Melakukan hubungan satu malam dengan wanita yang tak ia kenal. Hingga merenggut kesucian tanpa peduli dengan Isak tangis penolakan.
"Aku mohon jangan buang benihmu di rahimku!"
"Beruntunglah aku masih berbesar hati terhadapmu!"
Tapi di saat Bastian mulai mencari keberadaan wanita itu, dia harus menerima kenyataan jika wanita yang ia perkosa telah sah menjadi istri dari Ayahnya.
Akankah Bastian terima dengan pernikahan mereka?
Atau justru nekat berhubungan dengan Ibu Tirinya?
Ig weni0192
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Kinara membuka mata dengan rasa mual yang ingin segera dimuntahkan. Perlahan beranjak dan ingin segara turun dari ranjang namun cekalan tangan seseorang membuatnya menghentikan pergerakan. Menatap dengan tatapan terkejut hingga tak tahan menahan gejolak dari dalam perut.
Huwek
Huwek
Huwek
"Kinara..... baju gue!" Kinara terbelalak dan ingin segara mengambil tisu di atas meja namun dengan cepat seseorang mendekat.
"Biarin dia bersihin sendiri! udah loe istirahat lagi aja!" Alan membantu Kinara untuk kembali rebahan di atas ranjang. Ya Kinara di temukan oleh kedua sahabat Bastian yang kebetulan melintas saat mereka ingin berangkat ke club'. Mereka ingin menghubungi Bastian namun tak kunjung di jawab karena ponsel Bastian yang tidak aktif.
Ferdy menggelengkan kepala kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan bajunya yang kotor. Beruntung ia baru saja ingin mengganti pakaiannya setelah semalaman menunggu Kinara sampai siuman.
Alan duduk di kursi samping ranjang Kinara, ia ingin sekali menanyakan alasan Kinara tak sadarkan diri di pinggir jalan tanpa adanya Bastian. Dan hal yang membuat Alan dan Ferdy terkejut lagi, Kinara saat ini dalam kondisi hamil dan kandungannya sangat lemah.
"Sebenarnya apa yang terjadi Kin? kemana Bastian?"
Kinara tercengang saat ia teringat dengan Bastian. Mendadak hatinya tak tenang dan ingin sekali mengetahui kabar Bastian saat ini.
"Kin..."
"I..iya Lan, Bastian....." tiba-tiba air matanya mengalir, melihat itu Alan dapat menyimpulkan jika Kinara dan Bastian sedang dalam masalah. Pikiran akan Bara pun terlintas sedangkan sahabatnya tak dapat di hubungin sama sekali.
"Terakhir aku melihatnya, dia pingsan setelah berkali-kali mendapat pukulan dari Ayahnya," lirih Kinara dengan menahan Isak tangis.
Mata Alan melebar mendengar penjelasan Kinara, berarti saat ini Bastian sedang dalam bahaya. Lalu bagaimana dia menolong Tian sedangkan Alan tau betul bagaimana Bara. Alan menghela nafas berat menatap Kinara yang kini terus saja menangisi Bastian.
"Jangan sedih Kin, kandungan loe lemah dan loe nggak boleh banyak pikiran." Alan dan Ferdy di beri pesan oleh dokter agar menjaga betul Kinara karena kandungannya rentan mengalami keguguran jika ia mengalami benturan dan tekanan lagi.
"Kandungan aku....dia masih sehat kan?" tanya Kinara dengan tangan mengusap perutnya. Ia ingat betul rasa sakit di perutnya yang membuat dirinya ketakutan dengan kemungkinan yang terjadi dengan kandungannya.
"Kandungan loe lemah, makanya mending loe istirahat jangan kebanyakan gerak dan pikiran. Biar gue dan Ferdy yang ngabarin Bastian agar dia bisa datang kesini. Tapi sebelumnya gue boleh tanya sesuatu sama loe?"
Mungkin Alan lancang namun ia begitu penasaran dengan kandungan Kinara. Dia tidak yakin jika kandungan Kinara adalah milik Papahnya Bastian. Lalu bagaimana nasib mereka kini, sejak awal ia telah mengingatkan tapi Bastian terus saja menerabas pembatas hingga hubungan keduanya berlarut dengan hubungan yang salah.
Kinara tak berucap namun tatapan matanya membuat Alan mengerti jika Kinara memberi kesempatan untuknya bertanya.
"Apa penyebab Bastian di hajar Om Bara? apa ini ada hubungannya dengan loe?"
Kinara menganggukkan kepala, dia masih merasa bersalah karena kejadian semalam membuat Bastian di hajar habis-habisan. Tapi Kinara yakin seorang Ayah tidak akan tega membunuh anaknya sendiri.
"Lalu anak yang loe kandung?" tanyanya lagi, perlahan Kinara menoleh ke arahnya tapi beberapa detik kemudian tangannya mengusap lembut perut yang masih rata dengan air mata yang kembali terurai.
"Ini anak Bastian..."
Alan terkesiap begitupun dengan Ferdy yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, keduanya tak menyangka senekat itu Bastian. Sampai tak memikirkan dampak belakangnya yang akan menyulitkan mereka berdua. Dan sekarang keduanya paham apa yang terjadi dengan Bastian dan Kinara.
"Nekat...."
Setelah itu keduanya kembali mencoba menghubungi Bastian. Mencoba mencari tau keberadaan Bastian namun telpon rumah Bastian tak kunjung di angkat. Hingga ntah panggilan ke berapa akhirnya Bibi menjawab. Dan menyatakan jika Bastian tidak ada di rumah sejak semalam.
Keduanya terus saja berusaha menghubungi hingga nomor Bastian kembali aktif.
"Bre! loe dimana?"
"Gue lagi nyari Kinara bro, bantu gue lah. Gue mau mati rasanya kehilangan dia. Semalaman gue muter-muter tapi nggak juga nemuin keberadaan Kinara." Suara Bastian di ujung sana benar-benar menggambarkan keputusasaan hingga Ferdy tak tega mendengarnya.
"Kinara sama gue!"
agar bisa gitu jd teman istrinya pak yuda, setdknya dia aman
racuni bokap Lo atau rusak mobilnya biar cepat²koid dan Lo berdua buru nikah deh,seblm dosa Lo berdua byk