NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Samuel

Rahasia di lorong sayap barat malam itu akhirnya menjadi salah satu dari sekian banyak racun yang Shaquena telan.

Dua puluh tahun berlalu sejak perayaan ulang tahun pernikahan kesepuluh itu. Shaquena merawat kebohongan demi kebohongan setiap hari. Ia mengunci jiwanya rapat-rapat, membiarkannya mati perlahan di dalam sangkar emas keluarga Mahendra.

Shaquena terus mengenakan gaun mewah, menebar senyum di puluhan acara amal, dan berdiri patuh di samping Sebastian. Itu harga yang harus ia bayar untuk memastikan satu nyawa tumbuh selamat di bawah pengawasannya.

Saat itu, lampu operasi menyorot terang benderang di ruang bersalin. Cahaya putih membakar retinanya di tengah kontraksi yang seakan membelah tulang panggul. Shaquena muda bergetar hebat di atas ranjang rumah sakit. Keringat dingin membasahi baju dan seprai putih di bawahnya. Jari-jarinya mencengkeram besi ranjang hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia bertaruh nyawa sendirian menantang maut. Sebastian tak ada di sana. Pria itu absen. Asisten suaminya hanya menelepon singkat, memberitahu bahwa sang CEO sedang merampungkan kesepakatan merger di luar negeri dan menolak diganggu.

Lalu, tangisan melengking pecah. Udara ruangan yang sedingin es mendadak berubah.

Seorang perawat meletakkan bayi laki-laki mungil di atas dada Shaquena. Kulit kemerahan yang basah itu menempel pada kulit pucatnya. Jari-jari sekecil ranting rapuh bergerak mencari pegangan. Tangan mungil itu mencengkeram kain di bahu Shaquena dengan tenaga luar biasa.

Napas pertama bayi itu menyapu lehernya. Detik itu juga, seluruh keraguan dan rasa perih di tubuh Shaquena menguap. Detak jantung di atas dadanya berpacu cepat, menyatu dengan ritme detak jantungnya sendiri. Saat bibir kecil itu terbuka mencari kehangatan, Shaquena merengkuh putranya erat-erat.

Malam itu, di tengah bunyi ritmis monitor pendeteksi jantung, ia mengikat sumpah. Ia akan merobek dunia jika ada yang berani menyentuh sehelai saja rambut anaknya.

Hujan deras menghantam kaca jendela ruang tengah mansion. Ingatan lain menyambar benaknya. Sore itu Samuel baru berusia tujuh tahun. Ia duduk melipat kaki. Tangannya sibuk menyusun balok-balok kayu membentuk sebuah menara tinggi.

Setiap kali terdengar bunyi ban mobil bergesekan dengan aspal basah di garasi, Samuel melempar baloknya dan melompat. Bocah itu berlari kencang menuju jendela raksasa. Telapak tangannya menempel pada permukaan kaca yang berembun. Matanya berbinar menanti kemunculan sang ayah.

Namun, lagi-lagi itu hanya kendaraan patroli staf keamanan yang rutin memutari halaman depan.

Bahu kecil Samuel merosot. Ia menoleh menatap ibunya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Bibir bawahnya bergetar pelan.

"Ma, Papa tidak suka main sama Samuel, ya? Kenapa Papa jarang pulang?"

Shaquena tahu persis di mana suaminya sore itu. Sebastian sedang berada di Singapura, menghadiri gala makan malam bersama Helena. Pria itu berdiri berdampingan dengan sang model, sementara darah dagingnya sendiri berdiri menanti sia-sia di balik kaca jendela dingin.

Shaquena menelan bongkahan tajam di pangkal lidah. Ia merangkak mendekat, lalu menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan. Aroma sampo bayi stroberi menguar dari rambut Samuel. Wangi itu sedikit menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.

"Papa sedang bekerja keras, Sayang," bisik Shaquena parau. Ia menekan pita suaranya kuat-kuat agar tak bergetar. Tangannya mengusap punggung Samuel dengan ritme teratur. "Papa sedang membangun istana yang besar untuk Samuel. Papa sayang sekali sama Samuel."

Kebohongan itu meluncur mulus. Shaquena memilih memikul semua kebusukan rumah itu sendiri agar Samuel tetap bisa memandang ayahnya dengan mata seorang anak.

Bertahun-tahun kemudian, Samuel berdiri di ruang rapat direksi. Sebastian memaksa Samuel menyetujui kucuran dana suap miliaran rupiah demi memenangkan tender proyek infrastruktur pemerintah.

Samuel berdiri tegak. Tak ada raut gentar saat ia menatap ayahnya dari ujung meja oval berbahan kayu mahoni itu. Pria muda itu mengangkat dokumen tender, lalu membantingnya keras ke atas meja.

"Lebih baik kita kalah dan mundur," suara Samuel menggema tegas di ruangan kedap suara itu. "Daripada menang dengan cara kotor."

Wajah Sebastian memerah padam. Pria itu menggebrak meja, meneriakkan makian. Namun, Samuel bergeming. Ia membalikkan badan dan melangkah keluar tanpa sudi menoleh lagi.

Puncak keberanian Samuel menentang keluarga ini meletus saat ia memilih Zoya.

Zoya hanya seorang arsitek lanskap yatim piatu yang merintis karier dari bawah. Wanita dengan senyum teduh dan tatapan mata tulus.

Sebastian meledak saat mengetahui rencana pernikahan itu. Di ruang makan utama, pria itu menunjuk wajah Samuel, mengancam akan mencoret nama putranya dari daftar pewaris aset detik itu juga. Di sudut lain, Nyonya Mahendra menjerit histeris kehilangan kendali. Wanita tua itu meraih vas porselen mahal dari atas meja dan melemparnya sekuat tenaga ke dinding.

Hari itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Shaquena membuang topeng penurutnya.

Ia melangkah maju. Sepatu hak tingginya menginjak pecahan vas tanpa ragu. Shaquena berdiri kokoh di depan Samuel, memblokir auman Sebastian.

Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam suaminya. Rahangnya terkatup rapat.

"Sentuh kebahagiaan putraku," ancam Shaquena dingin. "Dan aku akan menyerahkan semua buku besar berisi bukti penggelapan pajak perusahaan ke kejaksaan besok pagi."

Keheningan mencekik ruang makan. Sebastian terpaku. Nyonya Mahendra menutup mulutnya seketika. Ancaman mematikan itu menembus sasaran. Mereka tahu Shaquena memegang salinan kunci dari setiap dosa keuangan Mahendra Group. Sebastian terpaksa menelan amarahnya.

Samuel dan Zoya akhirnya melangsungkan pemberkatan kecil di sebuah gereja pinggir kota. Acara itu berlangsung intim, jauh dari sorotan lensa kamera dan kemewahan palsu keluarga Mahendra.

Satu tahun setelah hari pernikahan itu, Sherina lahir.

Ruang perawatan rumah sakit hari itu dipenuhi cahaya matahari sore yang hangat. Zoya memindahkan bayi mungil berpipi merah itu ke dalam dekapan Shaquena.

Tangan Shaquena yang mulai dihiasi garis-garis halus menopang kepala rapuh tersebut. Sherina membuka kelopak matanya perlahan. Bola mata cokelat terang identik milik Samuel menatap Shaquena dengan keluguan murni. Jari telunjuk Shaquena terulur menyentuh pipi cucunya yang lembut.

Bayi itu merespons dengan gumaman pelan. Jari-jarinya sekecil kacang bergerak refleks, menggenggam jempol Shaquena erat-erat.

Pertahanan Shaquena runtuh. Tetesan air mata jatuh membasahi selimut merah muda yang membalut tubuh Sherina.

"Kamu kebahagiaan Nenek," bisik Shaquena pelan. Suaranya pecah oleh luapan emosi. "Nenek janji akan memastikan jalanmu selalu bertabur bunga."

Samuel melangkah mendekat dari arah pintu. Pria itu merangkul pundak ibunya dari samping. Samuel menunduk, mencium puncak kepala Shaquena lama. Air mata bahagia ikut menetes dari sudut mata pria berjas rapi itu.

Shaquena duduk diam di kamarnya yang dingin. Perasaan damai menyelimuti dadanya saat menatap bingkai foto perak di atas meja rias antik. Di dalam foto itu, Samuel tersenyum lepas merangkul pinggang Zoya, mengangkat Sherina kecil di bahunya.

Shaquena mengusap bingkai foto itu dengan ibu jarinya. Senyum tipis mengembang di bibirnya.

Samuel dan keluarganya kini tinggal di rumah mereka sendiri. Setiap kali rumah Mahendra terasa menyesakkan, hanya tempat itulah yang masih membuat Shaquena merasa bisa bernapas.

Shaquena menarik napas lambat. Ia menekan telapak tangan ke dada, mengusir rasa sesak yang tiba-tiba datang mencekik. Ia memalingkan wajah dari cermin, lalu mengulurkan tangan bersiap mematikan lampu meja.

Ponselnya berdering nyaring membelah keheningan kamar.

Nama Samuel berkedip di layar. Shaquena meraih ponsel itu dan menggeser tombol hijau.

"Samuel?"

Terdengar suara deru napas memburu dari seberang panggilan.

"Mama..." Suara putranya parau, bergetar hebat disela isakan tertahan. "Tolong aku."

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!