Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Jebakan
Jebakan yang baik tidak terlihat seperti jebakan.
Komisaris Sari membutuhkan waktu dua jam untuk menyetujui kalimat itu. Ia memeriksa prosedur, memanggil dua penyidik senior, memastikan tidak ada siswa asli yang dijadikan umpan, lalu menatap Arya dengan ekspresi seperti orang yang sedang menandatangani sesuatu yang akan dipertanyakan atasannya.
"Kalau operasi ini bocor, saya yang bertanggung jawab," katanya.
"Kalau operasi ini tidak dilakukan, korban yang membayar," jawab Arya.
Sari membencinya sedikit karena kalimat itu benar.
Sore itu, seorang polwan muda bernama Rina memakai seragam olahraga SMA Garuda Cendekia. Rambutnya diikat, tas sekolah digantung di bahu, dan earphone palsu menempel di telinga. Dari jauh ia terlihat seperti siswi yang terlambat pulang latihan. Di balik jaketnya ada pelindung tipis dan alat pemancar. Dua anggota polisi berpakaian petugas kebersihan menunggu di dekat tong sampah. Satu mobil tanpa tanda parkir di tikungan.
Rizky menatap semua itu dari ruang kontrol sementara di kantor Pak Surya. "Kalau ini film, bagian ini biasanya musiknya tegang."
"Kalau ini film, kamu sudah diminta diam sejak tadi," kata Putri.
Arya duduk di depan tiga layar laptop. Satu kamera kecil dipasang di pot bunga dekat gang. Satu sensor suara ditempel di balik papan gudang. Satu kamera inframerah mengarah ke lorong servis. Semua alat itu bukan milik sekolah. Sari meminjam dari unit kriminal, Pak Surya memberi akses listrik, dan Arya menyusun sudutnya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Penyidik senior bernama Kapten Wira mengawasi dengan tangan bersedekap. "Anak ini bahkan mengatur posisi kamera kita."
Sari tidak menoleh. "Selama dia benar, biarkan."
Kalimat itu membuat Putri melihat Sari dua kali. Tiga hari lalu perempuan itu masih memanggil Arya seperti anak yang mengganggu. Sekarang ia mengucapkan selama dia benar dengan nada seorang komandan yang menahan malu demi hasil.
Pukul 16.40, Rina mulai berjalan dari lapangan menuju gerbang belakang. Langkahnya sengaja lambat. Ia berhenti sekali untuk pura-pura membaca pesan. Arya melihat layar pertama. Tidak ada gerakan. Layar kedua hanya menampilkan daun bergoyang. Layar ketiga gelap kehijauan.
"Mungkin dia tidak datang," bisik Rizky.
"Dia datang," kata Arya.
"Kamu lihat apa?"
"Tidak ada burung di kabel listrik. Dari tadi kabel itu ramai. Lima menit lalu kosong. Ada orang lewat dari arah lorong, membuat suara cukup keras untuk mengusirnya."
Kapten Wira menatap layar, lalu menatap jendela. Ia tidak bisa membantah. Kabel listrik memang kosong.
Pukul 16.47, sensor suara berkedip. Satu ketukan pelan. Jeda. Dua gesekan panjang.
Arya mengangkat tangan. Semua orang di ruang kontrol langsung diam.
Di layar inframerah, sebuah bayangan muncul di mulut lorong. Tidak tinggi, tidak besar. Tubuhnya memakai jaket lusuh, wajahnya tertutup masker kain, tangannya membawa kain putih. Ia bergerak pelan, tetapi bukan seperti orang ragu. Ia seperti orang yang sudah mengulang jalan itu berkali-kali.
Sari menekan alat komunikasi. "Semua unit tahan. Tunggu aba-aba."
Bayangan itu berhenti ketika Rina melewati titik dekat gudang. Rina pura-pura menjatuhkan botol. Ia membungkuk. Dari balik papan, orang itu keluar satu langkah.
"Jangan tangkap sekarang," kata Arya.
Kapten Wira menoleh tajam. "Kenapa?"
"Tangannya belum membuka kain. Kalau ditangkap sekarang, dia bisa bilang hanya lewat. Tunggu niatnya terlihat."
Detik berikutnya, orang itu membuka kain putih. Di dalamnya ada botol kecil. Rina masih membungkuk, seolah tidak sadar. Orang itu bergerak cepat.
"Sekarang," kata Arya.
Sari memberi perintah. Dua polisi dari tong sampah menerjang. Rina berputar, menendang lutut pelaku, lalu menjatuhkannya dengan kuncian. Botol kecil terlempar ke tanah. Kapten Wira berlari keluar. Dari layar, Rizky melihat tubuh pelaku menghantam semen dan langsung berseru, "Kena!"
Namun Arya tidak ikut lega.
"Pegang tangan kirinya," katanya cepat.
Sari yang sudah di luar mendengar lewat alat komunikasi. "Tangan kiri!"
Rina menekan tangan kiri pelaku tepat ketika ia mencoba meraih sesuatu dari saku. Sebuah pisau lipat kecil jatuh. Kapten Wira memaki pendek. Sari menatap kamera ruang kontrol, seolah Arya bisa melihat matanya dari sana.
Putri melihat ekspresi Arya. Tidak ada kemenangan di wajahnya. Hanya perhitungan berikutnya.
Pelaku dibawa ke kantor kosong dekat aula. Maskernya dibuka. Pak Surya yang baru tiba langsung mundur setengah langkah.
"Rahman?"
Pria itu dulu penjaga malam sekolah sebelum renovasi besar. Ia diberhentikan lima tahun lalu karena beberapa kali tidur saat bertugas. Rambutnya kini kusut, pipinya cekung, dan matanya memandang semua orang dengan kebencian yang dingin.
Sari menaruh foto Bagas, Lala, dan Naila di meja. "Di mana mereka?"
Rahman tersenyum kecil. "Kalian terlambat."
Rizky merinding. Putri menggenggam ujung lengan seragamnya sendiri. Pak Surya tampak seperti ingin menghajar orang itu, tetapi Sari mengangkat tangan menahannya.
Arya masuk tanpa suara. "Tidak. Kalau kami terlambat, kamu tidak perlu kembali ke aula untuk menghapus jejak. Kamu kembali karena mereka masih hidup dan jejak itu bisa mengarah ke tempatmu."
Senyum Rahman patah sepersekian detik.
Sari melihatnya. Kapten Wira juga melihatnya. Satu keretakan kecil, cukup untuk membuat seluruh ruangan tahu siapa yang sedang memegang kendali.
Arya menarik kursi dan duduk di seberang Rahman. "Kamu bukan pemburu hebat. Kamu hanya hafal bangunan lama. Setelah korban ketiga, kamu panik. Setelah melihat polisi diam-diam memeriksa aula, kamu kembali terlalu cepat. Dan sekarang kamu akan diam karena orang yang menyuruhmu pasti berkata diam lebih aman."
Rahman menegang.
Sari bertanya pelan, "Siapa yang menyuruhmu?"
Rahman menatap Arya dengan mata merah. "Anak pintar harus dipatahkan sebelum tumbuh. Itu perintah."
Ruang itu membeku.
Arya bersandar. "Baik. Sekarang kita tahu korban belum mati, dan kita tahu kamu bukan ujung rantai."
Sebelum operasi dimulai, Sari memaksa Arya menandatangani catatan bahwa ia hanya membantu sebagai pemberi informasi. Statusnya tetap di luar anggota operasi. Arya membaca dokumen itu lebih teliti daripada siswa membaca kontrak lomba, lalu menunjuk satu kalimat.
"Kalimat ini membuat sekolah bisa menyalahkan polisi kalau ada kebocoran. Ubah menjadi koordinasi bersama dengan tanggung jawab operasional di pihak kepolisian."
Sari menatapnya datar. "Kamu juga mengoreksi bahasa hukum?"
"Bahasa buruk membunuh orang lebih lambat daripada pisau, tapi hasilnya kadang sama."
Kapten Wira tertawa sekali, pendek dan tidak rela. Dokumen diubah. Pak Surya melihat proses itu dengan campuran kagum dan pusing. Baru seminggu Arya berada di Kelas Inovasi, sudah ada polisi yang mengubah formulir karena komentar anak itu.
Arya juga meminta satu hal kecil yang membuat semua orang kembali menatapnya: matikan satu lampu koridor saja. "Pelaku yang hafal tempat ini akan curiga jika gelap total. Tapi satu lampu mati terlihat seperti kelalaian biasa. Dunia ini sering menyebut kelalaian sebagai nasib, jadi gunakan itu."
Sari menahan napas, lalu menyuruh teknisi sekolah melakukannya. Lima menit kemudian, koridor memang terlihat seperti hari biasa yang sedikit buruk. Tidak ada kesan operasi polisi.
Di luar jendela, langit mulai gelap. Jebakan berhasil, tetapi jam pasir di kepala tiga korban belum berhenti turun.