memberi isyarat kepada beberapa petugas keamanan mall yang kebetulan sedang berpatroli di depan butik.
"Petugas! Tahan pria ini dan pastikan dia melaksanakan janjinya pada Tuan VVIP!"
Tiga orang satpam berbadan tegap langsung masuk dan mengepung Hendra.
Namun belum sempat para satpam itu bertindak, keajaiban sistem mulai bekerja mengambil alih kendali.
Tubuh Hendra tiba-tiba menegang kaku seperti disambar listrik bervoltase tinggi.
Kedua lututnya menekuk secara paksa hingga membentur lantai butik dengan keras.
Bruk.
Hendra mencoba berdiri namun tubuhnya benar-benar menolak perintah otaknya sendiri.
Kedua tangannya juga ikut menempel di lantai, membuat posisinya kini benar-benar merangkak seperti seekor anjing.
"A-apa yang terjadi dengan tubuhku?! Kenapa aku tidak bisa berdiri?!"
Hendra berteriak panik dengan air mata ketakutan yang mulai menetes.
Wanita simpanannya menjerit ketakutan dan langsung berlari keluar dari butik meninggalkannya sendirian.
Rizal berjongkok perlahan di depan wajah Hendra yang sedang merangkak.
"Sepertinya tubuhmu jauh lebih jujur dari mulut besarmu, Pak Hendra."
Rizal menepuk pelan pipi Hendra yang berkeringat dingin.
"Sekarang, tunjukkan padaku bagaimana caranya anjing yang baik menggonggong."
Mulut Hendra terbuka secara otomatis di luar kendalinya.
"Guk! Guk! Guk!"
Suara gonggongan yang sangat keras dan memalukan keluar dari mulut pria paruh baya itu.
Semua pelayan dan pengunjung yang melihat kejadian itu langsung tertawa terbahak-bahak.
Beberapa orang bahkan mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam momen langka tersebut.
Hendra mulai merangkak perlahan keluar dari butik menuju koridor mall yang ramai sambil terus menggonggong.
"Guk! Guk! Guk!"
Setiap gonggongannya mengundang tawa riuh dari ratusan pengunjung mall yang berkerumun.
Air mata penyesalan dan rasa malu mengalir deras di pipi Hendra.
Kehidupannya sebagai bos yang arogan telah hancur lebur di bawah kaki mantan pegawainya sendiri.
Rizal berdiri tegak dan merapikan bajunya dengan senyum kepuasan yang luar biasa.
"Manajer, tolong siapkan ruang ganti yang paling nyaman untuk saya."
"Tentu saja Tuan, silakan ikuti saya ke ruang ganti VVIP di bagian belakang."
Satu jam kemudian, Rizal keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang benar-benar berbeda.
Kemeja flanel kusamnya telah digantikan oleh setelan jas kasual berwarna biru dongker yang dijahit dengan sempurna.
Rambutnya yang tadinya berantakan kini telah ditata rapi menggunakan gel rambut mahal.
Sepatu kets bututnya telah berganti dengan sepatu pantofel kulit mengkilap bernilai puluhan juta.
Pemuda yang tadinya terlihat seperti gembel itu kini memancarkan pesona ketampanan seorang tuan muda dari keluarga bangsawan.
Dua pelayan wanita yang sempat meremehkannya kini menatap Rizal dengan wajah memerah dan mata berbinar penuh damba.
"Semua barang belanjaan Anda sudah kami kirimkan ke alamat yang Anda tentukan, Tuan."
Manajer membungkuk hormat sambil menyerahkan kembali Kartu Naga Emas milik Rizal.
"Terima kasih atas pelayanannya."
Rizal mengambil kartunya dan melangkah keluar dari butik dengan aura dominasi yang sangat kuat.
Masa lalunya yang menyedihkan telah resmi dia kubur dalam-dalam hari ini.
Kini saatnya bagi Rizal untuk membeli sebuah mobil mewah sebagai kendaraan tempur barunya.