NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018: Somasi Pertama

Tujuh puluh dua somasi pertama dikirim tiga hari kemudian.

Pak Wisnu tidak mengirimnya seperti orang menyebar brosur. Setiap surat punya nama, alamat, tangkapan layar, tautan, waktu unggah, jenis perbuatan, tuntutan, dan batas waktu. Bahasa suratnya dingin: hapus konten, minta maaf terbuka, datang memberi klarifikasi, dan bersiap menghadapi proses pidana/perdata bila mengabaikan.

Bima membaca draft terakhir di kantor Pak Wisnu.

"Kenapa baru tujuh puluh dua?" tanya Ratna yang ikut duduk di pojok sambil membawa laptop.

Pak Wisnu menjawab sebelum Bima. "Karena tujuh puluh dua ini paling berbahaya. Mereka membocorkan alamat, mengajak intimidasi, dan membuat tuduhan baru setelah klarifikasi. Kalau gelombang pertama kuat, gelombang berikutnya lebih mudah."

Bima mengangguk. Ia menyukai cara kerja Wisnu: tidak mengejar sensasi, mengejar efek.

Hari pertama somasi diterima, tidak banyak yang terjadi.

Hari kedua, beberapa akun menghapus unggahan diam-diam.

Hari ketiga, dunia kecil mereka pecah.

Kurir yang mengantar somasi ikut menjadi saksi perubahan itu. Satu alamat rumah langsung menolak menerima surat, lalu ibunya keluar mengejar kurir lima menit kemudian karena takut tercatat menolak. Satu kantor kecil memanggil karyawannya di depan HRD setelah amplop dari kantor hukum diterima resepsionis. Seorang mahasiswa mengirim pesan ke Ratna tengah malam. Isinya malah bertanya apakah cukup kalau ia mengganti username.

Ratna menunjukkan pesan itu kepada Bima.

"Dia pikir dosa digital bisa dicuci pakai username baru."

"Balas lewat Pak Wisnu," kata Bima. "Tidak ada negosiasi pribadi."

Aturan itu menjadi pagar baru. Bima tidak menerima DM, tidak menerima telepon menangis, tidak menerima saudara jauh yang tiba-tiba membawa kata kekeluargaan. Semua pintu masuk lewat kantor hukum. Orang-orang yang dulu menyerang tanpa tata cara sekarang dipaksa masuk satu antrean yang rapi.

Seorang pria bernama Yudha datang ke kantor Pak Wisnu bersama istrinya. Di internet, ia memakai akun @garam_jalanan, orang yang menulis alamat rumah Bima dan kalimat "datangi saja". Di dunia nyata, ia pegawai toko bangunan dengan sandal karet dan wajah pucat.

"Pak, saya cuma emosi," katanya berkali-kali. "Saya tidak tahu bakal ada orang lempar telur. Saya cuma ikut rame."

Bima duduk di seberang, tidak menaikkan suara. "Kalau saya tulis alamat rumah Bapak dan orang datang menakuti istri Bapak, apakah itu masih ikut rame?"

Istri Yudha langsung menangis. Yudha menunduk.

Pak Wisnu meletakkan surat pernyataan di meja. "Permintaan maaf terbuka tidak menjamin perkara selesai. Untuk klaster ancaman dan doxing, laporan pidana tetap berjalan. Sikap kooperatif dicatat. Kalau tidak kooperatif, kami tidak punya alasan menyampaikan hal meringankan."

Yudha menandatangani dengan tangan gemetar.

Yudha keluar dari kantor dengan langkah seperti orang baru selesai dihukum di depan kelas. Namun sebelum pergi, ia sempat membungkuk kepada Pak Harto yang menunggu di ruang tamu kantor. "Pak, saya salah. Saya tidak kenal Bapak, tapi saya ikut membuat keluarga Bapak takut."

Pak Harto tidak langsung menjawab. Ia belum terbiasa melihat orang meminta maaf kepadanya. Setelah beberapa detik, ia berkata, "Minta maaf juga ke keluarga kamu. Karena sekarang mereka ikut menanggung malu dari tulisanmu."

Yudha menangis tanpa suara. Bima tidak menenangkan. Ada pelajaran yang memang harus terasa pahit.

Orang kedua datang lebih sombong. Namanya Riko, pemilik akun @suarawarga_88. Ia membawa dua temannya, mungkin ingin terlihat punya dukungan. Begitu masuk, ia berkata, "Saya punya hak berpendapat. Jangan mentang-mentang punya uang bisa bungkam kritik."

Bima membuka video Riko di layar. "Ini kritik? Anda menuduh saya menyuap polisi setelah putusan pengadilan dan klarifikasi resmi. Mana buktinya?"

"Itu analisis."

"Analisis tanpa data disebut fitnah ketika menyerang nama orang."

Riko tertawa. "Buktikan saja di pengadilan."

Pak Wisnu menutup map. "Baik. Untuk Saudara Riko, catat tidak ada itikad baik. Kita langsung lanjutkan gugatan dan laporan tambahan."

Tawa Riko berhenti. "Loh, Pak, jangan begitu. Kita kan baru bicara."

Bima berdiri. "Anda tadi meminta dibuktikan di pengadilan. Saya menghormati permintaan itu."

Riko keluar dengan wajah berubah warna.

Pak Wisnu tidak membiarkan permintaan maaf itu berjalan liar. Setiap orang yang ingin meminta maaf harus membaca pernyataan yang mencantumkan perbuatannya sendiri. Tidak boleh memakai kalimat kabur seperti "kalau ada yang tersinggung". Tidak boleh menyalahkan emosi publik. Tidak boleh menyebut Bima memaklumi.

"Minta maaf yang buruk adalah fitnah kedua," kata Wisnu.

Bima menyukai kalimat itu. Ia menuliskannya di catatan. Banyak orang mengira permintaan maaf adalah pintu keluar darurat. Wisnu memperlakukannya sebagai dokumen hukum: siapa melakukan apa, kepada siapa, akibatnya apa, dan apa yang tidak akan diulangi.

Sore hari, video permintaan maaf Yudha mulai tersebar. Bima tidak mengunggahnya dengan musik kemenangan. Ia hanya menyimpan tautan dan membiarkan publik melihat sendiri. Efeknya cepat. Akun-akun lain mulai panik.

Pesan masuk ke kantor Wisnu bertumpuk.

"Pak, saya dapat somasi, tapi akun itu dipakai adik saya."

"Mas, saya sudah hapus, apa masih harus datang?"

"Saya cuma repost, tidak baca caption."

"Bisa damai kekeluargaan?"

Ratna membaca beberapa pesan dan mendengus. "Dulu mereka tidak tahu kita keluarga. Sekarang semua mau kekeluargaan."

Bima menatap daftar baru yang terus diperbarui. "Karena sekarang mereka tahu keluarga punya alamat balik."

[Sebaran efek somasi terdeteksi.]

[Target mulai keluar dari anonimitas.]

[Poin +1.200]

Malam itu, Pak Wanto mengirim kabar: tiga akun klaster doxing dipanggil untuk pemeriksaan. Dua akun yang mengirim ancaman langsung teridentifikasi memakai nomor pribadi. Satu lagi mencoba kabur dari kota setelah menerima somasi.

Pak Wisnu menatap Bima. "Ini baru permulaan. Biasanya setelah gelombang pertama, akan ada perlawanan. Mereka akan bilang Anda kejam, membungkam rakyat kecil, anti kritik."

Bima menutup laptop.

"Bagus. Berarti mereka mulai kehabisan fakta."

Di luar kantor, hujan turun tipis. Lampu jalan memantul di kaca mobil sederhana yang Bima pakai hari itu. Rolls-Royce ia sembunyikan. Kekayaan tidak perlu dipamerkan saat hukum sudah cukup membuat orang gemetar.

Namun di panel SBE, angka 1.317 perlahan berubah.

Terverifikasi: 1.317.

Somasi terkirim: 72.

Kooperatif: 19.

Tidak kooperatif: 8.

Pidana prioritas: 37.

Bima menatap angka itu.

Kerumunan mulai pecah menjadi manusia. Dan manusia, tidak seperti akun, bisa dipanggil ke meja hukum.

Bima mematikan layar setelah mencetak daftar gelombang kedua. Di luar, kantor Pak Wisnu sudah sepi, printer masih hangat. Suara mesin itu terdengar seperti palu kecil yang terus bekerja bahkan setelah orang-orang berhenti berteriak.

Pak Wisnu berdiri di ambang pintu ruang kerja. "Pulang, Mas Bima. Mesin bisa lanjut besok."

Bima mengambil mapnya. "Orang-orang itu tidak berhenti saat keluarga saya takut."

"Benar. Tapi Anda harus tetap tidur supaya bisa membuat mereka menyesal dengan rapi."

Nasihat itu terdengar kering dan masuk akal. Bima akhirnya mematikan lampu ruang kerja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!