Kisah Naya Ariska gadis muda dan cantik harus rela menjual tubuhnya kepada Pengusaha tampan dan terkenal sukses. Demi untuk membiayai ibunya yang Operasi karena penyakit kanker yang di derita ibunya.
Juna Ricard Permana. Pengusaha tampan dan terkenal sukses ini, lelaki pecinta one night stand. Baginya semua wanita sama. Hanya menginginkan uang dan kepuasan saja.
Tanpa di duga, ketika ia mengoyak kesucian gadis cantik yang rela menjual tubuhnya demi uang? membuat Juna merasakan getaran yang aneh yang tidak biasa.
Bagaimana kisah mereka? ikuti setiap episodenya ya.. hanya di Novel toon. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Ziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35 Kesempatan
"Nak Naya apa udah lama kenal dengan Juna?" tanya Maya mulai pembicaraan.
"Belum Tante, baru beberapa bulan saja." jawab Naya sembari tersenyum menatap Maya.
"Kamu bisa kenal dengan Juna, bagaimana?!" tanya Maya lagi.
"Emm.. itu Tante, pak Juna bos di tempat saya bekerja." jawab Naya lagi sedikit gugup di tanya-tanya oleh Maya mama dari Juna.
"Jadi kamu karyawan dari Juna? kamu di bagian apa? Sekretaris, admin atau bagian marketing?!" tanya Maya lagi yang ingin tahu tentang Naya.
"Maaf Tante, saya hanya Cleaning service di Perusahaan pak Juna.." jawab Naya jujur tentang pekerjaan nya.
"Cleaning service?!" tanya Maya memastikan lagi, sebab ia sedikit terkejut.
"Iya Tante.." Maya pun mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa?! Cleaning service, yang benar saja Juna mau menikah dengan wanita yang bekerja sebagai Cleaning service. Memang gadis ini cantik dan masih mudah, tapi yang ada aku malu memliki menantu yang pernah bekerja sebagai Cleaning service." gumam Maya dalam hati sembari terus memperhatikan Naya.
"Oh iya nak, orangtua kamu pekerjaannya apa?" Maya kembali bertanya pada Naya.
"Orang tua saya keduanya sudah meninggal Tante dan saya hanya tinggal berdua saja dengan adik saya."
"Oh maaf nak, Tante tidak bermaksud_-"
"Gak apa-apa Tante." sela Naya langsung.
Tak berapa lama Juna pun nyamperin mereka. "Sayang maaf, lama." Ucapnya sembari duduk di sebalah Naya.
Maya tersenyum tipis saat melihat begitu sayang Juna pada Naya.
Setelah selesai makan malam, Juna mengantar Naya pulang ke rumah nya. "Sayang, gimana?!" tanya Juna.
Naya pun menoleh kearah Juna. "Apanya yang gimana?!" tanya Naya balik yang tidak mengerti.
"Mama?!"
"Tante, baik." jawab Naya.
"Bener kan yang saya ucapkan, kalau mama pasti akan terima kamu." ucap Juna sembari menatap Naya.
"Mudah-mudahan.." sahut Naya. "Sayang seandainya mama kamu tidak setuju dengan hubungan kita bagaimana?!" tanya Naya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Gak ada sayang, hanya bertanya saja seandainya mama kamu tidak setuju gimana?" tanyanya lagi.
"Kalau mama tidak setuju dengan hubungan kita.. saya tetap mau nikahin kamu. Saya tidak perduli, yang menjalani hubungan kan saya bukan mama saya." jawab Juna. "Saya memang sudah memaafkannnya, tapi bukan berarti dia bisa mengatur-ngatur hidup saya."tambah Juna lagi.
"Memaafkan?!"
"Ya. Saya belum pernah cerita ke kamu tentang hubungan saya dan mama saya di masalah lalu. Saya akan ceritakan itu nanti, tidak sekarang." jawab Juna sembari mengelus kepala Naya dengan lembut.
"Sayang, ini bukan jalan menuju rumah ku deh..!" ucap Naya yang melihat arah jalan yang di ambil oleh Juna bukan menuju rumahnya.
"Memang, ini menuju Perusahaan saya. Temani saya dulu ya.. ke kantor pusat. Soalnya ada berkas yang harus saya ambil untuk meeting besok."pinta Juna.
"Oke." sahut Naya.
Sampainya di kantor, meraka pun turun dari mobil. Kemudian Juna meminta Security untuk membuka pintu yang sudah di kunci dan menghidupkan lampu yang berada di lobi. Security itupun membukakan pintu dan langsung menghidupkan lampunya.
"Terimakasih, Pak." ucap Juna.
"Iya tuan." balas Security tersebut.
Juna berjalan sembari menggenggam tangan Naya menuju lift untuk ke lantai atas dimana letak ruangannya.
"Sayang, kamu tunggu dulu di sofa. Saya mau mengecek dulu berkasnya. Ini ponsel saya, biar kamu gak bosan." Naya pun menurut menunggu Juna, duduk di sofa sembari memainkan ponsel Juna yang baru saja di berikan Juna.
Setengah jam akhirnya Juna selesai mengecek berkas yang akan di bawa' untuk meeting besok. Juna beranjak dari kursinya dan ia melihat Naya sudah tertidur. Juna tersenyum menatap Naya, ia pun jalan menghampiri Naya.
"Sayang bangun.." ucap Juna membangunkan Naya dengan mengelus pipi lembut Naya. "Sayang.." tapi Naya masih memejamkan matanya.
Sudah sampai tiga kali Juna membangunkannya, tapi Naya tidak bangun juga. Karena gemas Juna menciumi wajah Naya sampai membuat Naya terbangun.
"Sayang, masih ngantuk.." rengek Naya dan itu tambah membuat Juna semakin gemas melihatnya. Juna kembali menciumi wajah Naya. "Sayang, jangan mesum ih!"
"Gimana gak mesum coba, kamunya gemesin gini!" Juna kembali mengganggu Naya dan akhirnya Naya langsung duduk sembari menatap tajam ke Juna. Kemudian Juna menarik Naya duduk di pangkuan nya. Lalau Juna merapikan rambut Naya yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Sayang kita nikah besok, gimana? mau ya kita nikah besok?!'' rengek Juna dan itu membuat Naya terasa geli mendengar rengekan Juna.
"Tapi kam.. hmmmpp," Juna membungkam bibir manis Naya.
Naya yang terkejut, ingin menjauhkan bibirnya dari Juna. Tapi sayang Juna sudah menahan tengkuknya membuat Naya tak berkutik. Tanpa sadar pakaian Naya sudah turun kebawa, di atas dadanya. Juna sampai tak tahan untuk menciumi bahu putih mulus, Naya.
"Pa-pak please sudah ya.." pinta Naya, ia tidak mau melakukan hal yang lebih lagi seperti waktu itu.
Seketika Juna tersadar, hampir saja ia kelepaskan ingin melakukan lebih pada Naya.
"Maaf sayang," Juna langsung memeluk erat tubuh Naya. "Sayang, ayo dong kita cepat nikah?" bujuk Juna lagi.
"Pak Juna mau nikah cepat karena mengingikan tubuh saya, atau karena_-"
"Karena saya cinta sama kamu."sela Juna langsung. "Memang tidak di pungkiri, semua orang kalau menikah itu, menginginkan hal seperti itu. Begitu juga dengan saya, saya jujur menginginkan hal itu. Tapi di sisi itu juga saya mau selalu bersama dengan kamu selamanya, membina rumah tangga sama seperti yang lain. Dan satu lagi, ingin memiliki keturunan dari kamu." terang Juna.
"Pak Juna yakin mau memiliki anak dari saya?!" tanya Naya
"Iya sayang.. saya mau kamu menjadi ibu dari anak-anak saya. Anak yang di lahirkan dari rahim kamu."
"Pak Juna tidak akan menyesal?!" Juna menggelengkan kepalanya mantap. Kemudian Juna kembali mencium bibir Naya lagi.
"Please sayang.."
"Akan saya pikirkan..!" sahut Juna.
kayanya Naya hamil